Resensi Buku Bode Riswandi


MEMEGANG UCAPAN LELAKI DALAM HARI TERAKHIR DI RUMAH BORDIL

Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

 

Begitu novela Hari Terakhir di Rumah Bordil karya Bode Riswandi sampai di tangan saya, tentu bersegera saya membaca halaman terakhir, dan menemukan kalimat-kalimat yang rasanya tak asing.Seperti déjà vu, saya melihat adegan demi adegan yang berkelebatan di ingatan. Yakin betul, saya kenal adegan di halaman terakhir yang saya baca itu. Setelah mengingat-ingat, ternyata itu adalah salah satu adegan dari pentas keliling kelompok Teater 28 yang saya tonton ketika mampir ke kota saya tinggal, beberapa waktu lalu. Dan dialog para tokoh dalam pentas teater dengan judul “Lakon yang Ditulis Kemudian” sangat berkesan bagi saya, terutama bagian paling mengiris perasaan ketika tokoh perempuan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya dengan alasan cinta, malah teperdaya dengan cintanya sendiri yang jujur dan lugu itu. Saya merasa gemas sekaligus marah.

Kisah dalam novela ini dibuka dengan 4,5 halaman bertajuk “Ini Bukan Pengantar, Mungkin Pengarang Sedang Mabuk” yang dengan lugas berkata bahwa perempuan adalah kunci! Betul, saya setuju dengan kalimat tersebut. Perempuan sering dikatakan sebagai makhluk halus, yang lebih mengedepankan rasa daripada logika. Tapi perempuan juga adalah makhluk yang kuat, berani menanggung apa saja yang jadi takdirnya, bahkan kepada lelaki bajingan yang selalu mereka cintai.

Populasi para bajingan di dunia ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang baik-baik. Bisa satu banding milyaran. Dan baik yang bajingan dan yang baik, sama-sama keluar dari ‘nganu’ perempuan. (hal. 8)

Penulis seakan menegaskan bahwa perempuan yang sering dianggap lemah itu, perlu diakui ternyata memiliki kekuatan yang tidak mungkin bisa dipikul para lelaki, yang bersembunyi dalam kegagahan dan stigma masyarakat sebagai pelindung perempuan, sebagai orang yang lebih berkuasa kedudukannya dibanding perempuan.

Ada dua kisah yang berbeda dalam novela setebal 128 halaman ini, tapi memiliki benang merah tokoh dari cerita satu dan lainnya. Meski demikian, sayang sekali kisah pertama rasanya masih nanggung dan meninggalkan rasa penasaran. Magdalena, sang benang merah itu merupakan mucikari yang sama dari kedua tokoh utama yang diceritakan. Pada bagian pertama, dikisahkan betapa perempuan selalu terpojok oleh keadaan dan situasi.

Kenaifan gadis-gadis kampung yang lugu dan sering dimanfaatkan oleh oknum, sudah sejak lama menjadi kisah yang lumrah terdengar, terbaca, dan memang banyak terjadi di dunia nyata. Mimpi manis merah jambu akan rumah tangga idaman yang mulus bersama sang kekasih jadi hancur berantakan sejak mereka ditawari bekerja di kota dan dijebak masuk dalam pusaran bisnis berahi lelaki hidung belang. Tak ada yang berani melawan pada kekuasaan Magdalena, sang mucikari yang memiliki berbagai trik untuk mempertahankan anak buahnya.

Dalam pengisahan pertama, kengerian digambarkan dalam kebiadaban Mami ketika Yanti, salah satu perempuan yang tubuhnya dijadikan komoditas, melakukan perbuatan nekat: kabur. Sayangnya misi kembali ke jalan yang benar dan mimpi menikah dengan Firman,  kekasih pujaan, harus raib bersama dengan kepolosan lainnya yang menyebabkan Yanti kehilangan kewaspadaan dalam pelariannya. Yang lebih menyedihkan lagi, ketika Firman menyambangi rumah bordil tempat Yanti bekerja dan mendapatkan informasi yang membuat pembaca terhenyak. Sayangnya, Bode Riswandi, sang penulis, tidak merinci bagaimana Firman akhirnya tahu bahwa Yanti bukan bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil seperti yang diketahui oleh keluarga dan orang-orang di kampung mereka. Ada semacam kejanggalan dan sedikit lompatan cerita juga yang membuat pembaca menerka-nerka bagaimana nasib Firman yang pulang kampung setelah menerima informasi bahwa Yanti menunggunya di sana.

Awalnya saya pikir ketika masuk bab bertajuk “Yang Datang dan Pergi” akan terselip petunjuk yang menghubungkan dengan cerita “Sukat” di bab selanjutnya. Tapi sampai berlembar-lembar halaman, saya lagi-lagi hanya bertemu dengan Magdalena, dan Sukat, agen mucikari yang menjerumuskan Yanti dan Dahlia. Nama terakhir itu merupakan perempuan yang bisa membuat Sukat tidak tenang dan kesengsem. Perempuan yang akhirnya bisa membuat Sukat sang Don Juan bisa takluk dalam pesona cinta dan kecantikannya. Tapi takdir selalu membawa manusia pada hal-hal tak terduga. Ketika impiannya membangun rumah tangga dengan Dahlia sedang mekar, Sukat harus berperang batin untuk memilih menyelamatkan nyawa atau mewujudkan harapan cinta yang telah menjeratnya.

Menarik membaca kisah para perempuan yang terpaksa berada dalam jebakan keadaaan. Kegetiran nasib perempuan yang terpaksa jadi “barang dagangan” itu tak melulu karena alasan ekonomi, tapi bahkan bisa jadi karena cinta! Iya, cinta yang dijadikan alat untuk memperdayai ketulusan hati perempuan pada lelakinya.

Tak pernah ada yang bisa menerka arah hidup seseorang. Pun demikian dengan para perempuan yang dikisahkan dalam buku ini. Bagaimana akhir hidup mereka dan perjuangan mereka menjalani hari-hari demi bertahan dari remuk redam perasaan yang harus mereka tutupi demi menyelamatkan nyawa, demi menunggu hari pembalasan tiba.

