Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan


Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan, 18 Maret 2019FDCR7968[1]

PARIS MALAM HARI

 

J e t’aime!

Cahaya lampu di tubuh menara

memutar irama imajinasi untuk berdansa.

Kantuk yang menyerang tiba-tiba,

dilumat ciuman angin Februari yang dingin.

 

Mari duduk di sini, di sebelahku.

Dari sudut di Champ de Mars

di tepi sungai Seine

kita tangkap kerlip lampu satu-satu

ke dalam kotak harta karun.

Suatu hari, jangan biarkan siapa pun membukanya

 

Orang-orang saling berpegangan tangan,

menikmati malam puitis di Paris

 

Engkau duduk di sebelah mana, Gustave Eiffel*?

Lihatlah kini menara itu memendarkan cahaya sukacita

meski berkali-kali kepentingan politik

dan bencana ingin menghancurkannya.

 

#RAB, 2018-2019

* Gustave Eiffel          : arsitek yang merancang Menara Eiffel

 

 

 

 

SELEMBAR POTRET

 

Jika kukirim lagi

selembar potret padamu

bergambar patung kerbau,

rumput hijau, dan puncak stupa borobudur di atasnya,

bisakah kau dengar kecemasan

yang ngalir dari suaraku

saat memintamu mengabadikan peristiwa?

 

Kita telah ditautkan kenangan

dan memintal mantel hangat untuk musim dingin

pada jarak yang ditabahkan takdir.

 

Masa kini akan jadi lampau juga akhirnya.

Tapi matamu menyihir relief-relief di candi,

mengisahkan apa saja yang tak sempat

diucapkan para penafsir.

 

Sejarah telah tercipta dari pelawat dunia,

sedang angin dan gerimis tipis di kota itu

lesap ke dalam gambar di dalam potret.

 

Di buku harianmu,

tercatat kitab-kitab purba

yang kita baca bersama.

 

#RAB, 2018

 

 

KITA AKAN BERPISAH

 

Setelah Volendam dan kesiur angin laut
negeri leluhur,
kutemukan bayang-bayang senyum Oma
di demo pembuatan keju,
klompen raksasa dan kincir angin.

Derai tawa teman perjalanan
dan hangat kebersamaan
menggenapi bahagia musim dingin
Februari kali ini.

Tapi kita akan berpisah, kawan.
Di Schiphol roda koper berputar 180°
menuju tanah air dan menu makanan

dengan banyak vetsin.

 

Ya,
telah kita sesap udara Eropa berhari-hari.
Kelak, semoga kita bertualang bersama lagi.

#RAB, 2018

 

BOLEHKAH AKU BERDOA?

 

1

Di St Peter’s Basillica,

bulan kedua tahun ini benar istimewa.

Peradaban silam memenjarakan mataku

pada setiap  ukiran, patung dan

lukisan Michaelangelo.

 

Kujumpai tubuh Paus dalam baluran balsam,

deretan kursi tempat orang-orang

berdoa meminta apa saja,

kotak pengakuan dosa, juga salib di mana-mana.

 

2

Sebuah pintu suci di tembok katedral,

menyimpan kotak berisi dokumen,

kunci-kunci, dan medali,

sabar menunggu 15 tahun untuk dibuka.

 

— Berapa tahun Tuhan kelak membuka pintu surga? —

 

3

Pada pintu rahasia lain di katedral ini,

kubayangkan sebuah lorong memanjang di baliknya

diterangi temaram obor, dentang genta di kejauhan.

 

Kususuri ruangan demi ruangan,

sambil memikirkan

bagaimana Michaelangelo dan kawan-kawan

membuat keputusan

lukisan apa sesuai kepantasan.

 

4

Tuhan begitu Agung, Kudus, dan tetap Esa.

Aku adalah pendosa yang sedang

mengagumi karya seniman dunia

di hari ulang tahunku.

 

Di depan altar aku terhenti.

Jika Tuhanku juga sama, di sini

bolehkah aku berdoa?

 

#RAB, 2018-2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Puisi-puisi di BasaBasi.co


IMG_E8081[1]

KISAH SARAPAN PAGI

 

 

Kau tahu, bagaimana sepi melulu mencoba bertamu,

Tapi ketika sampai di pintu, ia malu-malu menampakkan diri

Barangkali ia enggan.

 

Melihat wajahmu pun daun-daun di pohon

Bahkan lupa cara menjadi tempat bernaung,

Keteduhan gagal melekat di sulur-sulurnya

 

Sementara di sini, di meja yang penuh kisah

Nastar cake dan cinnamon roll

Berlomba menceritakan petualangan

Menuju lambungmu

 

Masuk ke tubuhmu, kata mereka,

Adalah dengus napas, decak gembira, sesekali sendawa

 

Jarak ke hatimu mungkin tinggal sejengkal sampai

Tapi detak jantung memantul-mantul pada dada

Beberapa nama digumamkan,

Banyak dari masa lalu, satu dua masih menyangkut di masa kini

Daftar nama itu dimuntahkan oleh lidahmu pula sesekali

 

“Apa peduliku?”

