MENGHAYATI SEMANGAT HANG TUAH DI JAZIRAH (3)


 

3.1 Surat yang Bercerita

Seseorang pernah mengatakan, ada tempat indah di luar sana, dekat dengan laut. Menuju ke sana, harus dengan kapal laut menyeberangi selat, atau terbang dengan pesawat. Tahun sekian itu, ongkos pesawat masih terbilang mahal untuk ukuran kocek orang kebanyakan sepertiku. Berbeda dengan beberapa tahun terakhir, maskapai komersil semakin gencar mempromosikan berbagai jalur penerbangan dengan tiket murah dan diskon untuk masa tertentu. Salah satu maskapai bahkan mengeluarkan tagline: kini semua orang bisa terbang. Bahkan kalau mujur, tiket pesawat pulang pergi ke negara tetangga bisa lebih murah daripada harga tiket dalam negeri ke pulau Bali misalnya.

Seseorang itu menyukai Pram. Sudah tentu ia senang membaca. Dan menurutku dia memiliki bakat untuk menulis. Dari surat-surat panjangnya yang berlembar-lembar itu, dia kerap menceritakan pekerjaan dan hal-hal lain yang menarik perhatiannya. Salah satunya surat tentang bagaimana ia menikmati perjalanannya dengan kapal laut menuju Tanjung Pinang. Dalam suratnya, ia bercerita tentang kota tepi laut dan makanan laut yang melimpah. Juga jalanan yang menyenangkan setiap menjelang senja ia kelilingi kota.

Menurutku, demikian penting peranan seorang penulis dalam memengaruhi kehidupan seseorang. Kemampuannya menulis dan mendeskripsikan sesuatu bisa menarik minat yang besar pada pembaca. Seperti juga surat-surat itu. Surat yang bercerita. Pembaca itu aku, perempuan yang belum banyak melihat dunia di usianya yang masih ranum. Dunianya hanya sebatas imajinasi yang berkembang dari semua buku yang dilahapnya. Hingga setelah tahun-tahun itu lewat, ingatan tentang surat itu masih terpatri baik. Bagaimana buah tangan yang dibawakan seseorang beserta cerita-cerita tentang kerinduan yang terpaksa diperam selama berada di pulau yang jauh pun masih menghuni relung pikiran jika ia perlu menggalinya di waktu-waktu tertentu.

Perempuan itu aku, yang memekik kegirangan dalam hati ketika akhirnya kesempatan itu tiba. Jauh setelah surat-surat yang bercerita itu lenyap ditelan suasana. Tuhan mewujudkan mimpi-mimpi selalu di waktu yang tepat. Seperti juga mimpi menjejak Kepulauan Riau, terutama bagian Tanjung Pinang. Seperti menggenapi perjalanan dari masa lalu yang meminta ditunaikan dari alam bawah sadar.

 

3.2 Lolos Kurasi adalah Kunci

Segala upaya telah dilakukan untuk menggenapi mimpi menjejak tanah kepulauan. Betul, lolos kurasi adalah kunci. Selebihnya, keberuntungan-keberuntungan lain dan nasib baik yang menyertai.

Segala persiapan telah dilakukan, mulai dari pemesanan tiket dan bantuan informasi sana-sini agar perjalanan menyenangkan. Perjalanan dari kota kecil tempat saya tinggal tidaklah dekat. Saya memilih naik-turun kereta api sebelum akhirnya tiba di bandara Cengkareng untuk naik pesawat.

Saya tiba di bandara lebih cepat, jauh dari waktu cek in yang seharusnya. Tak apa, lebih baik tiba lebih awal daripada ketinggalan pesawat yang akan membawa saya menjejak tanah yang membuat saya penasaran bertahun-tahun, bukan? Di bandara, saya juga berjanji ketemu dan naik pesawat yang sama dengan teh Rini Intama. Saat boarding, barulah saya sadari, ternyata ada teman lain berangkat dengan jadwal yang sama. Mereka adalah Bang Roymon dari Ambon dan Cak Sudi yang tinggal di Bekasi. Berempat kami menaiki pesawat dan berdoa semoga penerbangannya lancar sampai tempat tujuan.