Kita telanjur menerakan cap negatif kepara perempuan yang terpaksa menjajakan diri itu. Kita memberikan nama-nama yang jumlahnya puluhan itu sebagai kata ganti untuk pekerjaan dan status mereka. Kita telanjur menganggap mereka sebagai perempuan kotor dan kehilangan martabatnya. Tetapi bukankah itu juga berasal dari ketidak berdayaan mereka menghadapi kerasnya hidup yang disuguhkan?

Betapa ringannya mulut kita melabeli seseorang itu pelacur, lantaran kerjanya menjajakan kehormatannya. Jika atas nama kehormatan yang digadaikan, apakah hal lain di luar itu bisa dibilang pelacur? Seorang pejabat negara yang rakus makan duit rakyat, agamawan yang menjual ayat-ayat demi kepentingan partai dan golongan, para hakim yang memutuskan pasal pada berapa besar pasokan yang diterima, teori-teori kaum intelektual tercerai dari realitas kemasyarakatan, atau para seniman yang pandai menulis derita sosial menguatkan pada diksi namun kopong dalam aksi. (hal. 102)

Satu paragraf tersebut terasa menohok, bukan? Tapi betul juga, kenapa hanya pada perempuan yang tak berdaya itu kita menyematkan predikat tersebut? Apakah ini juga akibat stigma yang dibangun oleh para lelaki yang dengan jumawanya mendudukkan perempuan sebagai objek, sebagai persona yang bisa diatur bagaimana mereka suka?

Yang menarik dari bagian akhir novela ini adalah kekeras kepalaan Dahlia yang menunggu Sukat penuh dendam rindu hanya untuk mengatakan: “Perempuan yang dipegang kesetiannya, dan  lelaki ucapannya!” kemudian melakukan apa yang ditunggu selama 48 tahun! Bayangkan! Betapa lama waktu untuk membuktikan kesetiaan dan menunjukkan kekuatan cintanya yang berselimut dendam!

Sebagai penyeimbang, suatu kelebihan selalu menyertakan kekurangan. Begitu pun dengan buku ini. Memang, di beberapa halaman saya menemui beberapa “ganjalan”:  salah ketik, dan kata-kata yang biasa disematkan sebagai diksi khas puisi-puisi Bode Riswandi. Selain itu, kata-kata yang mestinya merupakan bahasa lisan terasa kurang pas dijadikan kata-kata dalam tulisan. Di halaman terakhir, ada sedikit blunder, tentang posisi Dahlia yang memeluk Sukat, tapi kemudian kalimat lain menerangkan Dahlia berada di belakang Sukat, dan kalimat pamungkas bagaimana mata Sukat menatap ke arah Dahlia. Andai saya tak melihat pementasan teater dari kisah ini, gambaran visual atas adegan itu bisa membuyarkan imaji saya.

Suka atau tidak pada gaya penceritaan Bode Riswandi dalam novela pertamanya ini, berpulang pada selera masing-masing. Tapi sebagai seseorang yang kerap membaca karya-karya Bode, cerita realis dalam buku ini terasa lebih dekat dengan keseharian di sekitar kita. Maksud saya, jika dibandingkan dengan kisah dalam cerpen-cerpen Bode yang surealis, bahkan kadangkala absurd.

Baiklah, saya sarankan Anda membaca sendiri kisah perempuan-perempuan yang berusaha setegar karang memamah sajian nasib dalam hidupnya sebagai takdir yang harus dilakoni. Dan memahami bagaimana kalimat “wanita yang dipegang kesetiannya, dan lelaki ucapannya” itu meresap ke dalam pemikiran Anda.

Judul               : Hari Terakhir di Rumah Bordil

Penulis             : Bode Riswandi

Tebal               : 128 halaman

Penerbit           : BASABASI

Cetakan           : I, Februari 2020

ISBN               : 978-623-7290-63-6

***

MENJAGA MOOD


MENJAGA MOOD

Sudah 49 hari tinggal di rumah, tentu kita sudah membuat banyak adaptasi dalam beberapa hal. Bagi orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar rumah, penyesuaian pun tetap ada, terkait ritme kerja dan interaksi sosial. Namun, untuk beberapa orang yang total diam di rumah, tantangan untuk bertahan tidak saja dari segi penghidupan, tapi juga menjaga mental (ini menyerang semua orang, percayalah, Anda tidak sendiri).

Ada kemungkinan beberapa orang mengalami tanda-tanda stress atau depresi yang tidak disadari. Kecemasan demi kecemasan mengintai menggerogoti. Dan hal itu bisa berakibat kurang baik pada kesehatan. Jatuh sakit di masa pandemi ini rasanya meneror mental dua kali lipat dibanding hari normal.

Banyak cara bisa dilakukan untuk membunuh jenuh, meredam bosan. Selain melakukan hobi yang sempat terabaikan, bisa juga mengintensifkan kembali kegiatan yang selama ini hanya ada dalam daftar keinginan.
Tren aktivitas daring pun meningkat, dari mulai diskusi dan pelatihan daring dengan berbagai topik sesuai preferensi, hingga transaksi belanja yang beberapa waktu memang sudah terbiasa dilakukan secara daring. Anda bisa memilih itu semua sesuai kecenderungan dan kebutuhan.

Tapi pada hari-hari tertentu, agaknya sangat manusiawi jika segala hal yang dilakukan di rumah itu tetap saja tak bisa menghindarkan diri dari rasa bosan. Dan bisa jadi malah mengundang lagi kecemasan. Jika hal itu mulai mengganggu, segera cari tahu solusi yang paling tepat untuk Anda.

Beberapa hal kecil yang mungkin sering luput diperhatikan selama ini bisa jadi adalah hal-hal berikut yang bisa disiasati:

1. Lakukan ritual mandi dengan sabun dengan aroma favorit Anda atau sabun aromaterapi yang bisa meningkatkan mood. Nikmati waktu mandi dengan menyadari kesegaran air dan wewangiannya.
2. Jika dirasa perlu, semprotkan minyak wangi atau lotion dengan wangi yang lembut. Anggaplah Anda seolah-olah hendak berjumpa seseorang dan harus tetap wangi.
3. Kenakan pakaian yang rapi dan bisa membuat Anda merasa keren. Walau di rumah saja dan tidak ketemu orang lain, percayalah, sesekali tetap mengenakan pakaian yang rapi dan indah itu bisa meningkatkan mood.
4. Berolahraga atau meditasi di rumah dengan pakaian yang paling nyaman yang biasa dikenakan jika Anda pergi ke gym atau fasilitas olahraga umum. Sekali lagi, anggap saja Anda hendak bertemu orang lain.

