SEMANGKUK (CERITA) SOTO


Karena (Insyaallah) akan diwisuda untuk kedua kalinya, saya ingin berbagi cerita. Sebelum melanjutkan baca, saya harap teman-teman dan kerabat semua bisa mengambil manfaat dan hal positif dari cerita ini. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Ambil abunya, jangan apinya.
Seperti yang pernah saya posting di akun media sosial, saya telah melangsungkan ujian tesis tanggal 26 Oktober 2017 lalu. Kegembiraan itu tentu saja bisa dibilang puncak dari impian lama yang tertunda. Alhamdulillah lulus. Meski menyisakan sedikit catatan untuk direvisi dari tata tulis dan perbaikan lain. Maka Kamis lalu tanggal 9 November 2017 saya pun menyetorkan hasil revisi itu pada 3 dosen penguji dan 2 dosen pembimbing. Karena ingin mengefisienkan waktu, maka kejar-kejaran dengan dosen pun berakhir dramatis. Saya sampai melewatkan makan siang karena “nongkrongin” dosen takut susah ketemu lagi, dan ingin selesai dalam satu hari itu, mengingat rasa capek (dan ongkos) kalau harus selalu bolak-balik ke Tasik. Karena tanda tangan yang didapat harus runut, jadilah ada adegan dosen yang luput dari pandangan padahal selama beberapa jam saya menunggu di depan ruang sidang karena beliau menguji. Lalu saya harus mengejarnya ke gedung lain. Selain itu ternyata saya juga harus mengejar dosen yang menjemput anaknya di sekolah, balik lagi ke kampus menghadap dosen lain, lalu kejar lagi dosen satunya ke rumahnya karena ada yang tertinggal. Padahal saat itu sedang jam macet karena waktu bubar kantor/sekolah plus jalanan di Tasik sedang banyak galian. Tapi lima tanda tangan sukses terkumpul. Adegan dramatis perburuan tanda tangan ditutup dengan azan Magrib yang jadi pengiring rasa lapar setelah saya kembali sadar bahwa saya melewatkan makan siang. Tasik yang gerimis sejak sore mengirimkan gigil ke tubuh. Saya pun memutuskan untuk mampir makan soto H. Didi di Tasikmalaya. Selain sejak siang ada yang membuat saya ”ngiler” karena kirim foto soto, saya pun me”rapel” makan siang dengan makan malam.
Hujan tiba-tiba menderas saat pesanan saya dibuat, dan dua orang pembeli pun pulang. Jadilah saya menikmati soto sendirian, ditemani sebungkus kerupuk Si Geboy, yang juga favorit. Tak ada yang aneh, soto setengah porsi plus dua buah kerupuk ludes dengan sekejap. Selesai makan, teh hangat pun membasahi kerongkongan. Saat air hangat itu mengalir, rasa sesak tiba-tiba datang. Seperti ada yang membuat saya tersekat, dada terasa sempit, dan mata pun memanas. Sambil memandang curahan air hujan di luar warung soto, saya ingat almarhum Papa. Soto itu favorit Papa. Nyaris setiap ke Tasik kalau menjenguk saya yang saat itu sedang kuliah S1 di kampus yang sama, selain makan sate di depan Hotel Galunggung, kali lain Papa mengajak makan soto H. Didi ini. Malam itu saya ingat, seperti dalam adegan flashback sebuah film, kami bertiga (saya, mama, dan papa) makan soto di malam sebelum saya wisuda. Saya tiba-tiba ingat senyum hangat dan tawa lebar papa. Kegembiraan meruah karena anak bungsunya menyelesaikan S1 dengan baik. Walau awalnya bukan itu jurusan yang diminati, toh nilai saya tidak mengecewakan. Mata saya mulai basah. Cepat-cepat saya membayar makanan dan masuk mobil. Begitu pintu tertutup, tangis saya tak tertahan. Sudah lama saya tidak menangis. Saya sendirian, tiba-tiba rindu membuncah, saya tidak bisa menyimpannya sendirian, dan saya pun berbagi rasa sesak ini pada seseorang dengan kalimat pendek. Dia mengatakan supaya saya mengeluarkannya. Dan air mata pun tumpah, saya betul-betul menangis cukup lama sambil memandang hujan dan berbisik, “Papa, Ratna sudah S2. Ratna bisa S2, Papa…”. Saya sesenggukan sambil mengulang kalimat itu. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya. Saya masih memiliki mama yang setiap saat selalu sedia menampung keluh kesah dan berbahagia paling dulu melihat anaknya bahagia. Alhamdulillah masih ada mama yang bisa saya peluk dan cerita kapan saja. Tapi saat itu saya disergap kerinduan pada papa, rindu memandang wajah penuh kebanggaan seorang ayah pada anaknya. (ya ampun, bahkan saat saya menuliskan ini pun, saya menangis lagi! 😭 )
Saat lulus S1, 2004 dulu, saya sangat ingin melanjutkan kuliah lagi. Bukan cuma mengejar gelar, tapi karena saya sedang semangat-semangatnya belajar. Saya utarakan pada papa, tapi beliau bilang tak sanggup jika harus membiayai saya S2. Biaya S1 pun Alhamdulillah terbantu dengan beasiswa yang saya dapat, dan biaya hidup dari menabung hasil jualan dan sambil magang kerja saat semester akhir. Jadi kalau pun saya masih ingin sekolah lagi, saya harus sambil bekerja dan biaya total cari sendiri, atau mengajukan beasiswa. Tapi sepertinya papa berat sekali mengiyakan. Plus saat itu, ada kecenderungan papa ingin saya berkembang dan jadi pengusaha, tidak melulu kuliah. Boleh dibilang kurang direstui jika ingin kuliah lagi.
