SEBAB SEBUAH TRUK


Bagaimana seharusnya benar-benar melupakanmu? Sebuah truk tampak di hadapanku dan membawa ingatan pada bertahun silam, tepatnya 17 tahun lalu. Siang itu kau mengajakku mengunjungi sebuah kantor Ready Mix, campuran beton yang biasa diperlukan untuk pengerjaan tower BTS salah satu jaringan komunikasi. Kau dan ayahmu mengerjakan proyek itu untuk beberapa waktu. Aku yang tidak paham lingkup pekerjaan seperti itu, jadi memahami bagaimana kau bekerja sama dengan banyak pihak,  bernegosiasi, serta mengawasi para pekerja. Kausuruh aku menunggu di salah satu sudut ruangan. Untung saja selalu ada buku di dalam tas, jadi tak perlu menggerutu ketika urusanmu sedikit lama. Jakarta terik dan panas dengan polusi seperti biasa. Aku yang tak pernah bisa mencintai kota itu, rupanya harus belajar akrab, meski tidak pernah mau jadi dekat.

Sebelum menaiki bus menuju kota tempat tinggalmu, kau mengajak aku menghampiri pedagang buah potong. Dua bungkus nanas ditaburi bubuk cabai bergaram disorongkan penjual.

“Cobalah, Dek. Mas suka nanas pake cabe begini, segar.”

Tentu kau bermaksud menggodaku. Kau jelas tahu, aku tak pernah suka makanan pedas. Kaubilang kelak jika jadi istrimu, aku harus belajar membuat sambal yang enak pada ibu.

Ah… lalu ingatanku berkelana pada ibu. Perempuan Melayu yang cantik bersanding dengan lelaki Jawa penyabar itu selalu memperlakukanku sepenuh kasih, seperti menyayangi anaknya sendiri. Ibu yang pertama kali paling gembira ketika kaubawa aku ke rumahmu dan berkenalan dengan seluruh keluarga. Apa kabar Ibu sekarang ya? Sesekali aku disergap rindu padanya. Sorot matanya yang teduh, juga ketulusan dan tutur katanya yang lembut itu selalu membelaku jika dilihatnya kau kurang memperhatikanku atau salah sedikit saja memperlakukanku. Ibu yang berharap kelak aku jadi menantu.

Pikiranku masih saja berkelana ke mana-mana kini. Pada surat-surat yang kau kirim berkala dan selalu kunanti kedatangannya di rumah kontrakan. Lalu pada kejutan manis ketika kaubilang batal datang ke kota tempatku menuntut ilmu karena busnya mogok. Namun setengah jam kemudian kau sudah tiba di depan pintu, justru di saat aku sedang menghibur diri menahan rindu yang tak tertahan itu.

“Mas pengen lihat gimana kalau Mas gak jadi datang. Jadi tahu deh Adek belum mandi.”

Huh, sebal! Aku jadi tidak sempat bersiap dulu tampil sempurna. Walau tak bisa dandan, minimal kau tak usah melihatku belum mandi begitu. Tapi kau malah gregetan dan tertawa melihat mukaku yang bercampur rasa kaget sekaligus gembira.

Anakmu sudah bertambah lagi, kan, sekarang? Hidupmu tentu berbahagia dengan keluarga yang ramai. Seperti impianmu suatu hari di masa lalu. Kau pernah bertanya aku mau punya anak berapa. Kaubilang ingin punya anak banyak, dan aku hanya tersenyum saja mengamini. Amin. Kau sudah memilikinya sekarang. Aku masih begini saja, mengikat kenangan demi kenangan di ruang paling dalam di hatiku. Kupikir melupakan itu semudah menghapus coretan pensil di kertas. Nyatanya sudah bertahun-tahun, setiap kali kutemukan ganjalan, ingatanku hanya membandingkan manisnya cerita bersamamu. Sepertinya jiwaku tak pernah rela mengikis masa lalu.

Akhir bulan kemarin aku merayakan keberhasilan. Atau sesuatu yang kupikir itu keberhasilan. Sebab setelah ribuan purnama usaha menghapus bayang-bayangmu menemukan jalan buntu, tepat di hari ulang tahunmu aku merasa ringan. Ya, aku selalu ingat ulang tahunmu, ulang tahun ibumu, juga adikmu yang manis dan selalu baik padaku itu. Kupikir itulah tonggak di mana aku akhirnya bisa melepasmu dengan rela, penuh seluruh. Kupikir aku sudah berhenti mencintaimu. Perasaan yang kutunggu-tunggu sejak kau dan aku pada akhirnya harus menghentikan segala rencana, termasuk pernikahan. Berhari-hari aku gembira dan mendoakan keselamatanmu.

Tapi sialnya, masih ada ceruk yang luput dibersihkan. Hanya gara-gara sebuah truk di hadapanku siang ini. Aku merogoh-rogoh lagi hatiku. Mengapa melupakanmu demikian sulit?