Barangkali ini tampak sepele. Tapi hal-hal kecil ini bisa memengaruhi mood Anda seharian. Apalagi jika hari ini Anda akan melakukan konferensi dengan beberapa orang melalui zoom meeting, skype, IG live, google meets, dll. Dengan memerhatikan hal-hal kecil ini, sebetulnya Anda sedang menyenangkan diri sendiri secara tidak langsung. Jangan lupa tetap berikan senyum terbaik  setiap Anda becermin.

Rasakan sendiri bedanya. Mood yang baik akan menjaga semangat positif Anda. Dan itu berarti Anda sedang membantu banyak orang dengan tetap menjaga kesehatan dan kewarasan.

Yuk, lakukan hari ini! Tetap semangat ya walau di rumah saja. Untuk yang sedang menjalankan ibadah puasa, semoga Ramadan kali ini membuat kita lebih memaknai kesungguhan diri terhadap Illahi.

Salam sayang,
-RAB-

TONTON DAN NIKMATI SAJA FILMNYA


46C4571E-0592-436C-97B5-C6ED0ACD04ACTepat di hari peringatan kemerdekaan RI ke-74, saya bersama penonton lain menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Bumi Manusia. Dan sepanjang 181 menit, pikiran dan perasaan saya campur aduk: haru, sedih, kecewa, senang, dan bangga.

 

Sejak awal kabar novel Bumi Manusia akan difilmkan sudah menuai banyak kontroversi dan keraguan dari berbagai pihak. Terutama dari orang-orang yang sangat mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, sang penulis tetralogi Pulau Buru, yang di masa Orde Baru, buku-bukunya dilarang beredar.  Banyak yang mempertanyakan kenapa Hanung? Tidak sedikit yang meragukan apakah film itu akan sesuai ekspektasi seperti membaca novelnya. Perdebatan ini semakin ramai ketika Iqbaal Ramadhan terpilih jadi pemeran Minke. Tampang imutnya dan perannya di film terbaru, Dilan, memang membuat banyak orang jadi sangsi dan tidak rela Minke diperankan Iqbal. Tapi tentu Hanung sudah bikin perhitungan matang dan mempunyai tim yang bisa diandalkan dalam menggarap sebuah naskah.

 

Saya menontonnya tepat pada 17 Agustus 2019. Suasana menuju bioskop di dalam mall saja sudah terasa nasionalis karena gaung lagu-lagu yang diperdengarkan selaras dengan tema peringatan kemerdekaan. Masuk bioskop tak lama menunggu tampillah tulisan dalam layar lebar bahwa sebentar lagi lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan dan hadirin diminta untuk berdiri. Sontak, para penonton pun kompak berdiri tegak dan turut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Wah, awal yang bagus, pikir saya. Meski sempat dapat bocoran sebelumnya bahwa sebelum film diputar, penonton pasti diminta berdiri. Dilanjutkan dengan suara Iwan Fals yang khas sebagai pembuka, lalu adegan Minke yang dibangunkan Suurhoff. Begitu wajah Iqbaal muncul, saya paham kenapa banyak orang yang kecewa atas pilihan pemain. Tapi kemudian saya mengingatkan diri sendiri bahwa tadi saya sudah meniatkan akan menonton film, dan harus melupakan pernah membaca novelnya.

 

Setting dan pemilihan lokasi konon sengaja dibuat Hanung untuk mengerjakan film ini. Salut. Pasti tidak mudah menerjemahkan isi novel dan memadukannya dengan imajinasi. Belum lagi harus memilih para pemeran yang betul-betul sesuai karakter. Seperti para penonton lain yang sudah pernah membaca bukunya, saya kecewa karena Iqbaal tidak sesuai gambaran Minke dalam kepala saya, pemeran Robert Mellema tampak kurang indo dan Ine Febriyanti kurang pribumi untuk menjadi Nyai Ontosoroh. Tapi akting Ine sukses membuat kagum karena gambaran seorang Sanikem yang tercerabut dari kehidupan masa mudanya, yang terpaksa dijual oleh ayahnya sendiri demi jabatan, kemudian menjelma jadi seorang Nyai yang mampu menyesuaikan diri, lekas belajar memimpin perusahaan milik Herman Mellema— lelaki yang menjadikannya gundik, diperankan dengan kemampuan Ine yang matang. Pemeran Darsam tidak kalah penting sumbangsihnya pada kesuksesan film ini. Dialog dan logat Madura yang kental serta sikap setianya pada Nyai sang majikan, jadi daya tarik lain tontonan ini. Ada yang mengganjal dan akting yang terasa nanggung untuk beberapa pemeran dan tokoh pendukung lain. Tapi nyaris tak mencolok.

 

Hanung sepertinya memang memilih tim yang pas. Durasi menonton film selama 3jam bisa tidak membosankan itu luar biasa. Di sini penulis naskah dan pengembang cerita tentu berperan besar sebelum naskah ini ada di tangan para pemainnya. Saya malah membayangkan bagaimana diskusi-diskusi alot antara Salman Aristo, Hasan Aspahani, juga Hanung sendiri menggarap konsep awal. Tim penata musik juga jangan dilupakan. Musik yang tepat untuk adegan apa yang lebih cocok, menentukan apakah film ini bisa membuat penonton larut atau tidak. Belum lagi kameramen yang tentu berusaha menampilkan visualisasi dari angel yang tepat. Saya tidak menyiapkan diri untuk kesedihan ketika mau menonton film ini. Selain sukses 181 menit bikin saya diam di kursi, film ini sukses membuat saya mengeluarkan tisu dan mengeringkan air mata yang terjatuh. Iya, sisi emosional saya diaduk-aduk. Sudah sejak awal. Sejak Robert dan Surhoff yang indo itu lebih membanggakan darah Eropanya, sedang Annelies yang cantik malah lebih ingin menjadi pribumi. Saya lahir di keluarga Indo. Saya mengalami bagaimana ketika pindah ke tempat tinggal saya sekarang, sempat diragukan ke-Indonesiaannya, dan diperlakukan berbeda. Sementara ada anggota keluarga yang bersikap mirip dengan Robert, lebih bangga dengan ke-Eropaannya. Jadi sambil menonton, sambil pikiran saya nostalgia juga memikirkan Oma. Oke, lanjut bahas yang lain.

