SEBAB SEBUAH TRUK


Bagaimana seharusnya benar-benar melupakanmu? Sebuah truk tampak di hadapanku dan membawa ingatan pada bertahun silam, tepatnya 17 tahun lalu. Siang itu kau mengajakku mengunjungi sebuah kantor Ready Mix, campuran beton yang biasa diperlukan untuk pengerjaan tower BTS salah satu jaringan komunikasi. Kau dan ayahmu mengerjakan proyek itu untuk beberapa waktu. Aku yang tidak paham lingkup pekerjaan seperti itu, jadi memahami bagaimana kau bekerja sama dengan banyak pihak,  bernegosiasi, serta mengawasi para pekerja. Kausuruh aku menunggu di salah satu sudut ruangan. Untung saja selalu ada buku di dalam tas, jadi tak perlu menggerutu ketika urusanmu sedikit lama. Jakarta terik dan panas dengan polusi seperti biasa. Aku yang tak pernah bisa mencintai kota itu, rupanya harus belajar akrab, meski tidak pernah mau jadi dekat.

Sebelum menaiki bus menuju kota tempat tinggalmu, kau mengajak aku menghampiri pedagang buah potong. Dua bungkus nanas ditaburi bubuk cabai bergaram disorongkan penjual.

“Cobalah, Dek. Mas suka nanas pake cabe begini, segar.”

Tentu kau bermaksud menggodaku. Kau jelas tahu, aku tak pernah suka makanan pedas. Kaubilang kelak jika jadi istrimu, aku harus belajar membuat sambal yang enak pada ibu.

Ah… lalu ingatanku berkelana pada ibu. Perempuan Melayu yang cantik bersanding dengan lelaki Jawa penyabar itu selalu memperlakukanku sepenuh kasih, seperti menyayangi anaknya sendiri. Ibu yang pertama kali paling gembira ketika kaubawa aku ke rumahmu dan berkenalan dengan seluruh keluarga. Apa kabar Ibu sekarang ya? Sesekali aku disergap rindu padanya. Sorot matanya yang teduh, juga ketulusan dan tutur katanya yang lembut itu selalu membelaku jika dilihatnya kau kurang memperhatikanku atau salah sedikit saja memperlakukanku. Ibu yang berharap kelak aku jadi menantu.

Pikiranku masih saja berkelana ke mana-mana kini. Pada surat-surat yang kau kirim berkala dan selalu kunanti kedatangannya di rumah kontrakan. Lalu pada kejutan manis ketika kaubilang batal datang ke kota tempatku menuntut ilmu karena busnya mogok. Namun setengah jam kemudian kau sudah tiba di depan pintu, justru di saat aku sedang menghibur diri menahan rindu yang tak tertahan itu.

“Mas pengen lihat gimana kalau Mas gak jadi datang. Jadi tahu deh Adek belum mandi.”

Huh, sebal! Aku jadi tidak sempat bersiap dulu tampil sempurna. Walau tak bisa dandan, minimal kau tak usah melihatku belum mandi begitu. Tapi kau malah gregetan dan tertawa melihat mukaku yang bercampur rasa kaget sekaligus gembira.

Anakmu sudah bertambah lagi, kan, sekarang? Hidupmu tentu berbahagia dengan keluarga yang ramai. Seperti impianmu suatu hari di masa lalu. Kau pernah bertanya aku mau punya anak berapa. Kaubilang ingin punya anak banyak, dan aku hanya tersenyum saja mengamini. Amin. Kau sudah memilikinya sekarang. Aku masih begini saja, mengikat kenangan demi kenangan di ruang paling dalam di hatiku. Kupikir melupakan itu semudah menghapus coretan pensil di kertas. Nyatanya sudah bertahun-tahun, setiap kali kutemukan ganjalan, ingatanku hanya membandingkan manisnya cerita bersamamu. Sepertinya jiwaku tak pernah rela mengikis masa lalu.

Akhir bulan kemarin aku merayakan keberhasilan. Atau sesuatu yang kupikir itu keberhasilan. Sebab setelah ribuan purnama usaha menghapus bayang-bayangmu menemukan jalan buntu, tepat di hari ulang tahunmu aku merasa ringan. Ya, aku selalu ingat ulang tahunmu, ulang tahun ibumu, juga adikmu yang manis dan selalu baik padaku itu. Kupikir itulah tonggak di mana aku akhirnya bisa melepasmu dengan rela, penuh seluruh. Kupikir aku sudah berhenti mencintaimu. Perasaan yang kutunggu-tunggu sejak kau dan aku pada akhirnya harus menghentikan segala rencana, termasuk pernikahan. Berhari-hari aku gembira dan mendoakan keselamatanmu.

Tapi sialnya, masih ada ceruk yang luput dibersihkan. Hanya gara-gara sebuah truk di hadapanku siang ini. Aku merogoh-rogoh lagi hatiku. Mengapa melupakanmu demikian sulit?

*BERSAMBUNG

#RAB, 2020

#RABbercerita #ceritaRAB #fiksimini #ceritamini

Membaca Kucing Murakami


 

 

 

 

46374125._SX318_Mayoritas kisah dalam buku kumpulan cerita ini menuturkan petualangan imajinasi. Ada kucing yang berubah jadi manusia dan kebingungan menyesuaikan diri, kemudian tertarik pada lawan jenis, seorang perempuan bungkuk yang aneh. Lalu ada lelaki yang berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bar dan bertemu orang-orang misterius. Beberapa kisah menggantung dengan imajinasi yang melompat. Lumayan.