*BERSAMBUNG

#RAB, 2020

#RABbercerita #ceritaRAB #fiksimini #ceritamini

Resensi Buku Bode Riswandi


MEMEGANG UCAPAN LELAKI DALAM HARI TERAKHIR DI RUMAH BORDIL

Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

 

Begitu novela Hari Terakhir di Rumah Bordil karya Bode Riswandi sampai di tangan saya, tentu bersegera saya membaca halaman terakhir, dan menemukan kalimat-kalimat yang rasanya tak asing.Seperti déjà vu, saya melihat adegan demi adegan yang berkelebatan di ingatan. Yakin betul, saya kenal adegan di halaman terakhir yang saya baca itu. Setelah mengingat-ingat, ternyata itu adalah salah satu adegan dari pentas keliling kelompok Teater 28 yang saya tonton ketika mampir ke kota saya tinggal, beberapa waktu lalu. Dan dialog para tokoh dalam pentas teater dengan judul “Lakon yang Ditulis Kemudian” sangat berkesan bagi saya, terutama bagian paling mengiris perasaan ketika tokoh perempuan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya dengan alasan cinta, malah teperdaya dengan cintanya sendiri yang jujur dan lugu itu. Saya merasa gemas sekaligus marah.

Kisah dalam novela ini dibuka dengan 4,5 halaman bertajuk “Ini Bukan Pengantar, Mungkin Pengarang Sedang Mabuk” yang dengan lugas berkata bahwa perempuan adalah kunci! Betul, saya setuju dengan kalimat tersebut. Perempuan sering dikatakan sebagai makhluk halus, yang lebih mengedepankan rasa daripada logika. Tapi perempuan juga adalah makhluk yang kuat, berani menanggung apa saja yang jadi takdirnya, bahkan kepada lelaki bajingan yang selalu mereka cintai.

Populasi para bajingan di dunia ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang baik-baik. Bisa satu banding milyaran. Dan baik yang bajingan dan yang baik, sama-sama keluar dari ‘nganu’ perempuan. (hal. 8)

Penulis seakan menegaskan bahwa perempuan yang sering dianggap lemah itu, perlu diakui ternyata memiliki kekuatan yang tidak mungkin bisa dipikul para lelaki, yang bersembunyi dalam kegagahan dan stigma masyarakat sebagai pelindung perempuan, sebagai orang yang lebih berkuasa kedudukannya dibanding perempuan.

Ada dua kisah yang berbeda dalam novela setebal 128 halaman ini, tapi memiliki benang merah tokoh dari cerita satu dan lainnya. Meski demikian, sayang sekali kisah pertama rasanya masih nanggung dan meninggalkan rasa penasaran. Magdalena, sang benang merah itu merupakan mucikari yang sama dari kedua tokoh utama yang diceritakan. Pada bagian pertama, dikisahkan betapa perempuan selalu terpojok oleh keadaan dan situasi.

Kenaifan gadis-gadis kampung yang lugu dan sering dimanfaatkan oleh oknum, sudah sejak lama menjadi kisah yang lumrah terdengar, terbaca, dan memang banyak terjadi di dunia nyata. Mimpi manis merah jambu akan rumah tangga idaman yang mulus bersama sang kekasih jadi hancur berantakan sejak mereka ditawari bekerja di kota dan dijebak masuk dalam pusaran bisnis berahi lelaki hidung belang. Tak ada yang berani melawan pada kekuasaan Magdalena, sang mucikari yang memiliki berbagai trik untuk mempertahankan anak buahnya.

Dalam pengisahan pertama, kengerian digambarkan dalam kebiadaban Mami ketika Yanti, salah satu perempuan yang tubuhnya dijadikan komoditas, melakukan perbuatan nekat: kabur. Sayangnya misi kembali ke jalan yang benar dan mimpi menikah dengan Firman,  kekasih pujaan, harus raib bersama dengan kepolosan lainnya yang menyebabkan Yanti kehilangan kewaspadaan dalam pelariannya. Yang lebih menyedihkan lagi, ketika Firman menyambangi rumah bordil tempat Yanti bekerja dan mendapatkan informasi yang membuat pembaca terhenyak. Sayangnya, Bode Riswandi, sang penulis, tidak merinci bagaimana Firman akhirnya tahu bahwa Yanti bukan bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil seperti yang diketahui oleh keluarga dan orang-orang di kampung mereka. Ada semacam kejanggalan dan sedikit lompatan cerita juga yang membuat pembaca menerka-nerka bagaimana nasib Firman yang pulang kampung setelah menerima informasi bahwa Yanti menunggunya di sana.

Awalnya saya pikir ketika masuk bab bertajuk “Yang Datang dan Pergi” akan terselip petunjuk yang menghubungkan dengan cerita “Sukat” di bab selanjutnya. Tapi sampai berlembar-lembar halaman, saya lagi-lagi hanya bertemu dengan Magdalena, dan Sukat, agen mucikari yang menjerumuskan Yanti dan Dahlia. Nama terakhir itu merupakan perempuan yang bisa membuat Sukat tidak tenang dan kesengsem. Perempuan yang akhirnya bisa membuat Sukat sang Don Juan bisa takluk dalam pesona cinta dan kecantikannya. Tapi takdir selalu membawa manusia pada hal-hal tak terduga. Ketika impiannya membangun rumah tangga dengan Dahlia sedang mekar, Sukat harus berperang batin untuk memilih menyelamatkan nyawa atau mewujudkan harapan cinta yang telah menjeratnya.