 

Hanung menghadirkan pesan yang penting seperti dalam isi novel Pram. Bahwa kekuatan pena itu luar biasa, lebih kuat dari otot dan senjata. RM Tirto Adhie alias Minke ini melawan melalui tulisan ketika harus berhadapan dengan pengadilan, dan berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat banyak. Yang tadinya nyinyir dengan kehidupan pribadi Minke karena tinggal di rumah seorang Nyai, jadi membela sebab rasa kebangsaannya terusik dan tersadarkan. Pernyataan bahwa bangsa Indonesia itu setara dengan Eropa, tidak lebih rendah, tapi sejajar, sangat mengena di kala masih banyak yang beranggapan orang Eropa memiliki level lebih tinggi daripada pribumi. Persis di peringatan hari kemerdekaan, film ini diluncurkan. Pas momennya. Nasionalis sekali, kan?

 

Banyak pesan-pesan positif yang dikemas cantik (baik dalam dialog dan penggambaran karakter) demi mengimbangi kisah cinta Annellies dan Minke yang tragis. Misalnya contoh sikap Minke yang bertindak sebagai lelaki ksatria menerima wanita yang dicintainya telah ternoda, bagaimana Nyai Ontosoroh bertahan dan kuat dalam tempaan, bagaimana seharusnya bersikap ketika nyaris semua orang malah memihak kepentingan penguasa, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri dan berani menanggung konsekwensi atas setiap keputusan yang sudah dipilih. Adanya pesan-pesan positif dan berkarakter ini, menjadikan film Bumi Manusia patut jadi rekomendasi tontonan anak milenial (dan orang tuanya). Ditutup dengan kesedihan paling mengiris, film ini menggaungkan kalimat Pram yang terkenal di novel itu: “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.’ Semacam penegasan bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita yakini sampai titik darah penghabisan, sampai segala cara yang ditempuh tak menemukan lagi jalan terang.

***

 

Yang mesti disiapkan tentu saja sebelum masuk dan menonton, perut harus kenyang dan pastikan sudah cukup minum. Sebab durasi panjang begitu tidak nyaman kalau harus terpotong karena lapar atau ingin pipis.
Menurut saya nih ya, buat yang koar-koar film ini jelek (apalagi bilang jelek tapi cuma tahu “katanya”, kata orang lain, belum membuktikan sendiri), pesannya gini: memang kita itu harus melepas dulu kesan yang terekam setelah pernah membaca tetralogi pulau Buru sebelum menonton filmya, agar tidak terganggu dengan citraan imajinasi (ideal) versi kita.
Jangan membandingkan sajian film yang disutradarai Hanung dengan penceritaan versi Pram. Jangan pula membandingkannya dengan alih wahana pada pentas Bunga Penutup Abad yang disutradarai Wawan Sofwan. Sebab menerjemahkan sebuah novel ke dalam media lain tentu tidak akan sama persis sensasinya.
Tonton filmnya dan nikmati sajian penceritaan versi kerja tim yang sudah berusaha keras mengenalkan karya Pram ke khalayak yang lebih luas.
Jangan fokus dengan kekecewaan pemilihan pemeran. Jangan fokus lihat Iqbaal yang tampak terlalu imut buat memerankan sosok RM Tirto Adhie. Kasihan dia, sudah berusaha kuat belajar pelafalan bahasa Belanda demi aktingnya. Jangan lihat pilihan cast Robert Mellema yang kurang indo atau Ontosoroh yang terasa kurang pribumi. Masih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati dari sudut pandang lain.

Boleh dikata cukup baik lah. Dan saya rasa malah memancing rasa penasaran yang belum pernah baca karya Pram untuk membaca tetraloginya. Dan yang sudah pernah baca, jadi ingin baca lagi. Positif kan jadinya?
Tidak setuju dengan pendapat saya? Tidak masalah. Dunia berbeda penuh warna itu indah daripada seragam.
Sekian dan terima endors.

 

~RAB

17-18 Agustus 2019

 

 

MENGINAP DI DALAM BOX


 

Beberapa waktu lalu saya mencoba memberikan pengalaman liburan yang berbeda untuk anak saya, Khanza. Selain melihat pameran di Bandung, Planetarium Jakarta, dan bermain-main di seputaran Taman Ismail Marzuki, kami putuskan menginap di Bandung sekembalinya dari serangkaian kegiatan di Jakarta.

Sebelumnya, kami berdiskusi tentang tempat menginap. Lalu dipilihlah Bobobox, karena konsepnya unik dan bikin penasaran.

Pemesanan dilakukan melalui aplikasi, dan karena musim liburan, yang tersisa adalah “pod” di “sky”. Apa sih itu?

Bobobox mengusung konsep hemat ruang. Setiap ruangan untuk menginap didesain seefisien mungkin. Konsepnya seperti bed capsule untuk transit di bandara yang pernah saya lihat. Ruangan tersebut diberi nama “pod”, yang diberi nomor berurutan. Ruang tidur di Bobobox yang berada di bagian bawah dinamakan “earth” sedangkan yang berada di atas disebut “sky”. Saat itu kami mendapatkan pod sky nomor 19. Kebetulan pula dekat dengan kamar mandi bersama.

Kamar mandi pria dan wanita dipisah. Kamar mandinya sendiri terdiri dari 2toilet duduk dan 3shower room. Kamar mandi ini digunakan bersama-sama. Jadi rasanya kami menginap seperti di kamar kos-kosan.

Sky pod dengan posisi tempat tidur di atas membuat kami harus memanjat naik. Kasur yang disediakan cukup besar dengan kapasitas muat untuk 2orang dewasa dan 1anak di bawah 12tahun. Sedang fasilitas yang disediakan hanya satu selimut, satu bantal, satu handuk, dan satu sikat&pasta gigi. Jika menghendaki amenities tambahan, maka kena additional charge sebesar Rp. 5.000,-

Oya, untuk masuk ke ruangan yang berisi pod-pod tersebut, kami diwajibkan membuka alas kaki dan menyimpan sepatu/sandal yang kami pakai di loker. Sebagai gantinya, kami dipinjami sandal jepit bersih yang disediakan untuk digunakan selama berada di dalam ruangan pod.

