NGOMONGIN MANTAN


NGOMONGIN MANTAN

Di berita sedang ramai kasus artis yang diperkarakan karena ngomongin mantan. Konon awalnya cuma niat silaturahmi ketemu teman, ngobrol-ngobrol eh malah divideokan. Ya gitu deh yang namanya ngobrol dengan teman, memang ada kemungkinan tergelincir jadi membicarakan orang lain, hingga mantan pasangan. Kontrol diri memang standarnya tak pernah sama pada tiap orang, ada yang pandai mengerem ketika pembicaraan mulai menyinggung hal-hal negatif. Tapi ada juga teman yang semakin heboh saat dipancing, gosip deh, makin digosok makin sip. Dan kasus ini jadi “tamparan” keras buat kita, yang apa-apa divideokan, obrolan dan kisah rahasia yang seharusnya disimpan rapat malah lancar digelontorkan. Ranah pribadi jadi konsumsi publik. Niat lucu-lucuan, demi eksis, sampai niat menjatuhkan seseorang, semua tersembunyi di hati yang kedalamannya tak berdasar itu.

Baiklah, saya jadi ketularan juga ingin ngomongin (para) mantan. Buat saya, gak ada salahnya mengambil hal-hal baik yang pernah didapat ketika bersama mereka. Terlepas dari pertengkaran, perdebatan, hingga derai air mata yang tumpah, di kemudian hari selalu ada pelajaran yang bisa disimpulkan. 

Para mantan saya, rata-rata meninggalkan luka. Beberapa mungkin malah saya yang menancapkan kepedihannya. Tapi rasanya selalu ada hikmah. Yang buruk tak akan saya guar, demi ketahanan dan kedamaian semesta saat ini. (😁Tsah! Cieee..)

Beberapa kebiasaan positif (para) mantan pacar  di masa lalu yang ditularkan ada macam-macam. Misalnya, meracuni saya baca buku-buku Pram dan Djenar, menularkan kebiasaan meredam emosi jika pesanan makanan salah atau tumpah, memengaruhi untuk berani mencoba makanan yang rasanya asing. Kebiasaan negatif juga ada, tapi itu jadi pelajaran. Misalnya malas dan lelet kalau janjian, jadinya saya berusaha untuk tepat waktu dan tidak meniru hal itu. Ada yang cemburuan minta ampun tanpa pandang bulu, bikin saya gerah dan merasa dibatasi. Jadinya ya saya juga belajar mengendalikan, meskipun kalau saya lihat pasangan saya sekarang jalan sama Raisa bisa ngomel panjang lebar.

Dalam beberapa kasus, jika hubungan dengan mantan bisa diperbaiki, bisa jadi malah menguntungkan urusan (walau ini jarang banget, sebab rata-rata malah bikin males, ye kaaaan? 😜)

Sebetulnya tidak hanya dengan mantan pasangan. Mantan rekan sejawat dan orang-orang yang pernah berarsiran, semua punya potensi sama. Saling menularkan kebiasaan positif atau saling menyinggung perasaan. Tapi segalanya kembali pada kita, mau mengambil pelajaran dan menyimpan hal buruk, atau mengumbar kekurangan mereka dengan mulut ember ke mana-mana?

Mungkin kesal, sakit hati, atau benci, bercampur di hati akibat peristiwa masa lalu. Namun jangan lupa, karena mereka lah kita punya hidup yang lebih baik dan berbahagia saat ini. 

Sekian. Salam buat mantan kamu yang manis dan ngegemesin itu.

*fotonya stasiun aja, soalnya mau pajang foto mantan malah bingung, mau pasang foto Darius Sinathrya, Juna Rorimpandey, atau si dia yang itu. 😎

F18F9F52-D4C4-42CC-AF96-BE6CD1FF71E1.jpeg

Iklan

APA ISI TASMU? (Part 2)


0473038B-0DF3-4D6D-8B61-97253F2D5BE0.jpeg

 

APA ISI TASMU? (Part 2)

Ini masih dalam rangka bahas isi tas ya. Ceritanya kalau bepergian cukup jauh dari rumah. 