KENAPA MESTI RATU SEKOP?


Ya, kenapa mesti Ratu Sekop? Dari ketiga belas cerita pendek, Iksaka Banu memilih Ratu Sekop sebagai judul. Hak prerogatif penulis, tentu saja. Tapi kenapa tidak “Lelaki dari Negeri Halilintar”, atau “Istana Gotik”, atau “Film Noir”, judul-judul cerpen lain yang tak kalah menariknya dengan “Ratu Sekop”? Ketiga cerita itu juga sama getir menggambarkan situasi dan hidup seseorang.

Barangkali saya sedikit terlambat menikmati karya yang terbit tahun 2017 ini. Tapi buku lama pun selalu baru jika belum pernah dibaca, bukan?

 

Khas sekali tulisan Iksaka Banu ini. Diksi-diksi yang sederhana tapi dirangkai ciamik. Pembaca dibawa ke lorong-lorong imajinasi yang berwarna. Sesekali gelap dan membuat kita harus menebak-nebak. Plot twist di beberapa cerita mudah ditebak sejak awal. Misalnya tokoh Guntur dalam kisah “Lelaki dari Negeri Halilintar”, meskipun saya yakin dia adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk mengambil nyawa Nyonya Lita, tapi penceritaannya membuat saya tetap lanjut membaca huruf demi huruf, bahkan sampai ketika tebakan saya bertemu kebenarannya.

Karena saya sebelumnya lebih dulu menikmati tulisan Iksaka Banu lewat novel yang berbau kolonial atau sejarah, saat membuka halaman pertama, ekspektasi saya tentu temanya tidak jauh-jauh dari sana. Tapi ternyata salah. Meskipun tidak meleset-meleset amat. Dalam kumpulan cerpennya ini, riset dan pengetahuan penulis yang spektrumnya luas sangat terasa. Penulis bisa menceritakan detail bagaimana orang yang diserang Vertigo (yang jadi judul salah satu cerpennya), bagaimana pula orang-orang dengan “indera keenam” memiliki kemampuan itu tanpa sengaja (dalam cerpen “Listrik”), kemampuan yang disambut gembira tapi akhirnya dirasa sebagai ketakutan manusiawi. Serta detail-detail lain semisal jenis senapan dan bagaimana hasil tembakannya dalam cerpen “Sniper”.

Dalam “Undangan Seratus Tahun” dan “VIP”, cerita bercampur dengan imajinasi seperti dalam film-film futuristik: benda asing muncul yang terbang di Laut Selatan, manusia yang berubah jadi android karena tak sudi menuruti perintah untuk menuju kematian. Absurd, sekaligus menyentil; betapa seseorang sesungguhnya memiliki pilihan untuk tidak menuruti perintah kekuasaan, setiap orang berhak menentukan akan mati dalam tekanan atau memilih jalannya sendiri.

 

Kisah dengan tema perselingkuhan seperti dalam “Film Noir” dan “Cermin”, diketengahkan dengan ungkapan dan sindiran yang halus. Segala cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginan paling purba seseorang. Meski diawali rasa cinta, di kemudian hari bisa berkembang menjadi liar atau di luar nalar. Ketika tokoh Windy dalam kisah “Cermin” akhirnya “membalas dendam” pada sang kekasih dengan cara yang persis sama dilakukan sang pria ketika mereka masih saling berkasih-kasihan, menggunakan bayangan dan cermin. Itu pula yang dilakukan Arya (Film Noir), ketika mengetahui istri yang dipopulerkan olehnya kedapatan selingkuh: balas dendam.

 

Balas dendam juga bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Seperti Armin Kelana, pelukis yang sakit hati ketika tidak menerima apresiasi yang diharapkan, sehingga ia terpaksa membunuh orang-orang tidak bersalah dalam kisah “Belati”, padahal niat awalnya ia ingin membalas dendam dengan caranya sendiri.

 

”Jubah” pun tak luput dari bumbu intrik perselingkuhan dan balas dendam. Juga pada “Istana Gotik”, yang mengisahkan centeng yang jatuh hati dan merasa harus selalu melindungi Nona Miranda yang menganggapnya ayah dan meminta perlindungan selayaknya seorang anak.

 

Hubungan ayah-anak digambarkan manis sekaligus tragis dalam cerpen “Sniper”. Ibarat menonton film perang, cerpen ini memberikan kejutan yang menyedihkan. Gambaran akan keharmonisan hubungan seorang ayah dan anaknya, dibenturkan dengan kenyataan dalam perang ketika sang prajurit yang pernah menembak milisi dan mendapati foto anaknya hingga dihantui perasaan bersalah, justru menjumpai kenyataan anak itu telah tumbuh dewasa dan sepertinya terlibat dalam “misi balas dendam”.

 

Rasanya tema-tema balas dendam, intrik, perselingkuhan, mayoritas muncul dalam ketigabelas cerita di buku ini. Ratu Sekop mungkin pengecualian. Penulis memaparkan bagaimana seorang pelukis akhirnya mengubah rencana awal karena sang model lebih tepat mewakili Joker.