Dalam pod tersebut selain kasur dan bantal, tersedia cermin, tablet phone yang terintegrasi dengan fungsi untuk mengatur cahaya ruangan serta membuka dan mengunci pintu dari dalam. Sedangkan saat kami sedang berada di luar ruangan, misal pergi ke toilet, pintu baru akan terbuka dengan memindai barcode yang diberikan lewat aplikasi saat kita check in. Tentu ini artinya, setiap orang yang menginap harus memiliki hp android yang bisa mengunduh aplikasi Bobobox.

AC diatur dengan tombol yang berada di atas langit-langit, diputar ke arah kanan dan kiri sesuai suhu yang diinginkan sedingin apa. Tak ada televisi dalam pod. Jika ingin menonton, berkumpullah di lobby, menonton bersama yang lain.

Ada ruangan terbuka berisi meja-kursi yang berfungsi sebagai ruang makan bersama. Begitu pun sudut untuk bersantai, tersedia tempat lesehan beserta bantal duduknya.

Secara keseluruhan, tempatnya menyenangkan karena bersih dan rapi. Tapi sangat tidak disarankan buat yang fobia ruangan sempit, sebab ruangannya betul-betul minimalis. Dua kali pula Khanza kejedot atap saat bangkit dan hendak berdiri. Dia lupa bahwa kami sedang berada dalam ruangan yang kecil. Khanza bilang, kami seperti tidur di dalam box besar atau di dalam loker. Untuk yang menginginkan privasi lebih, terutama untuk urusan toilet, tempat seperti ini akan terasa kurang nyaman. Tapi bagi yang senang bersosialisasi atau selalu ingin mencoba pengalaman baru, menginap di sini bisa jadi alternatif.

Oya, karena bersebelahan kiri-kanan, atas-bawah, tentu saja jika “tetangga sebelah” berisik, kita bisa mendengarnya cukup jelas. Saat kami tiba, hari sudah malam dan banyak orang sudah tidur, jadi rasanya kami tidak

terganggu dengan suara berisik. Sepertinya semua orang juga jadi berhati-hati untuk tidak mengganggu ketenangan dengan suara gaduh.

Begitulah, seru, dan memang jadi pengalaman baru untuk kami berdua. Lain kali kami kepepet karena tempat menginap lain sudah penuh atau harganya sedang gila-gilaan akibat peak season, sepertinya kembali menginap di sana bisa jadi pertimbangan.

SUARA YANG DILIHAT


 
Waktu bekerja di kantor sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa iklan, saya diajari bagaimana berinteraksi yang menyenangkan dengan pelanggan, baik secara langsung atau melalui suara via telepon. Setiap pagi penampilan kami biasanya diperiksa oleh atasan, sudah rapi dan terlihat menarik belum. Tujuannya tentu saja supaya memberi kesan baik. Sebab jika kami bertemu klien, tampilan acak-acakan akan memberikan kesan tidak profesional dan representatif.
 
Begitu pun dalam berbicara, pilihan kata mesti disusun dengan baik. Teori sudah dibekali, kerja nyata di lapangan kadang-kadang bertemu hal-hal ajaib. Seperti misal sudah diusir bahkan sebelum menerangkan apapun, atau pembicaraan dipotong dengan kasar. Tapi kami dilatih untuk sabar dan tersenyum, meski kecut. Tempaan seperti itu bermanfaat banyak di hari kemudian.
 
Pekerjaan yang dilakukan di kubikel pun tak kalah menantang. Selain harus mengerjakan laporan dan urusan administratif lain, kami pun harus menindak lanjuti prospek klien via telepon. Di sinilah tantangan dan latihan berikutnya. Setiap hari, perasaan hati tidak pernah sama. Ada kala sedih, mumet, bahkan senang. Kalau sedang bahagia, tak masalah, maka suara yang keluar pun terdengar ceria. Tantangannya adalah mengelola emosi yang sedang buruk tapi harus terdengar baik-baik saja lewat suara. Maka di meja kubikel ditaruh cermin kecil di depan pesawat telepon. Jadi saat menelepon, kami bicara sambil berkaca, melihat wajah sendiri yang harus tersenyum saat memaparkan sesuatu. Cara itu berhasil membuat klien nyaman dengan suara kita. Sebelumnya cara itu dipraktekkan bersama teman dengan berbagai ekspresi: bicara sambil tersenyum, dibandingkan dengan bicara sambil merengut atau malas-malasan. Si pendengar akan bisa “melihat” ekspresi kita lewat suara yang kita buat. Begitu juga jika kita bicara di telepon sambil melakukan pekerjaan lain, akan “terlihat” lewat suara yang diperdengarkan.
 
Kadangkala ada klien yang betah bicara berlama-lama dengan teman saya karena mendengar suara yang renyah dan ceria. Kemudian pada akhirnya klien tersebut tertarik menggunakan jasa iklan perusahaan.
 
Begitulah, suara bisa memberikan beragam efek. Contoh lain misalnya, penyanyi, aktor/aktris, bahkan pembaca puisi, yang melantangkan suaranya dari hati, akan menggetarkan pendengarnya.
 
Tak jarang, suara seseorang menimbulkan kerinduan atau perasaan jatuh cinta. Suara lembut seorang ibu pada anaknya, bisa menimbulkan rasa rindu pulang pada anak rantau. Suara kekasih yang sekadar bertanya kabar bisa menimbulkan perasaan bahagia jika sedang terpisah jarak. Suara sahabat yang menyapa riang bisa mengobati keinginan jumpa yang tertunda. Tentu dengan catatan, suara yang bisa “dilihat” itu dilantunkan sepenuh hati, dengan ekspresi baik si pembicara.
 
Seperti sepele ya “suara yang bisa dilihat” itu? Padahal pengaruhnya bisa sangat besar dalam aktivitas keseharian.
 
Jadi, lain kali ada orang yang berkata “Saya rindu mendengar suaramu,” maka artinya suaramu sedang diperlukan untuk menggenapi hari. Maka tersenyumlah sambil membayangkan dia ada di depanmu, berikan ekspresi terbaik, fokus tanpa mengerjakan hal lain. Sebab suaramu bisa dilihat dan dirasakan sang pendengar.
 
