#NulisRandom2017 hari ke-29


KALAU CINTA JANGAN MARAH, KALAU CINTA GENGSI PERGI (2)

 

“Kay! Kay! Bangun, Kay!” Lorna menggedor pintu kamar Kay sesubuh ini penuh kecemasan.

Kay bersungut-sungut sambil mengucek matanya. Semalam Lorna menginap di rumah Kay dan bercakap-cakap sampai tengah malam. Tentu tidur sebentar masih belumlah cukup dan kepala pusing sudah pasti sebagai akibatnya.

“Apa sih, Na, gak bisa nunggu pagian dikit? Ini masih jam 3.”

Pintu kamar Kay terbuka, wajahnya menunjukkan rasa terganggu. Tapi demi melihat Lorna yang berdiri dengan airmata nyaris tumpah dan wajah penuh kecemasan, alarm di kepala Kay langsung bekerja. Pasti soal Moe. Tak ada yang bisa membuat Lorna secemas ini.

“Moe kenapa?” Pertanyaan Kay langsung menuju sasaran.

Lorna mengekor Kay yang masuk lalu duduk di tepi tempat tidur.

“Moe masuk rumah sakit, Kay.”

“Hah? Kenapa?”

“Gak tahu. Dia gak menghubungiku sampai sekarang.”

“Lah itu tahu dia masuk rumah sakit dari siapa? Kenapa kamu belum kontak duluan sih?”

“Kamu gak ngerti, Kay. Aku gak mau kontak dia duluan kali ini. Dia juga sudah dua hari gak kontak.”

“Astaga! Bahkan dalam situasi gawat begini kamu masih saja mikir siapa yang harus lebih dulu. Moe juga keterlaluan. Kalian berdua keras kepala! Jadi gimana Moe? Sakit apa? Kenapa?” Kay memberondong Lorna dengan pertanyaan dan omelan.

Lorna tak bisa lagi menahan alir air dari matanya. Sambil sesenggukan, Lorna mulai menjelaskan.

“Moe masuk rumah sakit. Aku gak tahu kenapa. Tapi aku tahu dari instagram anaknya,” Lorna menyorongkan hpnya yang memperlihatkan sebuah akun dengan postingan foto pada Kay.

“Semoga Papa baik-baik saja. Untung Mama di sini”

Begitu bunyi keterangan yang mengiringi foto tersebut.

“Ini Diana? Pergi sama Moe?” Kay menunjuk seorang perempuan yang duduk di pinggir ranjang rumah sakit.

Lorna mengangguk.

“Moe pergi dengan anak-anaknya. Bukan dinas seperti yang dia bilang ke kamu, Kay. Aku udah tahu sebelum mereka pergi. Diana ikut juga. Kata Moe, anak-anak pengen sesekali pergi lagi liburan bersama. Aku gak mau kontak karena gak mau ganggu liburan mereka. Iya aku cemburu. Tapi lebih penting buat anak-anak kalau papanya betul-betul hadir Kay. Bukan cuma pergi bareng tapi pikirannya kemana. Aku mau nahan diri aja. Demi anak-anak, Kay.”

Kay melongo. Tak disangka Lorna berpikir seperti itu. Lorna bilang Moe sudah melamarnya. Tapi urusan dengan Diana tentu akan menyita waktu yang tak sebentar. Anak-anak mereka masih berharap orangtuanya bisa bersama lagi. Butuh waktu pula untuk memberi pengertian. Kay melihat Lorna sudah cukup sabar menanti dan memahami itu. Kay tahu, Lorna juga banyak cemburu tapi ditahan.

“Terus gimana? Moe sakit apa? Apa gak sebaiknya kamu coba kontak Moe, Na?”

“Entahlah. Semoga bukan sakit serius. Kasihan anak-anak. Harusnya senang-senang liburan, papanya malah masuk rumah sakit.”

“Apa mungkin darah tingginya kumat?” Kay bergumam.

Sepengetahuannya belakangan ini pola hidup Moe memang kurang baik. Beberapa kali Kay pergi makan bertiga dengan Lorna dan Moe dan tampaknya Moe tidak lagi pilih-pilih makanan meskipun Lorna selalu mengingatkan. Ditambah pula minggu lalu Moe lembur berhari-hari sampai malam.

“Mungkin. Kay, aku khawatir. Masa aku harus nyusul mereka? Gak enak sama anak-anak dan Diana. Nanti aku dibilang rese, gak pengertian. Tapi Moe sakit. Gimana ya?”

Kay memahami kegalauan Lorna. Jika dia dalam posisi Lorna, Kay belum tentu bisa.

Lorna terisak. Kecemasan betul-betul melandanya. Saat itu dia ingin sekali berada di samping Moe dan memastikan Moe mendapat perawatan terbaik dan mendampingi Moe sampai sembuh. Lorna ingin memeluk Moe. Membisikkan kalimat-kalimat rindu dan cintanya pada Moe. Lorna ingin Moe sehat dan menemaninya tertawa sambil bercerita seperti yang biasa mereka lakukan.

