HERMES BABY BERSEJARAH


Ketika tas bermerek Hermes belakangan ini melambung namanya, saya baru sadar kalau kami justru sudah tak asing dengan merek tersebut, walau beda wujud. 🤣Ya, benda bersejarah ini, Hermes Baby, adalah mesin tik yang menemani saya di awal 90-an. Mengetik banyak puisi, sedikit cerpen, dan beberapa kisah perjalanan.

Alm. Papa membiarkan saya mencoba belajar mengetik sendiri. Hingga akhirnya saya lebih sering menggunakannya.

Pada masa awal tip-ex belum muncul, saya harus berhati-hati menekan huruf demi huruf agar tidak perlu mengulang ketikan dan menghamburkan kertas. Maka ketika tip-ex cair lalu tip ex kertas muncul, saya merasa sangat terbantu.

Puisi-puisi yang saya ketik di mesin ini, mengantarkan saya pada titik sekarang. Dalam artikel Wikipedia, disebutkan saya aktif sejak tahun 2000. Namun sesungguhnya karya saya sudah dimuat sejak 1992 (kelas 6 SD, tetapi belum cukup produktif untuk “dikenal” nama). Mesin tik ini adalah saksi bisu perjalanan panjang kepenulisan saya.

Saya melompati periode mesin tik elektronik. Keluarga kami ketat pada prinsip berhemat, jadi kami tidak pernah membeli mesin tik elektronik. Ketika beralih kenal komputer, jasa sewa adalah solusi. Termasuk saat mengetik skripsi. Saya baru membeli komputer –PC dan laptop– saat sudah bekerja, memiliki penghasilan sendiri.

Saat ini, pilihan mengetik sudah semakin mudah. Jika malas duduk menghadapi PC, ada laptop dan ponsel yang lebih mudah dibawa ke mana saja, agar tidak lagi beralasan mengerjakan tulisan di rumah. Kini, aplikasi di ponsel sudah semakin canggih, dan kita bisa mengetik kapan saja, di mana saja.

Selayaknya semangat, naik turun sudahlah tentu. Ada masa saya ingin menyerah dan berhenti menjadi penulis atau pengarang. Dan tiap memandang mesin tik ini, saya kembali menggeleng dan berkata pada diri sendiri, “Saya akan terus berkarya!”

Semoga. 😊

Reviu Film Nana (Diperankan Happy Salma)


BEFORE, NOW&THEN (NANA)

“Pan istri mah kedah pinter nyidem rusiah…”
Demikian suatu hari Nana berucap pada Dais, sang anak, yang bertanya mengapa perempuan harus berambut panjang dan bersanggul.

Cerita tentang Nana, diambil dari buku Jais Darga Namaku, karya Ahda Imran. Nana adalah ibu Jais Darga. Walau menurut saya kehidupan Jais Darga sendiri menarik disimak dan terasa filmis, namun penggalan kisah sang Ibu tak kalah menarik untuk disuguhkan.

Nana, seorang perempuan yang kehilangan suaminya kemudian juga kehilangan ayahnya, harus melarikan diri dan menghindari gerombolan. Keluar masuk hutan, dari Limbangan (Garut) ke Lembang (Bandung), bertemu Lurah Darga, kemudian dinikahi hingga memiliki 3 anak dari pernikahan keduanya. Setelah 15 tahun berlalu, suami pertamanya muncul kembali.
Apa yang terjadi? Haruskah kebahagiaan Nana ditukar dengan mengembalikan masa lalu? Tonton saja filmnya di aplikasi Prime Video.

Film besutan Fourcolorsfilms ini telah menyabet berbagai penghargaan di festival-festival luar negeri. Walau alurnya terkesan “ngayayay” alias terasa sangat lambat bagi saya yang gemas dengan beberapa adegan yang rasanya tidak perlu berpanjang-panjang, tapi konflik batin Nana disuguhkan oleh akting Happy yang total. Film yang dilabeli untuk usia 16+ ini memperlihatkan adegan merokok, dan konsen antara manusia dewasa. (Ingat, jangan ajak anak bawah umur nonton film ini!)

Sebagai sesama keturunan Sunda, saya bangga ada film yang menggunakan bahasa Sunda penuh dalam seluruh percakapannya. Meskipun pada beberapa kalimat, dialek terdengar agak kaku. Barangkali karena beberapa pemain pendukung bukan orang Sunda. Tapi salut, mereka sudah bekerja keras belajar untuk melafalkan bahasa dan dialeknya agar lebih terasa “lidah Sunda”. Yakin benar, itu tidak mudah. Maka tidak heran para aktornya pantas diacungi jempol.

Dari segi visual, saya mendapat kesamaan kesan dengan salah satu film favorit saya, In The Mood for Love (2000) –bisa dibaca di sini: https://ratnaayubudhiarti.wordpress.com/2022/03/20/ulasan-film-in-the-mood-for-love/

Dalam beberapa adegan, saya “mengenali” kemiripan tersebut. Misalnya saja saat Icang menyandarkan lengan pada tembok dan mukanya dekat dengan muka Nana yang bersandar di tembok yang sama saat mereka berjumpa. Film In The Mood for Love ditutup dengan adegan Mr. Chow berbisik pada lubang kuil di Kamboja dan menutupnya dengan tanah, sedangkan film Before, Now&Then (Nana), ditutup dengan adegan sang pemeran utama, Nana, berbisik rahasia pada Dais.

Oya, soal audio, latar musik mengingatkan saya bahwa kadangkala film yang bagus itu bisa membawa pengaruh pada karya lainnya. Namun, bukankah demikian dalam dunia seni dan cipta karya? Selalu saling menginspirasi dan terinspirasi.

Rasanya tidak puas ketika film ini tamat. Walau sudah nonton di aplikasi, tapi saya tetap menanti edisi layar bioskop. Bagaimanapun, kepuasan mengkhidmati audio dan visual di bioskop itu berbeda.

#RAB, 02082022

KEKASIH TAK DIANGGAP DAN CINTA YANG KERAS KEPALA


Sudah beberapa waktu lalu saya mengambil jarak dengan puisi. Bukan bosan atau jenuh. Tapi ibarat sebuah hubungan, kita memang perlu menciptakan jarak agar rindu terus terjaga, bukan? Pergulatan saya dengan puisi, tidak mungkin menjadikan saya putus hubungan. Lewat puisi, banyak kota telah saya singgahi. Tersebab puisi, banyak pencapaian-pencapaian saya yang terasa ajaib dan penuh kejutan. Saya tahu, sejauh apa pun saya pergi, bertualang di rimba kata-kata, puisi akan tetap memanggil saya kembali. Saya “dilahirkan” puisi. Di sela berjarak itulah, saya kerap menulis ulasan, naskah, cerita pendek, atau fiksimini. Juga membaca buku-buku selain puisi.

Selalu tiba waktu puisi merindukan saya, atau sebaliknya. Juga perasaan “terpaksa rindu” karena satu-dua alasan lain. Kali ini panggilan puisi menuntun saya membaca buku Herlinatiens berjudul “Kereta-kereta di Kepala Zialo” yang terbit pada Oktober 2020.