#RAB, 10122018
 
Selamat pagi Senin hai kamu yang manis, saya rindu mendengar suaramu.♥️
 
===

NASI PULUT KUNING


 
Nasi pulut kuning dan telur merah ini saya dapatkan pada hari Sabtu lalu 1 Desember 2018. Dibagikan pada para peserta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan ketika memasuki gerbang di situs makam Bukit Batu Kabupaten Bintan, saat ziarah budaya.
 
Menurut tetua adat, pulut kuning ini tak sembarangan dibuat. Sebagai sajian istimewa, pulut kuning dalam adat masyarakat Melayu dibuat ketika kenduri pernikahan, khitanan, syukuran sampai khataman Quran. Juga pada saat-saat peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.
 
Nasi pulut kuning biasanya dibuat dari beras (ketan) terbaik, yang direndam semalaman dalam bumbu kuning dan dimasak tak semudah nasi biasa.
 
Sebagai bahan makanan utama, beras dipandang sebagai simbol kecukupan-kemakmuran, dan tanda syukur masyarakat. Beras yang digunakan adalah beras ketan (sticky rice) yang lengket dan menjadi simbol kelekatan, persatuan, dan persaudaraan. Biasanya pulut kuning disajikan dengan alas daun pisang. Namun seiring kemajuan jaman, dalam perayaan yang menyediakan souvenir, pada prakteknya, pulut kuning ini dimodifikasi dengan material modern (seperti yang terlihat dalam foto ini).
 
Sedangkan warna kuning pada masyarakat Melayu dianggap sebagai lambang kesempurnaan alam (makrokosmos).
 
Pada jaman dahulu, sajian pulut kuning hanya dijumpai di istana atau rumah orang-orang kaya. Kemudian dalam perkembangannya, disediakan pada syukuran dan acara istimewa lainnya.
 
Nasi pulut kuning biasanya disajikan bersama telur atau ayam goreng. Dalam foto ini, disertakan bersama telur rebus yang cangkangnya telah diwarnai merah.
 
Karena hidangan pulut kuning ini tidak setiap saat dimasak, maka ketika kita mendapatkannya, tentulah istimewa. Anggaplah sebagai berkah dan doa untuk silaturahmi yang mesti terus dijalin.
 
#RABjourney #oleholehBintan #nasipulutkuning #festivalsastrainternasionalgunungbintan

MENGHAYATI SEMANGAT HANG TUAH DI JAZIRAH (3)


 

3.1 Surat yang Bercerita

Seseorang pernah mengatakan, ada tempat indah di luar sana, dekat dengan laut. Menuju ke sana, harus dengan kapal laut menyeberangi selat, atau terbang dengan pesawat. Tahun sekian itu, ongkos pesawat masih terbilang mahal untuk ukuran kocek orang kebanyakan sepertiku. Berbeda dengan beberapa tahun terakhir, maskapai komersil semakin gencar mempromosikan berbagai jalur penerbangan dengan tiket murah dan diskon untuk masa tertentu. Salah satu maskapai bahkan mengeluarkan tagline: kini semua orang bisa terbang. Bahkan kalau mujur, tiket pesawat pulang pergi ke negara tetangga bisa lebih murah daripada harga tiket dalam negeri ke pulau Bali misalnya.

Seseorang itu menyukai Pram. Sudah tentu ia senang membaca. Dan menurutku dia memiliki bakat untuk menulis. Dari surat-surat panjangnya yang berlembar-lembar itu, dia kerap menceritakan pekerjaan dan hal-hal lain yang menarik perhatiannya. Salah satunya surat tentang bagaimana ia menikmati perjalanannya dengan kapal laut menuju Tanjung Pinang. Dalam suratnya, ia bercerita tentang kota tepi laut dan makanan laut yang melimpah. Juga jalanan yang menyenangkan setiap menjelang senja ia kelilingi kota.

Menurutku, demikian penting peranan seorang penulis dalam memengaruhi kehidupan seseorang. Kemampuannya menulis dan mendeskripsikan sesuatu bisa menarik minat yang besar pada pembaca. Seperti juga surat-surat itu. Surat yang bercerita. Pembaca itu aku, perempuan yang belum banyak melihat dunia di usianya yang masih ranum. Dunianya hanya sebatas imajinasi yang berkembang dari semua buku yang dilahapnya. Hingga setelah tahun-tahun itu lewat, ingatan tentang surat itu masih terpatri baik. Bagaimana buah tangan yang dibawakan seseorang beserta cerita-cerita tentang kerinduan yang terpaksa diperam selama berada di pulau yang jauh pun masih menghuni relung pikiran jika ia perlu menggalinya di waktu-waktu tertentu.

Perempuan itu aku, yang memekik kegirangan dalam hati ketika akhirnya kesempatan itu tiba. Jauh setelah surat-surat yang bercerita itu lenyap ditelan suasana. Tuhan mewujudkan mimpi-mimpi selalu di waktu yang tepat. Seperti juga mimpi menjejak Kepulauan Riau, terutama bagian Tanjung Pinang. Seperti menggenapi perjalanan dari masa lalu yang meminta ditunaikan dari alam bawah sadar.

 

3.2 Lolos Kurasi adalah Kunci

Segala upaya telah dilakukan untuk menggenapi mimpi menjejak tanah kepulauan. Betul, lolos kurasi adalah kunci. Selebihnya, keberuntungan-keberuntungan lain dan nasib baik yang menyertai.

Segala persiapan telah dilakukan, mulai dari pemesanan tiket dan bantuan informasi sana-sini agar perjalanan menyenangkan. Perjalanan dari kota kecil tempat saya tinggal tidaklah dekat. Saya memilih naik-turun kereta api sebelum akhirnya tiba di bandara Cengkareng untuk naik pesawat.

Saya tiba di bandara lebih cepat, jauh dari waktu cek in yang seharusnya. Tak apa, lebih baik tiba lebih awal daripada ketinggalan pesawat yang akan membawa saya menjejak tanah yang membuat saya penasaran bertahun-tahun, bukan? Di bandara, saya juga berjanji ketemu dan naik pesawat yang sama dengan teh Rini Intama. Saat boarding, barulah saya sadari, ternyata ada teman lain berangkat dengan jadwal yang sama. Mereka adalah Bang Roymon dari Ambon dan Cak Sudi yang tinggal di Bekasi. Berempat kami menaiki pesawat dan berdoa semoga penerbangannya lancar sampai tempat tujuan.