 

Ah, terlalu panjang rupanya ulasan kali ini. Sebaiknya baca sendiri sajalah bukunya. 🤭😉

 

#RAB, 01022019

===

Judul: Ratu Sekop

Penulis: Iksaka Banu

Jumlah halaman: xii+189 hlm

Penerbit: Marjin Kiri (2017)

46823D65-DF38-4E3D-BF55-BEBC209D065C

#30daysRABwriting (1)


Hari ini aku tetapkan target pribadi. Ala-ala #30harimenulisrandom yang pernah diikuti bareng Nulis Buku tahun lalu. Well…sekadar mengasah lagi otak dan kemampuan merangkai kata. At least satu bulan waktu itu pun akhirnya aku bisa lalui dan ada beberapa karya yang bisa dimasukkan ke dalam buku berikutnya. Mungkin aku perlu kedisiplinan itu lagi. Siapa tahu tahun ini atau tahun depan terbit lagi buku baru. Let’s see. Okay then, start from now on (Sept 30, 2016) to next 30 days, akan kutuliskan apapun yang ingin kutuangkan. Semoga konsisten. Semoga selamat di perjalanan.

and here’s my #1st day writing (again)

DI TAMAN KOTA

 

Sepasukan semut keluar dari balik keyboard laptop. Entah dari mana mereka sembunyi asalnya. Barangkali mereka menemukan remah roti atau makanan di antara celah tuts keyboard. Barangkali mereka memang ingin hadir saja di depanku tanpa alasan yang jelas. Seperti itu juga kenangan memunculkan dirinya padaku siang ini, Yaz. Rahang kokohmu dan juga petikan dawai gitar yang berlagu, semua hadir di depanku detik ini.

Kota menjelang senja waktu itu. Lampu-lampu di lembah yang jauh bersinar dari rumah-rumah dan bangunan tinggi. Kamu menjelma Ed Sheeran. I see fire, dendangmu. Kemudian sebuah puisi dari buku hitam yang terbuka di bangku, kamu ciptakan musiknya. Aku selalu tahu, hatiku tak akan pernah bisa diam jika petikan gitar berasal dari seseorang yang dekat, sangat dekat.

Aku terpaksa memaksamu berhenti. Mataku tak dapat dibohongi. Kamu menggigil, dahimu panas waktu kupegang. Yaz, jika saja kamu tak bandel hari itu…. Tapi kamu bersikukuh untuk tetap menemuiku di taman kota. Pukul empat. Barangkali sedikit lewat. Dan kamu ada di sana mematung ragu ketika aku memicingkan mata. Tubuh yang terlihat lebih ringkih dari biasanya, jaket kulit kesayangan, kacamata minus, rambut berantakan terkena angin, dan gitar yang tersampir di punggung.

Tak ada kata. Aku bahkan mendadak gelisah dan tak tahu harus bicara apa. Sementara kamu memilih tersenyum, membuka tas gitarmu dan mulai memetiknya lalu memandangku penuh kelembutan sekaligus tajam menghunjam menembus jantung.

Malam mulai menggelisahkan. Udara di Utara kota memberi pertanda. Aku dan kamu akhirnya bersuara. Bahkan pada saat bersamaan. Ingat itu, Yaz? Bersamaan! Lalu tawa berderai. Kamu meraih tanganku. Seandainya udara kota saat itu menjadi lebih beku daripada di puncak gunung salju, kurasa kehangatan yang mengalir dari genggaman tanganmu akan menang melawan dingin yang menusuk tulang. Tentu gigil di tubuhmu bukan karena udara itu kan, Yaz?

Tak terjadi apa pun selain genggaman. Sayang. Seharusnya kita lebih berani mengabadikan peristiwa seperti misalnya kecupan di dahiku atau sebuah pelukan yang lama. Aku seharusnya juga menyuruhmu pulang lebih cepat atau tak membiarkanmu datang menemuiku di taman kota. Atau pulang bersamamu untuk memastikan segalanya baik-baik saja.

Ini cangkir kopi kedua yang kuhabiskan sampai tandas. Biasanya kamu tak membiarkanku minum lebih dari satu cangkir kopi pekat saat bersamamu. “Jangan buat jantungmu berpacu lebih cepat,” begitu ujarmu selalu.

Ah, ingatkah saat kamu menjelaskan perbedaan rasa kopi Arabika dan Robusta, Yaz? Aku penikmat susu, dan tak pernah sekali pun berpikir menjadi penggemar kopi sepertimu juga. Aku tak yakin kopi sesehat susu. Dan kamu tertawa waktu kubilang kopi hanya akan membuatku mati. Tawamu baru berhenti ketika kujelaskan segalanya.

Yaz, kamukah itu? Aku baru saja mencium aroma yang kukenal dengan baik. Aroma yang lekat di ingatan, bagaimana uar parfum yang bercampur dengan aroma tubuhmu itu pernah membuatku nyaris hilang kendali.

Seharusnya aku mengikutimu sore itu. Atau seharusnya aku duduk di motormu dan memelukmu sepuasnya dari belakang saat kamu melaju membelah gelap. Seharusnya.

Lalu setelahnya, demi aku, Yaz, maukah kamu mengingat semuanya lagi?