Kay menyodorkan kembali hp Lorna yang tadi dipegangnya.

“Hubungi saja.” Kay seolah membaca pikiran Lorna.

Lorna mengusap air mata dan mengambil hpnya, dan mengangguk lemah.

“Moe, kamu kenapa? Apa yang bisa kubantu dari sini? Bilang semuanya bakal baik-baik aja, Sayang.”

Akhirnya begitu bunyi pesan yang dikirim Lorna pada Moe. Lorna tak lagi bisa menahan diri. Kecemasannya sudah membuktikan sebesar apapun gengsi, tak akan bisa menang mengalahkan cinta.

***

*bersambung

 

#RAB, 29062017

#NulisRandom2017

#day29

#RAB_nulisrandom

#ceritaRAB #fiksiRAB #cerpenRAB #cerminRAB #RABbercerita lagi

 

 

Iklan

#NulisRandom2017 hari ke-28


KALAU CINTA JANGAN MARAH, KALAU CINTA GENGSI PERGI

 

“Udah lah biarin aja nanti juga nanya sendiri. Kalau gak tahan ya tanya duluan,” Kay menyikut Lorna pelan, mengubah ujung bibir Lorna semakin maju. Tidak bisa dikatakan buruk atau cantik. Muka Lorna jadi lucu jika cemberut begitu. Kay sedikit kesal, selama berkumpul dengan teman-temannya, Lorna malah tidak fokus dan sepertinya pikirannya sedang mengembara ke tempat lain.

 

Pasti Moe yang bikin Lorna begitu. Kay tak bisa menyalahkan sepenuhnya. Dia yang mengenalkan Lorna pada Moe sampai keduanya saling jatuh cinta dan malah lengket. Moe pria metroseksual yang tampak kalem. Dengan pembawaan yang tenang tapi humoris dan hangat, siapapun tentu betah berlama-lama di dekat Moe. Lorna wanita yang cenderung pemilih dan sensitif, tapi sebenarnya sangat perhatian dan selalu siap menolong teman-teman dekatnya. Hanya orang yang tidak kenal dekat dengan Lorna yang menilai ia berjarak. Lalu Moe jadi satu pria yang bisa mendekati Lorna dengan caranya, hingga mereka bisa saling membuka diri.

 

Keduanya dinaungi rasi bintang yanag sama. Ah, tapi kita tidak bisa sepenuhnya percaya ramalan semacam itu bukan? Tapi kadang kala ilmu astronomi yang menjelaskan karakter seseorang berdasarkan pengelompokan rasi bintang ada benarnya. Keduanya sama-sama keras kepala, haus perhatian, dan partner yang solid. Juga sama-sama gengsi. Meskipun menurut Lorna kadar gengsi Moe lebih besar. Yang terakhir ini sering bikin Kay kerepotan karena keluhan Lorna sering terulang. Kay selalu meyakinkan Lorna, tak ada wanita lain yang diperlakukan seistimewa itu oleh Moe, sekalipun Moe sering kumat cuek dan gengsinya.

 

Tapi hari ini rupanya Lorna sudah lelah. Penjelasan Kay tak ada yang masuk. Kay bahkan sampai harus mengirimi pesan pada Moe untuk mengalah dan menyapa Lorna. Dia paham, jika Lorna terus seperti ini, imbasnya pada pekerjaan dan berat badan yang menurun. Kay tak ingin Lorna seperti orang sakit kurang makan.

 

“Apa sih Kay? Aku kan pergi ini tugas dinas. Masa Lorna bete gitu aja? Lagian aku kirim lokasi cek in bandara aja dia gak balas. Ya sudah. Gak mau tahu juga kan dia.” Pesan Moe di hp Kay. Kay menunjukkannya pada Lorna yang langsung merah padam wajahnya.

 

“Tuh kan, apa aku bilang, Kay. Dia gak peka. Aku perjalanan jauh pulang aja dia gak nanya aku berangkat jam berapa, gimana di jalan, aku selamat apa enggak aja, dia gak nanya. Dia juga gak mau tahu. Sebel.” Lorna langsung meracau sambil merengut lagi.

Kay paham, Lorna sedang rindu berat dan butuh diperhatikan Moe. Tapi Kay juga paham, sisi lain Moe yang ujung-ujungnya akan berkata: “Aku tahu, tapi aku sibuk. Aku bilang kangen juga, nanti malah makin gak ngenakin Lorna karena gak bisa apa-apa, gak bisa ketemu.” Kalimat yang bahkan sebelum selesai diungkap juga sudah tahu ujungnya. Khas Moe. Khas pria.

“Ribet amat sih Kay nyampein soal Lorna. Kenapa gak dia sendiri aja yang ngomong langsung atau nyapa aku duluan. Gengsian amat sih dia?”

