SEMANGKUK (CERITA) SOTO


Karena (Insyaallah) akan diwisuda untuk kedua kalinya, saya ingin berbagi cerita. Sebelum melanjutkan baca, saya harap teman-teman dan kerabat semua bisa mengambil manfaat dan hal positif dari cerita ini. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Ambil abunya, jangan apinya.
Seperti yang pernah saya posting di akun media sosial, saya telah melangsungkan ujian tesis tanggal 26 Oktober 2017 lalu. Kegembiraan itu tentu saja bisa dibilang puncak dari impian lama yang tertunda. Alhamdulillah lulus. Meski menyisakan sedikit catatan untuk direvisi dari tata tulis dan perbaikan lain. Maka Kamis lalu tanggal 9 November 2017 saya pun menyetorkan hasil revisi itu pada 3 dosen penguji dan 2 dosen pembimbing. Karena ingin mengefisienkan waktu, maka kejar-kejaran dengan dosen pun berakhir dramatis. Saya sampai melewatkan makan siang karena “nongkrongin” dosen takut susah ketemu lagi, dan ingin selesai dalam satu hari itu, mengingat rasa capek (dan ongkos) kalau harus selalu bolak-balik ke Tasik. Karena tanda tangan yang didapat harus runut, jadilah ada adegan dosen yang luput dari pandangan padahal selama beberapa jam saya menunggu di depan ruang sidang karena beliau menguji. Lalu saya harus mengejarnya ke gedung lain. Selain itu ternyata saya juga harus mengejar dosen yang menjemput anaknya di sekolah, balik lagi ke kampus menghadap dosen lain, lalu kejar lagi dosen satunya ke rumahnya karena ada yang tertinggal. Padahal saat itu sedang jam macet karena waktu bubar kantor/sekolah plus jalanan di Tasik sedang banyak galian. Tapi lima tanda tangan sukses terkumpul. Adegan dramatis perburuan tanda tangan ditutup dengan azan Magrib yang jadi pengiring rasa lapar setelah saya kembali sadar bahwa saya melewatkan makan siang. Tasik yang gerimis sejak sore mengirimkan gigil ke tubuh. Saya pun memutuskan untuk mampir makan soto H. Didi di Tasikmalaya. Selain sejak siang ada yang membuat saya ”ngiler” karena kirim foto soto, saya pun me”rapel” makan siang dengan makan malam.
Hujan tiba-tiba menderas saat pesanan saya dibuat, dan dua orang pembeli pun pulang. Jadilah saya menikmati soto sendirian, ditemani sebungkus kerupuk Si Geboy, yang juga favorit. Tak ada yang aneh, soto setengah porsi plus dua buah kerupuk ludes dengan sekejap. Selesai makan, teh hangat pun membasahi kerongkongan. Saat air hangat itu mengalir, rasa sesak tiba-tiba datang. Seperti ada yang membuat saya tersekat, dada terasa sempit, dan mata pun memanas. Sambil memandang curahan air hujan di luar warung soto, saya ingat almarhum Papa. Soto itu favorit Papa. Nyaris setiap ke Tasik kalau menjenguk saya yang saat itu sedang kuliah S1 di kampus yang sama, selain makan sate di depan Hotel Galunggung, kali lain Papa mengajak makan soto H. Didi ini. Malam itu saya ingat, seperti dalam adegan flashback sebuah film, kami bertiga (saya, mama, dan papa) makan soto di malam sebelum saya wisuda. Saya tiba-tiba ingat senyum hangat dan tawa lebar papa. Kegembiraan meruah karena anak bungsunya menyelesaikan S1 dengan baik. Walau awalnya bukan itu jurusan yang diminati, toh nilai saya tidak mengecewakan. Mata saya mulai basah. Cepat-cepat saya membayar makanan dan masuk mobil. Begitu pintu tertutup, tangis saya tak tertahan. Sudah lama saya tidak menangis. Saya sendirian, tiba-tiba rindu membuncah, saya tidak bisa menyimpannya sendirian, dan saya pun berbagi rasa sesak ini pada seseorang dengan kalimat pendek. Dia mengatakan supaya saya mengeluarkannya. Dan air mata pun tumpah, saya betul-betul menangis cukup lama sambil memandang hujan dan berbisik, “Papa, Ratna sudah S2. Ratna bisa S2, Papa…”. Saya sesenggukan sambil mengulang kalimat itu. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya. Saya masih memiliki mama yang setiap saat selalu sedia menampung keluh kesah dan berbahagia paling dulu melihat anaknya bahagia. Alhamdulillah masih ada mama yang bisa saya peluk dan cerita kapan saja. Tapi saat itu saya disergap kerinduan pada papa, rindu memandang wajah penuh kebanggaan seorang ayah pada anaknya. (ya ampun, bahkan saat saya menuliskan ini pun, saya menangis lagi! 😭 )