Segelas air hangat segera menenggelamkan rasa pahit

Yang bukan dari kopi

 

Ini buku lama yang kubarukan, jawabku.

Biar saja kubaca pelan dari halaman pertama

Demi debar petualangan sejak awal, akan kuselesaikan sampai akhir

 

Kau tahu, lagi-lagi sepi melulu bertamu

Tapi ia hanya berdiri di pintu

 

Melihat rumah hatiku yang penuh,

Ia tak sanggup masuk, dan kerap pergi dengan kekalahan

 

Sedang kita, cukuplah berbagi

Masa, saling menyesap manis-pahit rindu dari cangkir latte itu berdua

 

Berdua.

 

#RAB, Bandung, 2018

 

LELAKI KOPI

 

Ia, lelaki yang muncul

Ketika senja enggan tiba

Menemani makan malam yang ramai kata-kata

Pada pesta di Utara sana

 

Uar aroma kopi menyeruak dari telapak tangannya

Yang terbuka pada jumpa pertama

 

Ia, lelaki yang lewat suaranya

Mengabarkan sejumlah detik yang terserak

Saat menunggu sebuah pertemuan

 

Di meja bundar, akhirnya ia, lelaki itu

Menating secangkir kopi

Dan menyerahkan matanya

Untukku membaca hal-hal baru

Semacam ketabahan

 

Ditingkah Sasando dan alunan lagu The Reason,

Perjalanan Cheng Ho, Yi Jing, dan Wallace,

sampai pula ke masa kini setelah abad-abad

lampau diabadikan catatan para peneliti

 

Ia, lelaki yang menjauhkan diri dari gerimis

yang kuyup di jantungku,

Merekam percakapan dalam

catatan purba

 

Katanya, “tidak semua relief bisa dibaca,

juga yang ini.”

 

Jarinya menunjuk dada imajinasi.

 

#RAB, Yogya-Magelang, 2018

 

 

DARI TEPI JEMBATAN DOMPAK

 

Kubayangkan di tepi jembatan ini,

Engkau memanggil-manggil masa lalu

dari tanah Melayu

 

Kubayangkan suatu hari engkau menceritakan kembali

Perjalananmu saat menyusuri tepi pantai

Mengumpulkan banyak risalah

Nenek moyang yang mengalirkan darah di tubuhmu

 

Amis laut, hangat kota, nona-nona:

Begitu isi suratmu padaku ribuan purnama lalu

 

Kemudian aku menyisiri kota ini dengan puisi

Mencari apa saja yang masih tertinggal

Di makam raja-raja, di reruntuhan tembok istana,

Di tepi bandar Sungai Carang, tempatmu mungkin bertolak di sana

Hingga ke jembatan yang menghubungkan ingatanku padamu

 

Tetapi bahkan saat kutelisik cangkang gonggong,

Dan ketam menyerah dalam sepakat rempah,

Aku menjumpai sisa nyeri dari peperangan

batin dan harapan yang ditambatkan kenyataan

 

Seperti begitu sejarah sudah ditakdirkan

Lahir karena perjumpaan

Sekaligus untuk mengantarkan perpisahan

Pada perjumpaan lainnya.

 

#RAB, Tanjung Pinang, 2018

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019


Puisi-puisi yang dimuat di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019

 

APA YANG TERSISA

 

Telah kuarsipkan album-album itu

Sebab perjalanan masa lalu

Harus kujadikan rambu

 

Barangkali sesekali kau

Jumpai sisa senyum di alun-alun

Tempat kita berbagi hujan

Dan mendebatkan persimpangan

— aku, kau, memilih berbeda

 

 

Kukemasi patahan hati

Beberapa jadi kayu bakar

Untuk menjerang cita-cita,

Mematangkan pengalaman

 

Kehilangan waktu menunggu,

Langkah kuseret melaju.

 

Pagi haru, pagi baru,

Doa mengangkasa.

 

#RAB, 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

DERUNG 

 

Derung gelisah bersambutan

Di gua kepala yang hilang cahya

 

Lupa, bagaimana

Reranting doa

Mengantarkan kita berkelana

 

Di sini sepi,

Bertikai tawa

Meraja

 

Pernahkah engkau cemburu

Pada waktu, pada masa lalu,

Pada seseorang di sebelah yang sibuk

mendoakanmu?

 

#RAB, 2019

MENONTON FILM “I CAN SPEAK”


83BB6A2C-3761-4EEE-84A2-CAFCB4EDAB7C

Padahal bukan pegawai kantoran, tapi ketika libur Imlek begini terus diam di rumah itu rasanya kok gak produktif sih. Otak lagi gak bisa dipake mikir buat nulis, jadi buka aplikasi HOOQ, nonton film ini. Hasilnya: SUKSES MENETESKAN AIR MATA!