Menarik membaca kisah para perempuan yang terpaksa berada dalam jebakan keadaaan. Kegetiran nasib perempuan yang terpaksa jadi “barang dagangan” itu tak melulu karena alasan ekonomi, tapi bahkan bisa jadi karena cinta! Iya, cinta yang dijadikan alat untuk memperdayai ketulusan hati perempuan pada lelakinya.

Tak pernah ada yang bisa menerka arah hidup seseorang. Pun demikian dengan para perempuan yang dikisahkan dalam buku ini. Bagaimana akhir hidup mereka dan perjuangan mereka menjalani hari-hari demi bertahan dari remuk redam perasaan yang harus mereka tutupi demi menyelamatkan nyawa, demi menunggu hari pembalasan tiba.

Kita telanjur menerakan cap negatif kepara perempuan yang terpaksa menjajakan diri itu. Kita memberikan nama-nama yang jumlahnya puluhan itu sebagai kata ganti untuk pekerjaan dan status mereka. Kita telanjur menganggap mereka sebagai perempuan kotor dan kehilangan martabatnya. Tetapi bukankah itu juga berasal dari ketidak berdayaan mereka menghadapi kerasnya hidup yang disuguhkan?

Betapa ringannya mulut kita melabeli seseorang itu pelacur, lantaran kerjanya menjajakan kehormatannya. Jika atas nama kehormatan yang digadaikan, apakah hal lain di luar itu bisa dibilang pelacur? Seorang pejabat negara yang rakus makan duit rakyat, agamawan yang menjual ayat-ayat demi kepentingan partai dan golongan, para hakim yang memutuskan pasal pada berapa besar pasokan yang diterima, teori-teori kaum intelektual tercerai dari realitas kemasyarakatan, atau para seniman yang pandai menulis derita sosial menguatkan pada diksi namun kopong dalam aksi. (hal. 102)

Satu paragraf tersebut terasa menohok, bukan? Tapi betul juga, kenapa hanya pada perempuan yang tak berdaya itu kita menyematkan predikat tersebut? Apakah ini juga akibat stigma yang dibangun oleh para lelaki yang dengan jumawanya mendudukkan perempuan sebagai objek, sebagai persona yang bisa diatur bagaimana mereka suka?

Yang menarik dari bagian akhir novela ini adalah kekeras kepalaan Dahlia yang menunggu Sukat penuh dendam rindu hanya untuk mengatakan: “Perempuan yang dipegang kesetiannya, dan  lelaki ucapannya!” kemudian melakukan apa yang ditunggu selama 48 tahun! Bayangkan! Betapa lama waktu untuk membuktikan kesetiaan dan menunjukkan kekuatan cintanya yang berselimut dendam!

Sebagai penyeimbang, suatu kelebihan selalu menyertakan kekurangan. Begitu pun dengan buku ini. Memang, di beberapa halaman saya menemui beberapa “ganjalan”:  salah ketik, dan kata-kata yang biasa disematkan sebagai diksi khas puisi-puisi Bode Riswandi. Selain itu, kata-kata yang mestinya merupakan bahasa lisan terasa kurang pas dijadikan kata-kata dalam tulisan. Di halaman terakhir, ada sedikit blunder, tentang posisi Dahlia yang memeluk Sukat, tapi kemudian kalimat lain menerangkan Dahlia berada di belakang Sukat, dan kalimat pamungkas bagaimana mata Sukat menatap ke arah Dahlia. Andai saya tak melihat pementasan teater dari kisah ini, gambaran visual atas adegan itu bisa membuyarkan imaji saya.

Suka atau tidak pada gaya penceritaan Bode Riswandi dalam novela pertamanya ini, berpulang pada selera masing-masing. Tapi sebagai seseorang yang kerap membaca karya-karya Bode, cerita realis dalam buku ini terasa lebih dekat dengan keseharian di sekitar kita. Maksud saya, jika dibandingkan dengan kisah dalam cerpen-cerpen Bode yang surealis, bahkan kadangkala absurd.

Baiklah, saya sarankan Anda membaca sendiri kisah perempuan-perempuan yang berusaha setegar karang memamah sajian nasib dalam hidupnya sebagai takdir yang harus dilakoni. Dan memahami bagaimana kalimat “wanita yang dipegang kesetiannya, dan lelaki ucapannya” itu meresap ke dalam pemikiran Anda.

Judul               : Hari Terakhir di Rumah Bordil

Penulis             : Bode Riswandi

Tebal               : 128 halaman

Penerbit           : BASABASI

Cetakan           : I, Februari 2020

ISBN               : 978-623-7290-63-6

***

MENJAGA MOOD


MENJAGA MOOD

Sudah 49 hari tinggal di rumah, tentu kita sudah membuat banyak adaptasi dalam beberapa hal. Bagi orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar rumah, penyesuaian pun tetap ada, terkait ritme kerja dan interaksi sosial. Namun, untuk beberapa orang yang total diam di rumah, tantangan untuk bertahan tidak saja dari segi penghidupan, tapi juga menjaga mental (ini menyerang semua orang, percayalah, Anda tidak sendiri).