Membaca pesan ini, Kay menepuk jidatnya sendiri. Kedua sahabatnya ini betul-betul keras kepala, gengsi pula tak ada yang mau mengalah. Tapi merela saling cinta. Bukankah seharusnya kalau cinta jangan marah, kalau cinta, gengsi pergi?

Sampai acara selesai, Lorna sukses tidak tersenyum dan malah duduk di pojokan, sampai teman yang lain merasa tak enak. Kay setengah menyeret Lorna pulang lalu mengomel.

“Kalian seperti anak kecil!”

“Udah aja semua bilang begitu. Moe juga. Kamu juga. Kenapa sih semua gak ada yang mau ngertiin aku, Kay, kenapa?” jawaban Lorna sungguh drama. Ditambahi lelehan air mata di pipinya. “Aku cuma mau sesekali Moe ngerti dan ngalah duluan. Dia itu udah keterlaluan gengsinya. Aku gak tahan lagi. Dia selalu minta aku mengerti posisinya dia, tapi dia gak terima kalau aku minta kabar duluan. Dia bilang aku terlalu menuntut. Kesel aku Kay, kesel!”

Lagi-lagi Kay menepuk jidat.

“Kalian berdua bikin aku pusing. Urusanku aja masih banyak. Aku menyerah.”

Kay menatap Lorna tajam. Lorna memandang temannya balik seperti ingin berkata, “Dia sahabatmu, kamu yang kenalkan kami,” sambil tetap merengut dengan perasaan campur aduk antara kekesalan dan kerinduan pada Moe.

***

*bersambung

 

#RAB, 28062017

#NulisRandom2017

#day28

#RAB_nulisrandom

#ceritaRAB #cerminRAB #fiksiRAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-26


Jangan salahkan aku, Yazyk. Berkali kukatakan, aku tak sanggup memenuhi permintaanmu yang terlampau sulit. Kau memintaku menunggu, bukan? Berapa lama? Apa kita pernah sepakat tentang batasannya? Atau minimal kamu pernah menyebutkan sebuah angka? Kau hanya berkata “tunggulah”, dan aku akhirnya lelah.

 

Aku tahu perjuanganmu juga tak mudah. Menjadi dirimu perlu kekuatan yang lebih besar. Dan menunggumu diperlukan kesabaran yang lebih dari sekadar besar.

 

Kemarin sepertinya mimpi. Kau menemaniku menyesap kopi dan mendedahkan satu-dua persoalan. Raga kitaa bersama, tapi jiwamu entah di mana, juga hatiku tidak ada di sana. Aku bahkan tidak tahu, bagaimana kemelekatanku padamu dulu itu bisa melepuh. Di luar dugaan. Seseorang memang datang dan pergi. Jauh sebelum itu aku bahkan terlalu yakin namamu paling kuat bertahta. Bagaimana mungkin sekarang menguap begitu saja. Tapi bukan tanpa alasan, bukan? Kekacauan waktu dan prioritas yang kau buat tidak lagi mengarah pada kita.

Ya, kemarin nyatanya hanya mimpi. Nyatanya, kau masih saja mengajukan sebuah pertemuan dan aku kerap melakukan pengulangan: berkata harus menjadwalkan ulang beberapa kegiatan, berkata “lemme see what I can do”, atau mengiyakan tapi tanpa ketetapan tanggal. Aku malas mengulang pertanyaan yang sama, “sampai kapan harus menunggu?”, sementara aku sudah tak ingin menunggu.

 

Aku tidak ingkar. Kau yang abai. Aku hanya melanjutkan hidupku. Tapi aku tidak ingin melihat raut wajahmu ketika berkata selamat tinggal.

 

#RAB, 26062017

#day26

#RAB_NulisRandom

#ceritaRAB #cerminRAB #fiksiRAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-22


SURAT UNTUK ELANG
(entah yang keberapa)

Apa kabar, Lang? Masih suka mengikuti perkembangan klub sepak bola kesayanganmu kan? Bagaimana pekerjaan dan hari-harimu? Semoga segalanya baik.

Lang, aku tahu surat ini selalu harus aku terbangkan ke udara. Sebab untuk mengirimkannya padamu, butuh bermacam alasan dan pertimbangan akan berbagai kemungkinan yang timbul setelah surat-suratku sampai di alamatmu. Tapi bukankah akan selalu ada cara untuk sebuah kabar sampai padamu? Tidak peduli perlu waktu berapa lama sampai akhirnya kau membaca seluruh suratku. Seperti pertemuan kita dulu itu, takdir telah tertulis seperti itu. Takdir pulalah yang selalu membuatku mengenangnya sebagai kisah paling indah dari seluruh yang aku punya.