 

 

#RAB, 30092016: 16.06 WIB

#day1 of #30daysRABwriting

IKUTAN LOMBA MENULIS KPCI 2015 yuk!


KPCI

Yang anaknya suka menulis, ayo diikutkan lomba ini! Ada lomba menulis cerpen, syair, pantun, dan lomba mendongeng! Deadlinenya masih sebulan lagi nih, 12 September 2015.

Persyaratan:
1. Peserta lomba adalah siswa SD dan sederajat
2. Karya bertema “Berani Berkarya Berani Mengubah Dunia”
3. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar
4. Tidak menghasilkan karya yang mengandung unsur SARA dan PORNOGRAFI
5. Hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba yang sejenis
6. Naskah diketik menggunakan komputer pada kertas HVS ukuran A4 spasi 2, jenis huruf Times New Roman ukuran 12

CERPEN: membuat satu judul, panjang cerpen 4-6 halaman
SYAIR; membuat dua judul syair
PANTUN: membuat lima judul pantun
DONGENG: Mengirimkan CD berisi video peserta mendongeng dengan durasi 5 menit

7. Setiap karya harus disahkan keasliannya oleh Kepala Sekolah (distempel dan ditanda tangan kepala sekolah)
8. Pemenang lomba dan peserta yang terpilih akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti Konferensi Penulis CIlik Indonesia mewakili daerahnya masing-masing, sekaligus pemberian penghargaan kepada para pemenang.
9. Karya dikirim dua rangkap (sudah distempel dan tanda tangan kepala sekolah) disertai dengan fotokopi identitas diri (kartu pelajar dan biodata singkat: nama, tempat tanggal lahir, alamat lengkap, nomor telepon (handphone), email, nama dan alamat sekolah, kelas) ke Sekretariat Konferensi Penulis CIlik Indonesia dengan alamat:
Direktur Pembinaan Sekolah Dasar
u.p Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik
Gedung E, Lantai 17 Kemdikbud,
Jalan Jenderal Sudirman Senayan
Jakarta Pusat 10270
*beri keterangan di sudut kiri atas amplop tentang lomba yang diikuti (contoh: KPCI-Lomba Cerpen)

Pemenang akan diumumkan di acara Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015.

Karya diterima PALING LAMBAT 12 September 2015

KPCI 2015
1. Cerpen Pemula: https://www.facebook.com/notes/kecil-kecil-punya-karya/kpci-2015-lomba-cerpen-kategori-pemula/10150508340669944
2. Cerpen Penulis: https://www.facebook.com/notes/kecil-kecil-punya-karya/kpci-2015-lomba-cerpen-kategori-penulis/10150508343424944
3. Syair: https://www.facebook.com/notes/kecil-kecil-punya-karya/kpci-2015-lomba-cipta-syair/10150508344309944
4. Pantun: https://www.facebook.com/notes/kecil-kecil-punya-karya/kpci-2015-lomba-cipta-pantun/10150508343874944
5. Dongeng: https://www.facebook.com/notes/kecil-kecil-punya-karya/kpci-2015-lomba-mendongeng/10150508344659944
Untuk contoh surat pernyataan bisa di unduh di sini: https://drive.google.com/…/0B0SAj-1Knvt2QzZ3ZkJXVVhVNkU/view
Untuk contoh biodata peserta bisa di unduh di sini:
https://drive.google.com/…/0B0SAj-1Knvt2aDdwd2Q3YTk2RDA/view

#NulisRandom2015 hari #11


SEBELUM ANGELINE

Tubuh Naya bergetar hebat. Baru saja ia membuka beranda facebook dan berseliweran berita tentang Angeline, gadis mungil yang cantik dan menggemaskan itu tewas dan dikubur di halaman rumah setelah diperkosa.
Mata Naya tiba-tiba panas, ada yang menggedor-gedor dada dan terasa sesak. Tiba-tiba ia lupa caranya bernafas.

***

Ketika itu sore hari pukul tiga. Naya menyelinap di gang dekat bangunan tua yang berjarak enam rumah dari rumahnya. Naya sedang bermain petak umpet bersama teman-teman. Kali ini Naya yakin, ia tak akan mudah ditemukan Eko, teman yang sedang giliran jaga.
“tiga…empat…lima, enam..tujuh..delapan…”
Lambat laun suara Eko terdengar menjauh. Naya mendorong pintu ruangan yang setengah terbuka.
“Eh, Neng Naya. Nyari siapa?” suara berat mengagetkan, Naya tersentak.
“Mang..oh..eh..lagi main petak umpet. Naya mau sembunyi di sini.”
Lelaki berkumis tipis itu tersenyum. Naya mengenali lelaki itu, penjual es cendol keliling. Naya sesekali suka membeli es cendolnya. Es cendol yang berbeda, lebih kenyal, dan banyak gula merahnya. Naya suka es cendol manis. Naya suka es cendol yang dijual lelaki itu.
Tapi Naya tidak tahu kalau bangunan tua ini ada penghuninya. Naya pikir karena rumah ini lama ditinggalkan pemiliknya ke kota, jadi tak ada yang menempati.
“Mamang tinggal di sini?”
“Iya, Neng. Mamang pindah. Kontrakan di bu Juju abis dan harga sewa naik, jadi mamang pindah, kebetulan di sini juga lebih murah.”
“ooo..”
“Neng Naya cantik sekali, sudah mandi?”
“Sudah, Mang. Sekarang main aja.”
Lelaki itu mendekat. Naya tak mengerti kenapa tiba-tiba raut wajah penjual es cendol itu berubah aneh. senyumnya aneh, matanya aneh. Naya tak bisa menggambarkan. Lelaki penjual es cendol itu memegang lengan Naya sambil membelai-belai wajahnya. Naya berusaha menjauh, tapi tangan lelaki itu terlalu kuat. Tangannya mulai menggerayangi paha Naya.

