APA ISI TASMU? (Part 1)


EABE010B-9920-45DA-A98F-F3143BE11A46.jpeg

APA ISI TASMU? (Part 1)

Ngobrol santai ya, kawan.

Saya suka heran (terutama)melihat cewek-cewek yang ke mana-mana bawa tas tangan kecil banget. Kayaknya isinya cuma uang dan hp.  Saya sih mana bisa begitu. Kalau pergi-pergi, minimal barang yang harus saya bawa adalah notes kecil&pulpen (siap sedia jika ada ide atau harus mencatat sesuatu), buku bacaan (biar gak kesal menunggu), dompet, hp, powerbank, kabel charger, hand sanitizer, lotion, sabun kecil. Kadangkala kalau pergi jauh meskipun diniatkan ulang-alik, isi tas ditambah minimal satu baju ganti. Plus handuk kecil.

Kebiasaan begini berguna saat “darurat”, harus ganti baju karena kehujanan, ketumpahan makanan, atau saat impulsif memutuskan menginap. 

Nah, kalau pakai tas imut begitu, “survival kit”nya ditaruh di mana?

Mau tahu juga dong, kalian lelaki gimana? Terus kalian yang perempuan, apa isi tas yang harus selalu ada?

*foto dari internet

#RAB, 12072019

Iklan

Dimuat di Bali Post Minggu, 8 Desember 2013


PEREMPUAN YANG BERHENTI MEMBACA

Pagi itu sudah kesekian kali tubuhnya menggigil. Kepalanya dicengkeram sakit luar biasa yang sangat aneh. Tidak. Bukan terasa berputar-putar seperti iklan obat sakit kepala itu. Barangkali seperti ditusuki ribuan jarum. Ah, tidak juga. Mungkin lebih mirip dipukul-pukul oleh rasa sunyi yang kerap kali menyambangi pada malam sepi, setiap dia terbangun dari mimpi. Rasa sakit yang aneh, yang tak pernah dia tahu sebabnya apa dan dari mana datangnya.

Ramaniya pergi ke dapur, mencoba menenangkan diri dengan menyeduh kopi. Dua sendok teh kopi meluncur ke cangkir mungil, lalu dia menyeduhnya. Tanpa gula. Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini membuatnya kecanduan. Lebih tepatnya, membuat lambungnya terasa lebih baik ketimbang meminum kopi dengan campuran gula.

Selintas diliriknya sepotong coklat yang belum habis di atas meja makan.

Barangkali coklat ini akan membantu menghilangkan rasa sakit, pikirnya.

Sambil mengepit sebuah novel dan sebuah buku kumpulan cerpen di lengan kirinya, tangan kanannya menating cangkir kopi dengan uap yang mengepul-ngepul. Dia melangkah ke teras belakang.

Aroma rumput yang segar, dan bau tanah basah sisa hujan semalam, menyegarkan penciumannya. Dia selalu menggemari suasana sehabis hujan. Ramaniya menikmati pemandangan dari teras belakang. Taman mungil yang asri, dengan beberapa pot bunga mawar dan krisan, serumpun daun pandan dan bunga kemuning, yang wanginya selalu memberikan rasa segar dan rileks.

Setelah menyesap kopinya beberapa kali, kini dia bimbang, akan melanjutkan membaca novel yang nyaris tamat, atau membaca kumpulan cerpen dari penulis favoritnya?

Sayup-sayup suara di kepalanya menggerakkan tangannya untuk memilih buku kumpulan cerpen itu. Rasa sakit di kepalanya sudah hampir hilang, setelah sepotong coklat dan beberapa teguk kopi mengisi perutnya.

Baru membaca cerpen pertama sudah membuat detak jantungnya tak beraturan lagi. Dia sudah paham betul, setelah ini akan ada perasaan seperti terkejut, kemudian kepalanya terasa ringan dan tiba-tiba sakit lagi.

