Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan


Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan, 18 Maret 2019FDCR7968[1]

PARIS MALAM HARI

 

J e t’aime!

Cahaya lampu di tubuh menara

memutar irama imajinasi untuk berdansa.

Kantuk yang menyerang tiba-tiba,

dilumat ciuman angin Februari yang dingin.

 

Mari duduk di sini, di sebelahku.

Dari sudut di Champ de Mars

di tepi sungai Seine

kita tangkap kerlip lampu satu-satu

ke dalam kotak harta karun.

Suatu hari, jangan biarkan siapa pun membukanya

 

Orang-orang saling berpegangan tangan,

menikmati malam puitis di Paris

 

Engkau duduk di sebelah mana, Gustave Eiffel*?

Lihatlah kini menara itu memendarkan cahaya sukacita

meski berkali-kali kepentingan politik

dan bencana ingin menghancurkannya.

 

#RAB, 2018-2019

* Gustave Eiffel          : arsitek yang merancang Menara Eiffel

 

 

 

 

SELEMBAR POTRET

 

Jika kukirim lagi

selembar potret padamu

bergambar patung kerbau,

rumput hijau, dan puncak stupa borobudur di atasnya,

bisakah kau dengar kecemasan

yang ngalir dari suaraku

saat memintamu mengabadikan peristiwa?

 

Kita telah ditautkan kenangan

dan memintal mantel hangat untuk musim dingin

pada jarak yang ditabahkan takdir.

 

Masa kini akan jadi lampau juga akhirnya.

Tapi matamu menyihir relief-relief di candi,

mengisahkan apa saja yang tak sempat

diucapkan para penafsir.

 

Sejarah telah tercipta dari pelawat dunia,

sedang angin dan gerimis tipis di kota itu

lesap ke dalam gambar di dalam potret.

 

Di buku harianmu,

tercatat kitab-kitab purba

yang kita baca bersama.

 

#RAB, 2018

 

 

KITA AKAN BERPISAH

 

Setelah Volendam dan kesiur angin laut
negeri leluhur,
kutemukan bayang-bayang senyum Oma
di demo pembuatan keju,
klompen raksasa dan kincir angin.

Derai tawa teman perjalanan
dan hangat kebersamaan
menggenapi bahagia musim dingin
Februari kali ini.

Tapi kita akan berpisah, kawan.
Di Schiphol roda koper berputar 180°
menuju tanah air dan menu makanan

dengan banyak vetsin.

 

Ya,
telah kita sesap udara Eropa berhari-hari.
Kelak, semoga kita bertualang bersama lagi.

#RAB, 2018

 

BOLEHKAH AKU BERDOA?

 

1

Di St Peter’s Basillica,

bulan kedua tahun ini benar istimewa.

Peradaban silam memenjarakan mataku

pada setiap  ukiran, patung dan

lukisan Michaelangelo.

 

Kujumpai tubuh Paus dalam baluran balsam,

deretan kursi tempat orang-orang

berdoa meminta apa saja,

kotak pengakuan dosa, juga salib di mana-mana.

 

2

Sebuah pintu suci di tembok katedral,

menyimpan kotak berisi dokumen,

kunci-kunci, dan medali,

sabar menunggu 15 tahun untuk dibuka.

 

— Berapa tahun Tuhan kelak membuka pintu surga? —

 

3

Pada pintu rahasia lain di katedral ini,

kubayangkan sebuah lorong memanjang di baliknya

diterangi temaram obor, dentang genta di kejauhan.

 

Kususuri ruangan demi ruangan,

sambil memikirkan

bagaimana Michaelangelo dan kawan-kawan

membuat keputusan

lukisan apa sesuai kepantasan.

 

4

Tuhan begitu Agung, Kudus, dan tetap Esa.

Aku adalah pendosa yang sedang

mengagumi karya seniman dunia

di hari ulang tahunku.

 

Di depan altar aku terhenti.

Jika Tuhanku juga sama, di sini

bolehkah aku berdoa?

 

#RAB, 2018-2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s