Saat lulus S1, 2004 dulu, saya sangat ingin melanjutkan kuliah lagi. Bukan cuma mengejar gelar, tapi karena saya sedang semangat-semangatnya belajar. Saya utarakan pada papa, tapi beliau bilang tak sanggup jika harus membiayai saya S2. Biaya S1 pun Alhamdulillah terbantu dengan beasiswa yang saya dapat, dan biaya hidup dari menabung hasil jualan dan sambil magang kerja saat semester akhir. Jadi kalau pun saya masih ingin sekolah lagi, saya harus sambil bekerja dan biaya total cari sendiri, atau mengajukan beasiswa. Tapi sepertinya papa berat sekali mengiyakan. Plus saat itu, ada kecenderungan papa ingin saya berkembang dan jadi pengusaha, tidak melulu kuliah. Boleh dibilang kurang direstui jika ingin kuliah lagi.
Akhirnya saya pun menyimpan mimpi itu. Bahkan setelah saya bekerja sebulan sebelum wisuda, saya masih membicarakan keinginan untuk S2. Dan mimpi itu tersamarkan dengan pekerjaan berikutnya yang betul-betul menyita waktu, pergi pagi pulang malam. Impian saya terabaikan, tapi tidak dikubur. Saya selalu merasa tergoda untuk mencoba, tergoda untuk mendaftar. Dan beberapa kali pula mengalah pada pekerjaan dan kesibukan.
Singkat cerita, setelah pertimbangan sana-sini dan ada rejeki, baru pada Maret 2015 lah akhirnya nama saya terdaftar sebagai mahasiswa lagi. Iya, di kampus yang sama lagi dengan S1 dulu. Pertanyaan “kenapa gak kuliah di Bandung?” juga memberondong sama seperti S1 dulu. Tapi bukankah yang penting belajarnya, bukan di mananya?
Maka malam itu, semangkuk soto membawa saya pada beberapa peristiwa, perayaan kenangan dan kemenangan. Ya, bisa dikatakan kemenangan, karena di detik-detik akhir saya hampir menyerah, nyaris tidak menyelesaikan tesis saya. Ada perasaan bersalah saat Khanza, anak semata wayang, ngomel-ngomel karena waktu bermain saya dengannya disita oleh komputer saat saya menggarap draft tesis. Bahkan Khanza sampai menempelkan kertas di komputer saya dengan tulisan “TESIS!!! SEBEL!! BANGET!!! BANYAK!!!”. Setiap mengerjakan tesis dan memandang tulisan itu, saya merasa bersalah dan ingin segera selesai.
Mungkin suasana hati saya sedang “melow” malam itu. Setelah berburu tanda tangan dosen dengan adegan dramatis, perut kosong dan hujan deras, semua yang memenuhi kepala muncul silih berganti. Setelah saya bisa mengendalikan diri, tangis mereda, saya pun lega. Saya membagikan kebahagiaan itu melalu doa untuk papa. Saya yakin, jika masih hidup, papa yang serius dan irit senyum itu akan tertawa lebar dan memeluk saya sambil berkata “Baguslah. Tapi kamu harus terus belajar. Tambah pengetahuan lain.” Itulah kalimat yang biasanya dilontarkan papa agar saya tidak lekas puas dan menetapkan target-target baru, setiap satu target tercapai.
Saya membagikan cerita ini tidak lain untuk diambil positifnya. Saya ingin bilang, jangan pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah menguburkan impianmu. Siapapun bisa mencapai mimpinya. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan di saat paling sulit atau di saat paling tidak terduga, Allah akan kabulkan doa dan wujudkan impianmu. Pada saat yang paling indah. Bahkan lebih sering disertai banyak tambahan “hadiah” lainnya.
Insyaallah saya akan wisuda tanggal 25 November 2017 ini. Terima kasih untuk keluarga dan orang terdekat serta semua yang menyemangati dan memberikan dukungan. Kalian berharga bagi saya. Semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan serta banyak hal positif lainnya. Mohon doakan saya, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.
#RAB, 13112017
Iklan