Ramaniya menghentikan bacaannya sejenak, ia terengah-engah mengatur nafas. Buru-buru dia menyalakan laptop yang tergeletak di atas meja sejak subuh, lalu mengalihkan pikirannya pada layar monitor di hadapannya. Membuka Facebook dan menuliskan status “Pernahkah kamu merasa dikutuk oleh tulisan yang kamu baca atau tuliskan?”

Sedetik kemudian beberapa teman mengomentari. Ada yang menanggapi serius dengan mengungkapkan teori-teori, ada yang berkelakar Ramaniya sedang depresi, dan beberapa teman hanya mampir menyetorkan jempolnya saja.
**

“Sudah dengar lagu Adele yang Make You Feel My Love itu belum, Sayang?” sebuah pesan singkat masuk ke telpon genggamnya. Diikuti dengan pesan lanjutan “Aku akan melakukan apa saja untuk bersamamu, sekalipun menunggu adalah pilihan terakhir.”

Ramaniya tertegun sejenak. Sudah empat tahun dia berusaha membangun cinta dengan Bima, lelaki yang dipilihkan orang tuanya. Selama empat tahun itu dia berharap bisa merasakan cinta yang dalam terhadap Bima, dan setahun terakhir ini Bima sudah resmi menjadi tunangannya.

Namun tak pernah Ramaniya merasakan getaran yang sehebat ini. Justru pada Zyan, lelaki yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya, seperti kilat yang membelah langit ketika hujan, begitu cepat, mengejutkan, dan bercahaya. Pesan singkat barusan itu lagi-lagi menohok kesadarannya. Zyan selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut, seperti yang selalu didambakannya selama ini. Kadang-kadang Ramaniya berpikir, Bima mungkin tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh. Seperti juga hati Ramaniya yang tak pernah penuh terhadap Bima.

Kepalanya berdenyut-denyut. Lagu Adele seolah berkumandang di ruangan besar dengan gema yang memantul-mantul ke kepalanya. Sebelum bertemu Zyan, Ramaniya beberapa kali mendengarkan lagu yang sama dan merasa tersihir dengan liriknya. Imajinasinya berkelana dan dia merasa suatu hari akan bertemu seseorang yang mengatakan hal yang sama dengan lirik lagu tersebut.

Beberapa lagu lain yang dianggapnya romantis dan menggambarkan rasa cinta dan pengorbanan luar biasa terhadap pasangan, juga sering membuatnya berpikir, Bima tak akan pernah menjadi seseorang seperti itu. Ramaniya selalu merasa akan ada orang lain selain Bima.

Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dia tidak tahu seperti apa harus mendefinisikannya, apakah mimpinya baik atau buruk. Namun belakangan, seperti ada semacam kekuatan magis yang selalu menghantui setiap gerak-gerik Ramaniya. Setiap hatinya sedang dalam suasana bahagia dan ingin mendengarkan lagu, justru lirik-lirik dalam lagu itu seolah merupakan perwujudan kehidupan pribadinya. Beberapa peristiwa terjadi persis setelah lagu itu didengarkannya.

Sekarang, peristiwa-peristiwa aneh bukan hanya muncul karena lagu. Sudah lebih dari tiga kali sehabis Ramaniya membaca buku, gambaran peristiwa dalam cerita menjadi kenyataan dalam hidupnya. Bahkan ketika Ramaniya membaca ulang beberapa tulisannya sendiri beberapa tahun yang lalu, ada lima tulisan yang semula imajinatif, kini benar-benar tejadi pada kehidupannya sendiri. Dan setiap dia menyadari itu, kepala Ramaniya langsung terasa sakit.