Film yang diangkat dari kisah nyata tentang “comfort woman”, para perempuan Korea yang jadi budak seks tentara Jepang di masa Perang Dunia II ini dirilis tahun 2017. Saya tidak membaca review atau mencari tahu ulasan apa pun sebelumnya. Sengaja, biar tidak terganggu dengan semacam pengantar atau sudut pandang orang lain. Pemilihan film juga cuma berdasarkan insting aja. 

Sepanjang 15 menit di awal saya kira ini hanya kisah drama keluarga biasa. Ya sudahlah, toh saya hanya ingin menghabiskan waktu libur ini seperti orang lainnya dengan bersantai. Ternyata kejutan cerita di luar perkiraan. Nah Ok-Boon memberikan kesaksiannya di  Kongres Amerika tahun 2007 melalui HR121. Saya menangis, membayangkan betapa jahatnya peperangan. Selalu ada korban yang dibungkam, terpaksa membungkam dirinya sendiri, atau sama sekali hilang ingatan karena depresi. 

Memang, butuh keberanian lebih untuk mengakui bahwa seseorang pernah menjadi korban. Banyak yang memilih melanjutkan hidup dengan menutupi masa lalu dan berkata semuanya baik-baik saja. Padahal jauh di dalam, jiwa mereka terluka. Penyintas semacam mereka tentu banyak juga yang tak terungkap. Tak terbayang bagaimana seorang perempuan remaja dicerabut dari keluarganya dan disiksa demi memuaskan nafsu para lelaki. Lalu di kemudian hari mereka tetap harus bertahan hidup dan mengubur kisah pilu itu.

Ketika Nenek Oh-Boon berkata bahwa yang perlu dilakukan pemerintah Jepang adalah meminta maaf kepada para perempuan ini, dan hal ini perlu diungkapkan agar tidak terjadi lagi hal yang sama di kemudian hari, saya lalu teringat perkataan Pak Martin Aleida. Kita harus menuliskan kisah itu, sepahit apapun, agar sejarah tidak terulang. Banyak korban perang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Akhirnya saya mengerti, kenapa film yang disutradarai Kim Hyun Seok ini berjudul I CAN SPEAK.

Saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini.

KENAPA MESTI RATU SEKOP?


Ya, kenapa mesti Ratu Sekop? Dari ketiga belas cerita pendek, Iksaka Banu memilih Ratu Sekop sebagai judul. Hak prerogatif penulis, tentu saja. Tapi kenapa tidak “Lelaki dari Negeri Halilintar”, atau “Istana Gotik”, atau “Film Noir”, judul-judul cerpen lain yang tak kalah menariknya dengan “Ratu Sekop”? Ketiga cerita itu juga sama getir menggambarkan situasi dan hidup seseorang.

Barangkali saya sedikit terlambat menikmati karya yang terbit tahun 2017 ini. Tapi buku lama pun selalu baru jika belum pernah dibaca, bukan?

 

Khas sekali tulisan Iksaka Banu ini. Diksi-diksi yang sederhana tapi dirangkai ciamik. Pembaca dibawa ke lorong-lorong imajinasi yang berwarna. Sesekali gelap dan membuat kita harus menebak-nebak. Plot twist di beberapa cerita mudah ditebak sejak awal. Misalnya tokoh Guntur dalam kisah “Lelaki dari Negeri Halilintar”, meskipun saya yakin dia adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk mengambil nyawa Nyonya Lita, tapi penceritaannya membuat saya tetap lanjut membaca huruf demi huruf, bahkan sampai ketika tebakan saya bertemu kebenarannya.

Karena saya sebelumnya lebih dulu menikmati tulisan Iksaka Banu lewat novel yang berbau kolonial atau sejarah, saat membuka halaman pertama, ekspektasi saya tentu temanya tidak jauh-jauh dari sana. Tapi ternyata salah. Meskipun tidak meleset-meleset amat. Dalam kumpulan cerpennya ini, riset dan pengetahuan penulis yang spektrumnya luas sangat terasa. Penulis bisa menceritakan detail bagaimana orang yang diserang Vertigo (yang jadi judul salah satu cerpennya), bagaimana pula orang-orang dengan “indera keenam” memiliki kemampuan itu tanpa sengaja (dalam cerpen “Listrik”), kemampuan yang disambut gembira tapi akhirnya dirasa sebagai ketakutan manusiawi. Serta detail-detail lain semisal jenis senapan dan bagaimana hasil tembakannya dalam cerpen “Sniper”.

Dalam “Undangan Seratus Tahun” dan “VIP”, cerita bercampur dengan imajinasi seperti dalam film-film futuristik: benda asing muncul yang terbang di Laut Selatan, manusia yang berubah jadi android karena tak sudi menuruti perintah untuk menuju kematian. Absurd, sekaligus menyentil; betapa seseorang sesungguhnya memiliki pilihan untuk tidak menuruti perintah kekuasaan, setiap orang berhak menentukan akan mati dalam tekanan atau memilih jalannya sendiri.