TENTANG JANJI


JANJI

Ada kala suatu ketika kita mengeluarkan janji. Pada siapa saja, keluarga, teman, kolega, dsb.
Orang-orang pada posisi tertentu rajin berjanji demi dipilih atas satu posisi tertentu. Politis. Demi tujuan tertentu yang ingin dicapai. Janji jaga diri, janji ingat selalu, janji temu, janji memperbaiki, janji lebih rajin, janji memberi, janji bayar utang, janji ini itu.

Ada pula janji pada diri sendiri. Tapi kita bicarakan itu lain kali.

Apakah pernah terlintas, saat janji itu dikeluarkan, orang yang menerima janji itu meneruskan janji pada orang lainnya? Jadi bisa jadi satu janji menciptakan rantai yang panjang dan berkaitan dengan banyak pihak.

Tak heran, kenapa banyak pejabat yang dibenci sebab setelah menjabat jadi lupa pada janjinya. Ada orang-orang dalam lingkaran atau rantai relasi yang terkena imbas janji itu. Jika janji ditepati, kebahagiaan dan rasa senang tentu bukan pada satu orang. Apalagi jika janji tak ditepati, kekecewaan merembet tidak hanya pada satu orang yang terkait janji pertama.

Tapi kadang kala kita kadung berpikir sederhana bahwa apa yang kita janjikan itu hanya transaksional antara si pembuat dan penerima janji. Bagaimana dengan orang-orang di sekeliling yang terkait? Bagaimana dengan jadwal dan perencanaan orang lain juga yang terkena efek satu janji itu?

Jadi, sudah tepatkah Anda membuat janji? Atau sudah menepati janjikah Anda hari ini? Ada berapa banyak janji yang sudah Anda umbar dan sudah tunai?

#RAB, 24102017

#NulisRandom2017 hari ke-30


PERINGATAN: postingan ini mengandung bibit baper dan galau!

(Bagi banyak orang mungkin gak penting. But to me: kumaha aing weew! 😅😅😅)

Jadi tadi itu buka instagram dan kebetulan ada notifikasi bahwa Dewi Lestari sedang live. Iseng dong diklik, dan tarrraaa! She’s singing very very very funny and sweet. Lucu karena dia menyanyikan lagu I Run To You versi Sunda yang liriknya bikin ketawa. Intinya bercerita tentang si Neng bilang kangen sama pacarnya tapi “goreng tungtung” alias berbuntut tidak enak, yang modusin si Aa biar Nengnya ditraktir baso urat kikil yamin manis. Takjubnya, Reza, sang suami memainkan piano sambil nahan tawa tapi sekaligus serius. And they are soooo adorable! Ditambah dengan kemunculan Atisha sesekali. Complete!

Dari komentar-komentar yang masuk banyak yang minta Dee nyanyi lagu Kali Kedua yang dipopulerkan Raisa. Bodornya ketika Dee lupa beberapa kata dari lirik tersebut padahal dia sendiri yang bikin. Tapi sampai akhir, suara Dee bikin para penggemarnya yang kangen dengar dia nyanyi merasa bahagia. Apalagi ditambah Reza juga nimbrung nyanyi sesekali.

Maaaan… they are very sweet. I envy them! What a perfect life they have. Satunya jago nyanyi dan menulis. Satunya lagi piawai main piano dan ahli hypnoterapi. Dan mereka berdua seems so humble dan betul-betul menunjukkan kegirangan seperti orang biasa. Ga ada tuh pencitraan ala-ala. Dari kalimat Reza “ternyata instagram live ini menyenangkan ya?” pada Dee menyiratkan kalau mereka gak gengsi untuk “norak” pada hal-hal kecil. Dan bagaimana mereka berinteraksi tampak natural dan bikin yang menontonnya pun merasa tertular aura positif. Aura bahagia yang mereka bagi rasanya nyess sampai ke hati. 😍 Dih, ngiri asli! Kok ya couple&relationship goal banget pasangan itu. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.

