TONTON DAN NIKMATI SAJA FILMNYA


46C4571E-0592-436C-97B5-C6ED0ACD04ACTepat di hari peringatan kemerdekaan RI ke-74, saya bersama penonton lain menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Bumi Manusia. Dan sepanjang 181 menit, pikiran dan perasaan saya campur aduk: haru, sedih, kecewa, senang, dan bangga.

 

Sejak awal kabar novel Bumi Manusia akan difilmkan sudah menuai banyak kontroversi dan keraguan dari berbagai pihak. Terutama dari orang-orang yang sangat mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, sang penulis tetralogi Pulau Buru, yang di masa Orde Baru, buku-bukunya dilarang beredar.  Banyak yang mempertanyakan kenapa Hanung? Tidak sedikit yang meragukan apakah film itu akan sesuai ekspektasi seperti membaca novelnya. Perdebatan ini semakin ramai ketika Iqbaal Ramadhan terpilih jadi pemeran Minke. Tampang imutnya dan perannya di film terbaru, Dilan, memang membuat banyak orang jadi sangsi dan tidak rela Minke diperankan Iqbal. Tapi tentu Hanung sudah bikin perhitungan matang dan mempunyai tim yang bisa diandalkan dalam menggarap sebuah naskah.

 

Saya menontonnya tepat pada 17 Agustus 2019. Suasana menuju bioskop di dalam mall saja sudah terasa nasionalis karena gaung lagu-lagu yang diperdengarkan selaras dengan tema peringatan kemerdekaan. Masuk bioskop tak lama menunggu tampillah tulisan dalam layar lebar bahwa sebentar lagi lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan dan hadirin diminta untuk berdiri. Sontak, para penonton pun kompak berdiri tegak dan turut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Wah, awal yang bagus, pikir saya. Meski sempat dapat bocoran sebelumnya bahwa sebelum film diputar, penonton pasti diminta berdiri. Dilanjutkan dengan suara Iwan Fals yang khas sebagai pembuka, lalu adegan Minke yang dibangunkan Suurhoff. Begitu wajah Iqbaal muncul, saya paham kenapa banyak orang yang kecewa atas pilihan pemain. Tapi kemudian saya mengingatkan diri sendiri bahwa tadi saya sudah meniatkan akan menonton film, dan harus melupakan pernah membaca novelnya.

 

Setting dan pemilihan lokasi konon sengaja dibuat Hanung untuk mengerjakan film ini. Salut. Pasti tidak mudah menerjemahkan isi novel dan memadukannya dengan imajinasi. Belum lagi harus memilih para pemeran yang betul-betul sesuai karakter. Seperti para penonton lain yang sudah pernah membaca bukunya, saya kecewa karena Iqbaal tidak sesuai gambaran Minke dalam kepala saya, pemeran Robert Mellema tampak kurang indo dan Ine Febriyanti kurang pribumi untuk menjadi Nyai Ontosoroh. Tapi akting Ine sukses membuat kagum karena gambaran seorang Sanikem yang tercerabut dari kehidupan masa mudanya, yang terpaksa dijual oleh ayahnya sendiri demi jabatan, kemudian menjelma jadi seorang Nyai yang mampu menyesuaikan diri, lekas belajar memimpin perusahaan milik Herman Mellema— lelaki yang menjadikannya gundik, diperankan dengan kemampuan Ine yang matang. Pemeran Darsam tidak kalah penting sumbangsihnya pada kesuksesan film ini. Dialog dan logat Madura yang kental serta sikap setianya pada Nyai sang majikan, jadi daya tarik lain tontonan ini. Ada yang mengganjal dan akting yang terasa nanggung untuk beberapa pemeran dan tokoh pendukung lain. Tapi nyaris tak mencolok.