 

Kisah dengan tema perselingkuhan seperti dalam “Film Noir” dan “Cermin”, diketengahkan dengan ungkapan dan sindiran yang halus. Segala cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginan paling purba seseorang. Meski diawali rasa cinta, di kemudian hari bisa berkembang menjadi liar atau di luar nalar. Ketika tokoh Windy dalam kisah “Cermin” akhirnya “membalas dendam” pada sang kekasih dengan cara yang persis sama dilakukan sang pria ketika mereka masih saling berkasih-kasihan, menggunakan bayangan dan cermin. Itu pula yang dilakukan Arya (Film Noir), ketika mengetahui istri yang dipopulerkan olehnya kedapatan selingkuh: balas dendam.

 

Balas dendam juga bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Seperti Armin Kelana, pelukis yang sakit hati ketika tidak menerima apresiasi yang diharapkan, sehingga ia terpaksa membunuh orang-orang tidak bersalah dalam kisah “Belati”, padahal niat awalnya ia ingin membalas dendam dengan caranya sendiri.

 

”Jubah” pun tak luput dari bumbu intrik perselingkuhan dan balas dendam. Juga pada “Istana Gotik”, yang mengisahkan centeng yang jatuh hati dan merasa harus selalu melindungi Nona Miranda yang menganggapnya ayah dan meminta perlindungan selayaknya seorang anak.

 

Hubungan ayah-anak digambarkan manis sekaligus tragis dalam cerpen “Sniper”. Ibarat menonton film perang, cerpen ini memberikan kejutan yang menyedihkan. Gambaran akan keharmonisan hubungan seorang ayah dan anaknya, dibenturkan dengan kenyataan dalam perang ketika sang prajurit yang pernah menembak milisi dan mendapati foto anaknya hingga dihantui perasaan bersalah, justru menjumpai kenyataan anak itu telah tumbuh dewasa dan sepertinya terlibat dalam “misi balas dendam”.

 

Rasanya tema-tema balas dendam, intrik, perselingkuhan, mayoritas muncul dalam ketigabelas cerita di buku ini. Ratu Sekop mungkin pengecualian. Penulis memaparkan bagaimana seorang pelukis akhirnya mengubah rencana awal karena sang model lebih tepat mewakili Joker.

 

Ah, terlalu panjang rupanya ulasan kali ini. Sebaiknya baca sendiri sajalah bukunya. 🤭😉

 

#RAB, 01022019

===

Judul: Ratu Sekop

Penulis: Iksaka Banu

Jumlah halaman: xii+189 hlm

Penerbit: Marjin Kiri (2017)

46823D65-DF38-4E3D-BF55-BEBC209D065C

BERAPA SISA PELURU DI PISTOL?


Membaca novel “Ya, Aku Lari!” karya Hasan Aspahani ini saya seperti dibawa berkelana ke banyak tempat dan peristiwa. Satu dan lain saling berkaitan.

 

Awalnya sempat teralihkan fokus, sebab ada beberapa konflik yang dihadirkan dalam cerita. Persoalan Mat Kid dengan Alta—-anaknya, Mat Kid dengan Samon dan Hamdun, juga keterkaitan bom dan intrik politik di negeri ini yang melibatkan para pejabat atas.

Kisah satu dan lain yang berkaitan ini tentulah terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kita pun mengalami banyak arsiran dengan beberapa orang yang kemudian orang-orang tersebut terhubung pada orang atau peristiwa lain yang mengakibatkan kejadian tertentu. Rumit, bukan? Begitulah hidup, tak ada yang sesederhana itu.

Menurut saya, Alta dan Kavi alias Barbar jadi pemanis sekaligus pelengkap rangkaian cerita. Kisah asmara disisipkan sebagai “bumbu”. Dan sebagai bumbu, jika dihilangkan, tentu saja terasa hambar.

 

Mat Kid yang sekeluarnya dari penjara ingin memulai hidup baru dengan membangun kafe kopi, terus-menerus dibujuk untuk kembali terlibat dalam “proyek” yang lebih besar, sesuai keahliannya: melenyapkan orang-orang yang dianggap “membahayakan” atau akan mengacaukan suatu kepentingan.