Saya sering bolak-balik ke kota sebelah. Di kafe favorit dan beberapa tempat lain sudah tidak menyediakan sedotan, terutama yang berbahan plastik. Dan karena “gaul” dengan para yogi/yogini yang apa-apa selalu ngomongin sesuatu yang terkait “eco-friendly”, maka saya terbawa-bawa (tentu dalam arti positif) untuk peduli. Salah satunya dengan membawa sendiri sedotan. Bahkan seperangkat cuttlery set ini berisi sendok, garpu, sumpit, pisau dari kayu, dan sedotan dari bambu. Ribet? Berat? Tidak juga, bahannya ringan. Masih lebih berat powerbank. Tapi berguna banget sebagai salah satu daftar “survival kit”. Buktinya waktu di salah satu foodcourt saya memesan steak dan disediakan pisau serta garpu plastik yang rentan patah, akhirnya garpu kayu ini ada gunanya. Garpu plastik utuh gak jadi dibuang, lumayan mengurangi satu sampah plastik. Lalu saat membeli makanan yang dibawa pulang tanpa dikasih peralatan makan, bisa dinikmati di perjalanan karena bawa sendiri. Sedotan sih jangan ditanya. Di tempat ngopi favorit dengan cake yang enak itu, ada ice coffee yang lebih sedap disesap melalui sedotan dibanding langsung dari bibir gelas. 

Nah sekarang perlengkapan ini sudah selalu ada dalam tas. Lumayan, meskipun tidak langsung memberi perbedaan besar, mengurangi satu jenis sampah plastik dari satu orang makhluk bumi ini.

*Jangan pesan ya, saya gak jual ini. Kecuali butuh jastipan. #ehgimana😉

APA ISI TASMU? (Part 1)


EABE010B-9920-45DA-A98F-F3143BE11A46.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 1)

Ngobrol santai ya, kawan.

Saya suka heran (terutama)melihat cewek-cewek yang ke mana-mana bawa tas tangan kecil banget. Kayaknya isinya cuma uang dan hp.  Saya sih mana bisa begitu. Kalau pergi-pergi, minimal barang yang harus saya bawa adalah notes kecil&pulpen (siap sedia jika ada ide atau harus mencatat sesuatu), buku bacaan (biar gak kesal menunggu), dompet, hp, powerbank, kabel charger, hand sanitizer, lotion, sabun kecil. Kadangkala kalau pergi jauh meskipun diniatkan ulang-alik, isi tas ditambah minimal satu baju ganti. Plus handuk kecil.

Kebiasaan begini berguna saat “darurat”, harus ganti baju karena kehujanan, ketumpahan makanan, atau saat impulsif memutuskan menginap. 

Nah, kalau pakai tas imut begitu, “survival kit”nya ditaruh di mana?

Mau tahu juga dong, kalian lelaki gimana? Terus kalian yang perempuan, apa isi tas yang harus selalu ada?

*foto dari internet

#RAB, 12072019

Membaca Kucing Murakami


 

 

 

 

46374125._SX318_Mayoritas kisah dalam buku kumpulan cerita ini menuturkan petualangan imajinasi. Ada kucing yang berubah jadi manusia dan kebingungan menyesuaikan diri, kemudian tertarik pada lawan jenis, seorang perempuan bungkuk yang aneh. Lalu ada lelaki yang berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bar dan bertemu orang-orang misterius. Beberapa kisah menggantung dengan imajinasi yang melompat. Lumayan.

MENONTON FILM “I CAN SPEAK”


83BB6A2C-3761-4EEE-84A2-CAFCB4EDAB7C

Padahal bukan pegawai kantoran, tapi ketika libur Imlek begini terus diam di rumah itu rasanya kok gak produktif sih. Otak lagi gak bisa dipake mikir buat nulis, jadi buka aplikasi HOOQ, nonton film ini. Hasilnya: SUKSES MENETESKAN AIR MATA!

Film yang diangkat dari kisah nyata tentang “comfort woman”, para perempuan Korea yang jadi budak seks tentara Jepang di masa Perang Dunia II ini dirilis tahun 2017. Saya tidak membaca review atau mencari tahu ulasan apa pun sebelumnya. Sengaja, biar tidak terganggu dengan semacam pengantar atau sudut pandang orang lain. Pemilihan film juga cuma berdasarkan insting aja. 

Sepanjang 15 menit di awal saya kira ini hanya kisah drama keluarga biasa. Ya sudahlah, toh saya hanya ingin menghabiskan waktu libur ini seperti orang lainnya dengan bersantai. Ternyata kejutan cerita di luar perkiraan. Nah Ok-Boon memberikan kesaksiannya di  Kongres Amerika tahun 2007 melalui HR121. Saya menangis, membayangkan betapa jahatnya peperangan. Selalu ada korban yang dibungkam, terpaksa membungkam dirinya sendiri, atau sama sekali hilang ingatan karena depresi. 