Anda tahu bagaimana rasanya saat haus lalu disodori segelas minuman kesukaan? Anda tentu akan menikmati dengan kelegaan, perlahan, seteguk demi seteguk. Inilah yang saya lakukan pada buku kumpulan puisi pertama Herlinatiens. Saya lebih dulu kenal penulisnya sebagai prosais, yang telah menerbitkan 14 novel. Sebuah kejutan, puisi-puisi di dalam buku ini mampu menyedot perasaan saya –sesuatu yang sudah lama saya nantikan.

Benang merah pada buku ini ada pada judul di atas. Ya, saya terhanyut ke dalam tokoh aku, mencintai Zialo atau kekasih-kekasih lain yang singgah menitip hati lalu pergi. Kepasrahan jadi seseorang yang diabaikan di antara beragam alasan, tapi dicari ketika kekasihnya kesepian adalah perasaan-perasaan melankolik bagi perempuan yang dadanya dipenuhi cinta yang semena-mena datang dalam situasi tidak tepat.

Saya kesulitan memilih puisi favorit di buku ini. Nyaris setiap setelah jeda halaman berisi ilustrasi, saya memilih satu, dua, atau tiga puisi. Tetap saja jadi banyak. Saya merasa Herlina melibatkan seluruh pancainderanya dalam menulis –enam, dengan hatinya. Dan sesuatu yang ditulis dengan hati, akan sampai pula ke hati. Saya tidak akan bertanya pengalaman siapa yang dimasukkan ke dalam tokoh setiap aku di puisi-puisinya. Sebab sebagai penulis, bahkan pengalaman yang didengar, dilihat, dan dibaca pun bisa menjadi seperti teralami sendiri.

Cinta yang keras kepala bertahan menjadi-jadi dalam puisi. Ia akan mencari cara. Seperti di halaman 13, puisi berjudul “Berbincang dengan Subuh” pada paragraf awal:

“Aku membeli satu set akrilik dan kanvas. Hendak
kutanam bangku panjang pohon rindang dengan
lampu kota dan sebuah buku. Agar kita bisa lebih
gampang bertemu. Di dalam situ.”

Lihatlah, betapa ketidakberdayaan pada situasi tertentu membuat si tokoh aku dalam puisi tersebut menguatkan dirinya untuk menciptakan dunia sendiri. Walau tetap saja rasa sakit tak jua sembunyi jelang paragraf akhir:

Juga pada puisi “Merapal Rel di Tubuhmu”

aku memiliki jendelaku sendiri
untuk memandang jaring laba-laba
dan tetap mengasihimu

sebagai sudut remang yang sesekali saja kau temui
hatiku mulai berakar
aku hanya akan diam-diam
aku hanya akan diam-diam
aku hanya akan diam-diam

Cinta ternyata semenyakitkan itu. Namun seperti dalam puisi “Pertemuan Teh dan Kopi” pada halaman 21, sekali lagi penulis mengungkapkan betapa keras kepalanya cinta:

“…
apa yang tidak aku tahu adalah, ratusan purnama
menunggu, puluhan musim menanti, untuk kulalui
seorang diri dan disangkal di kemudian hari.”

Tentu saja, ada beberapa yang mengganjal bagi saya pribadi ketika berjumpa rangkaian diksi. Misalnya “menenun air” atau “tumbuh mencair tanpa tali”. Kedua contoh tersebut membuat saya sejenak berhenti membaca dan mencoba memikirkan majas yang dibuat. Saya tidak akan mencoba membedah dengan pisau teori apa pun. Kali ini, saya hanya ingin menikmati. Sebenar-benarnya menikmati, sampai ke dalam hati. Silakan pembaca lain menanggapi.

Akhirnya puisi-puisi di buku ini terasa ibarat suara yang menyisakan gaung yang panjang dari dinding gua bernama hati. Setiap habis membaca satu puisi, selalu tarikan napas panjang diperlukan demi melegakan dada. Iya, mencintai bisa demikian sakit sekaligus candu untuk kekeh bertahan, walau posisi aku lirik seperti tidak pernah berubah pada banyak puisi: jadi kekasih yang diabaikan.

Bacalah, sebab buku ini akan membuatmu memahami cinta dalam dirimu sendiri.

RAB, 12 Mei 2022

Judul: Kereta-kereta di Kepala Zialo
ISBN: 978-623-93949-7-4
Penerbit: Galeri Buku Jakarta
Halaman: xxi+110 halaman, 11 cm x 18 cm

NONTON VICTORIA


Saat orang lain ngobrolin drakor seri lama maupun terbaru, saya tetap setia menonton Victoria. Serial tentang Ratu Inggris dan Britania Raya.
Baru sampai Season 3 episode 3. Season terakhir sampai episode 8. Namun kabarnya bakalan ada season 4 dengan nuansa yang lebih “gelap” berlatar tahun 1852.

Saya jarang menyukai film seri. Namun untuk Victoria adalah pengecualian. Sejak kecil, buku bacaan tentang kehidupan kerajaan begitu menarik, membawa imajinasi mengembara ke istana dan kehidupan di sana.

Film seri yang juga sempat saya gandrungi salah satunya adalah The Third Eye (film Norwegia) dan Marvel’s Agent of S.H.I.E.L.D.S. Seri film dengan tema petualangan, detektif, fiksi ilmiah, dan pahlawan super itu juga tidak beda jauh dengan seri Victoria. Maksud saya, dalam pengolahan konflik dengan intrik-intriknya. Bedanya, yang satu bertabur pengetahuan tentang dunia mata-mata, satunya lagi bertabur keindahan alam kerajaan yang diam-diam menyimpan tipu daya.

Dalam film seri Victoria, saya menemukan benang merah salah satu tokoh film dengam buku bacaan: Pangeran Ernest. Dia adalah saudara Pangeran Albert –suami Victoria. Pangeran Ernest juga diceritakan sedikit dalam novel Pangeran dari Timur karya Mas Kurnia Effendi dan Mas Iksaka Banu. Gambaran karakter Pangeran Ernest yang  merupakan salah satu teman baik Raden Saleh itu sinkron antara novel dan film seri ini.

Saya jadi berpikir, mengapa belum ada produser yang tertarik membuat film tentang Raden Saleh berdasarkan novel mereka?

*foto dari Amazon.

===
Victoria adalah serial drama televisi Britania Raya yang dibuat dan ditulis oleh Daisy Goodwin, dibintangi oleh Jenna Coleman sebagai Ratu Victoria. Serial ini ditayangkan perdana di Britania Raya pada ITV pada 28 Agustus 2016 dengan delapan episode, dan di Amerika Serikat pada PBS pada 15 Januari 2017; PBS mendukung produksinya sebagai bagian dari antologi Masterpiece. (Keterangan dari Wikipedia)

Ulasan Film IN THE MOOD FOR LOVE


“CINTA TÉH PASALINGSINGAN, JUNGJUNAN”
— Cinta itu selisipan!