***

Tubuh Naya menggigil. Ada detail peristiwa yang hilang dari ingatannya. Ia hanya ingat sore itu kakinya digebuki ibu karena roknya basah. Naya sudah bilang ia ngompol. Naya tak mau ibunya mencemaskan Naya. Naya tidak tahu persis, kenapa belakangan ini ibunya berubah lebih galak, tidak lembut dan sabar seperti dulu. Naya hanya tahu, sejak ayahnya jarang pulang, ibunya semakin mengkhawatirkan segala tindak-tanduk Naya. Naya tidak bisa bermain sepuasnya lagi. Jadi ketika lelaki penjual es cendol itu membuat roknya basah, Naya tak mau bicara. Ia tak mau ibunya panik atau pingsan. Apalagi ibu punya penyakit darah tinggi.

Sudah bertahun-tahun Naya menyembunyikan peristiwa itu dari siapa pun. Dan Naya berhasil menjadi perempuan yang membuat teman-teman iri dengan segudang prestasi dan kecantikannya. Naya selalu menjadi gadis yang ceria dan ambisius. Meski kadang-kadang Naya terbangun dari mimpi buruk dan tubuhnya basah oleh keringat setiap mimpi itu datang. Naya juga harus selalu berusaha mengendalikan diri setiap mendengar dentingan lonceng penjual es cendol. Sampai usia remaja, Naya masih ingat lelaki penjual es cendol itu. Sekarang, sosok lelaki yang membuat Naya membohongi ibunya hanyalah sosok samar di sel otaknya. Mungkin Naya harus bersyukur. Tuhan menghapuskan wajah lelaki itu dari ingatan Naya agar Naya bisa lebih tenang melanjutkan hidup. Naya selalu bisa menutupi kenangan pahit yang menimpanya itu.

Hari ini ia tak dapat mengendalikan diri. Berita tentang Angeline yang mengalami peristiwa pencabulan dan pembunuhan di Denpasar itu mengguncang jiwanya. Sebelum Angeline, ada banyak peristiwa lain yang diberitakan televisi dan media lain. Tapi kali ini lain. Entah mengapa. Naya kehilangan kontrol untuk tidak lagi merasa seperti ini. Seharusnya trauma itu sudah hilang seiring waktu. Bahkan calon suami Naya tak sedikit pun keberatan dengan kondidi sebenarnya. Naya memang tak menceritakan detail. Ia bahkan pasrah seandainya Bram meninggalkannya saat itu juga. Bagi Naya, jika Bram menganggap kesucian di atas segalanya, Bram perlu tahu Naya tak sesempurna yang diinginkan Bram. Naya tidak tahan dan tak mungkin membicarakan kenangan buruknya itu kepada ibunya. Karena itu, setelah berhari-hari merenung, berdoa, Naya memasrahkan segalanya pada Tuhan dan bercerita pada Bram dengan sangat hati-hati. Bram melarang Naya melanjutkan cerita saat air mata mulai membanjiri pipi Naya dan kalimat-kalimat Naya tak terdengar jelas lagi. Dalam keterkejutannya, Bram merengkuh bahu Naya dan membiarkan Naya menangis sambil berjanji akan tetap menikahi Naya, apapun keadaannya.

Wajah Angeline. Tulang muka Angeline. Senyum Angeline. Semua mengingatkan Naya pada sesuatu. Seseorang.

======================================================
*bersambung

#RAB, 11 Juni 2015 ; 13. 28 WIB
#NulisRandom2015

TENTANG ELANG ( #NulisRandom2015 hari #2)


Selalu seperti ini. Satu hari dalam rangkaian beberapa bulan, aku selalu memimpikanmu, Elang.
Rasanya aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Nyatanya alam bawah sadarku berkata lain. Pertemuan denganmu selalu sering terjadi di dalam mimpi. Bukankah seharusnya telah kurelakan engkau? Waktu telah memanjangkan kenangan menjadi sesuatu yang seharusnya tak perlu kutengok. Tapi dengan manis, ia menghantuiku tanpa mau berhenti. Ah, Elang, seberapa keras aku berusaha, seberapa jauh aku melarikan dari dan berusaha berdamai, segalanya seolah selalu kembali ke titik nol. Semuanya bermuara padamu.

Mungkin kau masih ingat, ah tidak, mungkin saja kau bahkan lupa, betapa kita di masa lalu adalah sepasang kekasih yang dengan kerelaan semesta saling mencintai dan menginginkan dengan sungguh-sungguh. Kau tahu, pertemuan pertama kita adalah kenangan termanis sepanjang hidupku. Tak ada yang bisa menggantikan itu. Seberapapun sakitnya akhir cerita yang harus kita jalani. Air mata yang membanjir, lingkaran hitam di kelopak mata karena bermalam-malam selalu kekurangan waktu tidur demi mendoakanmu dan meminta Tuhan mengembalikan engkau padaku, tak membuatku berhasil membencimu sepanjang usiaku.