Memang, butuh keberanian lebih untuk mengakui bahwa seseorang pernah menjadi korban. Banyak yang memilih melanjutkan hidup dengan menutupi masa lalu dan berkata semuanya baik-baik saja. Padahal jauh di dalam, jiwa mereka terluka. Penyintas semacam mereka tentu banyak juga yang tak terungkap. Tak terbayang bagaimana seorang perempuan remaja dicerabut dari keluarganya dan disiksa demi memuaskan nafsu para lelaki. Lalu di kemudian hari mereka tetap harus bertahan hidup dan mengubur kisah pilu itu.

Ketika Nenek Oh-Boon berkata bahwa yang perlu dilakukan pemerintah Jepang adalah meminta maaf kepada para perempuan ini, dan hal ini perlu diungkapkan agar tidak terjadi lagi hal yang sama di kemudian hari, saya lalu teringat perkataan Pak Martin Aleida. Kita harus menuliskan kisah itu, sepahit apapun, agar sejarah tidak terulang. Banyak korban perang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Akhirnya saya mengerti, kenapa film yang disutradarai Kim Hyun Seok ini berjudul I CAN SPEAK.

Saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini.

KENAPA MESTI RATU SEKOP?


Ya, kenapa mesti Ratu Sekop? Dari ketiga belas cerita pendek, Iksaka Banu memilih Ratu Sekop sebagai judul. Hak prerogatif penulis, tentu saja. Tapi kenapa tidak “Lelaki dari Negeri Halilintar”, atau “Istana Gotik”, atau “Film Noir”, judul-judul cerpen lain yang tak kalah menariknya dengan “Ratu Sekop”? Ketiga cerita itu juga sama getir menggambarkan situasi dan hidup seseorang.

Barangkali saya sedikit terlambat menikmati karya yang terbit tahun 2017 ini. Tapi buku lama pun selalu baru jika belum pernah dibaca, bukan?

 

Khas sekali tulisan Iksaka Banu ini. Diksi-diksi yang sederhana tapi dirangkai ciamik. Pembaca dibawa ke lorong-lorong imajinasi yang berwarna. Sesekali gelap dan membuat kita harus menebak-nebak. Plot twist di beberapa cerita mudah ditebak sejak awal. Misalnya tokoh Guntur dalam kisah “Lelaki dari Negeri Halilintar”, meskipun saya yakin dia adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk mengambil nyawa Nyonya Lita, tapi penceritaannya membuat saya tetap lanjut membaca huruf demi huruf, bahkan sampai ketika tebakan saya bertemu kebenarannya.

Karena saya sebelumnya lebih dulu menikmati tulisan Iksaka Banu lewat novel yang berbau kolonial atau sejarah, saat membuka halaman pertama, ekspektasi saya tentu temanya tidak jauh-jauh dari sana. Tapi ternyata salah. Meskipun tidak meleset-meleset amat. Dalam kumpulan cerpennya ini, riset dan pengetahuan penulis yang spektrumnya luas sangat terasa. Penulis bisa menceritakan detail bagaimana orang yang diserang Vertigo (yang jadi judul salah satu cerpennya), bagaimana pula orang-orang dengan “indera keenam” memiliki kemampuan itu tanpa sengaja (dalam cerpen “Listrik”), kemampuan yang disambut gembira tapi akhirnya dirasa sebagai ketakutan manusiawi. Serta detail-detail lain semisal jenis senapan dan bagaimana hasil tembakannya dalam cerpen “Sniper”.

Dalam “Undangan Seratus Tahun” dan “VIP”, cerita bercampur dengan imajinasi seperti dalam film-film futuristik: benda asing muncul yang terbang di Laut Selatan, manusia yang berubah jadi android karena tak sudi menuruti perintah untuk menuju kematian. Absurd, sekaligus menyentil; betapa seseorang sesungguhnya memiliki pilihan untuk tidak menuruti perintah kekuasaan, setiap orang berhak menentukan akan mati dalam tekanan atau memilih jalannya sendiri.

 

Kisah dengan tema perselingkuhan seperti dalam “Film Noir” dan “Cermin”, diketengahkan dengan ungkapan dan sindiran yang halus. Segala cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginan paling purba seseorang. Meski diawali rasa cinta, di kemudian hari bisa berkembang menjadi liar atau di luar nalar. Ketika tokoh Windy dalam kisah “Cermin” akhirnya “membalas dendam” pada sang kekasih dengan cara yang persis sama dilakukan sang pria ketika mereka masih saling berkasih-kasihan, menggunakan bayangan dan cermin. Itu pula yang dilakukan Arya (Film Noir), ketika mengetahui istri yang dipopulerkan olehnya kedapatan selingkuh: balas dendam.

