#NulisRandom2017 hari ke-22


SURAT UNTUK ELANG
(entah yang keberapa)

Apa kabar, Lang? Masih suka mengikuti perkembangan klub sepak bola kesayanganmu kan? Bagaimana pekerjaan dan hari-harimu? Semoga segalanya baik.

Lang, aku tahu surat ini selalu harus aku terbangkan ke udara. Sebab untuk mengirimkannya padamu, butuh bermacam alasan dan pertimbangan akan berbagai kemungkinan yang timbul setelah surat-suratku sampai di alamatmu. Tapi bukankah akan selalu ada cara untuk sebuah kabar sampai padamu? Tidak peduli perlu waktu berapa lama sampai akhirnya kau membaca seluruh suratku. Seperti pertemuan kita dulu itu, takdir telah tertulis seperti itu. Takdir pulalah yang selalu membuatku mengenangnya sebagai kisah paling indah dari seluruh yang aku punya.

Ah ya, lagi-lagi aku selalu kembali ke titik awal itu, Lang. Titik di mana kita saling mengulurkan tangan dan mengucapkan nama masing-masing dengan pelan sampai tak berani saling tatap. Sore yang lembab. Halaman belakang rumah kakek dan debar yang masih bisa kurasakan hingga saat ini. Bahkan setelah 14 tahun berlalu. Konyol? Kurasa tidak, Lang. Tidak, jangan bilang aku tidak bisa melanjutkan hidupku! Aku hanya tidak memiliki kisah tandingan yang lebih indah dari itu. Meskipun bisa jadi kau bahkan sudah melupakannya. Tapi entahlah, aku percaya, kau hanya berusaha menegakkan janjimu sendiri dan menjaga apa yang sudah kamu punya sekarang ini dengan baik. Kau tidak benar-benar melupakanku. Aku berani bertaruh!
Lang, selama 14 tahun sejak kita bertemu pertama kali itu, dan setelah 13 tahun terakhir sudah tak ada lagi kata “kita” yang menyatukan, aku menjadi payah. Aku tahu tak ada yang boleh kusalahkan atau menyesali keadaan. Tapi jika suasana hatiku sedang buruk, aku kerap menyalahkanmu dan hal-hal yang (kurasa) tak pernah tuntas kita selesaikan. Sejak saat itu, aku merasa aku membuat keputusan salah, dan mengestafetkannya dengan mengambil keputusan-keputusan salah lain. Tapi semuanya tak ada yang bisa mengembalikanmu, mengembalikan “kita”. Atau bisa saja belum. Belum ada satupun kesempatan yang bisa memberi terang.

Kau tahu, Lang… Sekalipun cahayanya kecil, atau remang-remang dan nyaris redup, tapi rasa yang kupunya tidak pernah mati. Suatu hari aku menemukan seseorang, yang memenuhi daftar hal-hal yang aku inginkan dari seorang lelaki. Daftar yang pernah kubuat juga sebelum aku bertemu denganmu dan akhirnya ekspektasiku bertemu kenyataan yang manis. Tapi semua selalu tidak pernah sama, Lang. Situasi yang kita punya entah kenapa selalu terasa berbeda. Selalu tak ada yang bisa mengalahkan situasi yang hanya milik kita.

Orang-orang pernah berkata jangan terlalu menggantungkan harapan pada seseorang kalau hidupmu tak ingin jadi berantakan. Tapi aku tidak peduli, aku menyerahkan semua kepercayaan, harapan, dan seluruh hidupku padamu. Aku tidak memikirkan sebuah perpisahan. Tentu saja, kenyataan lebih pahit dari yang kita kira bukan? Aku nyaris ingin bunuh diri, aku merasa hidupku sudah berakhir dan tak memiliki lagi tujuan.

Sayangnya, sahabat-sahabatku tak membiarkanku mati begitu saja, Lang. Satu orang bahkan selalu siaga menyadarkanku setiap air mataku mulai berderai dan mataku menerawang kejauhan. Beruntung aku tidak menjadi gila karena depresi. Tapi beberapa waktu lalu, psikolog mengatakan jiwaku tertawan di masa lalu dan belum sepenuhnya merelakan kejadian-kejadian yang membekas.