Ah ya, lagi-lagi aku selalu kembali ke titik awal itu, Lang. Titik di mana kita saling mengulurkan tangan dan mengucapkan nama masing-masing dengan pelan sampai tak berani saling tatap. Sore yang lembab. Halaman belakang rumah kakek dan debar yang masih bisa kurasakan hingga saat ini. Bahkan setelah 14 tahun berlalu. Konyol? Kurasa tidak, Lang. Tidak, jangan bilang aku tidak bisa melanjutkan hidupku! Aku hanya tidak memiliki kisah tandingan yang lebih indah dari itu. Meskipun bisa jadi kau bahkan sudah melupakannya. Tapi entahlah, aku percaya, kau hanya berusaha menegakkan janjimu sendiri dan menjaga apa yang sudah kamu punya sekarang ini dengan baik. Kau tidak benar-benar melupakanku. Aku berani bertaruh!
Lang, selama 14 tahun sejak kita bertemu pertama kali itu, dan setelah 13 tahun terakhir sudah tak ada lagi kata “kita” yang menyatukan, aku menjadi payah. Aku tahu tak ada yang boleh kusalahkan atau menyesali keadaan. Tapi jika suasana hatiku sedang buruk, aku kerap menyalahkanmu dan hal-hal yang (kurasa) tak pernah tuntas kita selesaikan. Sejak saat itu, aku merasa aku membuat keputusan salah, dan mengestafetkannya dengan mengambil keputusan-keputusan salah lain. Tapi semuanya tak ada yang bisa mengembalikanmu, mengembalikan “kita”. Atau bisa saja belum. Belum ada satupun kesempatan yang bisa memberi terang.

Kau tahu, Lang… Sekalipun cahayanya kecil, atau remang-remang dan nyaris redup, tapi rasa yang kupunya tidak pernah mati. Suatu hari aku menemukan seseorang, yang memenuhi daftar hal-hal yang aku inginkan dari seorang lelaki. Daftar yang pernah kubuat juga sebelum aku bertemu denganmu dan akhirnya ekspektasiku bertemu kenyataan yang manis. Tapi semua selalu tidak pernah sama, Lang. Situasi yang kita punya entah kenapa selalu terasa berbeda. Selalu tak ada yang bisa mengalahkan situasi yang hanya milik kita.

Orang-orang pernah berkata jangan terlalu menggantungkan harapan pada seseorang kalau hidupmu tak ingin jadi berantakan. Tapi aku tidak peduli, aku menyerahkan semua kepercayaan, harapan, dan seluruh hidupku padamu. Aku tidak memikirkan sebuah perpisahan. Tentu saja, kenyataan lebih pahit dari yang kita kira bukan? Aku nyaris ingin bunuh diri, aku merasa hidupku sudah berakhir dan tak memiliki lagi tujuan.

Sayangnya, sahabat-sahabatku tak membiarkanku mati begitu saja, Lang. Satu orang bahkan selalu siaga menyadarkanku setiap air mataku mulai berderai dan mataku menerawang kejauhan. Beruntung aku tidak menjadi gila karena depresi. Tapi beberapa waktu lalu, psikolog mengatakan jiwaku tertawan di masa lalu dan belum sepenuhnya merelakan kejadian-kejadian yang membekas.

Lang, menulis adalah salah satu caraku menyembuhkan diri selain berdoa. Aku mulai menuliskan apa saja, terutama mengeluarkan kekecewaan yang menyakitiku perlahan. Aku ingin menulis sebanyak mungkin, aku ingin namaku muncul di mana-mana hingga kamu tak lagi bisa menghindar untuk tidak lagi menemukan namaku bahkan dalam mesin pencari. Aku terobsesi menjadi terkenal untuk menghantuimu di manapun kamu berada. Kamu suka membaca, dan jenis bacaanmu seperti apa, itu sudah lama kutahu. Kutekadkan untuk tetap di jalur itu, sampai suatu hari kamu membaca tulisan-tulisanku dan menyadari sesuatu. Aku yakin, akan ada satu hari ketika kita bisa duduk dan membincangkan satu hal penting yang masih mengganjal. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi aku yakin, ada campur tangan Tuhan dalam kisah-kisah kita. Selalu yakin.

Tapi Lang, aku masih mengkhawatirkan satu hal. Bagaimana jika aku mati esok lusa sementara kita belum juga bertemu dan menuntaskan persoalan?

Duh, Lang… Semoga saja kita masih bisa bertemu sebelum ajal menjemput, agar bisa saling memaafkan.

Sudah dulu ya,

Forever your Ann.

#RAB, 22062017
#RAB_NulisRandom
#NulisRandom2017
#day22

#NulisRandom2017 hari ke-15


VISITASI

 

Ah, kamu sudah lupa ajakanmu sendiri kan? Menulis bersama di tempat yang sama sekali asing bagi kita.  Tinggal di kota itu beberapa lama lalu pulang dengan karya masing-masing. Tampaknya hidup begitu menyenangkan jika dibayangkan hingga titik ini. “Kita ini keren!” katamu suatu hari sambil tertawa mengingat kembali perkenalan tergesa. Kita kombinasi yang sempurna, penulis dan editor, editor yang hobi menulis, dan penulis yang bekerja sebagai editor. Kita saling melengkapi, katamu.