 

Hanung sepertinya memang memilih tim yang pas. Durasi menonton film selama 3jam bisa tidak membosankan itu luar biasa. Di sini penulis naskah dan pengembang cerita tentu berperan besar sebelum naskah ini ada di tangan para pemainnya. Saya malah membayangkan bagaimana diskusi-diskusi alot antara Salman Aristo, Hasan Aspahani, juga Hanung sendiri menggarap konsep awal. Tim penata musik juga jangan dilupakan. Musik yang tepat untuk adegan apa yang lebih cocok, menentukan apakah film ini bisa membuat penonton larut atau tidak. Belum lagi kameramen yang tentu berusaha menampilkan visualisasi dari angel yang tepat. Saya tidak menyiapkan diri untuk kesedihan ketika mau menonton film ini. Selain sukses 181 menit bikin saya diam di kursi, film ini sukses membuat saya mengeluarkan tisu dan mengeringkan air mata yang terjatuh. Iya, sisi emosional saya diaduk-aduk. Sudah sejak awal. Sejak Robert dan Surhoff yang indo itu lebih membanggakan darah Eropanya, sedang Annelies yang cantik malah lebih ingin menjadi pribumi. Saya lahir di keluarga Indo. Saya mengalami bagaimana ketika pindah ke tempat tinggal saya sekarang, sempat diragukan ke-Indonesiaannya, dan diperlakukan berbeda. Sementara ada anggota keluarga yang bersikap mirip dengan Robert, lebih bangga dengan ke-Eropaannya. Jadi sambil menonton, sambil pikiran saya nostalgia juga memikirkan Oma. Oke, lanjut bahas yang lain.

 

Hanung menghadirkan pesan yang penting seperti dalam isi novel Pram. Bahwa kekuatan pena itu luar biasa, lebih kuat dari otot dan senjata. RM Tirto Adhie alias Minke ini melawan melalui tulisan ketika harus berhadapan dengan pengadilan, dan berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat banyak. Yang tadinya nyinyir dengan kehidupan pribadi Minke karena tinggal di rumah seorang Nyai, jadi membela sebab rasa kebangsaannya terusik dan tersadarkan. Pernyataan bahwa bangsa Indonesia itu setara dengan Eropa, tidak lebih rendah, tapi sejajar, sangat mengena di kala masih banyak yang beranggapan orang Eropa memiliki level lebih tinggi daripada pribumi. Persis di peringatan hari kemerdekaan, film ini diluncurkan. Pas momennya. Nasionalis sekali, kan?

 

Banyak pesan-pesan positif yang dikemas cantik (baik dalam dialog dan penggambaran karakter) demi mengimbangi kisah cinta Annellies dan Minke yang tragis. Misalnya contoh sikap Minke yang bertindak sebagai lelaki ksatria menerima wanita yang dicintainya telah ternoda, bagaimana Nyai Ontosoroh bertahan dan kuat dalam tempaan, bagaimana seharusnya bersikap ketika nyaris semua orang malah memihak kepentingan penguasa, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri dan berani menanggung konsekwensi atas setiap keputusan yang sudah dipilih. Adanya pesan-pesan positif dan berkarakter ini, menjadikan film Bumi Manusia patut jadi rekomendasi tontonan anak milenial (dan orang tuanya). Ditutup dengan kesedihan paling mengiris, film ini menggaungkan kalimat Pram yang terkenal di novel itu: “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.’ Semacam penegasan bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita yakini sampai titik darah penghabisan, sampai segala cara yang ditempuh tak menemukan lagi jalan terang.

***

 

Yang mesti disiapkan tentu saja sebelum masuk dan menonton, perut harus kenyang dan pastikan sudah cukup minum. Sebab durasi panjang begitu tidak nyaman kalau harus terpotong karena lapar atau ingin pipis.
Menurut saya nih ya, buat yang koar-koar film ini jelek (apalagi bilang jelek tapi cuma tahu “katanya”, kata orang lain, belum membuktikan sendiri), pesannya gini: memang kita itu harus melepas dulu kesan yang terekam setelah pernah membaca tetralogi pulau Buru sebelum menonton filmya, agar tidak terganggu dengan citraan imajinasi (ideal) versi kita.
Jangan membandingkan sajian film yang disutradarai Hanung dengan penceritaan versi Pram. Jangan pula membandingkannya dengan alih wahana pada pentas Bunga Penutup Abad yang disutradarai Wawan Sofwan. Sebab menerjemahkan sebuah novel ke dalam media lain tentu tidak akan sama persis sensasinya.
Tonton filmnya dan nikmati sajian penceritaan versi kerja tim yang sudah berusaha keras mengenalkan karya Pram ke khalayak yang lebih luas.
Jangan fokus dengan kekecewaan pemilihan pemeran. Jangan fokus lihat Iqbaal yang tampak terlalu imut buat memerankan sosok RM Tirto Adhie. Kasihan dia, sudah berusaha kuat belajar pelafalan bahasa Belanda demi aktingnya. Jangan lihat pilihan cast Robert Mellema yang kurang indo atau Ontosoroh yang terasa kurang pribumi. Masih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati dari sudut pandang lain.