Lang, menulis adalah salah satu caraku menyembuhkan diri selain berdoa. Aku mulai menuliskan apa saja, terutama mengeluarkan kekecewaan yang menyakitiku perlahan. Aku ingin menulis sebanyak mungkin, aku ingin namaku muncul di mana-mana hingga kamu tak lagi bisa menghindar untuk tidak lagi menemukan namaku bahkan dalam mesin pencari. Aku terobsesi menjadi terkenal untuk menghantuimu di manapun kamu berada. Kamu suka membaca, dan jenis bacaanmu seperti apa, itu sudah lama kutahu. Kutekadkan untuk tetap di jalur itu, sampai suatu hari kamu membaca tulisan-tulisanku dan menyadari sesuatu. Aku yakin, akan ada satu hari ketika kita bisa duduk dan membincangkan satu hal penting yang masih mengganjal. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi aku yakin, ada campur tangan Tuhan dalam kisah-kisah kita. Selalu yakin.

Tapi Lang, aku masih mengkhawatirkan satu hal. Bagaimana jika aku mati esok lusa sementara kita belum juga bertemu dan menuntaskan persoalan?

Duh, Lang… Semoga saja kita masih bisa bertemu sebelum ajal menjemput, agar bisa saling memaafkan.

Sudah dulu ya,

Forever your Ann.

#RAB, 22062017
#RAB_NulisRandom
#NulisRandom2017
#day22

#NulisRandom2017 hari ke-21


HATIKU TAK BERPINTU (2)

Hatiku tak berpintu
tidak ada ruang untuk menerima tamu*

Tapi kau kepala batu, tak peduli apa kataku
Entah bagaimana caranya
Kau sudah diam di ruang paling rahasia
tempatku menyembunyikan rasa

Lewat celah mana engkau masuk?
Adamu membuatku mabuk
Bahkan nyaris tanpa mengetuk

Siapa engkau ini?
Berani mematrikan diri
Tanpa izin sama sekali.

Hatiku tak berpintu
Tapi rumahku bertuliskan namamu.

 

#RAB,21062017

#NulisRandom2017
#day21
#RAB_NulisRandom

*penggalan baris puisi Hatiku Tak Berpintu_RAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-20


PERCAYA PADA MATEMATIKA

 

Roda kehidupan tentu selalu berputar. Tak selamanya di atas. Juga tak selalu di bawah. Ada kala kita berlimpah harta dan berkah lain, di suatu hari lainnya kita harus bersyukur masih bisa makan atau diberi umur meski dengan kondisi apa adanya.

 

Jangan terlalu sedih saat kita sedang berada di titik paling rendah dalam hidup. Yakinlah Allah sedang menyiapkan kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika sedang lapang rejeki, bersyukurlah, berbagilah. Sebab Allah akan mengganti apa pun yang kita bagi dengan hal-hal yang lebih baik lagi.

 

Tentu pernah dalam suatu masa kita merasa apa yang kita punya tak ada apa-apanya dibandingkan orang lain yang segalanya lebih berada daripada kita. Lantas diri ini merasa kecil, merasa kurang, merasa tak bisa menjadi berarti. Mari kita lihat sekitar, barangkali ada yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan dan perlu bantuan kita. Baik secara materi, maupun secara moril. Bagikan apa saja yang kita punya, yang kita bisa, semampunya. Percayalah, apapun yang kita bagikan akan kembali pada kita dalam jumlah yang lebih banyak, kebahagiaan yang lebih nikmat, dan ketenangan dengan rasa syukur yang tak terukur.

Misal, jika kita punya 10 permen, lalu dibagikan 3-4 permen, kita masih punya sisa, bukan? Bahkan jumlah permen yang kita bagi tadi, akan kembali lagi dengan cara tak disangka, mungkin dalam bentuk permen yang sama, atau berupa hal lain yang jauh lebih berharga. Tapi kita tidak akan kehabisan permen, jangan khawatir permen yang kita miliki tidak cukup.

Percaya pada matematika Allah. Berapapun jumlah yang kita bagi, Allah akan menggantinya dengan jumlah yang selalu mengejutkan, membuat kita selalu bersyukur.