Mengapa judul ulasan ini menggunakan bahasa Sunda? Sebab saya gemas setelah “begadang” hingga pukul 12 malam menonton film “In The Mood for Love” via aplikasi Vidio.

Anda yang sudah pernah naik kereta api, atau pernah melihat, tentu tahu bagaimana besi rel kereta selalu bersisian, sesekali bertemu ketika kereta harus masuk atau keluar stasiun. Demikian saya mengibaratkan cinta kedua insan dalam film tersebut. Selalu bersisian, tidak bernah benar-benar bisa bersatu. Anda tahu bukan, cinta semacam itu begitu indah, tapi sekaligus menyakitkan pada waktu bersamaan?

Dua tokoh utama film ini, Maggie Cheung memerankan Su Li-zhen alias Mrs. Chan, dan Tony Leung Chiu Wan memerankan Chow Mo-wan, ibarat rel kereta api, bertemu di stasiun nasib. Keduanya menyewa kamar apartemen, dan menjadi tetangga pada hari yang bersamaan. Tidak ada yang terjadi sebelumnya. Mereka hanya sering selisipan di jalan, berjumpa saat Mrs. Chan membeli mi pada hari-hari suaminya tak ada di rumah, dan Mr. Chow pun melakukan hal yang sama saat istrinya sedang pergi ke luar kota/negeri berhari-hari. Kali lain, mereka berjumpa di dapur bersama apartemen mereka. Mrs. Chan yang gemar membaca cerita bersambung di koran, bertitik temu dengan hobi membaca Mr. Chow yang memiliki koleksi buku-buku yang dipinjamkan pada Mrs. Chan. Hanya seperti itu. Nyaris selalu semacam itu. Jumpa, basa-basi, saling tersenyum, dan melanjutkan aktivitas masing-masing selayaknya tetangga baik.

Suatu hari Mrs. Chan, sang sekretaris itu menyadari dasi yang digunakan bosnya berbeda. Tentu saja dasi biasa dibelikan istri, satunya lagi hadiah dari kekasih si bos. Dan ketika bosnya terkejut mengapa sang sekretaris itu menyadari perbedaannya, dia pun mengganti dasinya. Mrs. Chan berkata lirih, “kita menyadari perbedaan ketika memperhatikan.”
Sebuah kalimat yang seolah dia gaungkan untuk dirinya sendiri, yang tidak sengaja memperhatikan dasi Mr. Chow yang persis sama dengan dasi suaminya, Mr. Chan.

Pertemuan Chow dan Mrs. Chan di selasar, di depan pintu apartemen masing-masing saat Mrs. Chan membawa tas tangan yang sama persis dengan istrinya adalah muasal bagaimana keduanya mengungkap misteri yang terjadi di antara pasangan mereka masing-masing. Jumpa saat makan malam adalah langkah berikutnya untuk menguak bagaimana semuanya bermula. Mereka saling bertanya berapa hari istri Mrs. Chow akan pulang, dan Mr. Chan dinas luar negeri. Mereka menemukan banyak kebetulan yang klop. Selalu, jadwal pasangan mereka dinas luar, berlangsung bersamaan. Akhirnya mereka mencurigai, kepindahan mereka ke apartemen yang bersebelahan telah direncanakan pasangan masing-masing.

Lalu begitulah, Mrs. Chan yang cantik dan kesepian itu berulangkali mengadakan pertemuan dengan Mr. Chow. Mereka mengira-ngira bagaimana semuanya berawal, apakah suami Mrs. Chan yang pandai merayu, ataukah istri Mr. Chow yang genit menggoda. Mereka berdua mendiskusikan setiap kemungkinan dan memeragakan reka adegan seandainya mereka jadi orang yang diinginkan pasangannya. Lihatlah bagaimana ketika makan di restoran, Chow kena tegur saat berusaha menggoda Mrs. Chan sebab menurutnya suaminya itu akan lebih lihai lagi merayu. Sedangkan Chow menambahkan saus sambal lebih banyak di  piring Mrs. Chan dan Mrs. Chan pun meringis kepedasan, namun tetap melanjutkan demi menghayati perannya berpura-pura menjadi Mrs. Chow, perempuan lain yang dicintai suaminya. Betapa menyakitkan. Betapa menyedihkan. Ngilu.

Pertemuan demi pertemuan. Diskusi demi diskusi. Kepedihan yang mereka gali-gali sendiri akibat pengkhianatan yang dilakukan pasangannya, justru mengantarkan mereka pada babak lain. Kesamaan nasib akibat memiliki pasangan yang berselingkuh, malah membuat hati mereka bertaut. Di sisi lain, ada kegelisahan dan kesepian yang berkelindan di hati masing-masing yang minta dihangatkan dengan kehadiran satu sama lain. Namun, keduanya tidak bertindak terlalu jauh seperti yang dilakukan pasangannya. Mereka saling mengisi ruang di hati dengan saling menyentuh tangan, atau berpelukan ketika berusaha memeragakan adegan perpisahan atau ketika Mrs. Chan menangis sesengukan akibat berlatih meminta  suaminya mengakui perselingkuhan. Ternyata berpura-pura tegar memang pedih dan sangat menyakitkan. “Aku tidak menyangka ternyata sesakit ini,” ucap Mrs. Chan. Duh, kok saya merasa pedih sendiri. (Ealah, dilarang curcol! 😆)

Lagi-lagi perasaan di antara mereka harus diuji ketika Mr. Chow pergi ke Singapura, apakah sungguhan, atau tercipta hanya akibat luka pengkhianatan?

Film produksi tahun 2000 yang disutradarai Wong Kar-wai ini saya rekomendasikan jika Anda ingin menonton drama dengan kualitas yang jempolan.

Sepanjang adegan dalam film ini dibuat sangat efektif. Tidak boros dialog. Kegelisahan, kesepian, amarah, galau dan sedih yang berlarat-larat cukup digambarkan dari gestur, mimik muka, warna-warni ruangan yang suram, rintik hujan, asap rokok. Angel kamera seringkali hanya menyorot adegan dari arah selasar, yang memenuhi setengah, bahkan sepertiga layar. Bayangkan dari setengah layar itu, Mrs. Chan duduk sambil bersandar di dinding, sementara di hadapannya uap mengepul dari ketel air, dan matanya malah memandang kejauhan, menggambarkan pikiran yang sedang berkelana. Estetik sekali! Saya gemas ingin mematikan kompor! Kali lain adegan ketika keduanya berteduh kehujanan, saya gemas, kenapa Mr. Chow tidak memeluk atau memberikan jasnya agar Mrs. Chan tidak kedinginan.

Saya ingin berteriak, “aaarggh!” penuh emosi ketika Mrs. Chan menyusul Mr. Chow ke Singapura, masuk kamarnya, tapi tidak bertemu. Dan Mrs. Chow pun sama sekali tidak berusaha mencari Mrs. Chan. Adegan ditutup dengan Chow yang mengucapkan rahasia dan perasaannya di sebuah lubang di kuil di Kamboja, lalu menutup lubang tersebut dengan tanah. Simbolisasi kisah rahasia masa lalu mereka yang ingin dia kubur dan tidak perlu diketahui siapa pun.