Setiap lirik lagu yang didengar, setiap tulisan yang dia baca dan buat, semua seperti hantu-hantu dari masa depan yang bersiap menikam pikiran, dan mengikutinya dalam kehidupannya saat ini.
**

Suara serangga malam bersahutan dari taman belakang rumah Ramaniya. Masih pukul sepuluh, mata dan tubuhnya belum mau diistirahatkan. Setelah seharian menyibukkan diri bertemu klien dan merencanakan beberapa workshop menulis, kepala Ramaniya terasa sangat ringan. Akhirnya dia bisa merasa menjadi orang normal lagi. Tapi godaan untuk meneruskan bacaan yang tertunda itu begitu kuat. Ramaniya sudah terbiasa dengan rutinitas membaca setiap sebelum tidur.

Ingatan tentang peristiwa-peristiwa aneh itu membuat Ramaniya sedikit ragu. Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Buku kumpulan cerpen yang tadi pagi dibaca seperti memiliki tangan yang melambai-lambai kepadanya. Ramaniya menyerah, diraihnya buku itu, lalu menyelonjorkan kaki di atas tempat tidurnya, dan dia meneruskan bacaannya.

“Aku tidak mengenalmu. Belum pernah aku bertemu denganmu dalam suatu acara yang kebetulan serupa dengan workshop kemarin. Kenapa kamu mengundangku makan malam setelahnya? Kenapa kamu mengajakku ke bukit ini?”

“Aku sudah tiga tahun berada di kota ini dan mengamatimu. Selama di Jerman, aku hanya mengenal namamu lewat tulisan-tulisanmu. Aku tahu kamu menyimpan kerinduan terhadap sesuatu yang tak bisa diberikan siapapun.”

“Bagaimana kamu tahu kehidupan pribadiku?Siapa yang memberitahumu segalanya?”

“Sudah kubilang aku mengamatimu. Tidak penting dari mana aku mengetahui itu semua. Kamu perempuan dengan hati yang memerlukan sentuhan berbeda. Dan aku yakin hanya aku yang bisa memberikannya padamu”.

“Kita bahkan belum bicara banyak. Bertemu saja baru tiga kali dengan ini. Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Bagaimana kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu?”

“Aku mencintaimu, itu saja. Dan sinar matamu memancarkan hal yang sama. Jangan ingkari. Aku tak peduli siapapun dan bagaimana pun statusmu saat ini. Aku mencintaimu”.

Bayu meraih Laras ke dalam pelukannya, mendekap erat untuk waktu yang sangat lama. Sebuah jeep hitam di atas bukit itu menjadi satu-satunya saksi betapa dingin dan kesepian di dada Laras terhancurkan.

Ramaniya terhenyak. Matanya terbelalak pada halaman buku yang sedang dibacanya. Adegan itu. Dialog itu. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Detak jantungnya kini mulai kencang dan tak beraturan. Sial! Cerpen ini menjebakku! Penulis ini peramal, tukang sihir!

Percakapan dan latar adegan itu sama persis dengan kejadian beberapa hari lalu, ketika Zyan duduk di sebelahnya mengemudikan sebuah jeep hitam dan mengajaknya ke sebuah bukit. Kalimat yang diucapkan Zyan sama persis dengan tokoh Bayu dalam cerita itu! Zyan pun baru kembali dari Jerman tiga tahun yang lalu! Zyan mengajaknya makan malam sepulang dari workshop yang dihadiri Ramaniya!

Sial! Kenapa aku harus membaca buku ini! Kenapa penulis itu membuat cerita yang sama dengan kehidupanku? Oh, Tuhan! Pertanda apa ini?

Ramaniya mengacung-acungkan buku yang sedang dibacanya itu ke udara sambil mengutuki dirinya sendiri, kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan hilir mudik di kamarnya dengan gelisah.

Diliriknya jam dinding, baru pukul sebelas. Zyan pasti belum tidur. Betapa ingin Ramaniya mendengar suara lelaki itu, yang selalu membuat kegelisahannya mereda. Dia meraih telepon genggamnya dan melakukan panggilan ke nomor Zyan.

Tak ada nada sambung.