Lihatlah, undangan dari negara yang kau idamkan itu kini di tanganku. Seharusnya kita merayakan ini, berteriak gembira sekencang-kencangnya dari atas bukit, dan membiarkan orang-orang di bawah sana mengira kita setengah gila.

Sesal memang tidak berguna, bukan? Awal bulan depan seharusnya kita terbang ke sebuah kota di negara itu. Menyusuri setiap sudut kota semampu kita bisa, menghabiskan jatah kunjungan selama di sana. Kita seharusnya juga mewawancarai orang-orang, mengambil foto, dan mengunjungi perpustakaan sesering mungkin. Kau tentu tahu, impianmu adalah impianku juga.

Tapi Sayang, kau merusak rencana-rencana yang kau usulkan sendiri. Dan aku seharusnya tidak perlu mengunjungimu di sini sekadar mengingatkan tentang ajakanmu itu. Lagipula kini kau sudah tak bisa berbicara, diam di bawah nisan batu bersama kekasihmu itu.

 

#RAB, 15062017

#NulisRandom2017

#day15

#RAB_NulisRandom

#CerminRAB #RABberceritalagi #fiksiRAB

 

 

#NulisRandom2017 hari ke-7


KEMBALINYA YAZYK

Kemana engkau tenggelam?
Tiba-tiba timbul barisan kata:
“betapa rindu!”
“kau selalu ada dalam daftarku!”
“kapan kita bertemu?”

Putik bunga telah lama gugur
bersama harapan diam-diam kukubur
engkau tak tahu, tentu

Masih yakinkah engkau aku menunggu?
Jangan lupa, isyarat itu,

sekeranjang pertanyaan yang menamparmu
dulu itu

Telah kukatakan, aku takkan menujumu
Langkahku mengarah ke masa depan.

*Adeline

 

Yazyk tertegun. Isi surat elektronik di layar komputer di hadapannya ini sungguh mengejutkan. Seperti biasa, Adeline pandai merangkai kalimat puitis. Tapi isi surat kali ini sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Adeline harusnya menunggu. Yazyk yakin Adeline hanya bisa jatuh cinta padanya.

Tunggu. Berapa lama Adeline mengakrabkan diri dengan kata tunggu? Yazyk nyaris lupa. Selama ini segalanya tampak baik-baik saja.

“Tapi aku laki-laki. Aku yang boleh menentukan akan bagaimana jadinya aku dan dia. Lagipula bukannya Adeline sendiri bilang tak mudah jatuh cinta pada laki-laki? Dia sudah jatuh padaku, tak mungkin ada yang lain,” Yazyk bergumam sendiri dan bergulat dengan perasaannya.

Segalanya bermula saat Yazyk terpaksa menghindari Adeline. Ada masalah serius di kantor. Serentetan ancaman penculikan serta percobaan pembunuhan yang dialami Yazyk melemparkannya pada kehidupan yang berbeda.

Seminggu lalu Yazyk melihat Adeline di apotik. Dia menangkap kekagetan dan kerinduan sekaligus. Ah, Adeline tak tahu betapa Yazyk juga merindukannya dan harus mati-matian menahan diri. Semua demi kebaikan bersama. Demi keselamatan Adeline. Yazyk harus secepatnya pergi dari apotik itu sebelum Adeline menyadari obat jenis apa yang diserukan apoteker sebelumnya.

Tapi kerinduan Yazyk justru semakin meluap dan mendorongnya mengirim pesan melalui surel. Yazyk ingin bertemu dan menjelaskan banyak hal. Dan itulah jawaban Adeline yang didapat.

“Sial! Adeline tidak boleh begini! Dan ah, super sialan! Aku melewatkan jadwal konsultasiku kemarin dan besok psikiater itu malah ambil cuti panjang!” Yazyk melampiaskan marah pada layar komputer.

#RAB, 07062017
#NulisRandom2017
#day7
#RAB_NulisRandom
#ceritaRAB #RABberceritalagi #cerminRAB

 