Boleh dikata cukup baik lah. Dan saya rasa malah memancing rasa penasaran yang belum pernah baca karya Pram untuk membaca tetraloginya. Dan yang sudah pernah baca, jadi ingin baca lagi. Positif kan jadinya?
Tidak setuju dengan pendapat saya? Tidak masalah. Dunia berbeda penuh warna itu indah daripada seragam.
Sekian dan terima endors.

 

~RAB

17-18 Agustus 2019

 

 

DISKUSI ISTIMEWA


 

Minggu 14 Juli 2019 diagendakan diskusi buku kumpulan puisi “Sebelas Hari Istimewa” (SHI) di Don Quixote Coffee&Books. Rencana pukul 15.00 molor karena Yogya sedang macet parah, dan lokasi acara masih ditempa terik matahari, meskipun beberapa orang sudah berkumpul.

Saya sendiri tiba lewat dari pukul 15.00 setelah “disasarkan” oleh google map yang membawa kami ke jalan memutar dan berada di jalan yang tak meyakinkan. Sesampainya di sana sudah ada Yopi Setia Umbara, keluarga Penerbit Jbs Indrian Koto – Mutia Sukma beserta anak-anaknya, moderator Olive, penyair Irwan Segara, dan beberapa teman lain.

Sembari menunggu teduh, kami berbincang ringan, tak lama datang pula Zelfeni Wimra – Fitra Yanti bersama anaknya serta beberapa orang lagi yang saya belum kenal. Kejutan lain datang dari Kak Aprila Wayar, jurnalis&penulis Papua yang sedang berada di Yogya. Tak janjian sebelumnya, Kak April sukses membuat saya terpekik girang sebab terakhir jumpa tahun 2013. Di akhir acara kami barter buku karya terbaru.

Lebih dari pukul empat sore acara dibuka, dipandu Olive sebagai moderator dan Irwan Segara sebagai pembahas.

Diskusi cukup interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta yang hadir. Menarik pula bagaimana Irwan bisa membuat saya tak bisa mengontrol rasa haru ketika membahas puisi di bab Belanda, apalagi dia membacakan puisi persembahan saya untuk mendiang Papa dan Oma. Bahasan Irwan yang mempertanyakan benang merah antara judul dan isi di puisi Penanda Waktu, adalah salah satu yang mesti dikonfirmasikan. Selanjutnya Olive bertanya apa satu kata yang membuat editor buku SHI, Mas Kurnia Effendi, menghitung 12 kata yang sama dalam beberapa puisi dan bagaimana proses “perdebatan”nya sampai pada keputusan akhir. 

Selain Irwan, salah satu peserta lain menganggap puisi di bab Belanda lebih menunjukkan keterlibatan perasaan penulis dibanding puisi-puisi di bab lain. Tentu perlu saya konfirmasikan pula mengapa bisa terjadi demikian.

Ada pula peserta yang bertanya pesan moral dari puisi. Diungkapkannya bahwa seperti diajarkan di sekolah sejak SD hingga kuliah, selalu para guru menyuruh siswanya mencari pesan moral dari sebuah tulisan.

Kekaguman, keterpesonaan penulis pada hal-hal baru yang ditemui dalam beberapa puisi juga jadi sorotan bagaimana puisi tersebut terkesan sebagai pandangan mata. Tentu saja saya utarakan bahwa buku ini melalui rentang waktu yang singkat dan ditujukan sebagai dokumentasi awal, sebelum saya keburu lupa menuliskan kesan-kesan yang berebut tempat di kepala. Dan nuansa bahagia memang sengaja dihadirkan demi menarik pula hal-hal positif ke dalam kehidupan saya dan orang-orang yang membacanya, sekaligus mewakili perasaan bahagia selama melakukan kunjungan ke beberapa kota di Eropa tersebut. Saya tak ingin terlalu banyak mengunggah duka lara seperti puisi-puisi di buku sebelumnya yang terkesan sendu. Maka saya katakan masih akan ada puisi lain yang melalui proses pengendapan dan perenungan setelah berjarak cukup lama. Semoga. Insyaallah. 