Ada kemungkinan beberapa orang mengalami tanda-tanda stress atau depresi yang tidak disadari. Kecemasan demi kecemasan mengintai menggerogoti. Dan hal itu bisa berakibat kurang baik pada kesehatan. Jatuh sakit di masa pandemi ini rasanya meneror mental dua kali lipat dibanding hari normal.

Banyak cara bisa dilakukan untuk membunuh jenuh, meredam bosan. Selain melakukan hobi yang sempat terabaikan, bisa juga mengintensifkan kembali kegiatan yang selama ini hanya ada dalam daftar keinginan.
Tren aktivitas daring pun meningkat, dari mulai diskusi dan pelatihan daring dengan berbagai topik sesuai preferensi, hingga transaksi belanja yang beberapa waktu memang sudah terbiasa dilakukan secara daring. Anda bisa memilih itu semua sesuai kecenderungan dan kebutuhan.

Tapi pada hari-hari tertentu, agaknya sangat manusiawi jika segala hal yang dilakukan di rumah itu tetap saja tak bisa menghindarkan diri dari rasa bosan. Dan bisa jadi malah mengundang lagi kecemasan. Jika hal itu mulai mengganggu, segera cari tahu solusi yang paling tepat untuk Anda.

Beberapa hal kecil yang mungkin sering luput diperhatikan selama ini bisa jadi adalah hal-hal berikut yang bisa disiasati:

1. Lakukan ritual mandi dengan sabun dengan aroma favorit Anda atau sabun aromaterapi yang bisa meningkatkan mood. Nikmati waktu mandi dengan menyadari kesegaran air dan wewangiannya.
2. Jika dirasa perlu, semprotkan minyak wangi atau lotion dengan wangi yang lembut. Anggaplah Anda seolah-olah hendak berjumpa seseorang dan harus tetap wangi.
3. Kenakan pakaian yang rapi dan bisa membuat Anda merasa keren. Walau di rumah saja dan tidak ketemu orang lain, percayalah, sesekali tetap mengenakan pakaian yang rapi dan indah itu bisa meningkatkan mood.
4. Berolahraga atau meditasi di rumah dengan pakaian yang paling nyaman yang biasa dikenakan jika Anda pergi ke gym atau fasilitas olahraga umum. Sekali lagi, anggap saja Anda hendak bertemu orang lain.

Barangkali ini tampak sepele. Tapi hal-hal kecil ini bisa memengaruhi mood Anda seharian. Apalagi jika hari ini Anda akan melakukan konferensi dengan beberapa orang melalui zoom meeting, skype, IG live, google meets, dll. Dengan memerhatikan hal-hal kecil ini, sebetulnya Anda sedang menyenangkan diri sendiri secara tidak langsung. Jangan lupa tetap berikan senyum terbaik  setiap Anda becermin.

Rasakan sendiri bedanya. Mood yang baik akan menjaga semangat positif Anda. Dan itu berarti Anda sedang membantu banyak orang dengan tetap menjaga kesehatan dan kewarasan.

Yuk, lakukan hari ini! Tetap semangat ya walau di rumah saja. Untuk yang sedang menjalankan ibadah puasa, semoga Ramadan kali ini membuat kita lebih memaknai kesungguhan diri terhadap Illahi.

Salam sayang,
-RAB-

TONTON DAN NIKMATI SAJA FILMNYA


46C4571E-0592-436C-97B5-C6ED0ACD04ACTepat di hari peringatan kemerdekaan RI ke-74, saya bersama penonton lain menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Bumi Manusia. Dan sepanjang 181 menit, pikiran dan perasaan saya campur aduk: haru, sedih, kecewa, senang, dan bangga.

 

Sejak awal kabar novel Bumi Manusia akan difilmkan sudah menuai banyak kontroversi dan keraguan dari berbagai pihak. Terutama dari orang-orang yang sangat mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, sang penulis tetralogi Pulau Buru, yang di masa Orde Baru, buku-bukunya dilarang beredar.  Banyak yang mempertanyakan kenapa Hanung? Tidak sedikit yang meragukan apakah film itu akan sesuai ekspektasi seperti membaca novelnya. Perdebatan ini semakin ramai ketika Iqbaal Ramadhan terpilih jadi pemeran Minke. Tampang imutnya dan perannya di film terbaru, Dilan, memang membuat banyak orang jadi sangsi dan tidak rela Minke diperankan Iqbal. Tapi tentu Hanung sudah bikin perhitungan matang dan mempunyai tim yang bisa diandalkan dalam menggarap sebuah naskah.

 

Saya menontonnya tepat pada 17 Agustus 2019. Suasana menuju bioskop di dalam mall saja sudah terasa nasionalis karena gaung lagu-lagu yang diperdengarkan selaras dengan tema peringatan kemerdekaan. Masuk bioskop tak lama menunggu tampillah tulisan dalam layar lebar bahwa sebentar lagi lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan dan hadirin diminta untuk berdiri. Sontak, para penonton pun kompak berdiri tegak dan turut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Wah, awal yang bagus, pikir saya. Meski sempat dapat bocoran sebelumnya bahwa sebelum film diputar, penonton pasti diminta berdiri. Dilanjutkan dengan suara Iwan Fals yang khas sebagai pembuka, lalu adegan Minke yang dibangunkan Suurhoff. Begitu wajah Iqbaal muncul, saya paham kenapa banyak orang yang kecewa atas pilihan pemain. Tapi kemudian saya mengingatkan diri sendiri bahwa tadi saya sudah meniatkan akan menonton film, dan harus melupakan pernah membaca novelnya.