“Seperti menatap dari jendela yang berdebu.
Masa lalu adalah hal yang bisa dia lihat, tapi tak bisa menyentuh.
Semua yang dia lihat samar dan tidak jelas.”

Kalimat puitis di atas adalah penutup dalam film,  mengantar saya tidur nyenyak tadi malam, walau menyisakan gaung tanya yang panjang juga dalam hati saya: mengapa cinta begitu menyakitkan? Cinta itu selisipan, Kekasih.

Cinta téh pasalingsingan, Jungjunan.

ALAYA DAN MIMPI YANG DIWUJUDKAN


Beberapa bulan lalu saya membaca memoar travelling berjudul Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Namun terhenti membaca di halaman 239 dari total 552 halaman. Entah mengapa, kebiasaan menyelingi dengan bacaan lain sesekali memang timbul. Biasanya antara cara berceritanya yang bikin saya “lelah” atau merasa “tertekan”, atau memang sedang tidak ingin setia membaca hingga tamat karena godaan buku lain lebih kuat. Bisa dibilang saya sudah membaca setengah jalan buku Titik Nol. Jadi sudah ada gambaran bagaimana Agustinus merasakan “sesuatu yang salah” ketika melihat kegiatan biksu jadi tontonan para turis. Seperti juga yang dirasakan oleh Daniel Mahendra (DM), penulis Alaya.

Satu hal yang perlu digaris bawahi, Alaya hanya dilengkapi peta, tidak ada pemanis foto-foto seperti dalam buku yang saya sebut sebelumnya. Jadi, imajinasi pembaca sangat tergantung pada deskripsi penulis terhadap semua hal.

Saya mulai membaca Alaya ketika dalam perjalanan menuju sebuah kota. Di atas kereta, seluruh kata-kata menari menciptakan harmoni sekaligus benturan pembanding. Terutama ketika menaiki kereta T22 dari Chengdu menuju Tibet, tempat impian DM. Ya, ia terobsesi akibat paparan bacaan “Tintin in Tibet” di masa kecil. Kita semua maklum, apa pun yang melekat begitu kuat dalam ingatan masa kecil dan menjadi impian, suatu saat kelak akan terwujud dengan cara yang tak terpikirkan sebelumnya. Tentu, itu pun jika kita terus-menerus menggenggam impian tersebut, maka alam bawah sadar kita akan bekerja sama dengan semesta menarik segala yang berkaitan untuk menjadikannya nyata.

DM tidak melewatkan informasi detail. Nampaknya selama dalam perjalanan yang berbekal laptop itu, ia selalu menyempatkan untuk menulis kapan pun. Dan tambahan informasi yakin dipoleskan sana sini demi menguatkan tulisan. Informasi mengenai letak sebuah kota, mulai dari ketinggian di atas permukaan laut, jarak tempuh dari kota lain, kendaraan yang digunakan, hingga suasana kota dan warna busana penduduk setempat digambarkan dengan cukup baik.

Pengalaman tentang pertanyaan asal negara dan kesulitan komunikasi akibat perbedaan bahasa kerap membuat saya tertawa kecil di kereta. Untung saya duduk sendirian. Ya, betapa pengalaman serupa pernah juga saya alami ketika melancong ke tempat di mana orang-orangnya tidak bisa berbahasa Inggris. Dan tidak tahu di mana letak Indonesia! Pertanyaan dan jawaban tidak pernah berjodoh meskipun sudah menggunakan bahasa isyarat. Akibatnya, ini bisa membuat kita sedikit frustrasi, apalagi jika sedang kelaparan. Seperti saat DM nyelonong ke dapur sebuah restoran kecil di pinggir Jalan Jiangsu, karena tidak bisa membaca menu dalam bahasa Mandarin. Ujung-ujungnya tetap makan mi juga. Dalam porsi besar, mi kuah bertabur daging yak itu saya bayangkan lezat rasanya, walau DM kesulitan mencekit mi yang besar dan licin itu dengan sumpit. Kali lain, untuk ikut masuk ke Mesjid Lhasa demi merasakan pengalaman salat di mesjid tertinggi, DM harus menggunakan bahasa isyarat dan mengatupkan mulut ketika hendak mengucapkan kata “amin” keras-keras selepas Al-Fatihah selesai berkumandang. Begitulah, kebiasaan berbeda di tempat yang jauh dari Indonesia, membuat sang pejalan dipaksa beradaptasi dengan banyak hal. Juga bagaimana Acute Mountain Sickness yang menyiksa fisik membuatnya berpikir akan meninggal saat itu juga ketika jauh dari tanah air.

Sebuah perjalanan tentu menyelipkan kisah manis dan menggelikan. Bagaimana wanita cantik di sebelah sempat membuatnya salah tingkah, tapi ketika melihatnya tertidur, DM memilih melupakan kecantikannya dan menikmati pemandangan sepanjang bus bergerak. Rupanya DM tidak suka melihat wanita itu menganga! Ha-ha-ha. Namun, cinta lokasi tak dapat dihindari ketika ia bertemu wanita Prancis. Apa yang terjadi di antara mereka manis sekali. Saya membayangkan betapa romantis adegan itu, saking manisnya seperti adegan dalam film. Saya sempat berpikir jangan-jangan ini hanya bumbu. Namun rupanya itu benar terjadi.

Dalam Alaya, DM seperti sedang bercerita pada Sekala, anaknya, tentang perjalanan mewujudkan impian yang dia lakukan. Dalam beberapa bab, kisah tentang Sekala dituliskan sebagai pembuka. Maka pembaca pun seolah diajak memahami bahwa sejatinya hidup itu memang sebuah perjalanan. Segala langkah yang diambil dan diputuskan, selalu ada risiko dan konsekwensi yang dihadapi. Pilihannya hanya satu: berani menghadapinya.

Kembali ke Indonesia adalah soal yang lain. Kembali pada kenyataan sekaligus kesadaran bahwa perjalanan jauh yang dilakukan DM untuk mewujudkan mimpinya, tetap saja menohoknya dengan pertanyaan sang sahabat. Pertanyaan klasik yang tidak asing dilontarkan ketika usia sudah memasuki usia dewasa: menikah.

Namun, selain tebaran diksi-diksi yang tidak umum, buku Alaya ini bukan tanpa cela. Maksud saya, setiap buku selalu memiliki celah yang tidak memuaskan pembaca. Yang sudah umum adalah kesalahan ketik, dan rasanya saya belum pernah menjumpai buku yang luput dari itu, walau satu saja kealpaannya. Ada logika waktu yang sedikit melompat di halaman 351, sehingga saya sempat berkerut kening mencerna dan membacanya dua kali. Tapi mungkin karena penulis kurang memberikan penjelasan mengenai jam operasional  sebuah warung kopi di terminal bus Pokhara. Selebihnya, saya merasa senang karena buku ini keras kepala tidak mau disela dengan buku bacaan lain.

Bagi para penyuka petualangan, buku Alaya saya rekomendasikan untuk dibaca. Anda akan menemukan keasyikan tersendiri ketika terhanyut dalam cerita.