#NulisRandom2017 hari ke-6


TIM DAN GWEN
Seperti inilah ketika percakapan siang terik itu dimulai. Kalimat-kalimat yang sudah diduga sebelumnya, tetap terlontar seperti untaian kata di surat kabar, cenderung menjemukan dengan berita yang itu-itu lagi.
“Bagaimana menjelaskan ini semua? Segala sesuatunya tak lagi bisa disamakan. Kau tahu, aku bahkan tidak ada kontak dengannya nyaris setahun.”
“Tapi apa kamu yakin kabar kemarin itu tidak mengusikmu? Tak ada yang berubah pada kita?”
Satu sama lain mengeluh lalu saling memberikan pembelaan diri yang dianggap paling mutakhir. Meskipun pada kenyataannya berputar di situ-situ saja.
Gwen perempuan yang lembut dan memang senang dimanjakan dengan kejutan manis, mendambakan lelaki alpha untuk ditaklukkan. Timmy tipe lelaki beta yang entah kenapa bisa membuat Gwen tertarik dan malah bertahan untuk tidak berpaling.
“Kamu gak bisa membandingkan kita yang belum apa-apa ini dengan aku dan dia yang sudah lebih dulu memulai. Dari awalan aja udah beda. Lagipula sekarang aku bersamamu.”
“Apa yang kamu kejar? Apa yang kamu mau? Itu aja kamu masih juga gak jelas.”
“Aku cuma mau kamu bahagia, dengan atau tanpa aku. Kita gak pernah tahu kita akan berhenti di mana, tapi selama kamu bersamaku, kupastikan segalanya akan baik-baik saja. Aku akan upayakan ini sampai berhasil.”
“Basi!”
Gwen membuang muka, lalu menunduk menekuri tegel tempatnya menjejak, menelusuri motif batik di sana dengan ujung jempol kaki yang mencuat dari sepatu-sandalnya. Waktu Timmy mengantar pulang sore itu, dia sama sekali tak menyangka akan sampai pada titik ini. Mencemburui masa lalu Timmy lalu menyerang dengan pertanyaan intimidatif yang tidak akan mengubah kenyataan saat ini. Bagaimanapun, Gwen tahu Timmy mencintainya. Tapi Timmy lebih sering bersikap tak acuh setiap kali Gwen merengek perhatian kecil yang tak biasanya dia lakukan. Sebetulnya Gwen tahu itu menyebalkan bagi Timmy. Teguran Timmy dengan mengatakan Gwen seperti anak kecil menyulut rasa cemburu yang diam-diam dipendamnya.
“Kalau saja pertemuan hari ini lebih menyenangkan, seharusnya kita sudah merayakannya,” Timmy meraih tangan Gwen, menyisipkan jemari kirinya ke jemari kanan Gwen. Seketika Gwen merasakan desiran aneh seperti saat pertama kali mereka mengikat janji.
“Apa kamu masih yakin denganku, Tim?”
“Pertanyaan konyol macam apa itu? Tentu saja. Aku akan jaga kamu terus. Menikahlah denganku!” Timmy mengacak rambut Gwen.
“Apa? Tim, Lelaki macam apa kamu? Lamaran yang tidak romantis!” Gwen pura-pura kesal. Matanya berbinar-binar.
#RAB, 06062017
#NulisRandom2017
#day6
#RAB_NulisRandom
#RABberceritalagi #cerminRAB #nulisceritaromantisternyatasusah 😬

#NulisRandom2017 hari ke-4


LIHAT SAJA NANTI (2)
 
“Aku baru baca isi kotak pesanku setelah sekian lama. Messenger emang settingannyabegitu kan, kalau gak berteman gak bisa baca pesan dari orang itu?”
Dia kembali mengenang awal pertemuan dengannya.
“Iya. Lalu setelah itu kamu malah sulit mengendalikan perasaan bukan? Aku pikir aku juga akan merasa sama setelah Elang menyapaku lagi kemarin itu.”
Entah ada angin apa, sudah lama nama itu baru muncul lagi dalam percakapan mereka. Nama yang dianggap seperti hantu. Sosok yang berada di tengah kenyataan dan impian. Lalu perasaan semacam rindu menyeruak di antara rasa yang sedang dialami saat ini, menambah sesak isi kepala.
“Aku pikir kita bisa memulai lagi dari awal. Aku akan pergi dari rumah.”
“Kau yakin? Betul-betul yakin?”
 
Lagi-lagi tarikan napas dan embusan yang sama beratnya. Selalu terasa ada beban berkilo-kilo setiap percakapan mereka menginjak bahasan yang sama.
 