Terbang selama 1,5 jam dalam keadaan tubuh agak lelah dan sedikit mengantuk membuat saya terkejut saat pesawat melakukan pendaratan. Saya duduk persis di bagian atas roda pesawat, sehingga merasakan guncangan agak keras. Tapi saya tetap bersyukur, kami semua selamat tiba di bandara Raja Haji Fisabilillah. Panitia penjemput sudah siap menunggu di pintu kedatangan. Karena sempat mengalami penundaan selama setengah jam, kami terlambat tiba di acara pembukaan di Kompleks Purna MTQ Bintan. Perjalanan dari bandara menuju tempat acara memakan waktu lebih kurang satu jam, melewati jalanan sepi dan remang-remang. Rasa lapar semakin menggoda perut setiap melihat ke luar jendela dan rumah-rumah penduduk yang berjauhan jaraknya. Tapi tentu kami harus lebih bersabar lagi, sebab konon jamuan makan malam bersama Gubernur telah menunggu.

Tiba jugalah kami di tempat pembukaan acara. Terlambat sudah pasti. Tapi kami masih bisa menyaksikan penganugerahan Jembia Emas, dan peresmian pembukaan acara hingga pembacaan puisi beberapa teman. Acara selesai sekitar pukul sebelas malam, kami dibawa ke hotel Aston Tanjung Pinang dengan keheningan yang berbeda. Keheningan yang dihangatkan oleh kerinduan yang tertumpahkan saat bertemu teman-teman. Kira-kira setengah perjalanan, rombongan yang terdiri dari satu mini bus, dua mobil microbus, dan beberapa mobil pribadi para pejabat dan panitia setempat, kami berhenti di salah satu kedai. Bapak Gubernur menjamu kami dengan hidangan dari kedai berupa prata, martabak mesir, teh tarik, teh telur, juga jus aneka buah yang bisa dipesan di sana. Nyaris tengah malam, dan perut kami pun sudah penuh. Tak lama menikmati makanan dan minuman di sana sambil berbual ke sana ke mari, kami pun segera diantar untuk istirahat di hotel.

 

3.3 Seminar dan Senja yang Puitis di kaki gunung Bintan.

Jumat, 30 November 2018. Pagi hari di hotel, suguhan sarapan sungguh menggoda perut. Aneka macam makanan dan buah-buahan tersaji rapi. Saya cukup terhibur juga melihatnya. Sebab tidur yang kurang semalam akibat terlalu larut tiba di kamar, membuat kepala saya sedikit protes dan butuh asupan energi yang lebih. Kami pun berbaur dengan teman-teman lain di meja yang tersedia. Selesai sarapan, acara pertama dimulai. Setelah dibuka oleh walikota Tanjung Pinang, seminar sesi pertama dimulai pukul sepuluh lewat. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, hari Jumat itu dilanjutkan dengan seminar sesi kedua setelah istirahat, salat Jumat, dan makan siang.

Sore pun tiba, bergegas kami menuju kendaraan yang telah siap membawa ke De Bintan Villa, di Bintan Buyu. Tiba di sana, pemandangan pertama yang menarik mata saya adalah sebuah kincir angin yang berdiri di dekat danau. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada sebuah desa di Nederland: Zaansche Saans. Memang tidak sama persis, tapi mirip.

Sambutan oleh tokoh Huzrin Hood mengawali pentas puisi. Sebelum magrib tiba, beberapa orang didaulat ke panggung yang dipandu oleh Datok Teja. Kelakar, pantun, dan humor-humor segar mengalir dari sang pembawa acara sehingga suasana terasa semarak. Dijeda oleh istirahat salat Magrib dan makan malam bersama, pembacaan puisi dilanjutkan malam hari. Panggung dengan latar belakang Gunung Bintan yang elok, menjadikan senja itu begitu romantis. Rona bahagia terpancar dari setiap orang yang hadir di sana. Malam hari kami pulang dengan kegembiraan yang hangat di dada, tidur lelap untuk bersiap mengikuti rangkaian acara keesokan harinya. Beberapa teman yang terbiasa begadang menghabiskan malam hingga dini hari untuk bertukar kisah, hingga mata mereka tak sanggup lagi terbuka dan menyerah pada rasa lelah.

 

* bersambung

#RAB, 06122018

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s