Penulis merangkai cerita dengan apik, membuat kita semakin yakin bahwa sesungguhnya sebagai “rakyat biasa”, kita hanya melihat apa yang terjadi sesuai mata dan telinga kita, apa adanya. Kita bisa saja terlalu lugu menjadi pendukung fanatik kelompok tertentu, dan membenci kelompok lain yang tak sealiran. Padahal di tingkat atas, bisa saja mereka saling berangkulan untuk menciptakan rencana-rencana lain yang lebih besar, dengan memanfaatkan konflik di tingkat bawah. Misalnya saja penangkapan Ajmal yang dituduh melakukan penggalangan kekuatan terorisme. Tuduhan yang mencurigai bahwa keberhasilan kegiatan perkebunan kopi itu untuk mendanai kelompok radikal. Sehingga pemimpin kelompok petani tersebut (yang berpenampilan seperti kebanyakan teroris), diamankan. Padahal alasan lain di balik itu adalah kepentingan pemodal besar yang menggandeng koperasi militer. Sang investor sangat bernafsu menguasai lahan kopi —bisnis yang sedang besar sekarang— sehingga melakukan berbagai cara untuk menguasai lahan.

 

Sedangkan Mat Kid yang pernah berada dalam penjara yang sama dengan Ramlan, kemudian menaruh curiga pada Hamdun yang dianggap mengkhianati dia dan Samon, karena merangkul Ramlan dari kubu politik yang berbeda.

Kedok Samon terbuka justru menjelang akhir hayatnya, di saat Mat Kid meragukan kedua sahabatnya itu dan merasa bimbang, siapa yang seharusnya dia percayai, Samon atau Hamdun?

 

Twist tak terduga dihadirkan di halaman terakhir. Kesetiaan anak buah pada kelompok dan atasannya, dinyatakan oleh Ale, yang menodongkan pistol pada Mat Kid.

Untuk novel setebal 176 halaman, konflik yang dihadirkan di antara tokoh, rasanya bikin gemas. Saya seperti menonton film atau membaca novel detektif, dibuat menebak-nebak terus hingga merasa rugi jika bacaan saya terkena jeda.

 

Tapi ada yang membuat ganjalan dalam pikiran saya. Saat polisi menyatakan Samon ditembak oleh pengawal Hamdun, seorang polisi aktif, dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu peluru berasal dari pistol Mat Kid. Tapi saat otopsi, dikatakan bahwa peluru berasal dari pistol yang sama. Ini karena Mat Kid melompat dan berada di garis lurus antara pengawal Hamdun dan Samon. Tapi sampai sekarang saya bingung, membayangkan bagaimana dia melompat mengambil pistol di meja, lalu melompat lagi ke garis lurus antara pengawal dan Samon, hingga tepat menembak sama lurus dengan sang pengawal. Otopsi mengatakan, peluru berasal dari pistol yang sama. Sidik jari dari pistol yang sama tentu saja sidik jari pengawal. Katanya Mat Kid mengambil pistolnya sendiri, tapi kenapa ada di atas meja? Bagaimana dengan jenis pistol, apakah sama juga? Jika otopsi polisi bahwa peluru berasal dari pistol yang sama, benarkah sisa peluru jika dijumlahkan dengan peluru yang tertembak ke badan Samon sudah sesuai? Apakah benar akhirnya kasus penembakan ini “ditutup” karena Samon terbukti menembak dua pengawal lain? Atau karena ada “kepentingan politik” lain yang tidak diceritakan?

Ah, rupanya saya harus mengulang lagi membaca novel tersebut dengan cermat untuk menjawab rasa penasaran ini.

 

#RAB, 01022019

===

Judul Buku: Ya, Aku Lari!

Penulis: Hasan Aspahani

Tebal halaman: 176 hlm

Penerbit: Diva Press (2018)

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE


img_2268[1]

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE

 

Buku puisi yang saya baca di awal tahun ini adalah “Arakundoe dan Puisi-puisi Lainnya” karya Pilo Poly. Mengawali dengan langsung melewatkan endorsement agar tak terpengaruh dulu saat membaca, saya menjumpai tempat yang akrab bagi penulisnya. Sekitar Cikini, di mana penulis sering berada dan berkegiatan di sana. Setting Aceh juga turut mendominasi puisi-puisi Pilo.

Beberapa puisi liris terasa romantis, sekaligus khas lelaki. Yang tidak terlalu berlebihan mengungkapkan sisi emosionalnya dibanding perempuan. Tapi juga menunjukkan kasih sayang dan cinta yang dalam saat mengatakan rindu, perasaan dan harapannya pada seseorang atau sesuatu. Lihat saja misalnya dalam lirik dalam puisi “Hujan yang Menjatuhkan Namamu”:

 

HUJAN YANG MENJATUHKAN NAMAMU

 

Di luar, hujan menjatuhkan namamu
Begitu basah dan menyebar
Ke tanah dadaku yang tandus ini.

 

hati ini, hampir seperti bukit kering, dan
pohon-pohon seakan berdoa agar hujan tidak
begitu cepat pudar

 

Langit jiwa yang begitu dingin ini,
Juga tak pernah berhenti bersujud,
Tak pernah bosan agar namamu selalu
Tersebut

 

Jakarta, 2018

 

 

Rindu yang syahdu. Kehadiran seseorang yang selalu dinanti, dipadukan dengan doa-doa yang mengangkasa, terasa begitu lembut dibaca. Rindu yang pasrah, yang sabar, dan tidak cengeng, sekalipun dia bilang “tanah dadaku yang tandus”.