Judul: Alaya – Cerita dari Negeri Atap Dunia
Tebal: 413 halaman
Penulis: Daniel Mahendra
Penerbit: Epigraf
ISBN: 978-692-74319-8-0
Cetakan pertama, September 2018

SEBAB SEBUAH TRUK


Bagaimana seharusnya benar-benar melupakanmu? Sebuah truk tampak di hadapanku dan membawa ingatan pada bertahun silam, tepatnya 17 tahun lalu. Siang itu kau mengajakku mengunjungi sebuah kantor Ready Mix, campuran beton yang biasa diperlukan untuk pengerjaan tower BTS salah satu jaringan komunikasi. Kau dan ayahmu mengerjakan proyek itu untuk beberapa waktu. Aku yang tidak paham lingkup pekerjaan seperti itu, jadi memahami bagaimana kau bekerja sama dengan banyak pihak,  bernegosiasi, serta mengawasi para pekerja. Kausuruh aku menunggu di salah satu sudut ruangan. Untung saja selalu ada buku di dalam tas, jadi tak perlu menggerutu ketika urusanmu sedikit lama. Jakarta terik dan panas dengan polusi seperti biasa. Aku yang tak pernah bisa mencintai kota itu, rupanya harus belajar akrab, meski tidak pernah mau jadi dekat.

Sebelum menaiki bus menuju kota tempat tinggalmu, kau mengajak aku menghampiri pedagang buah potong. Dua bungkus nanas ditaburi bubuk cabai bergaram disorongkan penjual.

“Cobalah, Dek. Mas suka nanas pake cabe begini, segar.”

Tentu kau bermaksud menggodaku. Kau jelas tahu, aku tak pernah suka makanan pedas. Kaubilang kelak jika jadi istrimu, aku harus belajar membuat sambal yang enak pada ibu.

Ah… lalu ingatanku berkelana pada ibu. Perempuan Melayu yang cantik bersanding dengan lelaki Jawa penyabar itu selalu memperlakukanku sepenuh kasih, seperti menyayangi anaknya sendiri. Ibu yang pertama kali paling gembira ketika kaubawa aku ke rumahmu dan berkenalan dengan seluruh keluarga. Apa kabar Ibu sekarang ya? Sesekali aku disergap rindu padanya. Sorot matanya yang teduh, juga ketulusan dan tutur katanya yang lembut itu selalu membelaku jika dilihatnya kau kurang memperhatikanku atau salah sedikit saja memperlakukanku. Ibu yang berharap kelak aku jadi menantu.

Pikiranku masih saja berkelana ke mana-mana kini. Pada surat-surat yang kau kirim berkala dan selalu kunanti kedatangannya di rumah kontrakan. Lalu pada kejutan manis ketika kaubilang batal datang ke kota tempatku menuntut ilmu karena busnya mogok. Namun setengah jam kemudian kau sudah tiba di depan pintu, justru di saat aku sedang menghibur diri menahan rindu yang tak tertahan itu.

“Mas pengen lihat gimana kalau Mas gak jadi datang. Jadi tahu deh Adek belum mandi.”

Huh, sebal! Aku jadi tidak sempat bersiap dulu tampil sempurna. Walau tak bisa dandan, minimal kau tak usah melihatku belum mandi begitu. Tapi kau malah gregetan dan tertawa melihat mukaku yang bercampur rasa kaget sekaligus gembira.

Anakmu sudah bertambah lagi, kan, sekarang? Hidupmu tentu berbahagia dengan keluarga yang ramai. Seperti impianmu suatu hari di masa lalu. Kau pernah bertanya aku mau punya anak berapa. Kaubilang ingin punya anak banyak, dan aku hanya tersenyum saja mengamini. Amin. Kau sudah memilikinya sekarang. Aku masih begini saja, mengikat kenangan demi kenangan di ruang paling dalam di hatiku. Kupikir melupakan itu semudah menghapus coretan pensil di kertas. Nyatanya sudah bertahun-tahun, setiap kali kutemukan ganjalan, ingatanku hanya membandingkan manisnya cerita bersamamu. Sepertinya jiwaku tak pernah rela mengikis masa lalu.

Akhir bulan kemarin aku merayakan keberhasilan. Atau sesuatu yang kupikir itu keberhasilan. Sebab setelah ribuan purnama usaha menghapus bayang-bayangmu menemukan jalan buntu, tepat di hari ulang tahunmu aku merasa ringan. Ya, aku selalu ingat ulang tahunmu, ulang tahun ibumu, juga adikmu yang manis dan selalu baik padaku itu. Kupikir itulah tonggak di mana aku akhirnya bisa melepasmu dengan rela, penuh seluruh. Kupikir aku sudah berhenti mencintaimu. Perasaan yang kutunggu-tunggu sejak kau dan aku pada akhirnya harus menghentikan segala rencana, termasuk pernikahan. Berhari-hari aku gembira dan mendoakan keselamatanmu.

Tapi sialnya, masih ada ceruk yang luput dibersihkan. Hanya gara-gara sebuah truk di hadapanku siang ini. Aku merogoh-rogoh lagi hatiku. Mengapa melupakanmu demikian sulit?

*BERSAMBUNG

#RAB, 2020

#RABbercerita #ceritaRAB #fiksimini #ceritamini

Resensi Buku Bode Riswandi


MEMEGANG UCAPAN LELAKI DALAM HARI TERAKHIR DI RUMAH BORDIL

Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

 

Begitu novela Hari Terakhir di Rumah Bordil karya Bode Riswandi sampai di tangan saya, tentu bersegera saya membaca halaman terakhir, dan menemukan kalimat-kalimat yang rasanya tak asing.Seperti déjà vu, saya melihat adegan demi adegan yang berkelebatan di ingatan. Yakin betul, saya kenal adegan di halaman terakhir yang saya baca itu. Setelah mengingat-ingat, ternyata itu adalah salah satu adegan dari pentas keliling kelompok Teater 28 yang saya tonton ketika mampir ke kota saya tinggal, beberapa waktu lalu. Dan dialog para tokoh dalam pentas teater dengan judul “Lakon yang Ditulis Kemudian” sangat berkesan bagi saya, terutama bagian paling mengiris perasaan ketika tokoh perempuan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya dengan alasan cinta, malah teperdaya dengan cintanya sendiri yang jujur dan lugu itu. Saya merasa gemas sekaligus marah.

Kisah dalam novela ini dibuka dengan 4,5 halaman bertajuk “Ini Bukan Pengantar, Mungkin Pengarang Sedang Mabuk” yang dengan lugas berkata bahwa perempuan adalah kunci! Betul, saya setuju dengan kalimat tersebut. Perempuan sering dikatakan sebagai makhluk halus, yang lebih mengedepankan rasa daripada logika. Tapi perempuan juga adalah makhluk yang kuat, berani menanggung apa saja yang jadi takdirnya, bahkan kepada lelaki bajingan yang selalu mereka cintai.