Lalu jadi membayangkan seperti mereka, saya yang bernyanyi, pasangan saya main piano. Hidup rasanya bakal maniiiis banget!
Tapi tiba-tiba Reza bilang “until next time! sampai urat putus kami putus di waktu yang sama!”, dan instagram live pun terhenti. Saya pun kembali ke dunia nyata: boro-boro bisa begitu, suara saya cempreng mana cocok jadi penyanyi. Sialnya dari dulu sering dapat cowok yang bisa nyanyi, kalau bukan solois ya vokalis. Bahkan ada tuh yang baru berani bilang kalau saya gak cocok jadi penyanyi setelah putus, padahal waktu pacaran dulu paling banter bilang “kamu cuma perlu latihan”. Ah para lelaki memang pandai berdusta! 😅

Eh sampai mana tadi? Kok curcolnya banyak?😂

Iya pokoknya gitu. Sejak tahu Dee cerai dengan Marcell lalu menikah dengan Reza, meskipun sempat kecewa tapi yakin keduanya akan berbahagia dengan pasangan barunya masing-masing. Keduanya akan menemukan pasangan yang saling melengkapi lagi.

Dan malam ini saya semakin menyukai lagu Kali Kedua. Apalagi setelah mendengar versi Dee.

“pegang tanganku, bersama jatuh cintaaaaa
kali kedua pada yang samaaaa🎶🎵🎼”

Duh, Bebeb mana Bebeb?

===
*sekian dan selamat jatuh cinta (lagi)

#NulisRandom2017
#day30
#RAB_NulisRandom

#NulisRandom2017 hari ke-29


KALAU CINTA JANGAN MARAH, KALAU CINTA GENGSI PERGI (2)

 

“Kay! Kay! Bangun, Kay!” Lorna menggedor pintu kamar Kay sesubuh ini penuh kecemasan.

Kay bersungut-sungut sambil mengucek matanya. Semalam Lorna menginap di rumah Kay dan bercakap-cakap sampai tengah malam. Tentu tidur sebentar masih belumlah cukup dan kepala pusing sudah pasti sebagai akibatnya.

“Apa sih, Na, gak bisa nunggu pagian dikit? Ini masih jam 3.”

Pintu kamar Kay terbuka, wajahnya menunjukkan rasa terganggu. Tapi demi melihat Lorna yang berdiri dengan airmata nyaris tumpah dan wajah penuh kecemasan, alarm di kepala Kay langsung bekerja. Pasti soal Moe. Tak ada yang bisa membuat Lorna secemas ini.

“Moe kenapa?” Pertanyaan Kay langsung menuju sasaran.

Lorna mengekor Kay yang masuk lalu duduk di tepi tempat tidur.

“Moe masuk rumah sakit, Kay.”

“Hah? Kenapa?”

“Gak tahu. Dia gak menghubungiku sampai sekarang.”

“Lah itu tahu dia masuk rumah sakit dari siapa? Kenapa kamu belum kontak duluan sih?”

“Kamu gak ngerti, Kay. Aku gak mau kontak dia duluan kali ini. Dia juga sudah dua hari gak kontak.”

“Astaga! Bahkan dalam situasi gawat begini kamu masih saja mikir siapa yang harus lebih dulu. Moe juga keterlaluan. Kalian berdua keras kepala! Jadi gimana Moe? Sakit apa? Kenapa?” Kay memberondong Lorna dengan pertanyaan dan omelan.

Lorna tak bisa lagi menahan alir air dari matanya. Sambil sesenggukan, Lorna mulai menjelaskan.

“Moe masuk rumah sakit. Aku gak tahu kenapa. Tapi aku tahu dari instagram anaknya,” Lorna menyorongkan hpnya yang memperlihatkan sebuah akun dengan postingan foto pada Kay.

“Semoga Papa baik-baik saja. Untung Mama di sini”

Begitu bunyi keterangan yang mengiringi foto tersebut.