 

Setting dan pemilihan lokasi konon sengaja dibuat Hanung untuk mengerjakan film ini. Salut. Pasti tidak mudah menerjemahkan isi novel dan memadukannya dengan imajinasi. Belum lagi harus memilih para pemeran yang betul-betul sesuai karakter. Seperti para penonton lain yang sudah pernah membaca bukunya, saya kecewa karena Iqbaal tidak sesuai gambaran Minke dalam kepala saya, pemeran Robert Mellema tampak kurang indo dan Ine Febriyanti kurang pribumi untuk menjadi Nyai Ontosoroh. Tapi akting Ine sukses membuat kagum karena gambaran seorang Sanikem yang tercerabut dari kehidupan masa mudanya, yang terpaksa dijual oleh ayahnya sendiri demi jabatan, kemudian menjelma jadi seorang Nyai yang mampu menyesuaikan diri, lekas belajar memimpin perusahaan milik Herman Mellema— lelaki yang menjadikannya gundik, diperankan dengan kemampuan Ine yang matang. Pemeran Darsam tidak kalah penting sumbangsihnya pada kesuksesan film ini. Dialog dan logat Madura yang kental serta sikap setianya pada Nyai sang majikan, jadi daya tarik lain tontonan ini. Ada yang mengganjal dan akting yang terasa nanggung untuk beberapa pemeran dan tokoh pendukung lain. Tapi nyaris tak mencolok.

 

Hanung sepertinya memang memilih tim yang pas. Durasi menonton film selama 3jam bisa tidak membosankan itu luar biasa. Di sini penulis naskah dan pengembang cerita tentu berperan besar sebelum naskah ini ada di tangan para pemainnya. Saya malah membayangkan bagaimana diskusi-diskusi alot antara Salman Aristo, Hasan Aspahani, juga Hanung sendiri menggarap konsep awal. Tim penata musik juga jangan dilupakan. Musik yang tepat untuk adegan apa yang lebih cocok, menentukan apakah film ini bisa membuat penonton larut atau tidak. Belum lagi kameramen yang tentu berusaha menampilkan visualisasi dari angel yang tepat. Saya tidak menyiapkan diri untuk kesedihan ketika mau menonton film ini. Selain sukses 181 menit bikin saya diam di kursi, film ini sukses membuat saya mengeluarkan tisu dan mengeringkan air mata yang terjatuh. Iya, sisi emosional saya diaduk-aduk. Sudah sejak awal. Sejak Robert dan Surhoff yang indo itu lebih membanggakan darah Eropanya, sedang Annelies yang cantik malah lebih ingin menjadi pribumi. Saya lahir di keluarga Indo. Saya mengalami bagaimana ketika pindah ke tempat tinggal saya sekarang, sempat diragukan ke-Indonesiaannya, dan diperlakukan berbeda. Sementara ada anggota keluarga yang bersikap mirip dengan Robert, lebih bangga dengan ke-Eropaannya. Jadi sambil menonton, sambil pikiran saya nostalgia juga memikirkan Oma. Oke, lanjut bahas yang lain.

 

Hanung menghadirkan pesan yang penting seperti dalam isi novel Pram. Bahwa kekuatan pena itu luar biasa, lebih kuat dari otot dan senjata. RM Tirto Adhie alias Minke ini melawan melalui tulisan ketika harus berhadapan dengan pengadilan, dan berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat banyak. Yang tadinya nyinyir dengan kehidupan pribadi Minke karena tinggal di rumah seorang Nyai, jadi membela sebab rasa kebangsaannya terusik dan tersadarkan. Pernyataan bahwa bangsa Indonesia itu setara dengan Eropa, tidak lebih rendah, tapi sejajar, sangat mengena di kala masih banyak yang beranggapan orang Eropa memiliki level lebih tinggi daripada pribumi. Persis di peringatan hari kemerdekaan, film ini diluncurkan. Pas momennya. Nasionalis sekali, kan?

 

Banyak pesan-pesan positif yang dikemas cantik (baik dalam dialog dan penggambaran karakter) demi mengimbangi kisah cinta Annellies dan Minke yang tragis. Misalnya contoh sikap Minke yang bertindak sebagai lelaki ksatria menerima wanita yang dicintainya telah ternoda, bagaimana Nyai Ontosoroh bertahan dan kuat dalam tempaan, bagaimana seharusnya bersikap ketika nyaris semua orang malah memihak kepentingan penguasa, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri dan berani menanggung konsekwensi atas setiap keputusan yang sudah dipilih. Adanya pesan-pesan positif dan berkarakter ini, menjadikan film Bumi Manusia patut jadi rekomendasi tontonan anak milenial (dan orang tuanya). Ditutup dengan kesedihan paling mengiris, film ini menggaungkan kalimat Pram yang terkenal di novel itu: “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.’ Semacam penegasan bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita yakini sampai titik darah penghabisan, sampai segala cara yang ditempuh tak menemukan lagi jalan terang.