Menjelang acara ditutup, Mbak Heti Palestina Yunani muncul. Kesalahan melihat nama stasiun keberangkatan membuatnya ketinggalan kereta dan beruntung dapat tiket lain yang batal. Jurnalis dan art manager ini jauh-jauh datang dari Surabaya demi hari istimewa saya, meski terpaksa jadi terlambat tiba. Ah, mbakyu yang satu itu memang istimewa. Arinda Risa Kamal yang terakhir jumpa di Tasik ternyata juga sedang betah di Yogya dan kami pun bernostalgia tentang proses kreatif saat aktif di Sanggar Sastra Tasik. Mbak Evi Idawati tak bisa hadir, karena mesti mengajar anak-anak kecil berpuisi, tetapi tetap mengutus putri cantiknya untuk datang ke acara.

Pertanyaan dan diskusi tentang hal lain terkait puisi-puisi yang disusun dalam SHI melahirkan gelak tawa dan canda yang menghangatkan sore itu di antara gelas-gelas kopi yang diedarkan. Cuaca Yogya hingga malam masih cerah meski tidak terlalu gerah seperti biasanya.

Alhasil, hari Minggu saya terasa istimewa bersama orang istimewa dan teman-teman istimewa, berbincang tentang Sebelas Hari Istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Hari Minggu saya penuh cinta. Penuh kejutan. Penuh keharuan. Bahagia yang istimewa. Terima kasih untuk kalian semua. Pemilik tempat, penyelenggara acara, teman-teman yang hadir dan berbagi waktu istimewanya. Semoga pertemuan kita melahirkan kenangan istimewa.

#RAB, 1507209

NGOMONGIN MANTAN


NGOMONGIN MANTAN

Di berita sedang ramai kasus artis yang diperkarakan karena ngomongin mantan. Konon awalnya cuma niat silaturahmi ketemu teman, ngobrol-ngobrol eh malah divideokan. Ya gitu deh yang namanya ngobrol dengan teman, memang ada kemungkinan tergelincir jadi membicarakan orang lain, hingga mantan pasangan. Kontrol diri memang standarnya tak pernah sama pada tiap orang, ada yang pandai mengerem ketika pembicaraan mulai menyinggung hal-hal negatif. Tapi ada juga teman yang semakin heboh saat dipancing, gosip deh, makin digosok makin sip. Dan kasus ini jadi “tamparan” keras buat kita, yang apa-apa divideokan, obrolan dan kisah rahasia yang seharusnya disimpan rapat malah lancar digelontorkan. Ranah pribadi jadi konsumsi publik. Niat lucu-lucuan, demi eksis, sampai niat menjatuhkan seseorang, semua tersembunyi di hati yang kedalamannya tak berdasar itu.

Baiklah, saya jadi ketularan juga ingin ngomongin (para) mantan. Buat saya, gak ada salahnya mengambil hal-hal baik yang pernah didapat ketika bersama mereka. Terlepas dari pertengkaran, perdebatan, hingga derai air mata yang tumpah, di kemudian hari selalu ada pelajaran yang bisa disimpulkan. 

Para mantan saya, rata-rata meninggalkan luka. Beberapa mungkin malah saya yang menancapkan kepedihannya. Tapi rasanya selalu ada hikmah. Yang buruk tak akan saya guar, demi ketahanan dan kedamaian semesta saat ini. (😁Tsah! Cieee..)

Beberapa kebiasaan positif (para) mantan pacar  di masa lalu yang ditularkan ada macam-macam. Misalnya, meracuni saya baca buku-buku Pram dan Djenar, menularkan kebiasaan meredam emosi jika pesanan makanan salah atau tumpah, memengaruhi untuk berani mencoba makanan yang rasanya asing. Kebiasaan negatif juga ada, tapi itu jadi pelajaran. Misalnya malas dan lelet kalau janjian, jadinya saya berusaha untuk tepat waktu dan tidak meniru hal itu. Ada yang cemburuan minta ampun tanpa pandang bulu, bikin saya gerah dan merasa dibatasi. Jadinya ya saya juga belajar mengendalikan, meskipun kalau saya lihat pasangan saya sekarang jalan sama Raisa bisa ngomel panjang lebar.

