SEBAB SEBUAH TRUK


Bagaimana seharusnya benar-benar melupakanmu? Sebuah truk tampak di hadapanku dan membawa ingatan pada bertahun silam, tepatnya 17 tahun lalu. Siang itu kau mengajakku mengunjungi sebuah kantor Ready Mix, campuran beton yang biasa diperlukan untuk pengerjaan tower BTS salah satu jaringan komunikasi. Kau dan ayahmu mengerjakan proyek itu untuk beberapa waktu. Aku yang tidak paham lingkup pekerjaan seperti itu, jadi memahami bagaimana kau bekerja sama dengan banyak pihak,  bernegosiasi, serta mengawasi para pekerja. Kausuruh aku menunggu di salah satu sudut ruangan. Untung saja selalu ada buku di dalam tas, jadi tak perlu menggerutu ketika urusanmu sedikit lama. Jakarta terik dan panas dengan polusi seperti biasa. Aku yang tak pernah bisa mencintai kota itu, rupanya harus belajar akrab, meski tidak pernah mau jadi dekat.

Sebelum menaiki bus menuju kota tempat tinggalmu, kau mengajak aku menghampiri pedagang buah potong. Dua bungkus nanas ditaburi bubuk cabai bergaram disorongkan penjual.

“Cobalah, Dek. Mas suka nanas pake cabe begini, segar.”

Tentu kau bermaksud menggodaku. Kau jelas tahu, aku tak pernah suka makanan pedas. Kaubilang kelak jika jadi istrimu, aku harus belajar membuat sambal yang enak pada ibu.

Ah… lalu ingatanku berkelana pada ibu. Perempuan Melayu yang cantik bersanding dengan lelaki Jawa penyabar itu selalu memperlakukanku sepenuh kasih, seperti menyayangi anaknya sendiri. Ibu yang pertama kali paling gembira ketika kaubawa aku ke rumahmu dan berkenalan dengan seluruh keluarga. Apa kabar Ibu sekarang ya? Sesekali aku disergap rindu padanya. Sorot matanya yang teduh, juga ketulusan dan tutur katanya yang lembut itu selalu membelaku jika dilihatnya kau kurang memperhatikanku atau salah sedikit saja memperlakukanku. Ibu yang berharap kelak aku jadi menantu.

Pikiranku masih saja berkelana ke mana-mana kini. Pada surat-surat yang kau kirim berkala dan selalu kunanti kedatangannya di rumah kontrakan. Lalu pada kejutan manis ketika kaubilang batal datang ke kota tempatku menuntut ilmu karena busnya mogok. Namun setengah jam kemudian kau sudah tiba di depan pintu, justru di saat aku sedang menghibur diri menahan rindu yang tak tertahan itu.

“Mas pengen lihat gimana kalau Mas gak jadi datang. Jadi tahu deh Adek belum mandi.”

Huh, sebal! Aku jadi tidak sempat bersiap dulu tampil sempurna. Walau tak bisa dandan, minimal kau tak usah melihatku belum mandi begitu. Tapi kau malah gregetan dan tertawa melihat mukaku yang bercampur rasa kaget sekaligus gembira.

Anakmu sudah bertambah lagi, kan, sekarang? Hidupmu tentu berbahagia dengan keluarga yang ramai. Seperti impianmu suatu hari di masa lalu. Kau pernah bertanya aku mau punya anak berapa. Kaubilang ingin punya anak banyak, dan aku hanya tersenyum saja mengamini. Amin. Kau sudah memilikinya sekarang. Aku masih begini saja, mengikat kenangan demi kenangan di ruang paling dalam di hatiku. Kupikir melupakan itu semudah menghapus coretan pensil di kertas. Nyatanya sudah bertahun-tahun, setiap kali kutemukan ganjalan, ingatanku hanya membandingkan manisnya cerita bersamamu. Sepertinya jiwaku tak pernah rela mengikis masa lalu.

Akhir bulan kemarin aku merayakan keberhasilan. Atau sesuatu yang kupikir itu keberhasilan. Sebab setelah ribuan purnama usaha menghapus bayang-bayangmu menemukan jalan buntu, tepat di hari ulang tahunmu aku merasa ringan. Ya, aku selalu ingat ulang tahunmu, ulang tahun ibumu, juga adikmu yang manis dan selalu baik padaku itu. Kupikir itulah tonggak di mana aku akhirnya bisa melepasmu dengan rela, penuh seluruh. Kupikir aku sudah berhenti mencintaimu. Perasaan yang kutunggu-tunggu sejak kau dan aku pada akhirnya harus menghentikan segala rencana, termasuk pernikahan. Berhari-hari aku gembira dan mendoakan keselamatanmu.

Tapi sialnya, masih ada ceruk yang luput dibersihkan. Hanya gara-gara sebuah truk di hadapanku siang ini. Aku merogoh-rogoh lagi hatiku. Mengapa melupakanmu demikian sulit?

*BERSAMBUNG

#RAB, 2020

#RABbercerita #ceritaRAB #fiksimini #ceritamini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s