Barangkali tak ada yang bisa sama lagi sejak hari itu, Elang. Barangkali. Bahkan ketika kita akhirnya dipertemukan suatu kebetulan. Ketika kau dan aku akhirnya berada dalam satu ruangan tanpa kata-kata yang seharusnya dilontarkan setelah sekian ribu cahaya melontarkan nasib kita pada keentahan yang tak pernah kuduga. Ketika kupikir segalanya terasa lebih baik setelah semesta berbaik hati satu kali lagi meminjamkan usia untuk mengabulkan satu permintaanku, aku tak bisa melontarkan pertanyaan itu.

Barangkali kau takkan pernah mengerti, di belahan lain dunia yang bukan duniamu, ada perempuan yang tanpa sadar telah menuliskan namamu di aliran darahnya. Darah yang mengalir itu tak berhenti mengalirkan sesuatu yang tak disadarinya menjadi kehidupan yang lain, membangun rumah di bagian tubuhnnya yang tak terjangkau oleh mata. Sekalipun perempuan itu berkelana dari pulau satu ke pulau lain dan berhasil mengumpulkan banyak tawa dalam kehidupannya, ia tetap tak bisa menyingkirkan namamu dalam aliran darahnya.

Mimpi itu, Elang, selalu datang tanpa diundang. Bahkan di luar kendali ketika aku tak pernah memikirkan apapun lagi tentangmu. Mimpi itu berhasil merayu sel otakku untuk berdiam di sana dan memiliki jadwal sendiri sesuai keinginannya untuk menayangkan kilas balik peristiwa dan menciptakan peristiwa lain yang sama sekali belum pernah ada. Kau tahu, beragam perasaan terus tumbuh setelahnya. Kadang kebahagiaan begitu hangat memelukku selepas mimpi itu hadir di malam-malamku yang paling gelap. Ia serupa penghiburan di antara derasnya rutinitas. Kali lain, mimpi itu serupa hantu, datang tanpa diundang dan meninggalkan rasa takut dan sakit hati berkepanjangan hingga aku terbangun dengan dada sesak.

Bukan, aku bukan ingin membuatmu merasa bersalah, Elang. Aku hanya ingin kau tahu, sejak hari itu, hari-hariku tak pernah sama lagi. Banyak orang mengataiku bodoh dan tak mau melangkah. Bukan aku yang begitu, Lang, tapi jiwaku yang lain yang menggerakkanku di alam bawah sadar sana yang selalu membawakan senampan kenangan dan memberiku dosis teratur dalam waktu tertentu yang tak terduga. Sakit, Lang, sakit.

Kalau saja Tuhan masih mau mendengar doaku, barangkali kegemaran-Nya mengajakku selalu bercanda adalah cara terbaik menghadapi hidup. Semesta yang merayakan segala kesakitanku di alam bawah sadar sana memang menginginkanku menjadi seseorang yang lain, seseorang yang berbeda, seseorang yang tak pernah sama dengan seseorang lain dua belas tahun yang lalu. Seseorang yang menemukan cinta pertamanya tepat pada pandangan pertama.

Seperti janjiku, Elang, surat-surat untukmu akan selalu kutulis dengan teratur, dalam waktu yang diinginkan semesta bagiku menuliskannya.

Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan di sana. Tetaplah mencintai hidupmu.

‪#‎RAB‬ 02062015
‪#‎tentangElang‬
‪#‎NulisRandom2015‬
‪#‎bangundarimimpiitusakit‬

DUA DARI SEPULUH JARI MASIH MAMPU MENGHASILKAN TULISAN


Pada Senin 25 Mei 2015, workshop cerpen Kompas diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. 30 orang peserta yang lolos dari 184 pendaftar mengikuti dengan antusiasme yang tinggi. Ini adalah kota ketiga dari lima kota yang direncanakan untuk pelaksanaan workshop cerpen sebagaoi salah satu bagian dari rangkaian acara ulang tahun 50 tahun KOMPAS. Saya beruntung bisa menjadi salah seorang dari peserta yang terpilih. Pemateri workshop di Bandung adalah dua orang luar biasa yang sudah malang melintang di bidangnya. Putu Wijaya dan Ahda Imran. Saya rasa saya tak perlu menuliskan rekam jejak karya mereka di sini. Tentu sudah banyak karya keduanya yang beredar di media dan diketahui bersama.
Yang saya salut adalah informasi kecil dan “menggebrak” ketika bli Putu Fajar Arcana memberikan sambutan, pembukaan dan memberitahukan pada peserta bahwa setelah pak Putu Wijaya mengalami stroke, beliau tidak berhenti menulis. Meskipun mengalami kesulitan menggerakkan jari-jari tàngannya, pak Putu Wijaya tetap menulis menggunakan kedua ibu jarinya mengetik di handphone. Oh, sungguh, saya merasa “ditampar” saat itu juga. Kita yang masih bisa menggunakan 10 jari dengan normal, masih sering mencari alasan dan tidak rajin menulis. Padahal kita sering gembar-gembor betapa kita mencintai dunia tulis-menulis yang terasa lekat dengan kehidupan kita. Saya kira dalam hal tersebut, Pak Putu Wijaya perlu dijadikan teladan dalam hal semangat dan produktivitas karyanya.
Berikut, saya tuliskan poin-poin materi yang diberikan oleh Putu Wijaya dan Ahda Imran Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengingat untuk tetap menghasilkan karya-karya yang baik.