***

 

Yang mesti disiapkan tentu saja sebelum masuk dan menonton, perut harus kenyang dan pastikan sudah cukup minum. Sebab durasi panjang begitu tidak nyaman kalau harus terpotong karena lapar atau ingin pipis.
Menurut saya nih ya, buat yang koar-koar film ini jelek (apalagi bilang jelek tapi cuma tahu “katanya”, kata orang lain, belum membuktikan sendiri), pesannya gini: memang kita itu harus melepas dulu kesan yang terekam setelah pernah membaca tetralogi pulau Buru sebelum menonton filmya, agar tidak terganggu dengan citraan imajinasi (ideal) versi kita.
Jangan membandingkan sajian film yang disutradarai Hanung dengan penceritaan versi Pram. Jangan pula membandingkannya dengan alih wahana pada pentas Bunga Penutup Abad yang disutradarai Wawan Sofwan. Sebab menerjemahkan sebuah novel ke dalam media lain tentu tidak akan sama persis sensasinya.
Tonton filmnya dan nikmati sajian penceritaan versi kerja tim yang sudah berusaha keras mengenalkan karya Pram ke khalayak yang lebih luas.
Jangan fokus dengan kekecewaan pemilihan pemeran. Jangan fokus lihat Iqbaal yang tampak terlalu imut buat memerankan sosok RM Tirto Adhie. Kasihan dia, sudah berusaha kuat belajar pelafalan bahasa Belanda demi aktingnya. Jangan lihat pilihan cast Robert Mellema yang kurang indo atau Ontosoroh yang terasa kurang pribumi. Masih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati dari sudut pandang lain.

Boleh dikata cukup baik lah. Dan saya rasa malah memancing rasa penasaran yang belum pernah baca karya Pram untuk membaca tetraloginya. Dan yang sudah pernah baca, jadi ingin baca lagi. Positif kan jadinya?
Tidak setuju dengan pendapat saya? Tidak masalah. Dunia berbeda penuh warna itu indah daripada seragam.
Sekian dan terima endors.

 

~RAB

17-18 Agustus 2019

 

 

DISKUSI ISTIMEWA


 

Minggu 14 Juli 2019 diagendakan diskusi buku kumpulan puisi “Sebelas Hari Istimewa” (SHI) di Don Quixote Coffee&Books. Rencana pukul 15.00 molor karena Yogya sedang macet parah, dan lokasi acara masih ditempa terik matahari, meskipun beberapa orang sudah berkumpul.

Saya sendiri tiba lewat dari pukul 15.00 setelah “disasarkan” oleh google map yang membawa kami ke jalan memutar dan berada di jalan yang tak meyakinkan. Sesampainya di sana sudah ada Yopi Setia Umbara, keluarga Penerbit Jbs Indrian Koto – Mutia Sukma beserta anak-anaknya, moderator Olive, penyair Irwan Segara, dan beberapa teman lain.

Sembari menunggu teduh, kami berbincang ringan, tak lama datang pula Zelfeni Wimra – Fitra Yanti bersama anaknya serta beberapa orang lagi yang saya belum kenal. Kejutan lain datang dari Kak Aprila Wayar, jurnalis&penulis Papua yang sedang berada di Yogya. Tak janjian sebelumnya, Kak April sukses membuat saya terpekik girang sebab terakhir jumpa tahun 2013. Di akhir acara kami barter buku karya terbaru.

Lebih dari pukul empat sore acara dibuka, dipandu Olive sebagai moderator dan Irwan Segara sebagai pembahas.

Diskusi cukup interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta yang hadir. Menarik pula bagaimana Irwan bisa membuat saya tak bisa mengontrol rasa haru ketika membahas puisi di bab Belanda, apalagi dia membacakan puisi persembahan saya untuk mendiang Papa dan Oma. Bahasan Irwan yang mempertanyakan benang merah antara judul dan isi di puisi Penanda Waktu, adalah salah satu yang mesti dikonfirmasikan. Selanjutnya Olive bertanya apa satu kata yang membuat editor buku SHI, Mas Kurnia Effendi, menghitung 12 kata yang sama dalam beberapa puisi dan bagaimana proses “perdebatan”nya sampai pada keputusan akhir. 

Selain Irwan, salah satu peserta lain menganggap puisi di bab Belanda lebih menunjukkan keterlibatan perasaan penulis dibanding puisi-puisi di bab lain. Tentu perlu saya konfirmasikan pula mengapa bisa terjadi demikian.

Ada pula peserta yang bertanya pesan moral dari puisi. Diungkapkannya bahwa seperti diajarkan di sekolah sejak SD hingga kuliah, selalu para guru menyuruh siswanya mencari pesan moral dari sebuah tulisan.

Kekaguman, keterpesonaan penulis pada hal-hal baru yang ditemui dalam beberapa puisi juga jadi sorotan bagaimana puisi tersebut terkesan sebagai pandangan mata. Tentu saja saya utarakan bahwa buku ini melalui rentang waktu yang singkat dan ditujukan sebagai dokumentasi awal, sebelum saya keburu lupa menuliskan kesan-kesan yang berebut tempat di kepala. Dan nuansa bahagia memang sengaja dihadirkan demi menarik pula hal-hal positif ke dalam kehidupan saya dan orang-orang yang membacanya, sekaligus mewakili perasaan bahagia selama melakukan kunjungan ke beberapa kota di Eropa tersebut. Saya tak ingin terlalu banyak mengunggah duka lara seperti puisi-puisi di buku sebelumnya yang terkesan sendu. Maka saya katakan masih akan ada puisi lain yang melalui proses pengendapan dan perenungan setelah berjarak cukup lama. Semoga. Insyaallah. 