“Ini Diana? Pergi sama Moe?” Kay menunjuk seorang perempuan yang duduk di pinggir ranjang rumah sakit.

Lorna mengangguk.

“Moe pergi dengan anak-anaknya. Bukan dinas seperti yang dia bilang ke kamu, Kay. Aku udah tahu sebelum mereka pergi. Diana ikut juga. Kata Moe, anak-anak pengen sesekali pergi lagi liburan bersama. Aku gak mau kontak karena gak mau ganggu liburan mereka. Iya aku cemburu. Tapi lebih penting buat anak-anak kalau papanya betul-betul hadir Kay. Bukan cuma pergi bareng tapi pikirannya kemana. Aku mau nahan diri aja. Demi anak-anak, Kay.”

Kay melongo. Tak disangka Lorna berpikir seperti itu. Lorna bilang Moe sudah melamarnya. Tapi urusan dengan Diana tentu akan menyita waktu yang tak sebentar. Anak-anak mereka masih berharap orangtuanya bisa bersama lagi. Butuh waktu pula untuk memberi pengertian. Kay melihat Lorna sudah cukup sabar menanti dan memahami itu. Kay tahu, Lorna juga banyak cemburu tapi ditahan.

“Terus gimana? Moe sakit apa? Apa gak sebaiknya kamu coba kontak Moe, Na?”

“Entahlah. Semoga bukan sakit serius. Kasihan anak-anak. Harusnya senang-senang liburan, papanya malah masuk rumah sakit.”

“Apa mungkin darah tingginya kumat?” Kay bergumam.

Sepengetahuannya belakangan ini pola hidup Moe memang kurang baik. Beberapa kali Kay pergi makan bertiga dengan Lorna dan Moe dan tampaknya Moe tidak lagi pilih-pilih makanan meskipun Lorna selalu mengingatkan. Ditambah pula minggu lalu Moe lembur berhari-hari sampai malam.

“Mungkin. Kay, aku khawatir. Masa aku harus nyusul mereka? Gak enak sama anak-anak dan Diana. Nanti aku dibilang rese, gak pengertian. Tapi Moe sakit. Gimana ya?”

Kay memahami kegalauan Lorna. Jika dia dalam posisi Lorna, Kay belum tentu bisa.

Lorna terisak. Kecemasan betul-betul melandanya. Saat itu dia ingin sekali berada di samping Moe dan memastikan Moe mendapat perawatan terbaik dan mendampingi Moe sampai sembuh. Lorna ingin memeluk Moe. Membisikkan kalimat-kalimat rindu dan cintanya pada Moe. Lorna ingin Moe sehat dan menemaninya tertawa sambil bercerita seperti yang biasa mereka lakukan.

Kay menyodorkan kembali hp Lorna yang tadi dipegangnya.

“Hubungi saja.” Kay seolah membaca pikiran Lorna.

Lorna mengusap air mata dan mengambil hpnya, dan mengangguk lemah.

“Moe, kamu kenapa? Apa yang bisa kubantu dari sini? Bilang semuanya bakal baik-baik aja, Sayang.”

Akhirnya begitu bunyi pesan yang dikirim Lorna pada Moe. Lorna tak lagi bisa menahan diri. Kecemasannya sudah membuktikan sebesar apapun gengsi, tak akan bisa menang mengalahkan cinta.

***

*bersambung

 

#RAB, 29062017

#NulisRandom2017

#day29

#RAB_nulisrandom

#ceritaRAB #fiksiRAB #cerpenRAB #cerminRAB #RABbercerita lagi

 

 

#NulisRandom2017 hari ke-28


KALAU CINTA JANGAN MARAH, KALAU CINTA GENGSI PERGI

 

“Udah lah biarin aja nanti juga nanya sendiri. Kalau gak tahan ya tanya duluan,” Kay menyikut Lorna pelan, mengubah ujung bibir Lorna semakin maju. Tidak bisa dikatakan buruk atau cantik. Muka Lorna jadi lucu jika cemberut begitu. Kay sedikit kesal, selama berkumpul dengan teman-temannya, Lorna malah tidak fokus dan sepertinya pikirannya sedang mengembara ke tempat lain.