 

Saat paling membingungkanpun ketika kita tak tahu bagaimana mencukupi kehidupan kita, jangan khawatir. Ada Allah. Allah yang akan mencukupi seluruh kebutuhan kita.

 

Yuk, tetap positif!

 

 

 

#NulisRAndom2017 hari ke-19


BUKAN SAJAK JATUH CINTA

Bahkan ada hari di mana aku ingin menganggit bintang-bintang
Menyematkannya di dadamu bersama sepasang lengan

Yang selalu siap terentang menerima kepulanganmu

 

Bahkan ada hari di mana aku ingin menghias ruang tamu,
mengecat pintu, membersihkan jendela,
dan menyemprotkan parfum kesukaanmu
di belakang telingaku

Juga ada hari-hari ketika aku kehilangan banyak kata,
hanya diam mengamati kerut-kerut di wajahmu,
membayangkan saat kita bersisian
saling pandang, bertukar banyak hal
dan menitipkan sentuhan

Ada lebih banyak hari saat kita menyibukkan diri
dengan ragam persoalan lalu saling melontarkan kekesalan
mencabik seluruh cerita yang susah payah dibangun

Tapi bahkan aku selalu tidak pernah menemukan alasan
Bagaimana hari-hariku jika tanpamu
Sebab sejak itu, satu kecemasan selalu mengantar kita
pada tekad saling menguatkan.

#RAB, 19062017
#NulisRandom2017

#RAB_NulisRandom
#puisiRAB

#NulisRandom2017 hari ke-18


MEMBANGUN RUMAH DENGAN UANG 50 RIBU

-sebuah inspirasi usaha-
Namanya Roni, 21 tahun. Biasa mangkal di Alun-alun Garut, depan Mesjid Agung Garut sedikitnya satu minggu sekali. Di antara aneka ragam permainan seperti mini motorcross, becak mini, delman domba, odong-odong dan lainnya yang bisa dipilih oleh anak-anak, Roni memilih berjualan boneka gypsum. Boneka yang berbahan gypsum tersebut dijual Rp. 5.000 untuk boneka ukuran besar, dan Rp. 2.000 ukuran kecil, dilengkapi dengan cat warna-warni yang telah disiapkan. Di salah satu sudut alun-alun, Roni melapak bermodalkan selembar tikar, kuas dan palet, serta tisu dan segelas kecil air untuk membersihkan kuas yang disediakan khusus bagi anak-anak yang ingin mewarnai sendiri bonekanya di tempat.

Di antara aneka ragam permainan itu, tentu sepintas lapak boneka gypsum tampak biasa saja dan tidak seramai sewaan motor cross misalnya. Namun siapa sangka keuntungan bersih yang bisa diraup Roni bisa mencapai Rp. 700.000!

Bayangkan saja, jika satu anak tertarik membeli satu boneka seharga lima ribu dan memilih mewarnainya di tempat, tentu akan ketagihan setidaknya satu atau dua boneka lagi. Pemilihan lokasi lapak yang strategis di bawah pohon rindang, apalagi bulan puasa begini, tidak membuat anak gelisah, malah betah duduk lama-lama berkreasi dengan bonekanya.

Menurut Roni, dia memulai usaha ini dengan kakaknya sekitar setahun lalu dengan modal Rp. 50.000 saja, itupun patungan dengan kakaknya. Jadi masing-masing mengeluarkan Rp. 25.000 dari koceknya. Modal 50ribu tersebut ia belikan gypsum satu karung seharga Rp. 35.000 dan sisanya dibelikan cat tembok warna-warni yang dikemas ke dalam plastik ukuran mungil. Dari modal 50 ribu tersebut dapat menghasilkan boneka sebanyak 200 buah. Sedangkan cetakan boneka ia buat dari kayu yang dibentuk dan diukir sendiri. Kayu-kayunya diminta dari sisa-sisa bahan bangunan yang tidak terpakai. Awalnya Roni sempat pesimis, apakah jualan seperti ini bisa laku atau tidak.

Di luar dugaan, ternyata minat anak-anak cukup baik. Dari sekadar melapak di Alun-alun Garut, Roni mulai bekerja sama dengan beberapa sekolah. Dia menjadi pemasok boneka atau lempengan gypsum untuk dibuat prakarya ukiran anak-anak sekolah.