#workshop #SESI PUTU WIJAYA

– Pelajari media yang ingin dikirimi cerpen, agar tahu cerpen seperti apa yang masuk kriteria, sebab satu media berbeda dengan media lainnya
– Kirimkan karya sesering mungkin, agar nama kita mudah diingat. Jangan berhenti mengirim karena karya kita tidak dimuat. Kadang-kadang redaktur akan mempertimbangkan karya kita kalau beberapa kali mengirim terus
– Untuk bisa disebut cerpen, sebuah cerita (baik pendek maupun panjang) harus punya: plot, fokus, pesan moral, “bahasa cerpen’, serta “tempo cerpen”.
– Umumnya cerpen dibaca “sekali duduk”. Cerpen memiliki sifat seperti anekdot. Bertopeng sapa santun, lama-lama menggigit dan meninggalkan pembaca melanjutkan sendiri pemikiran, perenungan, penggalian, dan pesan-pesan moralnya.
– Cerpen menembak satu sasaran dengan kecepatan tinggi. Seperti sprinter. Pembuka dan penutupnya memerlukan formula yang tepat. Sering di situ jantung cerpen. Ada yang membuat pembuka cerpen dengan pelan-pelan, dan ada yang “menggedor” langsung. Akhir cerpen ada yang selesai (happy ending dan sad ending) dan ada yang menggantung.
– Awal dan akhir cerpen disiapkan dengan teliti, agar sergapannya pada pembaca tidak meleset. Berarti cerpen harus disiasati dan direncanakan, sebagaimana peluru kendali
– Cerpen memerlukan manajemen. Perhitungan, efisiensi, efektivitas, kontrol, dan aktivitas yang terkendali serta terarah, menyebabkan cerpen bukan hanya luapan rasa, tetapi juga kegiatan berpikir.
– Untuk menulis sebuah cerpen, diperlukan keterampilan mempergunakan bahasa.
– Tulislah apa yang dilihat oleh mata, apa yang didengar oleh telinga, apa yang dikecap, dirasakan, apa yang disukai, tidak disukai, apa yang tidak diketahui, apa yang ingin diketahui.
– Kamu berhak menuliskan apapun yang tidak pernah diketahui, dan karena itu RISET SANGAT DIPERLUKAN untuk menulis sebuah cerita.
– Menjadi penulis itu artinya menjadi pejuang. Penulis adalah pejuang batin. Berjuang untuk mendapatkan ide, berjuang untuk menuliskan ide, dan berjuang untuk menyelesaikan tulisannya.
– Sebelum menulis, tentukan kamu mau jadi penulis di wilayah apa, apakah mau menjadi penulis di wilayah agama, di wilayah popular, penulis wanita yang menulis tentang wanita, atau penulis eksperimental. Dengan menentukan wilayah tersebut, akan memberi arah pada tulisan-tulisan kita.
– Tentukan pesan moral. Apakah pesan moral itu datangnya lebih dulu kemudian dibuat cerita, atau datang ketika ide cerita muncul dan disisipkan. Kita harus pandai menyisipkan pesan moral dalam suatu cerita agar tidak terkesan sedang ceramah atau menggurui pembca.
– Menulis itu harus khusyuk, karena ketika dalam keadaan khusyuk, seluruh indera kamu akan bekerja. Seperti pertapa.
– Menulis itu berpikir, mencari, berjuang, dan memperoleh sesuatu.
– Ide itu nakal. Dia datang kemudian cepat sekali pergi.
– Kelemahan kebanyakan penulis adalah:
1. Menunggu ide. Seharusnya ide itu dikejar, dicari, sampai akhirnya ide yang menunggu kamu.
2. Malas mengedit. Kita terlalu sayang pada kata-kata dan mudah kagum pada kata-kata yang kita tuliskan.
3. Menunggu mood.