 

Balas dendam juga bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Seperti Armin Kelana, pelukis yang sakit hati ketika tidak menerima apresiasi yang diharapkan, sehingga ia terpaksa membunuh orang-orang tidak bersalah dalam kisah “Belati”, padahal niat awalnya ia ingin membalas dendam dengan caranya sendiri.

 

”Jubah” pun tak luput dari bumbu intrik perselingkuhan dan balas dendam. Juga pada “Istana Gotik”, yang mengisahkan centeng yang jatuh hati dan merasa harus selalu melindungi Nona Miranda yang menganggapnya ayah dan meminta perlindungan selayaknya seorang anak.

 

Hubungan ayah-anak digambarkan manis sekaligus tragis dalam cerpen “Sniper”. Ibarat menonton film perang, cerpen ini memberikan kejutan yang menyedihkan. Gambaran akan keharmonisan hubungan seorang ayah dan anaknya, dibenturkan dengan kenyataan dalam perang ketika sang prajurit yang pernah menembak milisi dan mendapati foto anaknya hingga dihantui perasaan bersalah, justru menjumpai kenyataan anak itu telah tumbuh dewasa dan sepertinya terlibat dalam “misi balas dendam”.

 

Rasanya tema-tema balas dendam, intrik, perselingkuhan, mayoritas muncul dalam ketigabelas cerita di buku ini. Ratu Sekop mungkin pengecualian. Penulis memaparkan bagaimana seorang pelukis akhirnya mengubah rencana awal karena sang model lebih tepat mewakili Joker.

 

Ah, terlalu panjang rupanya ulasan kali ini. Sebaiknya baca sendiri sajalah bukunya. 🤭😉

 

#RAB, 01022019

===

Judul: Ratu Sekop

Penulis: Iksaka Banu

Jumlah halaman: xii+189 hlm

Penerbit: Marjin Kiri (2017)

46823D65-DF38-4E3D-BF55-BEBC209D065C

BERAPA SISA PELURU DI PISTOL?


Membaca novel “Ya, Aku Lari!” karya Hasan Aspahani ini saya seperti dibawa berkelana ke banyak tempat dan peristiwa. Satu dan lain saling berkaitan.

 

Awalnya sempat teralihkan fokus, sebab ada beberapa konflik yang dihadirkan dalam cerita. Persoalan Mat Kid dengan Alta—-anaknya, Mat Kid dengan Samon dan Hamdun, juga keterkaitan bom dan intrik politik di negeri ini yang melibatkan para pejabat atas.

Kisah satu dan lain yang berkaitan ini tentulah terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kita pun mengalami banyak arsiran dengan beberapa orang yang kemudian orang-orang tersebut terhubung pada orang atau peristiwa lain yang mengakibatkan kejadian tertentu. Rumit, bukan? Begitulah hidup, tak ada yang sesederhana itu.

Menurut saya, Alta dan Kavi alias Barbar jadi pemanis sekaligus pelengkap rangkaian cerita. Kisah asmara disisipkan sebagai “bumbu”. Dan sebagai bumbu, jika dihilangkan, tentu saja terasa hambar.

 

Mat Kid yang sekeluarnya dari penjara ingin memulai hidup baru dengan membangun kafe kopi, terus-menerus dibujuk untuk kembali terlibat dalam “proyek” yang lebih besar, sesuai keahliannya: melenyapkan orang-orang yang dianggap “membahayakan” atau akan mengacaukan suatu kepentingan.

Penulis merangkai cerita dengan apik, membuat kita semakin yakin bahwa sesungguhnya sebagai “rakyat biasa”, kita hanya melihat apa yang terjadi sesuai mata dan telinga kita, apa adanya. Kita bisa saja terlalu lugu menjadi pendukung fanatik kelompok tertentu, dan membenci kelompok lain yang tak sealiran. Padahal di tingkat atas, bisa saja mereka saling berangkulan untuk menciptakan rencana-rencana lain yang lebih besar, dengan memanfaatkan konflik di tingkat bawah. Misalnya saja penangkapan Ajmal yang dituduh melakukan penggalangan kekuatan terorisme. Tuduhan yang mencurigai bahwa keberhasilan kegiatan perkebunan kopi itu untuk mendanai kelompok radikal. Sehingga pemimpin kelompok petani tersebut (yang berpenampilan seperti kebanyakan teroris), diamankan. Padahal alasan lain di balik itu adalah kepentingan pemodal besar yang menggandeng koperasi militer. Sang investor sangat bernafsu menguasai lahan kopi —bisnis yang sedang besar sekarang— sehingga melakukan berbagai cara untuk menguasai lahan.