Dari modal awal 50ribu itu, sampai saat ini, keuntungan yang dikumpulkan Roni sudah bisa membangun sebuah rumah di tanah ibunya. “Alhamdulillah, bukan saya sombong, tapi gaji saya malah lebih besar daripada UMR sekarang ini,” ujarnya. Dalam waktu satu minggu, ia mendapat penghasilan kotor Rp. 900.000. “Kalau dipotong modal beli gypsum dan cat paling juga 200ribu.” Jadi dia bisa mengantongi Rp. 700.000 bersih. Tinggal dikalikan 4 saja sudah bisa ketahuan kan penghasilannya sebulan berapa?

Selain berjualan boneka gypsum ini, Roni juga bekerja di sebuah bengkel motor. Menurutnya, sekarang pekerjaannya di bengkel justru jadi sampingan dan sudah dianggap uang jajan tambahan saja.

Roni bersyukur memutuskan melakukan usaha ini. Dan ketika melihat teman-temannya yang mengeluh tidak punya pekerjaan, Roni pun tergerak untuk mengajak mereka bekerja sama. Hingga saat ini sudah ada empat orang temannya yang ikut berjualan. Roni menerapkan sistem bagi hasil pada mereka. Dan teman-temannya ini bertugas jualan dan menjaga lapaknya di madrasah dan SMK di daerah Tanjung saat Roni sedang bekerja di bengkel.

“Kadang-kadang kalau di depan SMK pas mereka bubar saya jualan sambil bikin lomba. Yang bonekanya paling rapi dan bagus warnanya, saya kasih hadiah boneka ayam ukuran besar. Ibu-ibunya juga suka ikutan. Seru. Kalau anak-anak kecil kan ekspresinya juga seneng. Saya ikut seneng. Kayak ngasuh aja,” tambah Roni.

Sedangkan untuk kerjasama dengan pihak sekolah, biasanya Roni menetapkan harga Rp. 8.000 per boneka atau per lempengan untuk diukir, tergantung ukuran dan permintaan dari pihak sekolah. Selain menjual, ada kalanya juga ia sekaligus memberikan tambahan layanan contoh praktek bagaimana mengukir lempengan gypsum atau mewarnai bonekanya.

Roni berkata, usaha seperti ini belum banyak pesaing dan sangat menjanjikan. Terbukti dari penghasilan yang berhasil dikumpulkannya sebagian telah dipakai untuk membangun rumah, selebihnya ditabungkan untuk persiapan masa depan.

Roni adalah satu contoh anak muda yang kreatif, tidak merasa gengsi dan ulet menekuni usahanya. Menurutnya, ia juga mendengarkan masukan dan saran dari ibunya untuk kelangsungan usahanya. Meski hanya sempat sekolah sampai SMP lalu melanjutkan ke Pesantren di Bogor, dia yakin dengan ketekunan dan mendengarkan saran sang ibu, dia bisa berhasil dalam usahanya.

Nah, dari kisah Roni ini semoga kita bisa becermin dan terinspirasi untuk berusaha dengan ulet, giat, dan tentu saja berdoa dan bersyukur.

#RAB, 18062017

#NulisRandom2017

#day18

#RAB_NulisRandom

#NulisRandom2017 hari ke-17


Ada hal-hal mengesalkan yang sering kali kita gak bisa buat hal apapun untuk mengubahnya. Untuk mengabaikan pun tidak mungkin. Apalagi jika terkait dengan kehidupan orang lain lagi selain kehidupan kita.

Rasanya kita ingin bisa menjelma seseorang yang berbeda, dengan situasi yang berbeda pula. Tapi demi satu dan lain hal langkah-langkah yang ingin kita ambil tampaknya tidak semudah berkata-kata.

 

Jika kita jadi pihak yang menyaksikan peristiwa-peristiwa mengesalkan itu, memberi masukan atau mencarikan solusi tentu akan lebih baik. Tapi ada kalanya, kita merasa tidak bisa optimal membantu atau menolong.