Dalam beberapa kasus, jika hubungan dengan mantan bisa diperbaiki, bisa jadi malah menguntungkan urusan (walau ini jarang banget, sebab rata-rata malah bikin males, ye kaaaan? 😜)

Sebetulnya tidak hanya dengan mantan pasangan. Mantan rekan sejawat dan orang-orang yang pernah berarsiran, semua punya potensi sama. Saling menularkan kebiasaan positif atau saling menyinggung perasaan. Tapi segalanya kembali pada kita, mau mengambil pelajaran dan menyimpan hal buruk, atau mengumbar kekurangan mereka dengan mulut ember ke mana-mana?

Mungkin kesal, sakit hati, atau benci, bercampur di hati akibat peristiwa masa lalu. Namun jangan lupa, karena mereka lah kita punya hidup yang lebih baik dan berbahagia saat ini. 

Sekian. Salam buat mantan kamu yang manis dan ngegemesin itu.

*fotonya stasiun aja, soalnya mau pajang foto mantan malah bingung, mau pasang foto Darius Sinathrya, Juna Rorimpandey, atau si dia yang itu. 😎

F18F9F52-D4C4-42CC-AF96-BE6CD1FF71E1.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 2)


0473038B-0DF3-4D6D-8B61-97253F2D5BE0.jpeg

 

APA ISI TASMU? (Part 2)

Ini masih dalam rangka bahas isi tas ya. Ceritanya kalau bepergian cukup jauh dari rumah. 

Saya sering bolak-balik ke kota sebelah. Di kafe favorit dan beberapa tempat lain sudah tidak menyediakan sedotan, terutama yang berbahan plastik. Dan karena “gaul” dengan para yogi/yogini yang apa-apa selalu ngomongin sesuatu yang terkait “eco-friendly”, maka saya terbawa-bawa (tentu dalam arti positif) untuk peduli. Salah satunya dengan membawa sendiri sedotan. Bahkan seperangkat cuttlery set ini berisi sendok, garpu, sumpit, pisau dari kayu, dan sedotan dari bambu. Ribet? Berat? Tidak juga, bahannya ringan. Masih lebih berat powerbank. Tapi berguna banget sebagai salah satu daftar “survival kit”. Buktinya waktu di salah satu foodcourt saya memesan steak dan disediakan pisau serta garpu plastik yang rentan patah, akhirnya garpu kayu ini ada gunanya. Garpu plastik utuh gak jadi dibuang, lumayan mengurangi satu sampah plastik. Lalu saat membeli makanan yang dibawa pulang tanpa dikasih peralatan makan, bisa dinikmati di perjalanan karena bawa sendiri. Sedotan sih jangan ditanya. Di tempat ngopi favorit dengan cake yang enak itu, ada ice coffee yang lebih sedap disesap melalui sedotan dibanding langsung dari bibir gelas. 

Nah sekarang perlengkapan ini sudah selalu ada dalam tas. Lumayan, meskipun tidak langsung memberi perbedaan besar, mengurangi satu jenis sampah plastik dari satu orang makhluk bumi ini.

*Jangan pesan ya, saya gak jual ini. Kecuali butuh jastipan. #ehgimana😉

APA ISI TASMU? (Part 1)


EABE010B-9920-45DA-A98F-F3143BE11A46.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 1)

Ngobrol santai ya, kawan.

Saya suka heran (terutama)melihat cewek-cewek yang ke mana-mana bawa tas tangan kecil banget. Kayaknya isinya cuma uang dan hp.  Saya sih mana bisa begitu. Kalau pergi-pergi, minimal barang yang harus saya bawa adalah notes kecil&pulpen (siap sedia jika ada ide atau harus mencatat sesuatu), buku bacaan (biar gak kesal menunggu), dompet, hp, powerbank, kabel charger, hand sanitizer, lotion, sabun kecil. Kadangkala kalau pergi jauh meskipun diniatkan ulang-alik, isi tas ditambah minimal satu baju ganti. Plus handuk kecil.