 

Pasti Moe yang bikin Lorna begitu. Kay tak bisa menyalahkan sepenuhnya. Dia yang mengenalkan Lorna pada Moe sampai keduanya saling jatuh cinta dan malah lengket. Moe pria metroseksual yang tampak kalem. Dengan pembawaan yang tenang tapi humoris dan hangat, siapapun tentu betah berlama-lama di dekat Moe. Lorna wanita yang cenderung pemilih dan sensitif, tapi sebenarnya sangat perhatian dan selalu siap menolong teman-teman dekatnya. Hanya orang yang tidak kenal dekat dengan Lorna yang menilai ia berjarak. Lalu Moe jadi satu pria yang bisa mendekati Lorna dengan caranya, hingga mereka bisa saling membuka diri.

 

Keduanya dinaungi rasi bintang yanag sama. Ah, tapi kita tidak bisa sepenuhnya percaya ramalan semacam itu bukan? Tapi kadang kala ilmu astronomi yang menjelaskan karakter seseorang berdasarkan pengelompokan rasi bintang ada benarnya. Keduanya sama-sama keras kepala, haus perhatian, dan partner yang solid. Juga sama-sama gengsi. Meskipun menurut Lorna kadar gengsi Moe lebih besar. Yang terakhir ini sering bikin Kay kerepotan karena keluhan Lorna sering terulang. Kay selalu meyakinkan Lorna, tak ada wanita lain yang diperlakukan seistimewa itu oleh Moe, sekalipun Moe sering kumat cuek dan gengsinya.

 

Tapi hari ini rupanya Lorna sudah lelah. Penjelasan Kay tak ada yang masuk. Kay bahkan sampai harus mengirimi pesan pada Moe untuk mengalah dan menyapa Lorna. Dia paham, jika Lorna terus seperti ini, imbasnya pada pekerjaan dan berat badan yang menurun. Kay tak ingin Lorna seperti orang sakit kurang makan.

 

“Apa sih Kay? Aku kan pergi ini tugas dinas. Masa Lorna bete gitu aja? Lagian aku kirim lokasi cek in bandara aja dia gak balas. Ya sudah. Gak mau tahu juga kan dia.” Pesan Moe di hp Kay. Kay menunjukkannya pada Lorna yang langsung merah padam wajahnya.

 

“Tuh kan, apa aku bilang, Kay. Dia gak peka. Aku perjalanan jauh pulang aja dia gak nanya aku berangkat jam berapa, gimana di jalan, aku selamat apa enggak aja, dia gak nanya. Dia juga gak mau tahu. Sebel.” Lorna langsung meracau sambil merengut lagi.

Kay paham, Lorna sedang rindu berat dan butuh diperhatikan Moe. Tapi Kay juga paham, sisi lain Moe yang ujung-ujungnya akan berkata: “Aku tahu, tapi aku sibuk. Aku bilang kangen juga, nanti malah makin gak ngenakin Lorna karena gak bisa apa-apa, gak bisa ketemu.” Kalimat yang bahkan sebelum selesai diungkap juga sudah tahu ujungnya. Khas Moe. Khas pria.

“Ribet amat sih Kay nyampein soal Lorna. Kenapa gak dia sendiri aja yang ngomong langsung atau nyapa aku duluan. Gengsian amat sih dia?”

Membaca pesan ini, Kay menepuk jidatnya sendiri. Kedua sahabatnya ini betul-betul keras kepala, gengsi pula tak ada yang mau mengalah. Tapi merela saling cinta. Bukankah seharusnya kalau cinta jangan marah, kalau cinta, gengsi pergi?

Sampai acara selesai, Lorna sukses tidak tersenyum dan malah duduk di pojokan, sampai teman yang lain merasa tak enak. Kay setengah menyeret Lorna pulang lalu mengomel.

“Kalian seperti anak kecil!”

“Udah aja semua bilang begitu. Moe juga. Kamu juga. Kenapa sih semua gak ada yang mau ngertiin aku, Kay, kenapa?” jawaban Lorna sungguh drama. Ditambahi lelehan air mata di pipinya. “Aku cuma mau sesekali Moe ngerti dan ngalah duluan. Dia itu udah keterlaluan gengsinya. Aku gak tahan lagi. Dia selalu minta aku mengerti posisinya dia, tapi dia gak terima kalau aku minta kabar duluan. Dia bilang aku terlalu menuntut. Kesel aku Kay, kesel!”