 

Sedangkan Mat Kid yang pernah berada dalam penjara yang sama dengan Ramlan, kemudian menaruh curiga pada Hamdun yang dianggap mengkhianati dia dan Samon, karena merangkul Ramlan dari kubu politik yang berbeda.

Kedok Samon terbuka justru menjelang akhir hayatnya, di saat Mat Kid meragukan kedua sahabatnya itu dan merasa bimbang, siapa yang seharusnya dia percayai, Samon atau Hamdun?

 

Twist tak terduga dihadirkan di halaman terakhir. Kesetiaan anak buah pada kelompok dan atasannya, dinyatakan oleh Ale, yang menodongkan pistol pada Mat Kid.

Untuk novel setebal 176 halaman, konflik yang dihadirkan di antara tokoh, rasanya bikin gemas. Saya seperti menonton film atau membaca novel detektif, dibuat menebak-nebak terus hingga merasa rugi jika bacaan saya terkena jeda.

 

Tapi ada yang membuat ganjalan dalam pikiran saya. Saat polisi menyatakan Samon ditembak oleh pengawal Hamdun, seorang polisi aktif, dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu peluru berasal dari pistol Mat Kid. Tapi saat otopsi, dikatakan bahwa peluru berasal dari pistol yang sama. Ini karena Mat Kid melompat dan berada di garis lurus antara pengawal Hamdun dan Samon. Tapi sampai sekarang saya bingung, membayangkan bagaimana dia melompat mengambil pistol di meja, lalu melompat lagi ke garis lurus antara pengawal dan Samon, hingga tepat menembak sama lurus dengan sang pengawal. Otopsi mengatakan, peluru berasal dari pistol yang sama. Sidik jari dari pistol yang sama tentu saja sidik jari pengawal. Katanya Mat Kid mengambil pistolnya sendiri, tapi kenapa ada di atas meja? Bagaimana dengan jenis pistol, apakah sama juga? Jika otopsi polisi bahwa peluru berasal dari pistol yang sama, benarkah sisa peluru jika dijumlahkan dengan peluru yang tertembak ke badan Samon sudah sesuai? Apakah benar akhirnya kasus penembakan ini “ditutup” karena Samon terbukti menembak dua pengawal lain? Atau karena ada “kepentingan politik” lain yang tidak diceritakan?

Ah, rupanya saya harus mengulang lagi membaca novel tersebut dengan cermat untuk menjawab rasa penasaran ini.

 

#RAB, 01022019

===

Judul Buku: Ya, Aku Lari!

Penulis: Hasan Aspahani

Tebal halaman: 176 hlm

Penerbit: Diva Press (2018)

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE


img_2268[1]

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE

 

Buku puisi yang saya baca di awal tahun ini adalah “Arakundoe dan Puisi-puisi Lainnya” karya Pilo Poly. Mengawali dengan langsung melewatkan endorsement agar tak terpengaruh dulu saat membaca, saya menjumpai tempat yang akrab bagi penulisnya. Sekitar Cikini, di mana penulis sering berada dan berkegiatan di sana. Setting Aceh juga turut mendominasi puisi-puisi Pilo.

Beberapa puisi liris terasa romantis, sekaligus khas lelaki. Yang tidak terlalu berlebihan mengungkapkan sisi emosionalnya dibanding perempuan. Tapi juga menunjukkan kasih sayang dan cinta yang dalam saat mengatakan rindu, perasaan dan harapannya pada seseorang atau sesuatu. Lihat saja misalnya dalam lirik dalam puisi “Hujan yang Menjatuhkan Namamu”:

 

HUJAN YANG MENJATUHKAN NAMAMU

 

Di luar, hujan menjatuhkan namamu
Begitu basah dan menyebar
Ke tanah dadaku yang tandus ini.

 

hati ini, hampir seperti bukit kering, dan
pohon-pohon seakan berdoa agar hujan tidak
begitu cepat pudar

 

Langit jiwa yang begitu dingin ini,
Juga tak pernah berhenti bersujud,
Tak pernah bosan agar namamu selalu
Tersebut

 

Jakarta, 2018

 

 

Rindu yang syahdu. Kehadiran seseorang yang selalu dinanti, dipadukan dengan doa-doa yang mengangkasa, terasa begitu lembut dibaca. Rindu yang pasrah, yang sabar, dan tidak cengeng, sekalipun dia bilang “tanah dadaku yang tandus”.