Mungkin Zyan sudah tidur.

Ramaniya semakin gelisah dan membuatnya mengingat beberapa peristiwa serupa yang terjadi belakangan ini. Peristiwa-peristiwa itu terlalu sering terjadi untuk disebut sebagai sebuah kebetulan.
Minggu lalu Ramaniya membaca sebuah novel tentang seorang perempuan yang sudah bertunangan dan menemukan cinta sejatinya pada lelaki lain yang tiba-tiba hadir. Bima hanya tertawa dan menganggap Ramaniya sedang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga berpikir aneh.

Mana mungkin sebuah novel yang kamu baca bisa menjadi kenyataan dalam hidup pembacanya, ujar Bima kala itu.

Tak ada yang percaya pada kata-kata Ramaniya. Bahkan sahabat terdekatnya pun tak percaya.

Ramaniya seperti diteror oleh setiap hal yang dia baca dari buku dan yang dia dengar dari lagu. Bahkan ketika Ramaniya membaca cerita anak-anak tentang seorang gadis yang sedih karena kucing kesayangannya mati, keesokan harinya kucing Ramaniya pun mati.

Setiap peristiwa dalam buku yang dibacanya seolah menceritakan apa yang baru saja terjadi, yang sedang, bahkan yang akan terjadi dalam hidupnya. Ramaniya nyaris tak bisa menahan ketakutannya sendiri setiap akan membaca sebuah buku. Meskipun berulang kali pula ketakutannya dikalahkan oleh rasa penasaran terhadap buku yang hendak dibacanya.

Lalu malam ini, kejadian yang sama terulang lagi. Cerpen yang sedang dibacanya belum selesai. Ramaniya betul-betul ketakutan kali ini. Jika dia melanjutkan membaca ceritanya sampai tamat, dia takut akhir ceritanya itu sesuatu yang menyedihkan.

Keringat dingin menetes dari dahinya. Semakin lama semakin mengucur deras. Pipi Ramaniya memerah. Tak mungkin dia menelepon dan memberitahu Bima lagi tentang hal ini. Dia pasti akan menertawakan dan menganggap Ramaniya sedang mengigau, lalu menyuruhnya kembali tidur. Hanya Zyan yang mengerti. Tapi saat ini Zyan sedang tak dapat dihubungi.

Kepala Ramaniya semakin berat. Rasa takut dan penasaran kini menyergap bersamaan. Udara kamar yang biasanya sejuk tiba-tiba terasa seperti tengah hari yang terik. Dengan tangan gemetar, Ramaniya membuka halaman buku tadi dan melanjutkan membaca.

Kini Laras yakin, Bayu adalah orang yang ditunggunya bertahun-tahun.Cinta memang kadang mengambil jalan yang memutar, harus melalui berbagai cara dan bertemu orang lain dulu sebelum bertemu orang yang tepat. Meski kadang di waktu yang tidak tepat.

Laras melanjutkan membaca buku sambil merenungkan ucapan Bayu tadi siang. Tiba-tiba detak jantungnya seolah berhenti.Cerita dalam buku yang sedang dibaca Laras sama persis dengan beberapa peristiwa dalam hidupnya. Ada dengingan keras di kepala Laras. Semakin lama semakin keras dan tak tertahankan. Kepala Laras seperti mau meledak.Ada cairan hangat merembes di pelipisnya, darah!

Ramaniya tersentak. Di kepalanya tiba-tiba ada dengingan keras yang sangat kuat, semakin lama kemakin keras. Kepalanya terasa pening, berat, dan berputar-putar sekaligus. Ada cairan hangat mengalir perlahan di pelipisnya. Ramaniya mengusapnya dengan jemari indahnya. Darah. Sontak Ramaniya memandang buku yang sedang dibacanya dengan ngeri, melemparkannya jauh-jauh ke pojok kamar.