Lagi-lagi Kay menepuk jidat.

“Kalian berdua bikin aku pusing. Urusanku aja masih banyak. Aku menyerah.”

Kay menatap Lorna tajam. Lorna memandang temannya balik seperti ingin berkata, “Dia sahabatmu, kamu yang kenalkan kami,” sambil tetap merengut dengan perasaan campur aduk antara kekesalan dan kerinduan pada Moe.

***

*bersambung

 

#RAB, 28062017

#NulisRandom2017

#day28

#RAB_nulisrandom

#ceritaRAB #cerminRAB #fiksiRAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-27


REUNI

 

Tentu kata tersebut tidak asing lagi. Ajang jumpa kawan lama. Biasanya kebanyakan dilaksanakan dekat dengan hari lebaran sambil halal bihalal.

 

Bagi saya sendiri, tak setiap reuni bisa dihadiri, mengingat pada waktu-waktu tersebut saya biasanya masih mudik/libur lebaran. Sehingga tak sempat menghadiri.

 

Reuni teman SMA saya pernah 2-3 kali hadir, itupun kebetulan pas waktunya atau sekalian lewat.

Reuni teman SMP rasanya belum pernah hadir.

Reuni SD. Baru hari ini. Itupun bukan acara formil yang sengaja direncanakan. Menurut beberapa teman, bahkan dadakan baru dibicarakan pagi tadi. Saya yang kebetulan baru pulang balik dari mudik, setengah jam sampai rumah langsung di”culik”. Hahaha… tentu “culik”nya teman sendiri. Lelah pun jadi berkurang ketika melihat wajah-wajah mereka. Bahkan ada yang memang puluhan tahun tak pernah bertemu lagi. Meski dihadiri segelintir orang, tapi sungguh berkesan.

 

Hal-hal kecil seperti pertemuan dadakan begitu adalah salah satu yang perlu disyukuri. Bersyukur masih diberi umur panjang dan kesempatan bertemu lagi dengan kawan lama. Bersyukur diberi kesehatan dan ingatan yang masih baik sehingga silaturahmi tetap terjaga.

 

Sayang memang waktu terlalu singkat untuk mengetahui kabar mereka satu persatu. Bagaimana mereka tumbuh dan berkembang dalam kehidupannya. Satu hal yang pasti: semua berbahagia bertemu lagi. Itu yang paling penting.

 

Semoga kita semua diberi kesempatam untuk selalu bersilaturahmi.

 

 

#catatanharian

#RAB_NulisRandom

#NulisRandom2017 hari ke-26


Jangan salahkan aku, Yazyk. Berkali kukatakan, aku tak sanggup memenuhi permintaanmu yang terlampau sulit. Kau memintaku menunggu, bukan? Berapa lama? Apa kita pernah sepakat tentang batasannya? Atau minimal kamu pernah menyebutkan sebuah angka? Kau hanya berkata “tunggulah”, dan aku akhirnya lelah.

 

Aku tahu perjuanganmu juga tak mudah. Menjadi dirimu perlu kekuatan yang lebih besar. Dan menunggumu diperlukan kesabaran yang lebih dari sekadar besar.

 

Kemarin sepertinya mimpi. Kau menemaniku menyesap kopi dan mendedahkan satu-dua persoalan. Raga kitaa bersama, tapi jiwamu entah di mana, juga hatiku tidak ada di sana. Aku bahkan tidak tahu, bagaimana kemelekatanku padamu dulu itu bisa melepuh. Di luar dugaan. Seseorang memang datang dan pergi. Jauh sebelum itu aku bahkan terlalu yakin namamu paling kuat bertahta. Bagaimana mungkin sekarang menguap begitu saja. Tapi bukan tanpa alasan, bukan? Kekacauan waktu dan prioritas yang kau buat tidak lagi mengarah pada kita.