Menjelang acara ditutup, Mbak Heti Palestina Yunani muncul. Kesalahan melihat nama stasiun keberangkatan membuatnya ketinggalan kereta dan beruntung dapat tiket lain yang batal. Jurnalis dan art manager ini jauh-jauh datang dari Surabaya demi hari istimewa saya, meski terpaksa jadi terlambat tiba. Ah, mbakyu yang satu itu memang istimewa. Arinda Risa Kamal yang terakhir jumpa di Tasik ternyata juga sedang betah di Yogya dan kami pun bernostalgia tentang proses kreatif saat aktif di Sanggar Sastra Tasik. Mbak Evi Idawati tak bisa hadir, karena mesti mengajar anak-anak kecil berpuisi, tetapi tetap mengutus putri cantiknya untuk datang ke acara.

Pertanyaan dan diskusi tentang hal lain terkait puisi-puisi yang disusun dalam SHI melahirkan gelak tawa dan canda yang menghangatkan sore itu di antara gelas-gelas kopi yang diedarkan. Cuaca Yogya hingga malam masih cerah meski tidak terlalu gerah seperti biasanya.

Alhasil, hari Minggu saya terasa istimewa bersama orang istimewa dan teman-teman istimewa, berbincang tentang Sebelas Hari Istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Hari Minggu saya penuh cinta. Penuh kejutan. Penuh keharuan. Bahagia yang istimewa. Terima kasih untuk kalian semua. Pemilik tempat, penyelenggara acara, teman-teman yang hadir dan berbagi waktu istimewanya. Semoga pertemuan kita melahirkan kenangan istimewa.

#RAB, 1507209

NGOMONGIN MANTAN


NGOMONGIN MANTAN

Di berita sedang ramai kasus artis yang diperkarakan karena ngomongin mantan. Konon awalnya cuma niat silaturahmi ketemu teman, ngobrol-ngobrol eh malah divideokan. Ya gitu deh yang namanya ngobrol dengan teman, memang ada kemungkinan tergelincir jadi membicarakan orang lain, hingga mantan pasangan. Kontrol diri memang standarnya tak pernah sama pada tiap orang, ada yang pandai mengerem ketika pembicaraan mulai menyinggung hal-hal negatif. Tapi ada juga teman yang semakin heboh saat dipancing, gosip deh, makin digosok makin sip. Dan kasus ini jadi “tamparan” keras buat kita, yang apa-apa divideokan, obrolan dan kisah rahasia yang seharusnya disimpan rapat malah lancar digelontorkan. Ranah pribadi jadi konsumsi publik. Niat lucu-lucuan, demi eksis, sampai niat menjatuhkan seseorang, semua tersembunyi di hati yang kedalamannya tak berdasar itu.

Baiklah, saya jadi ketularan juga ingin ngomongin (para) mantan. Buat saya, gak ada salahnya mengambil hal-hal baik yang pernah didapat ketika bersama mereka. Terlepas dari pertengkaran, perdebatan, hingga derai air mata yang tumpah, di kemudian hari selalu ada pelajaran yang bisa disimpulkan. 

Para mantan saya, rata-rata meninggalkan luka. Beberapa mungkin malah saya yang menancapkan kepedihannya. Tapi rasanya selalu ada hikmah. Yang buruk tak akan saya guar, demi ketahanan dan kedamaian semesta saat ini. (😁Tsah! Cieee..)

Beberapa kebiasaan positif (para) mantan pacar  di masa lalu yang ditularkan ada macam-macam. Misalnya, meracuni saya baca buku-buku Pram dan Djenar, menularkan kebiasaan meredam emosi jika pesanan makanan salah atau tumpah, memengaruhi untuk berani mencoba makanan yang rasanya asing. Kebiasaan negatif juga ada, tapi itu jadi pelajaran. Misalnya malas dan lelet kalau janjian, jadinya saya berusaha untuk tepat waktu dan tidak meniru hal itu. Ada yang cemburuan minta ampun tanpa pandang bulu, bikin saya gerah dan merasa dibatasi. Jadinya ya saya juga belajar mengendalikan, meskipun kalau saya lihat pasangan saya sekarang jalan sama Raisa bisa ngomel panjang lebar.

Dalam beberapa kasus, jika hubungan dengan mantan bisa diperbaiki, bisa jadi malah menguntungkan urusan (walau ini jarang banget, sebab rata-rata malah bikin males, ye kaaaan? 😜)

Sebetulnya tidak hanya dengan mantan pasangan. Mantan rekan sejawat dan orang-orang yang pernah berarsiran, semua punya potensi sama. Saling menularkan kebiasaan positif atau saling menyinggung perasaan. Tapi segalanya kembali pada kita, mau mengambil pelajaran dan menyimpan hal buruk, atau mengumbar kekurangan mereka dengan mulut ember ke mana-mana?