Dalam puisi “Doa Ibu”, Pilo menggambarkan seorang wanita yang selalu jadi pemandu dalam hidupnya. Puisi yang terdiri dari empat paragraf ini melukiskan sosok ibu dengan indah, dengan rasa hormat dan cinta seorang anak. Segala titah dan petuah ibu bagaikan rambu-rambu. Terlihat dalam kalimat: //Ibu juga serupa pagi,/ yang saban waktu menjadi pengingat./Agar anak-anak lepas dari gelisah/ Hingga jadi jiwa yang bebas//

Saya menangkap sisi humanis Pilo dalam kumpulan puisi ini. Selain cinta kasih pada sesama manusia, Pilo yang peduli pada tanah kelahirannya, Aceh, menuliskan kisah-kisah kelam yang pernah terjadi dan jadi catatan dalam sejarah Aceh. Beberapa puisi tentang peristiwa yang terjadi terasa getir dan menyedihkan. Dada saya sedikit sesak saat sampai pada kalimat: //Keselamatan, adalah permainan/ Dadu penjudi yang datang dari Jakarta,/ Sebagai bahan studi nyali BKO.// Di Rumeoh Geudong, ribuan suara tangis/ Kalah oleh tertawaan SS1, yang memuntahkan/Kematian demi kematian.//

Seperti juga dalam puisi Arakundoe, yang menjadi judul buku ini, tragedi Arakundo, menggambarkan kengerian yang pedih: /Malam keluar dari dirinya sendiri, ingin/ Menjelma menjadi yang lain,/ yang mampu menenangkan/ Betapa risaunya magrib menyambut kengerian//

Konflik tentang Rohingya ditulis apik. Begitu pun konflik batin pilo melihat kehidupan di ibukota, kota tempat dirinya kini beraktivitas, yang dianggapnya kota yang rakus. Bahkan nama Teuku Markam sebagai penyumbang terbesar emas di Monas seolah menggugah pembaca, betapa hal-hal sepele atau detail kecil sejarah bisa terlupakan, tergerus jaman dan kesibukan.

Meski ada sedikit “kesalahan teknis” dalam buku keluaran Penerbit Jeda (2018) ini berupa salah ketik, tapi satu-dua, dan tidak terlalu berpengaruh . Secara keseluruhan, isinya indah dan menggugah kesadaran.

Pilo romantis dan humanis. Begitu yang saya tangkap dari puisi-puisinya dalam buku ini. Pilihan diksi sederhana tapi mengena. Mudah dicerna, tidak “njlimet”. Tiada kata menyesal membaca buku ini. Proficiat, Pilo!

 

#RAB, 7 Januari 2019

 

SUREALISME CARIOS SI URAT EMAS


 

SUREALISME CARIOS SI URAT EMAS

 

Macaan 9 carpon Kang Godi Suwarna (GS) dina kumcar “Carios Si Urat Emas” (CSUE), kaluaran Penerbit Silantang (2018),  mah imajinasi téh asa diajak “jalan-jalan’’ kamana karep. Mayoritas carpon surealisme, tapi nu realisme gé aya. Matak pogot macana, maké basa anu gampang dilenyepan.

Loba dongéng nu ahéng, teu kaharti ku akal, kayaning Dewi anu ngadadak ngalobaan dina “Lalakon Kadalon-dalon”. Sakapeung rada kerung, naha sirah bisa coplok tuluy napel deui dina beuheung. Atawa orok beureum nu roroésan di pabrik dina “Carita Cap Dua Anting”, jeung naha aya bapa anu téga nyaté budak awéwéna lantaran dianggap mawa sial ka kulawarga Mang Saman dina “Lain Carita Pondok”.

Kasalapan carpon dina buku CSUE meunang dikumpulkeun tina karya-karya GS nu heubeul (1997-2001). Najan kitu, ari jejer caritana mah da teu karasa “out of date”. Malah mah masih kénéh wé cocog jeung mangsa kiwari. Mun ceuk bahasa gaulna mah karasa kénéh “kekinian.” Apanan ongkoh cenah pangarang téh boga kamampuh “melintasi jaman” (ari ulah disebut “indera keenam” mah). Contona dina palebah ngadongéngkeun kumaha pajabat anu korupsi hasil sumbangan ti rahayat nu ngahaja dikumpulkeun jangeun ngabéla nagara nu keur werit. Pan jaman kiwari gé adat koruptor mah masih kitu kénéh waé.