 

Rasanya juga ingin sekali menjelma superhero. Tapi ternyata tidak bisa, bukan?

 

Baiklah, kalau begitu kita doakan saja. Berdoa adalah kekuatan yang kita tidak pernah bisa ukur, tapi dahsyat sekali efeknya.

 

 

#NulisRandom2017 hari ke-16


LIHAT BETAPA KITA SUDAH TERGANTUNG!

bahkan sajian di meja makan pun

tidak lagi hanya seperangkat alat makan

lauk pauk 4 sehat 5 sempurna dengan segelas susu

 

ada telepon pintar

merekam percakapan yang jauh jadi dekat

yang dekat jadi jauh

bahkan jadi ritual

foto-unggah-makan

atau cekikian bersama seseorang di seberang

dan orang di sebelah atau sekumpulan itu

hanya menjadi patung;

sama-sama memandangi sang telepon pintar lebih mesra.

 

#RAB, 16062017

#NulisRandom2017

#day16

 

 

 

#NulisRandom2017 hari ke-15


VISITASI

 

Ah, kamu sudah lupa ajakanmu sendiri kan? Menulis bersama di tempat yang sama sekali asing bagi kita.  Tinggal di kota itu beberapa lama lalu pulang dengan karya masing-masing. Tampaknya hidup begitu menyenangkan jika dibayangkan hingga titik ini. “Kita ini keren!” katamu suatu hari sambil tertawa mengingat kembali perkenalan tergesa. Kita kombinasi yang sempurna, penulis dan editor, editor yang hobi menulis, dan penulis yang bekerja sebagai editor. Kita saling melengkapi, katamu.

Lihatlah, undangan dari negara yang kau idamkan itu kini di tanganku. Seharusnya kita merayakan ini, berteriak gembira sekencang-kencangnya dari atas bukit, dan membiarkan orang-orang di bawah sana mengira kita setengah gila.

Sesal memang tidak berguna, bukan? Awal bulan depan seharusnya kita terbang ke sebuah kota di negara itu. Menyusuri setiap sudut kota semampu kita bisa, menghabiskan jatah kunjungan selama di sana. Kita seharusnya juga mewawancarai orang-orang, mengambil foto, dan mengunjungi perpustakaan sesering mungkin. Kau tentu tahu, impianmu adalah impianku juga.

Tapi Sayang, kau merusak rencana-rencana yang kau usulkan sendiri. Dan aku seharusnya tidak perlu mengunjungimu di sini sekadar mengingatkan tentang ajakanmu itu. Lagipula kini kau sudah tak bisa berbicara, diam di bawah nisan batu bersama kekasihmu itu.

 

#RAB, 15062017

#NulisRandom2017

#day15

#RAB_NulisRandom

#CerminRAB #RABberceritalagi #fiksiRAB

 

 

#NulisRandom2017 hari ke-14


BEGITU ITU BERANI?

huruf-huruf berserakan di beranda

tak diterbangkan angin, tak lesap tak lurus tak bengkok tak tahu tak mau tahu

 

Pagar dirusak, benteng digasak,

teman dihalau, tak ada yang baik tak ada yang bagus tak ada yang pantas

“saya berani, saya benar, saya yakin, saya utama, saya pertama!”

 

lalu

daun gugurpun

disalahkan.

 

#RAB, 14062017

#NulisRandom2017 hari ke-13


SERAT TRESNA

Kapan waktos teh samporét biasana gé, Jungjunan

Bihari,
Tina pucuk-pucuk ibun, kasono mindeng nyésakeun katineung sésa tepung
di mumunggang gunung

Saban panonpoé surup, réwuan du’a jadi kembang peuting nu maturan béntang, patingkaretip,

— siga harepan nu duaan

Geuning kiwari wanci resep nyamuni,
api-api jadi cika-cika nu mimiti langka

Tapi ti poè ka poé,
Ti peuting ka peuting,
rewuan du’a masih satia marengan hariring asih,
mindingan kasono dina simpé janari.

Keun, urang guar isuk pagéto dina lambaran carita nu teu weléh jadi katresna munggaran.

#RAB, 13062017
#SajakSundaRAB
#puisiRAB
#NulisRandom2017
#RAB_NulisRandom