Populasi para bajingan di dunia ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang baik-baik. Bisa satu banding milyaran. Dan baik yang bajingan dan yang baik, sama-sama keluar dari ‘nganu’ perempuan. (hal. 8)

Penulis seakan menegaskan bahwa perempuan yang sering dianggap lemah itu, perlu diakui ternyata memiliki kekuatan yang tidak mungkin bisa dipikul para lelaki, yang bersembunyi dalam kegagahan dan stigma masyarakat sebagai pelindung perempuan, sebagai orang yang lebih berkuasa kedudukannya dibanding perempuan.

Ada dua kisah yang berbeda dalam novela setebal 128 halaman ini, tapi memiliki benang merah tokoh dari cerita satu dan lainnya. Meski demikian, sayang sekali kisah pertama rasanya masih nanggung dan meninggalkan rasa penasaran. Magdalena, sang benang merah itu merupakan mucikari yang sama dari kedua tokoh utama yang diceritakan. Pada bagian pertama, dikisahkan betapa perempuan selalu terpojok oleh keadaan dan situasi.

Kenaifan gadis-gadis kampung yang lugu dan sering dimanfaatkan oleh oknum, sudah sejak lama menjadi kisah yang lumrah terdengar, terbaca, dan memang banyak terjadi di dunia nyata. Mimpi manis merah jambu akan rumah tangga idaman yang mulus bersama sang kekasih jadi hancur berantakan sejak mereka ditawari bekerja di kota dan dijebak masuk dalam pusaran bisnis berahi lelaki hidung belang. Tak ada yang berani melawan pada kekuasaan Magdalena, sang mucikari yang memiliki berbagai trik untuk mempertahankan anak buahnya.

Dalam pengisahan pertama, kengerian digambarkan dalam kebiadaban Mami ketika Yanti, salah satu perempuan yang tubuhnya dijadikan komoditas, melakukan perbuatan nekat: kabur. Sayangnya misi kembali ke jalan yang benar dan mimpi menikah dengan Firman,  kekasih pujaan, harus raib bersama dengan kepolosan lainnya yang menyebabkan Yanti kehilangan kewaspadaan dalam pelariannya. Yang lebih menyedihkan lagi, ketika Firman menyambangi rumah bordil tempat Yanti bekerja dan mendapatkan informasi yang membuat pembaca terhenyak. Sayangnya, Bode Riswandi, sang penulis, tidak merinci bagaimana Firman akhirnya tahu bahwa Yanti bukan bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil seperti yang diketahui oleh keluarga dan orang-orang di kampung mereka. Ada semacam kejanggalan dan sedikit lompatan cerita juga yang membuat pembaca menerka-nerka bagaimana nasib Firman yang pulang kampung setelah menerima informasi bahwa Yanti menunggunya di sana.

Awalnya saya pikir ketika masuk bab bertajuk “Yang Datang dan Pergi” akan terselip petunjuk yang menghubungkan dengan cerita “Sukat” di bab selanjutnya. Tapi sampai berlembar-lembar halaman, saya lagi-lagi hanya bertemu dengan Magdalena, dan Sukat, agen mucikari yang menjerumuskan Yanti dan Dahlia. Nama terakhir itu merupakan perempuan yang bisa membuat Sukat tidak tenang dan kesengsem. Perempuan yang akhirnya bisa membuat Sukat sang Don Juan bisa takluk dalam pesona cinta dan kecantikannya. Tapi takdir selalu membawa manusia pada hal-hal tak terduga. Ketika impiannya membangun rumah tangga dengan Dahlia sedang mekar, Sukat harus berperang batin untuk memilih menyelamatkan nyawa atau mewujudkan harapan cinta yang telah menjeratnya.

Menarik membaca kisah para perempuan yang terpaksa berada dalam jebakan keadaaan. Kegetiran nasib perempuan yang terpaksa jadi “barang dagangan” itu tak melulu karena alasan ekonomi, tapi bahkan bisa jadi karena cinta! Iya, cinta yang dijadikan alat untuk memperdayai ketulusan hati perempuan pada lelakinya.

Tak pernah ada yang bisa menerka arah hidup seseorang. Pun demikian dengan para perempuan yang dikisahkan dalam buku ini. Bagaimana akhir hidup mereka dan perjuangan mereka menjalani hari-hari demi bertahan dari remuk redam perasaan yang harus mereka tutupi demi menyelamatkan nyawa, demi menunggu hari pembalasan tiba.

Kita telanjur menerakan cap negatif kepara perempuan yang terpaksa menjajakan diri itu. Kita memberikan nama-nama yang jumlahnya puluhan itu sebagai kata ganti untuk pekerjaan dan status mereka. Kita telanjur menganggap mereka sebagai perempuan kotor dan kehilangan martabatnya. Tetapi bukankah itu juga berasal dari ketidak berdayaan mereka menghadapi kerasnya hidup yang disuguhkan?

Betapa ringannya mulut kita melabeli seseorang itu pelacur, lantaran kerjanya menjajakan kehormatannya. Jika atas nama kehormatan yang digadaikan, apakah hal lain di luar itu bisa dibilang pelacur? Seorang pejabat negara yang rakus makan duit rakyat, agamawan yang menjual ayat-ayat demi kepentingan partai dan golongan, para hakim yang memutuskan pasal pada berapa besar pasokan yang diterima, teori-teori kaum intelektual tercerai dari realitas kemasyarakatan, atau para seniman yang pandai menulis derita sosial menguatkan pada diksi namun kopong dalam aksi. (hal. 102)

Satu paragraf tersebut terasa menohok, bukan? Tapi betul juga, kenapa hanya pada perempuan yang tak berdaya itu kita menyematkan predikat tersebut? Apakah ini juga akibat stigma yang dibangun oleh para lelaki yang dengan jumawanya mendudukkan perempuan sebagai objek, sebagai persona yang bisa diatur bagaimana mereka suka?

Yang menarik dari bagian akhir novela ini adalah kekeras kepalaan Dahlia yang menunggu Sukat penuh dendam rindu hanya untuk mengatakan: “Perempuan yang dipegang kesetiannya, dan  lelaki ucapannya!” kemudian melakukan apa yang ditunggu selama 48 tahun! Bayangkan! Betapa lama waktu untuk membuktikan kesetiaan dan menunjukkan kekuatan cintanya yang berselimut dendam!

Sebagai penyeimbang, suatu kelebihan selalu menyertakan kekurangan. Begitu pun dengan buku ini. Memang, di beberapa halaman saya menemui beberapa “ganjalan”:  salah ketik, dan kata-kata yang biasa disematkan sebagai diksi khas puisi-puisi Bode Riswandi. Selain itu, kata-kata yang mestinya merupakan bahasa lisan terasa kurang pas dijadikan kata-kata dalam tulisan. Di halaman terakhir, ada sedikit blunder, tentang posisi Dahlia yang memeluk Sukat, tapi kemudian kalimat lain menerangkan Dahlia berada di belakang Sukat, dan kalimat pamungkas bagaimana mata Sukat menatap ke arah Dahlia. Andai saya tak melihat pementasan teater dari kisah ini, gambaran visual atas adegan itu bisa membuyarkan imaji saya.