Kebiasaan begini berguna saat “darurat”, harus ganti baju karena kehujanan, ketumpahan makanan, atau saat impulsif memutuskan menginap. 

Nah, kalau pakai tas imut begitu, “survival kit”nya ditaruh di mana?

Mau tahu juga dong, kalian lelaki gimana? Terus kalian yang perempuan, apa isi tas yang harus selalu ada?

*foto dari internet

#RAB, 12072019

Peluncuran & Diskusi Buku


img_51941.png

 

Peluncuran & Diskusi Buku

SEBELAS HARI ISTIMEWA
Kumpulan Puisi-Puisi Perjalanan
Karya Ratna Ayu Budhiarti (@ratnaayu_b)

Pembahas
Irwan Segara (@irwansegara), penyair

Moderator
Olive Hateem (@olivehateem)

Minggu, 14 Juli 2019
Pukul 15.00-17.00 WIB

Don Quixote & Co. Coffe & Book
Jalan Kenanga 6, Kentungan
Condongcatur, Depok, Sleman
Yogyakarta *Gratis secangkir kopi Don Quixote & Co. untuk 20 peserta pertama

Didukung oleh
@jualbukusastra
@donquixoteandco
@balabuku

#SHI_RAB #SebelasHariIstimewa #ratnaayubudhiarti #puisiIndonesia

Membaca Kucing Murakami


 

 

 

 

46374125._SX318_Mayoritas kisah dalam buku kumpulan cerita ini menuturkan petualangan imajinasi. Ada kucing yang berubah jadi manusia dan kebingungan menyesuaikan diri, kemudian tertarik pada lawan jenis, seorang perempuan bungkuk yang aneh. Lalu ada lelaki yang berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bar dan bertemu orang-orang misterius. Beberapa kisah menggantung dengan imajinasi yang melompat. Lumayan.

DARI LA LA LAND KE NETHERLAND


EIUG5170[1].JPG
 
Pernah nonton film La La Land? Film yang dibintangi Ryan Gosling dan Emma Stone itu (menurut saya) bikin penonton bahagia. Meskipun akhir kisahnya menunjukkan bahwa cinta tak selalu berakhir seperti yang diharapkan, tapi kita bisa memilih untuk bahagia dengan cara masing-masing. Sepanjang film, mata kita disuguhi permainan warna cerah, bahkan hingga sekarang saya masih mengidamkan gaun warna kuning yang dipakai Emma. Aransemen musik yang apik, akting para pemain, dan keseluruhan cerita bikin dada terasa penuh dan bahagia. Sejauh ini, dari sedikit film yang bisa saya nikmati, La La Land adalah film yang membuat saya merasa bahagia. Semoga Anda juga.
 
Bicara topik lain, tentang sebuah buku. Terutama buku saya sendiri, memang jauh dari sempurna dan masih perlu banyak perbaikan di sini dan di sana. Rangkaian kata yang saya pilih, masih seputar itu, tidak bisa melompat-lompat atau bikin sesuatu yang fenomenal. Masih sangat sederhana. Dari buku-buku sebelumnya, saya memelihara kenangan dan menjadikan luka sebagai bahan bakar. Tak pelak, hal itu jelas terbaca dari sejumlah puisi yang penuh emosi, ngungun dan sedih. Tapi buat sebagian orang, puisi tentang luka atau cinta yang tak sampai justru malah digemari.
 
Pada Sebelas Hari Istimewa, saya ingin menuliskan sesuatu yang berbeda. Saya menggali perasaan positif dan “persediaan kebahagiaan” supaya apa yang saya tuliskan tidak melulu menyuguhkan duka. Ada kerinduan dan kecemburuan. Ada perenungan dan kekhawatiran. Iya, masih ada. Tidak bisa saya kesampingkan. Tapi sesedikit mungkin saya eliminasi.
 
Maka, jika Anda merasa bahagia dan penuh cinta setelah tamat membacanya, itulah harapan saya. Saya menuliskan kesan-kesan selama perjalanan. Sejak Roma hingga Amsterdam. Saya tak mungkin membandingkan kisah di film La La Land dengan “pencarian” saya sampai Netherland. Barangkali terlalu muluk. Tapi saya ingin perasaan bahagia saat menonton La La Land juga bisa seperti membaca Sebelas Hari Istimewa.
 