“Mereka mungkin akan bertanya mengapa aku pergi dan berpisah. Itu yang selalu kupikir gak bisa melakukan ini dengan cepat. Aku gak mau gegabah.”
“Tapi kau justru menyiksa dirimu sendiri dan membiarkan dia mengira kau masih merasakan hal yang sama seperti dulu dan semuanya baik-baik saja. Apa kamu pikir dengan begitu, kamu bisa memalsukan kebahagiaan?”
Pertanyaan yang tidak segera terjawab. Di meja kayu, pelayan baru saja meletakkan pesanan kedua mereka: seloyang pizza tipis-kering, sepoci teh sereh, dan garlic cheese bread sebagai bonus. Mereka berdua cukup sering datang ke tempat ini, berlama-lama di sudut kafe yang menghadap ke taman belakang dekat pembatas kaca yang dialiri air. Di sisi temboknya, ujung daun tanaman Ivy menjuntai nyaris menyentuh tanah. Itu adalah pojok favorit mereka di tempat ini. Pelayan yang sudah hapal kebiasaan mereka selalu menyambut dengan senyum lebar dan langsung memandu ke bagian kesukaan mereka. Jika saat tiba di tempat itu kursi sedang terisi, pelayan akan menunjukkan meja dan kursi kayu tak berpelitur yang menghadap ke jalan raya, sebelum akhirnya pojok favorit mereka kosong lalu pindah tempat ke sana.
“Aku selalu jatuh cinta dengan tempat ini. Seperti kekasih yang setia menungguku kembali dari petualangan-petualangan yang kulakukan. “
“Aku juga. Selalu merindukan saat seperti ini di sini. Suasana hati kacau pun jadi lebih nyaman kalau sudah di sini.”
Pembicaraan teralihkan. Mereka membahas kekonyolan pertama ketika berboncengan menuju kantor temannya untuk satu urusan dan mengambil jalan tikus karena menghindari polisi, lalu tanpa sengaja menemukan tempat ini. Kekonyolan berikutnya adalah memesan tiga jenis makanan lalu membatalkannya dan hanya memesan segelas teh manis untuk berdua karena yang satu dompetnya tertinggal, satunya lagi lupa bahwa hari itu dia belum mengambil uang dan hanya tersisa sepuluh ribu di dompet.
“Kamu ingat itu? Hahaha… Bodoh benar kita ini. Bahkan sampai sekarang.”
“Kita? Kamu aja kali…”
“Lho ya iya dong. Kamu bodoh, masih saja menyimpan Elang di hati kamu setelah bertahun-tahun.”
 
“Kamu yang bodoh tetap bertahan dengan kehidupanmu sekarang dan berpura-pura gak ada masalah. Aku sih berani bilang aku gak bahagia lalu memilih berbahagia dengan caraku sendiri dengan menunggu waktu yang tepat lalu melanjutkan hidup. Ah, come on… Kamu bahkan masih sering pergi dengan dia dan tampak bersenang-senang menikmatinya.”
“Hatiku gak sepenuhnya sekalipun sedang bersama.”
Are we talking about bullshit here? Kamu gak bisa ambil keputusan dan selalu bilang…”
“Lihat saja nanti.”
See? Kata-kata itu sudah di ujung lidah, siap meluncur kapan saja.”
 
*bersambung
 
 
#RAB, 04062017
#NulisRandom2017
#day4
#RAB_NulisRandom
#ceritaRAB #RABberceritalagi

#NulisRandom2017 hari ke-3


LIHAT SAJA NANTI

“Bagaimana kita ini?”
Tak ada kerling seperti biasa lagi. Tatapan tajam yang mengiringi pertanyaan adalah tanda serius.
“Entah. Kita tunggu waktu.”
Embusan napas keras menyertai. Sebuah gelengan. Melirik. Tatapan tak berdaya.

Hening sekejap. Hanya lirik lagu Pilih Saja Aku dari Petra Sihombing mengalun merdu. Pertanyaan tentang bahagia dan ajakan memilih terdengar seolah menusuk tajam gendang telinga. Itu memang hanya lirik lagu. Tapi keduanya sedang menekuri garis di meja kayu dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Bukankah kamu dulu begitu antusias dan bilang hidupmu perlu suasana baru?”
Kalimat kedua. Masih menohok.

“Tapi aku tidak menyangka jadi begini. Aku berat pada banyak pertimbangan.”
Jawaban mengambang seperti perahu kertas yang dilayarkan anak kecil di selokan.

“Katakan padaku, apa artinya setiap kegembiraan yang kamu bagi, jika jadi begini?”
Pertanyaan ketiga. Tidak terdengar ingin berhenti.

“Tidak tahu. Benar-benar bingung harus gimana.”
Lagi-lagi tarikan napas panjang dan embusan keras.

Musik masih mengalun. Berganti lagu. Kemerduan suara Gloria Jessica menyuarakan Dia Tak Cinta Kamu mulai mengusik:
“Jangan diharap lagi, jangan diingat lagi.
Jangan memaksakan dengan dia lagi.
Coba lihat yang lain, ada cinta yang lain.
Ada yang diam-diam mencintaimu”

Mereka saling menatap. Percakapan di kepala masing-masing seperti sedang berlomba mengeluarkan diri menuju mulut dan terlontar bersamaan.

“Bagaimana kalau kita ngopi saja?”
Sepasang senyum tawar menghiasi bibir mereka. Ada rasa takut di dada masing-masing setelah menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Rasa takut yang berbeda tapi sekaligus sama. Ketidak siapan keduanya menghadapi kenyataan yang lebih pahit dari kopi yang ingin mereka minum bersama.

“Kita lihat saja nanti.”
Lagi-lagi mereka mengucapkan kalimat yang persis sama berbarengan.

“Tapi aku mencintainya. Aku tidak yakin bisa hidup tanda dia.”

Tatapan heran mewakili pertanyaan: apa-kamu-yakin-dengan-ucapanmu?

*bersambung

#RAB, 03062017
#NulisRandom2017
#day3
#RAB_NulisRandom
#ceritaRAB #RABberceritalagi

#30daysRABwriting (30)


DI BALIK PINTU APARTEMEN

 

          Apa yang akan kamu lakukan jika orang terdekatmu justru tidak mendukung pilihanmu dan menyarankan pilihan lain yang tidak kau sukai sama sekali, atau  tak ada rasa klik di hatimu untuk melakukan hal itu? 

Kinan memandang lekat-lekat sebuah tulisan di beranda medsos Rora.

Tak ada maksud menyakiti hati Rora atau mengusik pilihan hidupnya sama sekali, Kinan hanya mengingatkan. Pertunangan Rora dengan Kevin menuai banyak pertentangan. Kinan hanya memberikan sedikit komentar atas polemik yang terjadi. Kevin figur publik, penyanyi papan atas. Rora dianggap seseorang dari dunia antah berantah yang tak mungkin hadir dalam kehidupan Kevin, apalagi bisa menguasai hatinya. Begitu yang orang-orang pikirkan tentang Rora, perempuan cantik dan sederhana penjaga perpustakaan. Memang seperti kisah-kisah dalam dongeng 1001 malam, tokoh malang atau miskin dijatuhi cinta oleh pangeran atau puteri jelita lalu menikah dan mereka berbahagia selama-lamanya.

“Kamu hanya iri, Kin. Kevin terlalu baik untuk kamu tuduh hanya memanfaatkanku demi menutupi rumor yang beredar.”

“Tapi Kevin gay, Ra. Percayalah padaku!” Setengah berteriak Kinan terpaksa mengeluarkan kalimat itu agar Rora percaya.

Rora bergeming.

“Dia sudah menciumku semalam, dan aku cukup bisa menilai dia gay atau tidak.”

“Aku tahu lebih dari itu….” kalimat Kinan terputus. Ketukan di pintu apartemen Rora menghentikan perdebatan. Kevin muncul dengan mimik muka bertanya,  menatap Kinan dan Rora bergantian.

“Aku pulang, Ra, kapan-kapan aku mampir lagi. Ingat, pembicaraan kita belum selesai.”

Rora mengangguk lemah menatap Kinan yang pergi dan Kevin yang lalu masuk dan merentangkan tangan memberikannya pelukan. Kinan menatap mereka sekali lagi lalu menutup pintu.

Kinan mengembuskan napas panjang dan berat. Bagaimana dia harus menjelaskan ini pada Rora? Apa mungkin Rora percaya, bahwa suatu kali dalam hidupnya, ia pernah menyaksikan Kevin berada di panggung yang sama dengannya. Hanya berselang beberapa menit setelah penampilan Kinan sang ratu panggung di klab, malam itu juga Kevin meliuk-liukkan tubuh berototnya di hadapan perempuan paruh baya dengan dandanan menor dan baju seksi, bergiliran dengan pria kekar bertatto naga di lengan yang berdiri dekat tiang pole dancing. Bagaimana Kinan menjelaskan kehidupan dirinya yang lain pada Rora, sekaligus juga membuka sisi gelap Kevin yang tak diketahui Rora?

 

(bersambung)

 

#RAB, 30102016

 

==============

Yeay! #30daysRABwriting -nya akhirnya menginjak hari terakhir. Itu artinya target membuat 30 tulisan selama satu bulan selesai sudah, ditutup dengan sebuah kisah yang “menggantung”. Meski otak saya masih ingin liar merangkai kata demi kata menamatkan cerita ini, sayangnya harus bercabang karena setumpuk pakaian yang belum disetrika dan anak yang panas demamnya naik lagi (emak-emak banget ya alasannya?).
Pelajaran untuk saya, komitmen 30 hari ini ternyata bisa diselesaikan dan mungkin bulan depan bisa diaplikasikan untuk menyelesaikan pekerjaan lain, seperti tesis misalnya (ke situ lagiiii….hiks), kumpulan puisi atau cerpen, atau sekalian saja sebuah naskah novel. Kita lihat nanti ya, ada apa di bulan November 😉 *tring

Semoga tulisan-tulisan dalam #30daysRABwriting yang diposting di blog ini bisa memberikan inspirasi untuk siapa saja. Selain mendokumentasikan ide-ide yang menari di kepala, ini juga terutama untuk memicu diri saya sendiri agar tak pernah berhenti menulis.

Seperti yang selalu saya yakini, setiap naskah akan menemukan jalannya sendiri. Begitupun beberapa puisi, fikmin basa Sunda, catatan harian, dan cerpen yang tak selesai dalam #30daysRABwriting ini akan menemukan “nasib”nya masing-masing.

Terima kasih sudah membaca, tetaplah berbahagia!

 

ttd
RAB_penulis kece ^_^ :8