Reviu Film Nana (Diperankan Happy Salma)


BEFORE, NOW&THEN (NANA)

“Pan istri mah kedah pinter nyidem rusiah…”
Demikian suatu hari Nana berucap pada Dais, sang anak, yang bertanya mengapa perempuan harus berambut panjang dan bersanggul.

Cerita tentang Nana, diambil dari buku Jais Darga Namaku, karya Ahda Imran. Nana adalah ibu Jais Darga. Walau menurut saya kehidupan Jais Darga sendiri menarik disimak dan terasa filmis, namun penggalan kisah sang Ibu tak kalah menarik untuk disuguhkan.

Nana, seorang perempuan yang kehilangan suaminya kemudian juga kehilangan ayahnya, harus melarikan diri dan menghindari gerombolan. Keluar masuk hutan, dari Limbangan (Garut) ke Lembang (Bandung), bertemu Lurah Darga, kemudian dinikahi hingga memiliki 3 anak dari pernikahan keduanya. Setelah 15 tahun berlalu, suami pertamanya muncul kembali.
Apa yang terjadi? Haruskah kebahagiaan Nana ditukar dengan mengembalikan masa lalu? Tonton saja filmnya di aplikasi Prime Video.

Film besutan Fourcolorsfilms ini telah menyabet berbagai penghargaan di festival-festival luar negeri. Walau alurnya terkesan “ngayayay” alias terasa sangat lambat bagi saya yang gemas dengan beberapa adegan yang rasanya tidak perlu berpanjang-panjang, tapi konflik batin Nana disuguhkan oleh akting Happy yang total. Film yang dilabeli untuk usia 16+ ini memperlihatkan adegan merokok, dan konsen antara manusia dewasa. (Ingat, jangan ajak anak bawah umur nonton film ini!)

Sebagai sesama keturunan Sunda, saya bangga ada film yang menggunakan bahasa Sunda penuh dalam seluruh percakapannya. Meskipun pada beberapa kalimat, dialek terdengar agak kaku. Barangkali karena beberapa pemain pendukung bukan orang Sunda. Tapi salut, mereka sudah bekerja keras belajar untuk melafalkan bahasa dan dialeknya agar lebih terasa “lidah Sunda”. Yakin benar, itu tidak mudah. Maka tidak heran para aktornya pantas diacungi jempol.

Dari segi visual, saya mendapat kesamaan kesan dengan salah satu film favorit saya, In The Mood for Love (2000) –bisa dibaca di sini: https://ratnaayubudhiarti.wordpress.com/2022/03/20/ulasan-film-in-the-mood-for-love/

Dalam beberapa adegan, saya “mengenali” kemiripan tersebut. Misalnya saja saat Icang menyandarkan lengan pada tembok dan mukanya dekat dengan muka Nana yang bersandar di tembok yang sama saat mereka berjumpa. Film In The Mood for Love ditutup dengan adegan Mr. Chow berbisik pada lubang kuil di Kamboja dan menutupnya dengan tanah, sedangkan film Before, Now&Then (Nana), ditutup dengan adegan sang pemeran utama, Nana, berbisik rahasia pada Dais.

Oya, soal audio, latar musik mengingatkan saya bahwa kadangkala film yang bagus itu bisa membawa pengaruh pada karya lainnya. Namun, bukankah demikian dalam dunia seni dan cipta karya? Selalu saling menginspirasi dan terinspirasi.

Rasanya tidak puas ketika film ini tamat. Walau sudah nonton di aplikasi, tapi saya tetap menanti edisi layar bioskop. Bagaimanapun, kepuasan mengkhidmati audio dan visual di bioskop itu berbeda.

#RAB, 02082022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s