Ya, kemarin nyatanya hanya mimpi. Nyatanya, kau masih saja mengajukan sebuah pertemuan dan aku kerap melakukan pengulangan: berkata harus menjadwalkan ulang beberapa kegiatan, berkata “lemme see what I can do”, atau mengiyakan tapi tanpa ketetapan tanggal. Aku malas mengulang pertanyaan yang sama, “sampai kapan harus menunggu?”, sementara aku sudah tak ingin menunggu.

 

Aku tidak ingkar. Kau yang abai. Aku hanya melanjutkan hidupku. Tapi aku tidak ingin melihat raut wajahmu ketika berkata selamat tinggal.

 

#RAB, 26062017

#day26

#RAB_NulisRandom

#ceritaRAB #cerminRAB #fiksiRAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-25


Lebaran.

Satu kata ini bisa berarti banyak. Dari mulai kegembiraan bertemu keluarga, makanan yang khas, serta cerita-cerita yang menyertainya.

 

Lebaran.

Juga bisa berarti dihadapkan pada berondongan pertanyaan-pertanyaan yang sekilas memang basa-basi biasa tapi seringkali menyebalkan. Seperti pertanyaan: sudah lulus kuliah belum, kerja di mana, kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah anak, dan sebagainya.

 

Untuk yang melontarkan pertanyaan ini tentu rasanya biasa aja. Tapi untuk yang diberi pertanyaan bisa jadi sedikit sensitif. Baper. Dan lebaran malah jadi ajang uji mental.

 

Tapi memang begitulah. Tidak banyak yang mengerti bahwa untuk orang-orang tertentu pertanyaan itu mengganggu. Si penanya berkilah toh hal itu basa-basi, sudah biasa, wajar saja.

Oh tolonglah, kasihan. Lihat-lihat situasi orang yang ditanya. Sekiranya roman mukanya berubah, alihkan topik pembicaraan.

 

Sekian dan terima endors. 😅

#NulisRandom2017 hari ke-24


PENGINGAT

Lalu aku berkali-kali jatuh:

sebab Engkau memberi banyak;
aku mengambilnya sedikit

kerap lupa bahwa Engkau Segala Ada dan aku tiada setitik pun

Dimabuk dunia dimanjakan suka-suka
Satu bulan diberi kesempatan, apa sudah mahir
menunjukkan ketaatan?

Lalu aku berkali-kali jatuh

Engkau selalu membantuku berdiri dan berjalan lagi
Lantas sudah cukupkah aku berterima kasih?

Duh, diri, betapa kerdil.
Betapa kerdil.

#RAB, 24062017
#PuisiRAB

#NulisRandom2017
#day24
#RAB_NulisRandom

#NulisRandom2017 hari ke-23


JANGAN GE-ER

 

Begini, kadang kala sebuah tulisan, apalagi fiksi, sekalipun diangkat dari kisah nyata, tentu perlu diberi “bumbu”. Nah dalam sebuah masakan, bumbu itu kan penyedap, supaya masakan terasa lebih lezat. Begitu pula tulisan. Perlu diberi bumbu yang pas supaya rasa tulisannya “gurih”, enak dibaca.

 

Seorang penulis mengangkat tema dari sekitar, yang dialami, yang diamati, hasil penelitian, dan gabungan dari semua informasi yang didapatnya dari pembelajaran. Kadang kala, ketika menulis, imajinasi bisa tiba-tiba liar dan berkelana ke mana suka. Ide itu ditangkap dan dibubuhkan ke dalam tulisan. Tak jarang diambil pulalah tokoh atau peristiwa yang nyaris sama dalam kehidupan nyata penulis dengan modifikasi sana-sini.

Nah, kalau kamu baca tulisan seseorang dan merasa tokohnya mirip banget dengan kamu, boleh saja kamu pede si penulis terilhami oleh kamu. Eits, tapi jangan ge-er, bisa jadi dia terinspirasi oleh orang lain tapi ingat sama kamu. Jadilah karakter tokoh itu gabungan dari orang-orang yang dikenalinya. Lagipula kemiripan karakter antara satu orang dengan orang lainnya kerap terjadi, bukan?

 

Udah, gak usah ge er. Kalaupun benar itu tentang kamu, udah sih relakan aja. Bagus juga kan kamu jadi inspirasi si penulis? 😅

 

Salam sayang,

#RAB_penuliskece