Suka atau tidak pada gaya penceritaan Bode Riswandi dalam novela pertamanya ini, berpulang pada selera masing-masing. Tapi sebagai seseorang yang kerap membaca karya-karya Bode, cerita realis dalam buku ini terasa lebih dekat dengan keseharian di sekitar kita. Maksud saya, jika dibandingkan dengan kisah dalam cerpen-cerpen Bode yang surealis, bahkan kadangkala absurd.

Baiklah, saya sarankan Anda membaca sendiri kisah perempuan-perempuan yang berusaha setegar karang memamah sajian nasib dalam hidupnya sebagai takdir yang harus dilakoni. Dan memahami bagaimana kalimat “wanita yang dipegang kesetiannya, dan lelaki ucapannya” itu meresap ke dalam pemikiran Anda.

Judul               : Hari Terakhir di Rumah Bordil

Penulis             : Bode Riswandi

Tebal               : 128 halaman

Penerbit           : BASABASI

Cetakan           : I, Februari 2020

ISBN               : 978-623-7290-63-6

***

MENJAGA MOOD


MENJAGA MOOD

Sudah 49 hari tinggal di rumah, tentu kita sudah membuat banyak adaptasi dalam beberapa hal. Bagi orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar rumah, penyesuaian pun tetap ada, terkait ritme kerja dan interaksi sosial. Namun, untuk beberapa orang yang total diam di rumah, tantangan untuk bertahan tidak saja dari segi penghidupan, tapi juga menjaga mental (ini menyerang semua orang, percayalah, Anda tidak sendiri).

Ada kemungkinan beberapa orang mengalami tanda-tanda stress atau depresi yang tidak disadari. Kecemasan demi kecemasan mengintai menggerogoti. Dan hal itu bisa berakibat kurang baik pada kesehatan. Jatuh sakit di masa pandemi ini rasanya meneror mental dua kali lipat dibanding hari normal.

Banyak cara bisa dilakukan untuk membunuh jenuh, meredam bosan. Selain melakukan hobi yang sempat terabaikan, bisa juga mengintensifkan kembali kegiatan yang selama ini hanya ada dalam daftar keinginan.
Tren aktivitas daring pun meningkat, dari mulai diskusi dan pelatihan daring dengan berbagai topik sesuai preferensi, hingga transaksi belanja yang beberapa waktu memang sudah terbiasa dilakukan secara daring. Anda bisa memilih itu semua sesuai kecenderungan dan kebutuhan.

Tapi pada hari-hari tertentu, agaknya sangat manusiawi jika segala hal yang dilakukan di rumah itu tetap saja tak bisa menghindarkan diri dari rasa bosan. Dan bisa jadi malah mengundang lagi kecemasan. Jika hal itu mulai mengganggu, segera cari tahu solusi yang paling tepat untuk Anda.

Beberapa hal kecil yang mungkin sering luput diperhatikan selama ini bisa jadi adalah hal-hal berikut yang bisa disiasati:

1. Lakukan ritual mandi dengan sabun dengan aroma favorit Anda atau sabun aromaterapi yang bisa meningkatkan mood. Nikmati waktu mandi dengan menyadari kesegaran air dan wewangiannya.
2. Jika dirasa perlu, semprotkan minyak wangi atau lotion dengan wangi yang lembut. Anggaplah Anda seolah-olah hendak berjumpa seseorang dan harus tetap wangi.
3. Kenakan pakaian yang rapi dan bisa membuat Anda merasa keren. Walau di rumah saja dan tidak ketemu orang lain, percayalah, sesekali tetap mengenakan pakaian yang rapi dan indah itu bisa meningkatkan mood.
4. Berolahraga atau meditasi di rumah dengan pakaian yang paling nyaman yang biasa dikenakan jika Anda pergi ke gym atau fasilitas olahraga umum. Sekali lagi, anggap saja Anda hendak bertemu orang lain.

Barangkali ini tampak sepele. Tapi hal-hal kecil ini bisa memengaruhi mood Anda seharian. Apalagi jika hari ini Anda akan melakukan konferensi dengan beberapa orang melalui zoom meeting, skype, IG live, google meets, dll. Dengan memerhatikan hal-hal kecil ini, sebetulnya Anda sedang menyenangkan diri sendiri secara tidak langsung. Jangan lupa tetap berikan senyum terbaik  setiap Anda becermin.

Rasakan sendiri bedanya. Mood yang baik akan menjaga semangat positif Anda. Dan itu berarti Anda sedang membantu banyak orang dengan tetap menjaga kesehatan dan kewarasan.

Yuk, lakukan hari ini! Tetap semangat ya walau di rumah saja. Untuk yang sedang menjalankan ibadah puasa, semoga Ramadan kali ini membuat kita lebih memaknai kesungguhan diri terhadap Illahi.

Salam sayang,
-RAB-

TONTON DAN NIKMATI SAJA FILMNYA


46C4571E-0592-436C-97B5-C6ED0ACD04ACTepat di hari peringatan kemerdekaan RI ke-74, saya bersama penonton lain menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Bumi Manusia. Dan sepanjang 181 menit, pikiran dan perasaan saya campur aduk: haru, sedih, kecewa, senang, dan bangga.

 

Sejak awal kabar novel Bumi Manusia akan difilmkan sudah menuai banyak kontroversi dan keraguan dari berbagai pihak. Terutama dari orang-orang yang sangat mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, sang penulis tetralogi Pulau Buru, yang di masa Orde Baru, buku-bukunya dilarang beredar.  Banyak yang mempertanyakan kenapa Hanung? Tidak sedikit yang meragukan apakah film itu akan sesuai ekspektasi seperti membaca novelnya. Perdebatan ini semakin ramai ketika Iqbaal Ramadhan terpilih jadi pemeran Minke. Tampang imutnya dan perannya di film terbaru, Dilan, memang membuat banyak orang jadi sangsi dan tidak rela Minke diperankan Iqbal. Tapi tentu Hanung sudah bikin perhitungan matang dan mempunyai tim yang bisa diandalkan dalam menggarap sebuah naskah.

 

Saya menontonnya tepat pada 17 Agustus 2019. Suasana menuju bioskop di dalam mall saja sudah terasa nasionalis karena gaung lagu-lagu yang diperdengarkan selaras dengan tema peringatan kemerdekaan. Masuk bioskop tak lama menunggu tampillah tulisan dalam layar lebar bahwa sebentar lagi lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan dan hadirin diminta untuk berdiri. Sontak, para penonton pun kompak berdiri tegak dan turut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Wah, awal yang bagus, pikir saya. Meski sempat dapat bocoran sebelumnya bahwa sebelum film diputar, penonton pasti diminta berdiri. Dilanjutkan dengan suara Iwan Fals yang khas sebagai pembuka, lalu adegan Minke yang dibangunkan Suurhoff. Begitu wajah Iqbaal muncul, saya paham kenapa banyak orang yang kecewa atas pilihan pemain. Tapi kemudian saya mengingatkan diri sendiri bahwa tadi saya sudah meniatkan akan menonton film, dan harus melupakan pernah membaca novelnya.