Carpon-carpon dina kumcar CSUE lian ti arahéng téh, ogé matak ngahuleng sakedapan (keur sakuringeun mah). Sabab pasipatan manusa nu dicaritakeun dina unggal tokoh carpon bisa waé jadi eunteung yén urang ogé boa kitu. Sarua munapék, sarua sarakah, sarua gélo, jeung sarua baluwengna dina nyanghareupan pasualan hirup. Sarua jadi jelema anu bingung kudu kumaha ngabandungan harga-harga nu mingkin undak ngajaul. Boro-boro meuli sédan tina hasil korupsi siga Pa Kuwu dina “Carios Si Urat Emas”, sedengkeun jang dahar gé masih koréh-koréh cok. Atuh boa teuing urang téh dianggap jelema burung modél si Awon nu teu weléh imut dina “Lalakon Awon,”  padahal nu nyebutkeun burung gé malah mah sawelas dua welas, euweuh mendingna.

Lay out rapih, jeung disain koverna gé jempol wé pokona mah. Moal matak kaduhung maca kumpulan carpon ieu mah. Éstuning matak resep ngagulang-gapérna. Wilujeng.

 

#RAB, 7 Januari 2019

 

===

Judul Buku: Carios Si Urat Emas

Pangarang: Godi Suwarna

Kandel buku: 139 kaca

Penerbit: Silantang (2018)

SEMBILAN TAHUN BERLALU


 

Apakabar, Papa? Lihatlah ini. Foto ini menyimpan banyak sekali kenangan ya? Foto tentang salah satu fase hidup yang mengantarkanku pada fase lainnya, pada peristiwa demi peristiwa hingga hari ini.

Anak gadis dalam foto ini sedang menyimpan banyak sekali tanya tentang makna kehilangan dan mendapatkan, tentang kesakitan dan luka yang harus dia tutupi, tentang sebuah langkah yang seharusnya dia pertimbangkan berulang kali. Usianya baru 28 tahun, tapi sepertinya dia tidak pernah siap harus mengalami kehilangan yang lebih besar dari sekadar kebebasan. Dia masih ingin menjadi anak gadis sang papa dan menemaninya kemana-mana.

Foto ini juga merekam tawa lebar Papa yang terakhir. Sebab setelah hari itu, aku tak pernah lagi melihatnya. Sebab setelahnya, bahkan untuk tersenyum saja sulit. Satu hari setelah foto ini, Papa langsung ambruk dan sakit parah.

Sebelum hari di foto itu, setiap aku menemani Papa, sering sekali tiba-tiba Papa menepikan mobil karena kram atau sakit di dada. Tapi tidak pernah sekalipun mengijinkanku mengambil alih kemudi meski aku sudah punya SIM A. Papa cuma bilang “sakitnya sebentar, nanti kita jalan lagi”. Dan aku sama sekali tak terpikir, kenapa semakin sering begitu setiap kali menyetir. Kupikir Papa hanya kelelahan. Tak pernah sekalipun terlintas Papa disergap penyakit ganas.

Bahkan saat kami semua harus memaksa Papa untuk opname, Papa bersikeras mengatakan akan segera sembuh. Ah, Papa keras kepala bahkan saat sudah jelas-jelas dinyatakan sakit.

Papa tahu tidak, bagaimana perasaanku saat dokter di Rotinsulu memanggilku ke ruangannya dan mengatakan ada tumor di paru-paru Papa? Aku sendirian menunggui di rumah sakit ketika itu, saat mama harus pulang dulu ke Cibatu. Bahkan aku mengeluarkan banyak air mata sebelum menelepon mama tentang vonis dokter, kemudian berusaha terlihat baik-baik saja demi membuat Papa tidak kaget. Aku terpaksa sedikit berbohong saat Papa bertanya “kenapa dokter panggil kamu ke ruangannya, gak bilang langsung di sini sakit Papa apa?”
Dengan hati-hati kukatakan, penyakit Papa sedikit serius, ada tumor di paru-paru Papa, tapi bisa disembuhkan kok. Papa ingat? Papa langsung marah-marah, dan langsung menyuruhku memanggil dokter untuk meminta penjelasan sebenarnya. Papa tahu, anaknya tidak pernah ahli berbohong.

Setelah akhirnya tahu kanker stadium 4 sedang menguasai tubuh, segala kemungkinan kita coba. Bahkan kita putuskan terbang ke Singapura, dan mencari alternatif lain di Mount Elizabeth Hospital. Dokter di sana lebih terus terang dan terbuka. Sebelum bicara dengan dokter, seorang perawat mengajakku bicara tentang sakit papa. Dia menjelaskan stadium kanker 1-4, serta probabilitas waktu hidup papa. Ketika kembali ke tempat duduk tunggu dan papa menanyai apa yang kami bicarakan, lagi-lagi aku berbohong, mengatakan perawat menceritakan ibunya yang kena kanker dan sudah sembuh. Padahal sesungguhnya ibu perawat sudah meninggal, meski stadium kanker ibunya baru level 2. Dia memberitahuku agar aku siap mental dengan kemungkinan terburuk dan mengatakan untuk tetap berdoa berharap mukjizat Tuhan.