Mungkin kesal, sakit hati, atau benci, bercampur di hati akibat peristiwa masa lalu. Namun jangan lupa, karena mereka lah kita punya hidup yang lebih baik dan berbahagia saat ini. 

Sekian. Salam buat mantan kamu yang manis dan ngegemesin itu.

*fotonya stasiun aja, soalnya mau pajang foto mantan malah bingung, mau pasang foto Darius Sinathrya, Juna Rorimpandey, atau si dia yang itu. 😎

F18F9F52-D4C4-42CC-AF96-BE6CD1FF71E1.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 2)


0473038B-0DF3-4D6D-8B61-97253F2D5BE0.jpeg

 

APA ISI TASMU? (Part 2)

Ini masih dalam rangka bahas isi tas ya. Ceritanya kalau bepergian cukup jauh dari rumah. 

Saya sering bolak-balik ke kota sebelah. Di kafe favorit dan beberapa tempat lain sudah tidak menyediakan sedotan, terutama yang berbahan plastik. Dan karena “gaul” dengan para yogi/yogini yang apa-apa selalu ngomongin sesuatu yang terkait “eco-friendly”, maka saya terbawa-bawa (tentu dalam arti positif) untuk peduli. Salah satunya dengan membawa sendiri sedotan. Bahkan seperangkat cuttlery set ini berisi sendok, garpu, sumpit, pisau dari kayu, dan sedotan dari bambu. Ribet? Berat? Tidak juga, bahannya ringan. Masih lebih berat powerbank. Tapi berguna banget sebagai salah satu daftar “survival kit”. Buktinya waktu di salah satu foodcourt saya memesan steak dan disediakan pisau serta garpu plastik yang rentan patah, akhirnya garpu kayu ini ada gunanya. Garpu plastik utuh gak jadi dibuang, lumayan mengurangi satu sampah plastik. Lalu saat membeli makanan yang dibawa pulang tanpa dikasih peralatan makan, bisa dinikmati di perjalanan karena bawa sendiri. Sedotan sih jangan ditanya. Di tempat ngopi favorit dengan cake yang enak itu, ada ice coffee yang lebih sedap disesap melalui sedotan dibanding langsung dari bibir gelas. 

Nah sekarang perlengkapan ini sudah selalu ada dalam tas. Lumayan, meskipun tidak langsung memberi perbedaan besar, mengurangi satu jenis sampah plastik dari satu orang makhluk bumi ini.

*Jangan pesan ya, saya gak jual ini. Kecuali butuh jastipan. #ehgimana😉

APA ISI TASMU? (Part 1)


EABE010B-9920-45DA-A98F-F3143BE11A46.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 1)

Ngobrol santai ya, kawan.

Saya suka heran (terutama)melihat cewek-cewek yang ke mana-mana bawa tas tangan kecil banget. Kayaknya isinya cuma uang dan hp.  Saya sih mana bisa begitu. Kalau pergi-pergi, minimal barang yang harus saya bawa adalah notes kecil&pulpen (siap sedia jika ada ide atau harus mencatat sesuatu), buku bacaan (biar gak kesal menunggu), dompet, hp, powerbank, kabel charger, hand sanitizer, lotion, sabun kecil. Kadangkala kalau pergi jauh meskipun diniatkan ulang-alik, isi tas ditambah minimal satu baju ganti. Plus handuk kecil.

Kebiasaan begini berguna saat “darurat”, harus ganti baju karena kehujanan, ketumpahan makanan, atau saat impulsif memutuskan menginap. 

Nah, kalau pakai tas imut begitu, “survival kit”nya ditaruh di mana?

Mau tahu juga dong, kalian lelaki gimana? Terus kalian yang perempuan, apa isi tas yang harus selalu ada?

*foto dari internet

#RAB, 12072019

Peluncuran & Diskusi Buku


img_51941.png

 

Peluncuran & Diskusi Buku

SEBELAS HARI ISTIMEWA
Kumpulan Puisi-Puisi Perjalanan
Karya Ratna Ayu Budhiarti (@ratnaayu_b)

Pembahas
Irwan Segara (@irwansegara), penyair

Moderator
Olive Hateem (@olivehateem)

Minggu, 14 Juli 2019
Pukul 15.00-17.00 WIB

Don Quixote & Co. Coffe & Book
Jalan Kenanga 6, Kentungan
Condongcatur, Depok, Sleman
Yogyakarta *Gratis secangkir kopi Don Quixote & Co. untuk 20 peserta pertama

Didukung oleh
@jualbukusastra
@donquixoteandco
@balabuku

#SHI_RAB #SebelasHariIstimewa #ratnaayubudhiarti #puisiIndonesia

Membaca Kucing Murakami


 

 

 

 

46374125._SX318_Mayoritas kisah dalam buku kumpulan cerita ini menuturkan petualangan imajinasi. Ada kucing yang berubah jadi manusia dan kebingungan menyesuaikan diri, kemudian tertarik pada lawan jenis, seorang perempuan bungkuk yang aneh. Lalu ada lelaki yang berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bar dan bertemu orang-orang misterius. Beberapa kisah menggantung dengan imajinasi yang melompat. Lumayan.