Terbang selama 1,5 jam dalam keadaan tubuh agak lelah dan sedikit mengantuk membuat saya terkejut saat pesawat melakukan pendaratan. Saya duduk persis di bagian atas roda pesawat, sehingga merasakan guncangan agak keras. Tapi saya tetap bersyukur, kami semua selamat tiba di bandara Raja Haji Fisabilillah. Panitia penjemput sudah siap menunggu di pintu kedatangan. Karena sempat mengalami penundaan selama setengah jam, kami terlambat tiba di acara pembukaan di Kompleks Purna MTQ Bintan. Perjalanan dari bandara menuju tempat acara memakan waktu lebih kurang satu jam, melewati jalanan sepi dan remang-remang. Rasa lapar semakin menggoda perut setiap melihat ke luar jendela dan rumah-rumah penduduk yang berjauhan jaraknya. Tapi tentu kami harus lebih bersabar lagi, sebab konon jamuan makan malam bersama Gubernur telah menunggu.

Tiba jugalah kami di tempat pembukaan acara. Terlambat sudah pasti. Tapi kami masih bisa menyaksikan penganugerahan Jembia Emas, dan peresmian pembukaan acara hingga pembacaan puisi beberapa teman. Acara selesai sekitar pukul sebelas malam, kami dibawa ke hotel Aston Tanjung Pinang dengan keheningan yang berbeda. Keheningan yang dihangatkan oleh kerinduan yang tertumpahkan saat bertemu teman-teman. Kira-kira setengah perjalanan, rombongan yang terdiri dari satu mini bus, dua mobil microbus, dan beberapa mobil pribadi para pejabat dan panitia setempat, kami berhenti di salah satu kedai. Bapak Gubernur menjamu kami dengan hidangan dari kedai berupa prata, martabak mesir, teh tarik, teh telur, juga jus aneka buah yang bisa dipesan di sana. Nyaris tengah malam, dan perut kami pun sudah penuh. Tak lama menikmati makanan dan minuman di sana sambil berbual ke sana ke mari, kami pun segera diantar untuk istirahat di hotel.

 

3.3 Seminar dan Senja yang Puitis di kaki gunung Bintan.

Jumat, 30 November 2018. Pagi hari di hotel, suguhan sarapan sungguh menggoda perut. Aneka macam makanan dan buah-buahan tersaji rapi. Saya cukup terhibur juga melihatnya. Sebab tidur yang kurang semalam akibat terlalu larut tiba di kamar, membuat kepala saya sedikit protes dan butuh asupan energi yang lebih. Kami pun berbaur dengan teman-teman lain di meja yang tersedia. Selesai sarapan, acara pertama dimulai. Setelah dibuka oleh walikota Tanjung Pinang, seminar sesi pertama dimulai pukul sepuluh lewat. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, hari Jumat itu dilanjutkan dengan seminar sesi kedua setelah istirahat, salat Jumat, dan makan siang.

Sore pun tiba, bergegas kami menuju kendaraan yang telah siap membawa ke De Bintan Villa, di Bintan Buyu. Tiba di sana, pemandangan pertama yang menarik mata saya adalah sebuah kincir angin yang berdiri di dekat danau. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada sebuah desa di Nederland: Zaansche Saans. Memang tidak sama persis, tapi mirip.

Sambutan oleh tokoh Huzrin Hood mengawali pentas puisi. Sebelum magrib tiba, beberapa orang didaulat ke panggung yang dipandu oleh Datok Teja. Kelakar, pantun, dan humor-humor segar mengalir dari sang pembawa acara sehingga suasana terasa semarak. Dijeda oleh istirahat salat Magrib dan makan malam bersama, pembacaan puisi dilanjutkan malam hari. Panggung dengan latar belakang Gunung Bintan yang elok, menjadikan senja itu begitu romantis. Rona bahagia terpancar dari setiap orang yang hadir di sana. Malam hari kami pulang dengan kegembiraan yang hangat di dada, tidur lelap untuk bersiap mengikuti rangkaian acara keesokan harinya. Beberapa teman yang terbiasa begadang menghabiskan malam hingga dini hari untuk bertukar kisah, hingga mata mereka tak sanggup lagi terbuka dan menyerah pada rasa lelah.

 

* bersambung

#RAB, 06122018

 

MENGHAYATI SEMANGAT HANG TUAH DI JAZIRAH (2)


 

Terpilih sebagai salah satu penyair yang karyanya terangkum dalam buku Jazirah adalah keistimewaan tersendiri. Puisi terpilih yang dimuat bertema tentang Hang Tuah, sang laksamana Melayu. Saya tidak akan menjelaskan tentang Hang Tuah, banyak referensi dari buku dan website yang bisa dibaca. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman dan kesan selama mengikuti Festival Satra Internasioanal Gunung Bintan (FSIGB) 29 November-1 Desember 2018 lalu.

Memang, belakangan ini perhelatan sastra mensyaratkan untuk mengirimkan karya yang kemudian dikurasi dan dimuat dalam antologi bersama. Jika ada sponsor, biasanya undangan untuk menghadiri acara disertai keterangan bahwa biaya transport dan akomodasi ditanggung. Namun, yang seperti itu tidak banyak. Akhir-akhir ini menjamur tren panitia menyediakan transportasi lokal dan akomodasi saja, sedangkan biaya transport dari dan kembali ke tempat asal tidak ditanggung. Sudah lumrah, sebab “hari gini” jarang sponsor yang mau memberikan dana jor-joran. Salah satu teman saya (bukan orang sastra) bilang, kalau acara lain selain sastra atau seni, mungkin akan dapat sponsor besar. Entahlah ya. Mungkin pertimbangannya ujung-ujungnya sih duit dan seberapa potensial acara tersebut memberikan “feedback” materil. Baiklah, kita tidak akan membahas itu di sini. Toh ini PR besar untuk kita semua.