Buku ini buku sihir. Buku ini penuh kutukan. Sial! Buku ini pembawa sial! Semua buku-bukuku buku sihir, buku ramal, pembawa sial!

Ramaniya menjerit tertahan. Kepalanya seperti mau meledak. Setiap peristiwa dalam hidupnya kemudian membayang dan memenuhi dinding kamarnya seperti sebuah film yang sedang diputar. Setiap satu peristiwa berdampingan dengan satu buku, bergantian menampilkan detail. Kepala Ramaniya mendidih, ada sesuatu yang terasa mendesak dan memaksa ingin keluar.

Pyar!

Suara letupan mengiringi darah segar dari ubun-ubun. Huruf-huruf dan judul buku yang pernah dibacanya berloncatan dan berlarian ke pojok kamar, bergabung dengan buku yang dilemparnya tadi. Mata Ramaniya mulai berkunang-kunang. Sebelah tangannya mencoba meraih sesuatu untuk bersandar, sementara tangan satunya menangkup kepalanya yang berdarah dan terus-menerus mengeluarkan huruf-huruf.

Ramaniya mencoba mengingat kalimat-kalimat terakhir yang dibacanya dari buku itu dengan susah payah.

Laras memegangi kepalanya yang berdarah. Mulutnya menganga seolah tak percaya pada penglihatannya. Cerita yang sedang dibacanya seolah hidup dan menjelma makhluk asing dan menyeramkan. Jemari Laras gemetar memegang buku itu dan berusaha melemparnya sejauh mungkin. Tapi buku itu sangat lengket di tangannya. Laras memekik ketika sebuah kalimat meloncat dari buku…

Ramaniya tertegun, tenggorokannya tersekat, di dinding kamarnya tersusun sebuah kalimat yang meloncat dari buku yang dilemparkannya tadi: TERUSLAH MEMBACA ATAU KAU AKAN MATI!

***
2013.

cerpen-Bali Post

Puisi di Bali Post Minggu 2 Juni 2013


SEPI DI BERANDA

Engkau kemana saja?
Sepi dan rindu sudah terkoyak perjalanan bulan Mei,
sedang dada masih saja menyimpan debaran yang sama
setiap mata bersirobok

teriakanku digaungkan dinding, memantul ke arah rumahmu
menggulung kisah yang kau sematkan di belahan payudara
perempuan yang kau cumbu

Engkau kemana saja?
Bertahun kusisipkan isyarat di buku-buku,
dan meski geletar yang sama kau alirkan pada genggaman tangan
kita selalu luput saling berkata

udara: di sanalah aksara menguap
tanpa sempat saling mengikat dalam kalimat

Engkau kemana saja?
Sepoci teh dan gula batu teronggok sepi di beranda
menanti kepulangan daun-daun akasia ke tangkainya.

23 Mei 2013: 14.58 WIB

SOLITUDE – sebuah persembahan


SOLITUDE
319653_4754973028578_444454722_n

Malam ini entah kenapa hatiku kacau berantakan. Mungkin diakibatkan cuaca tak menentu yang juga membuatku batuk-batuk tidak beraturan.
Berkali-kali aku meraih handphone, menyentuh tulisan “write message”, bersiap melayangkan beberapa kalimat untukmu, kemudian berharap kau membalas smsku. Dan berkali-kali pula kubatalkan niat itu, mengulanginya lagi hingga handphoneku ngadat tak mau nyala sama sekali.
Aku sedang rindu berdiskusi denganmu, rindu membicarakan apa saja, berita di televisi, rutinitas kerja hingga kepenatanmu dengan seabreg kegiatan yang kadang membuatmu lelah dan berakhir dengan kalimat “Aku ingin seseorang memijat bahuku saat ini”.