Boleh kan berharap?
 
Selamat datang bulan Juli. Sebentar lagi ada kabar istimewa. Mari berharap segalanya lancar dan terlaksana dengan gembira.
#RAB, 01072019

Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan


Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan, 18 Maret 2019FDCR7968[1]

PARIS MALAM HARI

 

J e t’aime!

Cahaya lampu di tubuh menara

memutar irama imajinasi untuk berdansa.

Kantuk yang menyerang tiba-tiba,

dilumat ciuman angin Februari yang dingin.

 

Mari duduk di sini, di sebelahku.

Dari sudut di Champ de Mars

di tepi sungai Seine

kita tangkap kerlip lampu satu-satu

ke dalam kotak harta karun.

Suatu hari, jangan biarkan siapa pun membukanya

 

Orang-orang saling berpegangan tangan,

menikmati malam puitis di Paris

 

Engkau duduk di sebelah mana, Gustave Eiffel*?

Lihatlah kini menara itu memendarkan cahaya sukacita

meski berkali-kali kepentingan politik

dan bencana ingin menghancurkannya.

 

#RAB, 2018-2019

* Gustave Eiffel          : arsitek yang merancang Menara Eiffel

 

 

 

 

SELEMBAR POTRET

 

Jika kukirim lagi

selembar potret padamu

bergambar patung kerbau,

rumput hijau, dan puncak stupa borobudur di atasnya,

bisakah kau dengar kecemasan

yang ngalir dari suaraku

saat memintamu mengabadikan peristiwa?

 

Kita telah ditautkan kenangan

dan memintal mantel hangat untuk musim dingin

pada jarak yang ditabahkan takdir.

 

Masa kini akan jadi lampau juga akhirnya.

Tapi matamu menyihir relief-relief di candi,

mengisahkan apa saja yang tak sempat

diucapkan para penafsir.

 

Sejarah telah tercipta dari pelawat dunia,

sedang angin dan gerimis tipis di kota itu

lesap ke dalam gambar di dalam potret.

 

Di buku harianmu,

tercatat kitab-kitab purba

yang kita baca bersama.

 

#RAB, 2018

 

 

KITA AKAN BERPISAH

 

Setelah Volendam dan kesiur angin laut
negeri leluhur,
kutemukan bayang-bayang senyum Oma
di demo pembuatan keju,
klompen raksasa dan kincir angin.

Derai tawa teman perjalanan
dan hangat kebersamaan
menggenapi bahagia musim dingin
Februari kali ini.

Tapi kita akan berpisah, kawan.
Di Schiphol roda koper berputar 180°
menuju tanah air dan menu makanan

dengan banyak vetsin.

 

Ya,
telah kita sesap udara Eropa berhari-hari.
Kelak, semoga kita bertualang bersama lagi.

#RAB, 2018

 

BOLEHKAH AKU BERDOA?

 

1

Di St Peter’s Basillica,

bulan kedua tahun ini benar istimewa.

Peradaban silam memenjarakan mataku

pada setiap  ukiran, patung dan

lukisan Michaelangelo.

 

Kujumpai tubuh Paus dalam baluran balsam,

deretan kursi tempat orang-orang

berdoa meminta apa saja,

kotak pengakuan dosa, juga salib di mana-mana.

 

2

Sebuah pintu suci di tembok katedral,

menyimpan kotak berisi dokumen,

kunci-kunci, dan medali,

sabar menunggu 15 tahun untuk dibuka.

 

— Berapa tahun Tuhan kelak membuka pintu surga? —

 

3

Pada pintu rahasia lain di katedral ini,

kubayangkan sebuah lorong memanjang di baliknya

diterangi temaram obor, dentang genta di kejauhan.

 

Kususuri ruangan demi ruangan,

sambil memikirkan

bagaimana Michaelangelo dan kawan-kawan

membuat keputusan

lukisan apa sesuai kepantasan.

 

4

Tuhan begitu Agung, Kudus, dan tetap Esa.

Aku adalah pendosa yang sedang

mengagumi karya seniman dunia

di hari ulang tahunku.

 

Di depan altar aku terhenti.

Jika Tuhanku juga sama, di sini

bolehkah aku berdoa?