Akhirnya saya pun menyimpan mimpi itu. Bahkan setelah saya bekerja sebulan sebelum wisuda, saya masih membicarakan keinginan untuk S2. Dan mimpi itu tersamarkan dengan pekerjaan berikutnya yang betul-betul menyita waktu, pergi pagi pulang malam. Impian saya terabaikan, tapi tidak dikubur. Saya selalu merasa tergoda untuk mencoba, tergoda untuk mendaftar. Dan beberapa kali pula mengalah pada pekerjaan dan kesibukan.
Singkat cerita, setelah pertimbangan sana-sini dan ada rejeki, baru pada Maret 2015 lah akhirnya nama saya terdaftar sebagai mahasiswa lagi. Iya, di kampus yang sama lagi dengan S1 dulu. Pertanyaan “kenapa gak kuliah di Bandung?” juga memberondong sama seperti S1 dulu. Tapi bukankah yang penting belajarnya, bukan di mananya?
Maka malam itu, semangkuk soto membawa saya pada beberapa peristiwa, perayaan kenangan dan kemenangan. Ya, bisa dikatakan kemenangan, karena di detik-detik akhir saya hampir menyerah, nyaris tidak menyelesaikan tesis saya. Ada perasaan bersalah saat Khanza, anak semata wayang, ngomel-ngomel karena waktu bermain saya dengannya disita oleh komputer saat saya menggarap draft tesis. Bahkan Khanza sampai menempelkan kertas di komputer saya dengan tulisan “TESIS!!! SEBEL!! BANGET!!! BANYAK!!!”. Setiap mengerjakan tesis dan memandang tulisan itu, saya merasa bersalah dan ingin segera selesai.
Mungkin suasana hati saya sedang “melow” malam itu. Setelah berburu tanda tangan dosen dengan adegan dramatis, perut kosong dan hujan deras, semua yang memenuhi kepala muncul silih berganti. Setelah saya bisa mengendalikan diri, tangis mereda, saya pun lega. Saya membagikan kebahagiaan itu melalu doa untuk papa. Saya yakin, jika masih hidup, papa yang serius dan irit senyum itu akan tertawa lebar dan memeluk saya sambil berkata “Baguslah. Tapi kamu harus terus belajar. Tambah pengetahuan lain.” Itulah kalimat yang biasanya dilontarkan papa agar saya tidak lekas puas dan menetapkan target-target baru, setiap satu target tercapai.
Saya membagikan cerita ini tidak lain untuk diambil positifnya. Saya ingin bilang, jangan pernah berhenti bermimpi. Jangan pernah menguburkan impianmu. Siapapun bisa mencapai mimpinya. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan di saat paling sulit atau di saat paling tidak terduga, Allah akan kabulkan doa dan wujudkan impianmu. Pada saat yang paling indah. Bahkan lebih sering disertai banyak tambahan “hadiah” lainnya.
Insyaallah saya akan wisuda tanggal 25 November 2017 ini. Terima kasih untuk keluarga dan orang terdekat serta semua yang menyemangati dan memberikan dukungan. Kalian berharga bagi saya. Semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan serta banyak hal positif lainnya. Mohon doakan saya, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.
#RAB, 13112017
Iklan