Kesepian berdentang dengan keras, kemudian gaungnya meninju salah satu ruang di dada. Seperti lonceng gereja tua di tempat paling jauh, dimana kita tak perlu mengakrabi segala keluh.
Pesan terakhirmu begitu singkat. Entah. Mungkin kau sedang terlalu sibuk mengakrabi wajah wasit pada pertandingan bola favoritmu malam ini. Atau kau memang sedang tak ingin berinteraksi denganku, melalui cara apapun. Mungkin kau sedang menenggelamkan wajahmu pada kesepian yang sama, yang membuat isi dalam botol minumanmu terlalu cepat habis, mengadukan gundah dan airmata yang tumpah di sebuah kamar yang tak seorangpun mengetahuinya.

Tikaman luka itu terlalu dalam, sayang. Kita melulu berjalan bersisian, dalam garis nasib yang harus kita pasrahkan kemudian. Dan seperti remaja yang mengalami patah hati pertamanya, dadaku seperti dicabik-cabik. Bertahun-tahun dihantui harapan dan penantian, diakhiri sebuah kesimpulan: hidup bukan perkara mengikuti kata hati, tapi juga menepati janji menunaikan bakti pada orang terkasih.

Langit sudah demikian pekat. Mengisyaratkan beberapa binatang malam dan sejuta kenangan untuk kembali istirahat. Namun bahkan dalam penciumanku, ambung parfum dan wangi khas dadamu masih melekat, menerorku dengan berbagai kemungkinan, dan keriaan. Ya, keriaan seorang anak kecil yang menemukan mainan kesayangannya yang hilang, membuatnya tak peduli lagi sekantung permen dan coklat kegemarannya.
Malam membawaku berkelana. Selalu ke masa di mana kau dan aku meneriakkan gelora muda dengan lantang, meninju udara dengan pongah sembari berkata “Akulah penakluk kata-kata!”.

Dan lembar-lembar kesepian lainnya bermunculan dari halaman sebuah buku bernomor tiga puluh dua dan berakhir di angka enam puluh empat. Pisau itu terlalu dalam kau tusukkan ke jantungku! Membuatku megap-megap, menggapai udara, hingga kemudian kau menciumi lukaku seperti mawar merah yang kehilangan warnanya. Dan aku memintamu melakukannya lagi, menusukkan pisau di jantungku dan bagian tubuhku yang lainnya, berkali-kali. Sampai aku merasa tidak ada tempat lagi, bahkan aku tak merasa memiliki tubuh lagi. Jiwaku yang kau kawini selalu sunyi. Mendendangkan lagu rindu untuk sebuah almanak, dan sebuah tikar yang tergelar tempat kau dan aku menghitung anak tawa yang berlarian di atap rumah. Dulu.

Matamu menyiratkan kegalauan yang sama, kesepian yang sama, kerinduan yang juga sama, namun dari ruang berbeda. Selalu dalam jarak kuhayati betapa jari-jemari kita yang saling bersisipan, saling menguatkan, menularkan energi lain ke dalam tubuh yang matang oleh kenangan dan harapan.

Malam ini, aku akan mengingkari segala apapun yang kurasakan, termasuk pendar-pendar kembang api yang memercik itu. Besok, mungkin aku akan tetap menyambangimu lagi, memastikan kau baik-baik saja melalui jendelamu yang tetap kau biarkan terbuka. Kau akan tahu, aku mampir di ruang tamu, membawakan secangkir kopi untuk menghangati perutmu pada sebuah pagi, secangkir siang, atau pada sepotong malam. Kau akan merasakan kecupanku yang kutitipkan pada angin, pada langit yang memayungimu, atau pada udara yang kau hirup hingga merasa lega. Aku akan ada di sana, menghuni ruang batinmu yang selalu tertutup rapat kau kunci, dan hanya aku yang menyimpan anak kuncinya.

Sebab kesepian ini, sayangku, menggenapkan impian-impian itu dalam sebuah penantian panjang.

Cibatu, 4 November 2012: 23.50 WIB

RATNA AYU BUDHIARTI