FSIGB memiliki rangkaian acara menarik. Karena karya yang dikumpulkan berupa puisi, tentu saja ada sesi pembacaan puisi dari para penyair. Selain itu, seminar sastra dan ziarah budaya jadi bagian dari acara. Bagaimanapun, acara-acara semacam ini tak lepas dari “suara miring” sebagian orang yang bilang bahwa kumpul-kumpul begini hanya untuk ajang foto-foto (selfie). Betul sih. Apalagi didukung teknologi hendphone yang sudah semakin canggih, orang bisa setiap saat kapan pun dan di mana pun mengabadikan peristiwa sekecil apa pun yang mereka dapatkan. Bagi saya, tak ada salahnya acara begini jadi ajang kumpul-kumpul dan berfoto. Toh tidak setiap saat pula bisa bertemu orang-orang inspiratif atau teman-teman kita. Lebih bagus lagi jika selama acara yang dihadiri tersebut terdapat seminar, diskusi, ziarah budaya atau apa pun yang hasilnya menginspirasi, mencerahkan, dan menggugah kembali semangat menulis.

Seperti dalam FSIGB, Hang Tuah menjadi tema utama acara. Dimulai dari hari pertama pembukaan di Kompleks Purna MTQ Bintan, selain prosesi penyerahan anugerah Jembia Emas, juga dilangsungkan peluncuran antologi puisi Hang Tuah (Jazirah). Keesokan harinya acara dilanjutkan dengan seminar sastra di hotel Aston, Tanjung Pinang. Seminar yang terdiri dari dua sesi itu mendatangkan empat pembicara. Sesi pertama diisi oleh Maman Mahayana (Jakarta, Indonesia) dan Muhammad Haji Saleh (Malaysia). Setelah istirahat dan makan siang, seminar dilanjutkan oleh Taufik Ikram Jamil (Riau) dan Abdul Malik (Kepri). Sore harinya, dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari para penyair yang hadir. Hari ketiga, sejak pagi hingga siang, peserta mengikuti Ziarah Budaya di Bintan dengan mengunjungi makam-makam bersejarah.

 

*bersambung

 

#RAB, 05122018

MENGHAYATI SEMANGAT HANG TUAH DI JAZIRAH (1)


Bulan November ini sesungguhnya merupakan bulan yang “padat” menurut saya. Selain kegiatan sehari-hari yang memang sudah cukup menyita waktu, kegiatan dalam bidang sastra pun kebetulan banyak dilangsungkan di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan, beririsan atau berturut-turut. Kesemua acara itu tentu memiliki daya tariknya masing-masing. Tinggal menentukan pilihan mau mengikuti acara yang mana

Saya sendiri, jauh-jauh hari setelah menimbang-nimbang, memilih mendaftar untuk mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2018 di Magelang, Jawa Tengah, serta Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Bintan dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Pertimbangannya, kedua lokasi acara tersebut menarik minat saya untuk berkunjung. Dan insting saya berkata, saya akan menikmati perjalanan kali ini. Terutama banyak hal yang ingin saya pelajari, mengingat saya sedang merasa agak kurang produktif belakangan ini dan menantikan sebuah momentum kepenulisan untuk membangkitkan kembali gairah menulis.

Harus diakui, kegiatan-kegiatan sastra semacam itu, memang perlu dihadiri. Selain untuk mempererat silaturahmi antar penulis, pertemuan tersebut biasanya memantik ide dan menyalakan kembali semangat yang sering timbul tenggelam. Sebab kita bukan robot yang bisa selalu menjaga suasana dan gairah menulis, kita tentu harus mencari cara agar tidak kehilangan semangat dan akhirnya malah berhenti menulis.

Saya sendiri, disibukkan oleh kegiatan mengurus anak, mencari sesuap nasi, dan tentu berjuang juga tetap menulis di sela-sela keinginan membaca yang berebutan waktunya.

Baiklah, kembali ke topik utama kita yang akan membahas kesan saya selama mengikuti Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2018.

Sewaktu membaca rangkaian acara yang terdiri dari seminar sastra, ziarah budaya, dan pembacaan puisi, otomatis otak saya langsung berpikir bahwa acara ini tak jauh berbeda dengan acara Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2017 lalu di Siak, Riau. Tapi saya juga sekaligus menyadari bahwa ada benang merah yang menghubungkan antara acara BWCF 2018 dengan FSIGB 2018. Keduanya sama-sama melakukan lawatan ke masa lalu, sama-sama menggali sejarah yang membesarkan bangsa ini.*

 

(*bersambung…)

#RAB, 04122018

BOROBUDUR WRITERS AND CULTURAL FESTIVAL 2018 (3)


#tulisanringan

KESAN-KESAN SELAMA #BWCF2018

Beberapa foto dari acara #borobudurwritersandculturalfestival

SENI PERTUNJUKAN

Diselenggarakan di Akshobhya Borobudur, dua malam berturut-turut.

Malam pertama ada pertunjukan teater dan tari: Ery Mefri (Sangketo Hawa); Cok Sawitri (Sakyamuni Saja (Perlu Mati!)); Bimo Wiwohatmo (Bedhayan Sepuh Macak Kere); M. Miroto (Sontoloyo); Melati Suryodarmo&Katsura Kan (Luminous Death); dan pembacaan puisi oleh Arif Bagus Prasetyo​ (Bali-Indonesia) dan Zahid M Naser (Malaysia).

Malam kedua pertunjukan dari Tony Broer​&Katia Engel (Jerman): (Moving Stones); Yusril Katil&Komunitas Seni Hitam Putih (Under the Volcano); Anwari (Menjahit Kertas); Djarot B Darsono/Taksu (Free of The Bridle); serta pembacaan puisi dari Taufik Ikram Jamil (Indonesia), dan Shivram Gopinath (Singapura).

Instalasi & set panggung yang apik oleh Yani Mariani, bertema Mekar Langit Malam~Raya Pertiwi.

Semua penampil menyuguhkan sajian terbaiknya. Atraksi teatrikal yang ekstrim pun terlihat indah. Semua cantik, semua menarik. Salut untuk dedikasi dan kreativitas semuanya🙏

#catatanRAB #RABjourney
#proudtobeIndonesian #thingsthatmakemehappy #banggajadiIndonesia #wonderfulIndonesia #borobudur #heritage #maestro #seni #budaya #adiluhung #teater #tari #puisi @ Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia