DISKUSI ISTIMEWA


 

Minggu 14 Juli 2019 diagendakan diskusi buku kumpulan puisi “Sebelas Hari Istimewa” (SHI) di Don Quixote Coffee&Books. Rencana pukul 15.00 molor karena Yogya sedang macet parah, dan lokasi acara masih ditempa terik matahari, meskipun beberapa orang sudah berkumpul.

Saya sendiri tiba lewat dari pukul 15.00 setelah “disasarkan” oleh google map yang membawa kami ke jalan memutar dan berada di jalan yang tak meyakinkan. Sesampainya di sana sudah ada Yopi Setia Umbara, keluarga Penerbit Jbs Indrian Koto – Mutia Sukma beserta anak-anaknya, moderator Olive, penyair Irwan Segara, dan beberapa teman lain.

Sembari menunggu teduh, kami berbincang ringan, tak lama datang pula Zelfeni Wimra – Fitra Yanti bersama anaknya serta beberapa orang lagi yang saya belum kenal. Kejutan lain datang dari Kak Aprila Wayar, jurnalis&penulis Papua yang sedang berada di Yogya. Tak janjian sebelumnya, Kak April sukses membuat saya terpekik girang sebab terakhir jumpa tahun 2013. Di akhir acara kami barter buku karya terbaru.

Lebih dari pukul empat sore acara dibuka, dipandu Olive sebagai moderator dan Irwan Segara sebagai pembahas.

Diskusi cukup interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta yang hadir. Menarik pula bagaimana Irwan bisa membuat saya tak bisa mengontrol rasa haru ketika membahas puisi di bab Belanda, apalagi dia membacakan puisi persembahan saya untuk mendiang Papa dan Oma. Bahasan Irwan yang mempertanyakan benang merah antara judul dan isi di puisi Penanda Waktu, adalah salah satu yang mesti dikonfirmasikan. Selanjutnya Olive bertanya apa satu kata yang membuat editor buku SHI, Mas Kurnia Effendi, menghitung 12 kata yang sama dalam beberapa puisi dan bagaimana proses “perdebatan”nya sampai pada keputusan akhir. 

Selain Irwan, salah satu peserta lain menganggap puisi di bab Belanda lebih menunjukkan keterlibatan perasaan penulis dibanding puisi-puisi di bab lain. Tentu perlu saya konfirmasikan pula mengapa bisa terjadi demikian.

Ada pula peserta yang bertanya pesan moral dari puisi. Diungkapkannya bahwa seperti diajarkan di sekolah sejak SD hingga kuliah, selalu para guru menyuruh siswanya mencari pesan moral dari sebuah tulisan.

Kekaguman, keterpesonaan penulis pada hal-hal baru yang ditemui dalam beberapa puisi juga jadi sorotan bagaimana puisi tersebut terkesan sebagai pandangan mata. Tentu saja saya utarakan bahwa buku ini melalui rentang waktu yang singkat dan ditujukan sebagai dokumentasi awal, sebelum saya keburu lupa menuliskan kesan-kesan yang berebut tempat di kepala. Dan nuansa bahagia memang sengaja dihadirkan demi menarik pula hal-hal positif ke dalam kehidupan saya dan orang-orang yang membacanya, sekaligus mewakili perasaan bahagia selama melakukan kunjungan ke beberapa kota di Eropa tersebut. Saya tak ingin terlalu banyak mengunggah duka lara seperti puisi-puisi di buku sebelumnya yang terkesan sendu. Maka saya katakan masih akan ada puisi lain yang melalui proses pengendapan dan perenungan setelah berjarak cukup lama. Semoga. Insyaallah. 

Menjelang acara ditutup, Mbak Heti Palestina Yunani muncul. Kesalahan melihat nama stasiun keberangkatan membuatnya ketinggalan kereta dan beruntung dapat tiket lain yang batal. Jurnalis dan art manager ini jauh-jauh datang dari Surabaya demi hari istimewa saya, meski terpaksa jadi terlambat tiba. Ah, mbakyu yang satu itu memang istimewa. Arinda Risa Kamal yang terakhir jumpa di Tasik ternyata juga sedang betah di Yogya dan kami pun bernostalgia tentang proses kreatif saat aktif di Sanggar Sastra Tasik. Mbak Evi Idawati tak bisa hadir, karena mesti mengajar anak-anak kecil berpuisi, tetapi tetap mengutus putri cantiknya untuk datang ke acara.

Pertanyaan dan diskusi tentang hal lain terkait puisi-puisi yang disusun dalam SHI melahirkan gelak tawa dan canda yang menghangatkan sore itu di antara gelas-gelas kopi yang diedarkan. Cuaca Yogya hingga malam masih cerah meski tidak terlalu gerah seperti biasanya.

Alhasil, hari Minggu saya terasa istimewa bersama orang istimewa dan teman-teman istimewa, berbincang tentang Sebelas Hari Istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Hari Minggu saya penuh cinta. Penuh kejutan. Penuh keharuan. Bahagia yang istimewa. Terima kasih untuk kalian semua. Pemilik tempat, penyelenggara acara, teman-teman yang hadir dan berbagi waktu istimewanya. Semoga pertemuan kita melahirkan kenangan istimewa.

#RAB, 1507209

Iklan

Peluncuran & Diskusi Buku


img_51941.png

 

Peluncuran & Diskusi Buku

SEBELAS HARI ISTIMEWA
Kumpulan Puisi-Puisi Perjalanan
Karya Ratna Ayu Budhiarti (@ratnaayu_b)

Pembahas
Irwan Segara (@irwansegara), penyair

Moderator
Olive Hateem (@olivehateem)

Minggu, 14 Juli 2019
Pukul 15.00-17.00 WIB

Don Quixote & Co. Coffe & Book
Jalan Kenanga 6, Kentungan
Condongcatur, Depok, Sleman
Yogyakarta *Gratis secangkir kopi Don Quixote & Co. untuk 20 peserta pertama

Didukung oleh
@jualbukusastra
@donquixoteandco
@balabuku

#SHI_RAB #SebelasHariIstimewa #ratnaayubudhiarti #puisiIndonesia

DARI LA LA LAND KE NETHERLAND


EIUG5170[1].JPG
 
Pernah nonton film La La Land? Film yang dibintangi Ryan Gosling dan Emma Stone itu (menurut saya) bikin penonton bahagia. Meskipun akhir kisahnya menunjukkan bahwa cinta tak selalu berakhir seperti yang diharapkan, tapi kita bisa memilih untuk bahagia dengan cara masing-masing. Sepanjang film, mata kita disuguhi permainan warna cerah, bahkan hingga sekarang saya masih mengidamkan gaun warna kuning yang dipakai Emma. Aransemen musik yang apik, akting para pemain, dan keseluruhan cerita bikin dada terasa penuh dan bahagia. Sejauh ini, dari sedikit film yang bisa saya nikmati, La La Land adalah film yang membuat saya merasa bahagia. Semoga Anda juga.
 
Bicara topik lain, tentang sebuah buku. Terutama buku saya sendiri, memang jauh dari sempurna dan masih perlu banyak perbaikan di sini dan di sana. Rangkaian kata yang saya pilih, masih seputar itu, tidak bisa melompat-lompat atau bikin sesuatu yang fenomenal. Masih sangat sederhana. Dari buku-buku sebelumnya, saya memelihara kenangan dan menjadikan luka sebagai bahan bakar. Tak pelak, hal itu jelas terbaca dari sejumlah puisi yang penuh emosi, ngungun dan sedih. Tapi buat sebagian orang, puisi tentang luka atau cinta yang tak sampai justru malah digemari.
 
Pada Sebelas Hari Istimewa, saya ingin menuliskan sesuatu yang berbeda. Saya menggali perasaan positif dan “persediaan kebahagiaan” supaya apa yang saya tuliskan tidak melulu menyuguhkan duka. Ada kerinduan dan kecemburuan. Ada perenungan dan kekhawatiran. Iya, masih ada. Tidak bisa saya kesampingkan. Tapi sesedikit mungkin saya eliminasi.
 
Maka, jika Anda merasa bahagia dan penuh cinta setelah tamat membacanya, itulah harapan saya. Saya menuliskan kesan-kesan selama perjalanan. Sejak Roma hingga Amsterdam. Saya tak mungkin membandingkan kisah di film La La Land dengan “pencarian” saya sampai Netherland. Barangkali terlalu muluk. Tapi saya ingin perasaan bahagia saat menonton La La Land juga bisa seperti membaca Sebelas Hari Istimewa.
 
Boleh kan berharap?
 
Selamat datang bulan Juli. Sebentar lagi ada kabar istimewa. Mari berharap segalanya lancar dan terlaksana dengan gembira.
#RAB, 01072019

Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan


Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan, 18 Maret 2019FDCR7968[1]

PARIS MALAM HARI

 

J e t’aime!

Cahaya lampu di tubuh menara

memutar irama imajinasi untuk berdansa.

Kantuk yang menyerang tiba-tiba,

dilumat ciuman angin Februari yang dingin.

 

Mari duduk di sini, di sebelahku.

Dari sudut di Champ de Mars

di tepi sungai Seine

kita tangkap kerlip lampu satu-satu

ke dalam kotak harta karun.

Suatu hari, jangan biarkan siapa pun membukanya

 

Orang-orang saling berpegangan tangan,

menikmati malam puitis di Paris

 

Engkau duduk di sebelah mana, Gustave Eiffel*?

Lihatlah kini menara itu memendarkan cahaya sukacita

meski berkali-kali kepentingan politik

dan bencana ingin menghancurkannya.

 

#RAB, 2018-2019

* Gustave Eiffel          : arsitek yang merancang Menara Eiffel

 

 

 

 

SELEMBAR POTRET

 

Jika kukirim lagi

selembar potret padamu

bergambar patung kerbau,

rumput hijau, dan puncak stupa borobudur di atasnya,

bisakah kau dengar kecemasan

yang ngalir dari suaraku

saat memintamu mengabadikan peristiwa?

 

Kita telah ditautkan kenangan

dan memintal mantel hangat untuk musim dingin

pada jarak yang ditabahkan takdir.

 

Masa kini akan jadi lampau juga akhirnya.

Tapi matamu menyihir relief-relief di candi,

mengisahkan apa saja yang tak sempat

diucapkan para penafsir.

 

Sejarah telah tercipta dari pelawat dunia,

sedang angin dan gerimis tipis di kota itu

lesap ke dalam gambar di dalam potret.

 

Di buku harianmu,

tercatat kitab-kitab purba

yang kita baca bersama.

 

#RAB, 2018

 

 

KITA AKAN BERPISAH

 

Setelah Volendam dan kesiur angin laut
negeri leluhur,
kutemukan bayang-bayang senyum Oma
di demo pembuatan keju,
klompen raksasa dan kincir angin.

Derai tawa teman perjalanan
dan hangat kebersamaan
menggenapi bahagia musim dingin
Februari kali ini.

Tapi kita akan berpisah, kawan.
Di Schiphol roda koper berputar 180°
menuju tanah air dan menu makanan

dengan banyak vetsin.

 

Ya,
telah kita sesap udara Eropa berhari-hari.
Kelak, semoga kita bertualang bersama lagi.

#RAB, 2018

 

BOLEHKAH AKU BERDOA?

 

1

Di St Peter’s Basillica,

bulan kedua tahun ini benar istimewa.

Peradaban silam memenjarakan mataku

pada setiap  ukiran, patung dan

lukisan Michaelangelo.

 

Kujumpai tubuh Paus dalam baluran balsam,

deretan kursi tempat orang-orang

berdoa meminta apa saja,

kotak pengakuan dosa, juga salib di mana-mana.

 

2

Sebuah pintu suci di tembok katedral,

menyimpan kotak berisi dokumen,

kunci-kunci, dan medali,

sabar menunggu 15 tahun untuk dibuka.

 

— Berapa tahun Tuhan kelak membuka pintu surga? —

 

3

Pada pintu rahasia lain di katedral ini,

kubayangkan sebuah lorong memanjang di baliknya

diterangi temaram obor, dentang genta di kejauhan.

 

Kususuri ruangan demi ruangan,

sambil memikirkan

bagaimana Michaelangelo dan kawan-kawan

membuat keputusan

lukisan apa sesuai kepantasan.

 

4

Tuhan begitu Agung, Kudus, dan tetap Esa.

Aku adalah pendosa yang sedang

mengagumi karya seniman dunia

di hari ulang tahunku.

 

Di depan altar aku terhenti.

Jika Tuhanku juga sama, di sini

bolehkah aku berdoa?

 

#RAB, 2018-2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di BasaBasi.co


IMG_E8081[1]

KISAH SARAPAN PAGI

 

 

Kau tahu, bagaimana sepi melulu mencoba bertamu,

Tapi ketika sampai di pintu, ia malu-malu menampakkan diri

Barangkali ia enggan.

 

Melihat wajahmu pun daun-daun di pohon

Bahkan lupa cara menjadi tempat bernaung,

Keteduhan gagal melekat di sulur-sulurnya

 

Sementara di sini, di meja yang penuh kisah

Nastar cake dan cinnamon roll

Berlomba menceritakan petualangan

Menuju lambungmu

 

Masuk ke tubuhmu, kata mereka,

Adalah dengus napas, decak gembira, sesekali sendawa

 

Jarak ke hatimu mungkin tinggal sejengkal sampai

Tapi detak jantung memantul-mantul pada dada

Beberapa nama digumamkan,

Banyak dari masa lalu, satu dua masih menyangkut di masa kini

Daftar nama itu dimuntahkan oleh lidahmu pula sesekali

 

“Apa peduliku?”

Segelas air hangat segera menenggelamkan rasa pahit

Yang bukan dari kopi

 

Ini buku lama yang kubarukan, jawabku.

Biar saja kubaca pelan dari halaman pertama

Demi debar petualangan sejak awal, akan kuselesaikan sampai akhir

 

Kau tahu, lagi-lagi sepi melulu bertamu

Tapi ia hanya berdiri di pintu

 

Melihat rumah hatiku yang penuh,

Ia tak sanggup masuk, dan kerap pergi dengan kekalahan

 

Sedang kita, cukuplah berbagi

Masa, saling menyesap manis-pahit rindu dari cangkir latte itu berdua

 

Berdua.

 

#RAB, Bandung, 2018

 

LELAKI KOPI

 

Ia, lelaki yang muncul

Ketika senja enggan tiba

Menemani makan malam yang ramai kata-kata

Pada pesta di Utara sana

 

Uar aroma kopi menyeruak dari telapak tangannya

Yang terbuka pada jumpa pertama

 

Ia, lelaki yang lewat suaranya

Mengabarkan sejumlah detik yang terserak

Saat menunggu sebuah pertemuan

 

Di meja bundar, akhirnya ia, lelaki itu

Menating secangkir kopi

Dan menyerahkan matanya

Untukku membaca hal-hal baru

Semacam ketabahan

 

Ditingkah Sasando dan alunan lagu The Reason,

Perjalanan Cheng Ho, Yi Jing, dan Wallace,

sampai pula ke masa kini setelah abad-abad

lampau diabadikan catatan para peneliti

 

Ia, lelaki yang menjauhkan diri dari gerimis

yang kuyup di jantungku,

Merekam percakapan dalam

catatan purba

 

Katanya, “tidak semua relief bisa dibaca,

juga yang ini.”

 

Jarinya menunjuk dada imajinasi.

 

#RAB, Yogya-Magelang, 2018

 

 

DARI TEPI JEMBATAN DOMPAK

 

Kubayangkan di tepi jembatan ini,

Engkau memanggil-manggil masa lalu

dari tanah Melayu

 

Kubayangkan suatu hari engkau menceritakan kembali

Perjalananmu saat menyusuri tepi pantai

Mengumpulkan banyak risalah

Nenek moyang yang mengalirkan darah di tubuhmu

 

Amis laut, hangat kota, nona-nona:

Begitu isi suratmu padaku ribuan purnama lalu

 

Kemudian aku menyisiri kota ini dengan puisi

Mencari apa saja yang masih tertinggal

Di makam raja-raja, di reruntuhan tembok istana,

Di tepi bandar Sungai Carang, tempatmu mungkin bertolak di sana

Hingga ke jembatan yang menghubungkan ingatanku padamu

 

Tetapi bahkan saat kutelisik cangkang gonggong,

Dan ketam menyerah dalam sepakat rempah,

Aku menjumpai sisa nyeri dari peperangan

batin dan harapan yang ditambatkan kenyataan

 

Seperti begitu sejarah sudah ditakdirkan

Lahir karena perjumpaan

Sekaligus untuk mengantarkan perpisahan

Pada perjumpaan lainnya.

 

#RAB, Tanjung Pinang, 2018

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019


Puisi-puisi yang dimuat di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019

 

APA YANG TERSISA

 

Telah kuarsipkan album-album itu

Sebab perjalanan masa lalu

Harus kujadikan rambu

 

Barangkali sesekali kau

Jumpai sisa senyum di alun-alun

Tempat kita berbagi hujan

Dan mendebatkan persimpangan

— aku, kau, memilih berbeda

 

 

Kukemasi patahan hati

Beberapa jadi kayu bakar

Untuk menjerang cita-cita,

Mematangkan pengalaman

 

Kehilangan waktu menunggu,

Langkah kuseret melaju.

 

Pagi haru, pagi baru,

Doa mengangkasa.

 

#RAB, 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

DERUNG 

 

Derung gelisah bersambutan

Di gua kepala yang hilang cahya

 

Lupa, bagaimana

Reranting doa

Mengantarkan kita berkelana

 

Di sini sepi,

Bertikai tawa

Meraja

 

Pernahkah engkau cemburu

Pada waktu, pada masa lalu,

Pada seseorang di sebelah yang sibuk

mendoakanmu?

 

#RAB, 2019

#NulisRandom2017 hari ke-24


PENGINGAT

Lalu aku berkali-kali jatuh:

sebab Engkau memberi banyak;
aku mengambilnya sedikit

kerap lupa bahwa Engkau Segala Ada dan aku tiada setitik pun

Dimabuk dunia dimanjakan suka-suka
Satu bulan diberi kesempatan, apa sudah mahir
menunjukkan ketaatan?

Lalu aku berkali-kali jatuh

Engkau selalu membantuku berdiri dan berjalan lagi
Lantas sudah cukupkah aku berterima kasih?

Duh, diri, betapa kerdil.
Betapa kerdil.

#RAB, 24062017
#PuisiRAB

#NulisRandom2017
#day24
#RAB_NulisRandom

#NulisRandom2017 hari ke-21


HATIKU TAK BERPINTU (2)

Hatiku tak berpintu
tidak ada ruang untuk menerima tamu*

Tapi kau kepala batu, tak peduli apa kataku
Entah bagaimana caranya
Kau sudah diam di ruang paling rahasia
tempatku menyembunyikan rasa

Lewat celah mana engkau masuk?
Adamu membuatku mabuk
Bahkan nyaris tanpa mengetuk

Siapa engkau ini?
Berani mematrikan diri
Tanpa izin sama sekali.

Hatiku tak berpintu
Tapi rumahku bertuliskan namamu.

 

#RAB,21062017

#NulisRandom2017
#day21
#RAB_NulisRandom

*penggalan baris puisi Hatiku Tak Berpintu_RAB

 

#NulisRAndom2017 hari ke-19


BUKAN SAJAK JATUH CINTA

Bahkan ada hari di mana aku ingin menganggit bintang-bintang
Menyematkannya di dadamu bersama sepasang lengan

Yang selalu siap terentang menerima kepulanganmu

 

Bahkan ada hari di mana aku ingin menghias ruang tamu,
mengecat pintu, membersihkan jendela,
dan menyemprotkan parfum kesukaanmu
di belakang telingaku

Juga ada hari-hari ketika aku kehilangan banyak kata,
hanya diam mengamati kerut-kerut di wajahmu,
membayangkan saat kita bersisian
saling pandang, bertukar banyak hal
dan menitipkan sentuhan

Ada lebih banyak hari saat kita menyibukkan diri
dengan ragam persoalan lalu saling melontarkan kekesalan
mencabik seluruh cerita yang susah payah dibangun

Tapi bahkan aku selalu tidak pernah menemukan alasan
Bagaimana hari-hariku jika tanpamu
Sebab sejak itu, satu kecemasan selalu mengantar kita
pada tekad saling menguatkan.

#RAB, 19062017
#NulisRandom2017

#RAB_NulisRandom
#puisiRAB

#NulisRandom2017 hari ke-16


LIHAT BETAPA KITA SUDAH TERGANTUNG!

bahkan sajian di meja makan pun

tidak lagi hanya seperangkat alat makan

lauk pauk 4 sehat 5 sempurna dengan segelas susu

 

ada telepon pintar

merekam percakapan yang jauh jadi dekat

yang dekat jadi jauh

bahkan jadi ritual

foto-unggah-makan

atau cekikian bersama seseorang di seberang

dan orang di sebelah atau sekumpulan itu

hanya menjadi patung;

sama-sama memandangi sang telepon pintar lebih mesra.

 

#RAB, 16062017

#NulisRandom2017

#day16