 

#RAB, 2018-2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di BasaBasi.co


IMG_E8081[1]

KISAH SARAPAN PAGI

 

 

Kau tahu, bagaimana sepi melulu mencoba bertamu,

Tapi ketika sampai di pintu, ia malu-malu menampakkan diri

Barangkali ia enggan.

 

Melihat wajahmu pun daun-daun di pohon

Bahkan lupa cara menjadi tempat bernaung,

Keteduhan gagal melekat di sulur-sulurnya

 

Sementara di sini, di meja yang penuh kisah

Nastar cake dan cinnamon roll

Berlomba menceritakan petualangan

Menuju lambungmu

 

Masuk ke tubuhmu, kata mereka,

Adalah dengus napas, decak gembira, sesekali sendawa

 

Jarak ke hatimu mungkin tinggal sejengkal sampai

Tapi detak jantung memantul-mantul pada dada

Beberapa nama digumamkan,

Banyak dari masa lalu, satu dua masih menyangkut di masa kini

Daftar nama itu dimuntahkan oleh lidahmu pula sesekali

 

“Apa peduliku?”

Segelas air hangat segera menenggelamkan rasa pahit

Yang bukan dari kopi

 

Ini buku lama yang kubarukan, jawabku.

Biar saja kubaca pelan dari halaman pertama

Demi debar petualangan sejak awal, akan kuselesaikan sampai akhir

 

Kau tahu, lagi-lagi sepi melulu bertamu

Tapi ia hanya berdiri di pintu

 

Melihat rumah hatiku yang penuh,

Ia tak sanggup masuk, dan kerap pergi dengan kekalahan

 

Sedang kita, cukuplah berbagi

Masa, saling menyesap manis-pahit rindu dari cangkir latte itu berdua

 

Berdua.

 

#RAB, Bandung, 2018

 

LELAKI KOPI

 

Ia, lelaki yang muncul

Ketika senja enggan tiba

Menemani makan malam yang ramai kata-kata

Pada pesta di Utara sana

 

Uar aroma kopi menyeruak dari telapak tangannya

Yang terbuka pada jumpa pertama

 

Ia, lelaki yang lewat suaranya

Mengabarkan sejumlah detik yang terserak

Saat menunggu sebuah pertemuan

 

Di meja bundar, akhirnya ia, lelaki itu

Menating secangkir kopi

Dan menyerahkan matanya

Untukku membaca hal-hal baru

Semacam ketabahan

 

Ditingkah Sasando dan alunan lagu The Reason,

Perjalanan Cheng Ho, Yi Jing, dan Wallace,

sampai pula ke masa kini setelah abad-abad

lampau diabadikan catatan para peneliti

 

Ia, lelaki yang menjauhkan diri dari gerimis

yang kuyup di jantungku,

Merekam percakapan dalam

catatan purba

 

Katanya, “tidak semua relief bisa dibaca,

juga yang ini.”

 

Jarinya menunjuk dada imajinasi.

 

#RAB, Yogya-Magelang, 2018

 

 

DARI TEPI JEMBATAN DOMPAK

 

Kubayangkan di tepi jembatan ini,

Engkau memanggil-manggil masa lalu

dari tanah Melayu

 

Kubayangkan suatu hari engkau menceritakan kembali

Perjalananmu saat menyusuri tepi pantai

Mengumpulkan banyak risalah

Nenek moyang yang mengalirkan darah di tubuhmu

 

Amis laut, hangat kota, nona-nona:

Begitu isi suratmu padaku ribuan purnama lalu

 

Kemudian aku menyisiri kota ini dengan puisi

Mencari apa saja yang masih tertinggal

Di makam raja-raja, di reruntuhan tembok istana,

Di tepi bandar Sungai Carang, tempatmu mungkin bertolak di sana

Hingga ke jembatan yang menghubungkan ingatanku padamu

 

Tetapi bahkan saat kutelisik cangkang gonggong,

Dan ketam menyerah dalam sepakat rempah,

Aku menjumpai sisa nyeri dari peperangan

batin dan harapan yang ditambatkan kenyataan

 

Seperti begitu sejarah sudah ditakdirkan

Lahir karena perjumpaan

Sekaligus untuk mengantarkan perpisahan

Pada perjumpaan lainnya.

 

#RAB, Tanjung Pinang, 2018