Dalam puisi “Doa Ibu”, Pilo menggambarkan seorang wanita yang selalu jadi pemandu dalam hidupnya. Puisi yang terdiri dari empat paragraf ini melukiskan sosok ibu dengan indah, dengan rasa hormat dan cinta seorang anak. Segala titah dan petuah ibu bagaikan rambu-rambu. Terlihat dalam kalimat: //Ibu juga serupa pagi,/ yang saban waktu menjadi pengingat./Agar anak-anak lepas dari gelisah/ Hingga jadi jiwa yang bebas//

Saya menangkap sisi humanis Pilo dalam kumpulan puisi ini. Selain cinta kasih pada sesama manusia, Pilo yang peduli pada tanah kelahirannya, Aceh, menuliskan kisah-kisah kelam yang pernah terjadi dan jadi catatan dalam sejarah Aceh. Beberapa puisi tentang peristiwa yang terjadi terasa getir dan menyedihkan. Dada saya sedikit sesak saat sampai pada kalimat: //Keselamatan, adalah permainan/ Dadu penjudi yang datang dari Jakarta,/ Sebagai bahan studi nyali BKO.// Di Rumeoh Geudong, ribuan suara tangis/ Kalah oleh tertawaan SS1, yang memuntahkan/Kematian demi kematian.//

Seperti juga dalam puisi Arakundoe, yang menjadi judul buku ini, tragedi Arakundo, menggambarkan kengerian yang pedih: /Malam keluar dari dirinya sendiri, ingin/ Menjelma menjadi yang lain,/ yang mampu menenangkan/ Betapa risaunya magrib menyambut kengerian//

Konflik tentang Rohingya ditulis apik. Begitu pun konflik batin pilo melihat kehidupan di ibukota, kota tempat dirinya kini beraktivitas, yang dianggapnya kota yang rakus. Bahkan nama Teuku Markam sebagai penyumbang terbesar emas di Monas seolah menggugah pembaca, betapa hal-hal sepele atau detail kecil sejarah bisa terlupakan, tergerus jaman dan kesibukan.

Meski ada sedikit “kesalahan teknis” dalam buku keluaran Penerbit Jeda (2018) ini berupa salah ketik, tapi satu-dua, dan tidak terlalu berpengaruh . Secara keseluruhan, isinya indah dan menggugah kesadaran.

Pilo romantis dan humanis. Begitu yang saya tangkap dari puisi-puisinya dalam buku ini. Pilihan diksi sederhana tapi mengena. Mudah dicerna, tidak “njlimet”. Tiada kata menyesal membaca buku ini. Proficiat, Pilo!

 

#RAB, 7 Januari 2019

 

SUREALISME CARIOS SI URAT EMAS


 

SUREALISME CARIOS SI URAT EMAS

 

Macaan 9 carpon Kang Godi Suwarna (GS) dina kumcar “Carios Si Urat Emas” (CSUE), kaluaran Penerbit Silantang (2018),  mah imajinasi téh asa diajak “jalan-jalan’’ kamana karep. Mayoritas carpon surealisme, tapi nu realisme gé aya. Matak pogot macana, maké basa anu gampang dilenyepan.

Loba dongéng nu ahéng, teu kaharti ku akal, kayaning Dewi anu ngadadak ngalobaan dina “Lalakon Kadalon-dalon”. Sakapeung rada kerung, naha sirah bisa coplok tuluy napel deui dina beuheung. Atawa orok beureum nu roroésan di pabrik dina “Carita Cap Dua Anting”, jeung naha aya bapa anu téga nyaté budak awéwéna lantaran dianggap mawa sial ka kulawarga Mang Saman dina “Lain Carita Pondok”.

Kasalapan carpon dina buku CSUE meunang dikumpulkeun tina karya-karya GS nu heubeul (1997-2001). Najan kitu, ari jejer caritana mah da teu karasa “out of date”. Malah mah masih kénéh wé cocog jeung mangsa kiwari. Mun ceuk bahasa gaulna mah karasa kénéh “kekinian.” Apanan ongkoh cenah pangarang téh boga kamampuh “melintasi jaman” (ari ulah disebut “indera keenam” mah). Contona dina palebah ngadongéngkeun kumaha pajabat anu korupsi hasil sumbangan ti rahayat nu ngahaja dikumpulkeun jangeun ngabéla nagara nu keur werit. Pan jaman kiwari gé adat koruptor mah masih kitu kénéh waé.