 

Setting dan pemilihan lokasi konon sengaja dibuat Hanung untuk mengerjakan film ini. Salut. Pasti tidak mudah menerjemahkan isi novel dan memadukannya dengan imajinasi. Belum lagi harus memilih para pemeran yang betul-betul sesuai karakter. Seperti para penonton lain yang sudah pernah membaca bukunya, saya kecewa karena Iqbaal tidak sesuai gambaran Minke dalam kepala saya, pemeran Robert Mellema tampak kurang indo dan Ine Febriyanti kurang pribumi untuk menjadi Nyai Ontosoroh. Tapi akting Ine sukses membuat kagum karena gambaran seorang Sanikem yang tercerabut dari kehidupan masa mudanya, yang terpaksa dijual oleh ayahnya sendiri demi jabatan, kemudian menjelma jadi seorang Nyai yang mampu menyesuaikan diri, lekas belajar memimpin perusahaan milik Herman Mellema— lelaki yang menjadikannya gundik, diperankan dengan kemampuan Ine yang matang. Pemeran Darsam tidak kalah penting sumbangsihnya pada kesuksesan film ini. Dialog dan logat Madura yang kental serta sikap setianya pada Nyai sang majikan, jadi daya tarik lain tontonan ini. Ada yang mengganjal dan akting yang terasa nanggung untuk beberapa pemeran dan tokoh pendukung lain. Tapi nyaris tak mencolok.

 

Hanung sepertinya memang memilih tim yang pas. Durasi menonton film selama 3jam bisa tidak membosankan itu luar biasa. Di sini penulis naskah dan pengembang cerita tentu berperan besar sebelum naskah ini ada di tangan para pemainnya. Saya malah membayangkan bagaimana diskusi-diskusi alot antara Salman Aristo, Hasan Aspahani, juga Hanung sendiri menggarap konsep awal. Tim penata musik juga jangan dilupakan. Musik yang tepat untuk adegan apa yang lebih cocok, menentukan apakah film ini bisa membuat penonton larut atau tidak. Belum lagi kameramen yang tentu berusaha menampilkan visualisasi dari angel yang tepat. Saya tidak menyiapkan diri untuk kesedihan ketika mau menonton film ini. Selain sukses 181 menit bikin saya diam di kursi, film ini sukses membuat saya mengeluarkan tisu dan mengeringkan air mata yang terjatuh. Iya, sisi emosional saya diaduk-aduk. Sudah sejak awal. Sejak Robert dan Surhoff yang indo itu lebih membanggakan darah Eropanya, sedang Annelies yang cantik malah lebih ingin menjadi pribumi. Saya lahir di keluarga Indo. Saya mengalami bagaimana ketika pindah ke tempat tinggal saya sekarang, sempat diragukan ke-Indonesiaannya, dan diperlakukan berbeda. Sementara ada anggota keluarga yang bersikap mirip dengan Robert, lebih bangga dengan ke-Eropaannya. Jadi sambil menonton, sambil pikiran saya nostalgia juga memikirkan Oma. Oke, lanjut bahas yang lain.

 

Hanung menghadirkan pesan yang penting seperti dalam isi novel Pram. Bahwa kekuatan pena itu luar biasa, lebih kuat dari otot dan senjata. RM Tirto Adhie alias Minke ini melawan melalui tulisan ketika harus berhadapan dengan pengadilan, dan berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat banyak. Yang tadinya nyinyir dengan kehidupan pribadi Minke karena tinggal di rumah seorang Nyai, jadi membela sebab rasa kebangsaannya terusik dan tersadarkan. Pernyataan bahwa bangsa Indonesia itu setara dengan Eropa, tidak lebih rendah, tapi sejajar, sangat mengena di kala masih banyak yang beranggapan orang Eropa memiliki level lebih tinggi daripada pribumi. Persis di peringatan hari kemerdekaan, film ini diluncurkan. Pas momennya. Nasionalis sekali, kan?

 

Banyak pesan-pesan positif yang dikemas cantik (baik dalam dialog dan penggambaran karakter) demi mengimbangi kisah cinta Annellies dan Minke yang tragis. Misalnya contoh sikap Minke yang bertindak sebagai lelaki ksatria menerima wanita yang dicintainya telah ternoda, bagaimana Nyai Ontosoroh bertahan dan kuat dalam tempaan, bagaimana seharusnya bersikap ketika nyaris semua orang malah memihak kepentingan penguasa, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri dan berani menanggung konsekwensi atas setiap keputusan yang sudah dipilih. Adanya pesan-pesan positif dan berkarakter ini, menjadikan film Bumi Manusia patut jadi rekomendasi tontonan anak milenial (dan orang tuanya). Ditutup dengan kesedihan paling mengiris, film ini menggaungkan kalimat Pram yang terkenal di novel itu: “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.’ Semacam penegasan bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita yakini sampai titik darah penghabisan, sampai segala cara yang ditempuh tak menemukan lagi jalan terang.

***

 

Yang mesti disiapkan tentu saja sebelum masuk dan menonton, perut harus kenyang dan pastikan sudah cukup minum. Sebab durasi panjang begitu tidak nyaman kalau harus terpotong karena lapar atau ingin pipis.
Menurut saya nih ya, buat yang koar-koar film ini jelek (apalagi bilang jelek tapi cuma tahu “katanya”, kata orang lain, belum membuktikan sendiri), pesannya gini: memang kita itu harus melepas dulu kesan yang terekam setelah pernah membaca tetralogi pulau Buru sebelum menonton filmya, agar tidak terganggu dengan citraan imajinasi (ideal) versi kita.
Jangan membandingkan sajian film yang disutradarai Hanung dengan penceritaan versi Pram. Jangan pula membandingkannya dengan alih wahana pada pentas Bunga Penutup Abad yang disutradarai Wawan Sofwan. Sebab menerjemahkan sebuah novel ke dalam media lain tentu tidak akan sama persis sensasinya.
Tonton filmnya dan nikmati sajian penceritaan versi kerja tim yang sudah berusaha keras mengenalkan karya Pram ke khalayak yang lebih luas.
Jangan fokus dengan kekecewaan pemilihan pemeran. Jangan fokus lihat Iqbaal yang tampak terlalu imut buat memerankan sosok RM Tirto Adhie. Kasihan dia, sudah berusaha kuat belajar pelafalan bahasa Belanda demi aktingnya. Jangan lihat pilihan cast Robert Mellema yang kurang indo atau Ontosoroh yang terasa kurang pribumi. Masih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati dari sudut pandang lain.

Boleh dikata cukup baik lah. Dan saya rasa malah memancing rasa penasaran yang belum pernah baca karya Pram untuk membaca tetraloginya. Dan yang sudah pernah baca, jadi ingin baca lagi. Positif kan jadinya?
Tidak setuju dengan pendapat saya? Tidak masalah. Dunia berbeda penuh warna itu indah daripada seragam.
Sekian dan terima endors.

 

~RAB

17-18 Agustus 2019