Memasuki ruangan dokter adalah hal terhoror saat itu. Kang Edward Andhi Susanto​ menemani pula proses selama di Mount Elizabeth itu. Jika tidak ada sang kakak, aku tak sanggup membayangkan bagaimana menghadapi paparan dokter sendirian di negara orang. Dokternya baik ya Papa, dia menerangkan dengan detail. Tapi di sanalah aku melihat semangat Papa menguap. Mata Papa meredup saat dokter menjawab pertanyaan “how many time do I have?”, dan dokter menjawab kemungkinan medis adalah 4-5 bulan bisa bertahan hidup.

Sesaat jam seperti berhenti berdetik. Ibarat adegan gerak pelan di film, mata Papa meredup dan senyum dalam foto ini tinggal bayangan abu-abu. Kutahan air mata sekuat yang aku bisa. Kukatakan pada Papa, kita akan usahakan yang terbaik untuk berobat, kita akan mendapat mukjizat. Dokter menyarankan kita pulang ya, Pa. Katanya biaya kemoterapi di Singapura dan Indonesia sama, yang membedakan adalah biaya hidup yang akan besar jika kita bersikukuh berobat di Singapura. Lagipula, kembali ke Indonesia kita lebih dekat dengan keluarga, dan masih ada kemungkinan untuk memperpanjang waktu hidup, katanya. Ah, andai saja saat itu aku menangkap jelas dokter berusaha menyampaikan isyarat bahwa Papa tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Kembali ke Indonesia adalah ketakutan yang lain. Kita harus mengulang lagi hari panjang dan malam di rumah sakit. Serangkaian tes laboratorium yang dilakukan, selalu Papa minta diketahui aku. Aku sering kabur di jam kerja kantor untuk menemani setiap proses. Kadangkala menjagai di malam hari.

Papa ingat, suatu malam ketika kita terbaring di rumah sakit itu, Papa menyibakkan gorden yang memisahkan pasien dengan penunggunya? Aku tahu, Papa sedang mengintipku, diam-diam menatap punggung anak perempuannya. Saat aku berbalik dan memergoki, Papa sedang mengusap air mata. Aku pura-pura mengigau dan mengintip dari mata yang sedikit terbuka. Aku tidak pernah melihat Papa sesedih itu. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Papa. Ketika jejak air matanya tak ada, kubuka mataku penuh dan bertanya, “ih Papa kok bangun, ada yang mau diambilin? Kalau enggak, tidur lagi aja.”
Papa tahu, saat itu dadaku seperti ditusuk ribuan jarum. Memikirkan lagi perkataan dokter, melihat kondisi fisik Papa, melihat mata Papa yang tak lagi bersinar, sungguh mimpi terburuk yang pernah kualami. Setelah membetulkan selimut Papa dan memastikan Papa betul-betul memejamkan mata untuk tidur, aku kembali ke sofa tempatku berbaring. Gorden dibuka sedikit biar Papa bisa lihat aku, sesuai permintaan. Aku segera berbalik ke tembok dan menangis diam-diam. Kesedihan menguasaiku dengan sempurna malam itu.

Dan hari-hari setelahnya, duniaku tidak lagi sama. Aku tidak pernah betul-betul sanggup menahan air mata setiap akan menuliskan tentang Papa. Bahkan saat menulis ini, airmata itu leluasa meluncur lagi. Sekalipun Papa berpesan aku tidak boleh jadi anak cengeng, aku tak kuasa membendungnya. Tapi aku harus membuktikan semua pesan lainnya, kan Pa? Tetap mandiri dan jaga kesehatan. Semoga ya Pa, semoga aku bisa menjadi sosok kuat seperti Papa, tahan banting dalam segala persoalan.

Sudah dulu ya, Pa. Aku tak mau anakku bangun melihatku menangis. Aku harus tampil kuat di depannya kan? Seperti Papa juga yang malam itu menghapus air mata dan tak ingin aku melihatnya. Dan aku juga berdoa agar Mama diberi kesehatan dan umur panjang jauh melebihi usia Papa. Sebab kehilangan Papa saja rasa hancurnya begitu panjang.

Papa, salam rindu. Semoga Allah menyediakan tempat terbaik di sana.

21 September 2009-21 September 2018.

IMG_1461[1].JPG