Carpon-carpon dina kumcar CSUE lian ti arahéng téh, ogé matak ngahuleng sakedapan (keur sakuringeun mah). Sabab pasipatan manusa nu dicaritakeun dina unggal tokoh carpon bisa waé jadi eunteung yén urang ogé boa kitu. Sarua munapék, sarua sarakah, sarua gélo, jeung sarua baluwengna dina nyanghareupan pasualan hirup. Sarua jadi jelema anu bingung kudu kumaha ngabandungan harga-harga nu mingkin undak ngajaul. Boro-boro meuli sédan tina hasil korupsi siga Pa Kuwu dina “Carios Si Urat Emas”, sedengkeun jang dahar gé masih koréh-koréh cok. Atuh boa teuing urang téh dianggap jelema burung modél si Awon nu teu weléh imut dina “Lalakon Awon,”  padahal nu nyebutkeun burung gé malah mah sawelas dua welas, euweuh mendingna.

Lay out rapih, jeung disain koverna gé jempol wé pokona mah. Moal matak kaduhung maca kumpulan carpon ieu mah. Éstuning matak resep ngagulang-gapérna. Wilujeng.

 

#RAB, 7 Januari 2019

 

===

Judul Buku: Carios Si Urat Emas

Pangarang: Godi Suwarna

Kandel buku: 139 kaca

Penerbit: Silantang (2018)

MENGINAP DI DALAM BOX


 

Beberapa waktu lalu saya mencoba memberikan pengalaman liburan yang berbeda untuk anak saya, Khanza. Selain melihat pameran di Bandung, Planetarium Jakarta, dan bermain-main di seputaran Taman Ismail Marzuki, kami putuskan menginap di Bandung sekembalinya dari serangkaian kegiatan di Jakarta.

Sebelumnya, kami berdiskusi tentang tempat menginap. Lalu dipilihlah Bobobox, karena konsepnya unik dan bikin penasaran.

Pemesanan dilakukan melalui aplikasi, dan karena musim liburan, yang tersisa adalah “pod” di “sky”. Apa sih itu?

Bobobox mengusung konsep hemat ruang. Setiap ruangan untuk menginap didesain seefisien mungkin. Konsepnya seperti bed capsule untuk transit di bandara yang pernah saya lihat. Ruangan tersebut diberi nama “pod”, yang diberi nomor berurutan. Ruang tidur di Bobobox yang berada di bagian bawah dinamakan “earth” sedangkan yang berada di atas disebut “sky”. Saat itu kami mendapatkan pod sky nomor 19. Kebetulan pula dekat dengan kamar mandi bersama.

Kamar mandi pria dan wanita dipisah. Kamar mandinya sendiri terdiri dari 2toilet duduk dan 3shower room. Kamar mandi ini digunakan bersama-sama. Jadi rasanya kami menginap seperti di kamar kos-kosan.

Sky pod dengan posisi tempat tidur di atas membuat kami harus memanjat naik. Kasur yang disediakan cukup besar dengan kapasitas muat untuk 2orang dewasa dan 1anak di bawah 12tahun. Sedang fasilitas yang disediakan hanya satu selimut, satu bantal, satu handuk, dan satu sikat&pasta gigi. Jika menghendaki amenities tambahan, maka kena additional charge sebesar Rp. 5.000,-

Oya, untuk masuk ke ruangan yang berisi pod-pod tersebut, kami diwajibkan membuka alas kaki dan menyimpan sepatu/sandal yang kami pakai di loker. Sebagai gantinya, kami dipinjami sandal jepit bersih yang disediakan untuk digunakan selama berada di dalam ruangan pod.

Dalam pod tersebut selain kasur dan bantal, tersedia cermin, tablet phone yang terintegrasi dengan fungsi untuk mengatur cahaya ruangan serta membuka dan mengunci pintu dari dalam. Sedangkan saat kami sedang berada di luar ruangan, misal pergi ke toilet, pintu baru akan terbuka dengan memindai barcode yang diberikan lewat aplikasi saat kita check in. Tentu ini artinya, setiap orang yang menginap harus memiliki hp android yang bisa mengunduh aplikasi Bobobox.

AC diatur dengan tombol yang berada di atas langit-langit, diputar ke arah kanan dan kiri sesuai suhu yang diinginkan sedingin apa. Tak ada televisi dalam pod. Jika ingin menonton, berkumpullah di lobby, menonton bersama yang lain.

Ada ruangan terbuka berisi meja-kursi yang berfungsi sebagai ruang makan bersama. Begitu pun sudut untuk bersantai, tersedia tempat lesehan beserta bantal duduknya.

Secara keseluruhan, tempatnya menyenangkan karena bersih dan rapi. Tapi sangat tidak disarankan buat yang fobia ruangan sempit, sebab ruangannya betul-betul minimalis. Dua kali pula Khanza kejedot atap saat bangkit dan hendak berdiri. Dia lupa bahwa kami sedang berada dalam ruangan yang kecil. Khanza bilang, kami seperti tidur di dalam box besar atau di dalam loker. Untuk yang menginginkan privasi lebih, terutama untuk urusan toilet, tempat seperti ini akan terasa kurang nyaman. Tapi bagi yang senang bersosialisasi atau selalu ingin mencoba pengalaman baru, menginap di sini bisa jadi alternatif.

