MENONTON FILM “I CAN SPEAK”


83BB6A2C-3761-4EEE-84A2-CAFCB4EDAB7C

Padahal bukan pegawai kantoran, tapi ketika libur Imlek begini terus diam di rumah itu rasanya kok gak produktif sih. Otak lagi gak bisa dipake mikir buat nulis, jadi buka aplikasi HOOQ, nonton film ini. Hasilnya: SUKSES MENETESKAN AIR MATA!

Film yang diangkat dari kisah nyata tentang “comfort woman”, para perempuan Korea yang jadi budak seks tentara Jepang di masa Perang Dunia II ini dirilis tahun 2017. Saya tidak membaca review atau mencari tahu ulasan apa pun sebelumnya. Sengaja, biar tidak terganggu dengan semacam pengantar atau sudut pandang orang lain. Pemilihan film juga cuma berdasarkan insting aja. 

Sepanjang 15 menit di awal saya kira ini hanya kisah drama keluarga biasa. Ya sudahlah, toh saya hanya ingin menghabiskan waktu libur ini seperti orang lainnya dengan bersantai. Ternyata kejutan cerita di luar perkiraan. Nah Ok-Boon memberikan kesaksiannya di  Kongres Amerika tahun 2007 melalui HR121. Saya menangis, membayangkan betapa jahatnya peperangan. Selalu ada korban yang dibungkam, terpaksa membungkam dirinya sendiri, atau sama sekali hilang ingatan karena depresi. 

Memang, butuh keberanian lebih untuk mengakui bahwa seseorang pernah menjadi korban. Banyak yang memilih melanjutkan hidup dengan menutupi masa lalu dan berkata semuanya baik-baik saja. Padahal jauh di dalam, jiwa mereka terluka. Penyintas semacam mereka tentu banyak juga yang tak terungkap. Tak terbayang bagaimana seorang perempuan remaja dicerabut dari keluarganya dan disiksa demi memuaskan nafsu para lelaki. Lalu di kemudian hari mereka tetap harus bertahan hidup dan mengubur kisah pilu itu.

Ketika Nenek Oh-Boon berkata bahwa yang perlu dilakukan pemerintah Jepang adalah meminta maaf kepada para perempuan ini, dan hal ini perlu diungkapkan agar tidak terjadi lagi hal yang sama di kemudian hari, saya lalu teringat perkataan Pak Martin Aleida. Kita harus menuliskan kisah itu, sepahit apapun, agar sejarah tidak terulang. Banyak korban perang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Akhirnya saya mengerti, kenapa film yang disutradarai Kim Hyun Seok ini berjudul I CAN SPEAK.

Saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s