Oya, karena bersebelahan kiri-kanan, atas-bawah, tentu saja jika “tetangga sebelah” berisik, kita bisa mendengarnya cukup jelas. Saat kami tiba, hari sudah malam dan banyak orang sudah tidur, jadi rasanya kami tidak

terganggu dengan suara berisik. Sepertinya semua orang juga jadi berhati-hati untuk tidak mengganggu ketenangan dengan suara gaduh.

Begitulah, seru, dan memang jadi pengalaman baru untuk kami berdua. Lain kali kami kepepet karena tempat menginap lain sudah penuh atau harganya sedang gila-gilaan akibat peak season, sepertinya kembali menginap di sana bisa jadi pertimbangan.

SUARA YANG DILIHAT


 
Waktu bekerja di kantor sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa iklan, saya diajari bagaimana berinteraksi yang menyenangkan dengan pelanggan, baik secara langsung atau melalui suara via telepon. Setiap pagi penampilan kami biasanya diperiksa oleh atasan, sudah rapi dan terlihat menarik belum. Tujuannya tentu saja supaya memberi kesan baik. Sebab jika kami bertemu klien, tampilan acak-acakan akan memberikan kesan tidak profesional dan representatif.
 
Begitu pun dalam berbicara, pilihan kata mesti disusun dengan baik. Teori sudah dibekali, kerja nyata di lapangan kadang-kadang bertemu hal-hal ajaib. Seperti misal sudah diusir bahkan sebelum menerangkan apapun, atau pembicaraan dipotong dengan kasar. Tapi kami dilatih untuk sabar dan tersenyum, meski kecut. Tempaan seperti itu bermanfaat banyak di hari kemudian.
 
Pekerjaan yang dilakukan di kubikel pun tak kalah menantang. Selain harus mengerjakan laporan dan urusan administratif lain, kami pun harus menindak lanjuti prospek klien via telepon. Di sinilah tantangan dan latihan berikutnya. Setiap hari, perasaan hati tidak pernah sama. Ada kala sedih, mumet, bahkan senang. Kalau sedang bahagia, tak masalah, maka suara yang keluar pun terdengar ceria. Tantangannya adalah mengelola emosi yang sedang buruk tapi harus terdengar baik-baik saja lewat suara. Maka di meja kubikel ditaruh cermin kecil di depan pesawat telepon. Jadi saat menelepon, kami bicara sambil berkaca, melihat wajah sendiri yang harus tersenyum saat memaparkan sesuatu. Cara itu berhasil membuat klien nyaman dengan suara kita. Sebelumnya cara itu dipraktekkan bersama teman dengan berbagai ekspresi: bicara sambil tersenyum, dibandingkan dengan bicara sambil merengut atau malas-malasan. Si pendengar akan bisa “melihat” ekspresi kita lewat suara yang kita buat. Begitu juga jika kita bicara di telepon sambil melakukan pekerjaan lain, akan “terlihat” lewat suara yang diperdengarkan.
 
Kadangkala ada klien yang betah bicara berlama-lama dengan teman saya karena mendengar suara yang renyah dan ceria. Kemudian pada akhirnya klien tersebut tertarik menggunakan jasa iklan perusahaan.
 
Begitulah, suara bisa memberikan beragam efek. Contoh lain misalnya, penyanyi, aktor/aktris, bahkan pembaca puisi, yang melantangkan suaranya dari hati, akan menggetarkan pendengarnya.
 
Tak jarang, suara seseorang menimbulkan kerinduan atau perasaan jatuh cinta. Suara lembut seorang ibu pada anaknya, bisa menimbulkan rasa rindu pulang pada anak rantau. Suara kekasih yang sekadar bertanya kabar bisa menimbulkan perasaan bahagia jika sedang terpisah jarak. Suara sahabat yang menyapa riang bisa mengobati keinginan jumpa yang tertunda. Tentu dengan catatan, suara yang bisa “dilihat” itu dilantunkan sepenuh hati, dengan ekspresi baik si pembicara.
 
Seperti sepele ya “suara yang bisa dilihat” itu? Padahal pengaruhnya bisa sangat besar dalam aktivitas keseharian.
 
Jadi, lain kali ada orang yang berkata “Saya rindu mendengar suaramu,” maka artinya suaramu sedang diperlukan untuk menggenapi hari. Maka tersenyumlah sambil membayangkan dia ada di depanmu, berikan ekspresi terbaik, fokus tanpa mengerjakan hal lain. Sebab suaramu bisa dilihat dan dirasakan sang pendengar.
 
#RAB, 10122018
 
Selamat pagi Senin hai kamu yang manis, saya rindu mendengar suaramu.♥️
 
===