Putu Wijaya menjadikan satu buku sebagai “pegangan” hingga saat ini (beliau juga merekomendasikan para peserta workshop untuk membaca buku ini). Judul bukunya “Teknik Mengarang”, terbitan Yayasan Obor, karya Mochtar Lubis. Dari buku tersebut, beliau mendapatkan “jurus” dan memberikan tips sebagai berikut:
1. Kalau ingin menulis jangan pikirkan temanya bagus atau buruk. Menulis saja, ini membiasakan tangan kamu mengekspresikan apa yang kamu rasakan
2. Setelah menulis, coba buang 1-3 alinea, karena itu adalah “kentutnya” atau “asapnya”. Asap atau kentut tersebut biasanya ditulis setiap kita mulai menulis, biasanya setelah alinea ke-3 tulisan kita lebih lancar dan tidak kaku. Dan apa yang dibuang tersebut biasanya tidak mempengaruhi pada keseluruhan cerita, malah menjadikan tulisan lebih padat.
3. Setiap selesai menulis, simpan. Setelah tidak memiliki keterlibatan emosi, baca lagi dan buang “lemak-lemak” tulisan yang tidak perlu. Seperti tubuh, lemak yang dibuang akan membuat tubuh lebih sehat. Begitu juga dengan tulisan.
4. Memulai sebuah cerita jangan memakai “pemanasan”, apalagi sampai berputar-putar, langsung saja pada persoalan. Jika pemanasan terlalu “berdandan”, maka cerita akan terlalu panjang. Jika terlalu menggebrak, maka pembaca akan terkejut.
5. Jangan berhenti menulis kalau kamu macet
6. Biasakan menulis di kepala sampai selesai. Biasakan untuk membayangkan ceritanya seperti apa, alurnya bagaimana, hingga cerita selesai itu semua dipikirkàn di otak. Setelah itu baru diketik.
7. Tubuh kita adalah instrument yang luar biasa. Kalau kamu merawat tubuh kamu, maka tubuh akan merawat kamu. Kompromi. Berdamailah dengan tubuh. Tidurlah ketika mengantuk, jangan memaksakan menyelesaikan tulisan. Tubuh yang lelah tidak baik untuk produktivitas.

Putu Wijaya sangat menyukai novel-novel Agatha Christie, tips dari Agatha yang pernah dibacanya adalah:
1. Jangan sampai pembaca tahu lima baris kalimat selanjutnya
2. Buat pembaca seperti pintar dengan bisa menebak arah cerita, lalu patahkan tebakan pembaca tersebut.
Perhatikan novel-novel Agatha Christie, pembaca selalu merasa “tertipu” dengan apa yang dibacanya, merasa bisa menebak, lalu ternyata tebakan pembaca itu salah.

CERPEN YANG BAGUS ADALAH CERITA YANG MENYAJIKAN PENGALAMAN BATIN PENULISNYA DAN MEMBERIKAN PENGALAMAN BATIN KEPADA PEMBACANYA.

====================================================================================

#workshop #SESI AHDA IMRAN

Lain Putu Wijaya, lain pula Ahda Imran dalam menyampaikan materi workshop tentang penulisan cerpen. Bagaikan dalam sebuah cerita dengan dua tokoh protagonis dan antagonis, Ahda Imran menyoroti teknik menulis cerpen dari sudut pandang negatif (yang tentu tidak untuk dilakukan, dan harus mengambil jalan sebaliknya)

Beberapa Langkah Menulis Cerpen Jelek dan Tidak Mengesankan

Materi Cerita
Pilih materi cerita yang sedang trend, misalnya:
Lokalitas (sisipkan istilah-istilah lokal, adat istiadat agar terkesan eksotis, jangan lupa pakai catatan kaki): Budaya urban , gaya hidup, dan gender (menyebut tempat-tempat terkenal di kota besar, jenis makanan dan minuman, merek-merek terkenal, bumbui dengan adegan-adegan panas dan “berani”, tokoh perempuan yang bebas dan memberontak): Kritik sosial atau sejarah (pembangunan atau nasib tapol).
•Jangan terlalu mendengar omongan bahwa materi cerita berhubungan dengan pengalaman personal pengarang, menulis karya sastra ialah kerja riset dan observasi
•Dunia keseharian bukanlah materi cerita yang menarik. Meski kita mengenalnya dan terlibat di dalamnya, tapi itu bukan materi cerita yang menarik, termasuk kehidupan di dalam rumah (karya sastra harus berada di luar rumah). Ingat, trend adalah sensor.

Mengolah Bentuk
•Bahasa sebagai kendaraan cerita. Bercerita saja tak perlu hirau dengan hubungan bahasa dan imajinasi pembaca. Bahkan tak ada hubungan antara bahasa dan penokohan, irama (tempo), deskripsi adegan, atau dengan logika cerita.
•Jangan terlalu mendengar omongan bahwa bahasa adalah salah satu tujuan karya sastra, atau ungkapan, “yang tak kalah penting bukan apa yang ingin kamu ceritakan tapi bagaimana kamu menceritakannya”.
•Melaburi cerita dengan bahasa yang akan menyentuh hati dan jiwa pembaca, menyentuh, indah, hingga deskripsi yang paling detail.
•Lupakan omongan temanmu yang sirik dan bilang ceritamu terlalu lebay, hiperbolik, cerita yang dibunuh oleh bahasa.
•Memilih tokoh yang wataknya mewakili kebaikan dan keburukan. Dialog tokoh jahat harus kasar dan suka tertawa, wajahnya jelek; tokoh baik harus bicara lembut, sopan, dan harus menderita. Jadikan tokoh sebagai representasi gagasan idealmu sebagai pengarang, meski pun tokohmu itu seorang anak kecil, misalnya.
•Jangan percaya jika ada orang bilang bahwa konflik bisa berkembang dari watak para tokoh; konflik atau bangun suasana cerita.
•Biarkan saja orang bilang karya sastra adalah upaya melawan klise, melawan bahasa-bahasa umum.
•Sudut pandang penceritaan sebaiknya adalah representasi ideal pengarang; karena itu tak ada bedanya apakah kamu akan bercerita dengan teknik orang pertama (Aku-an), atau sebagai narator dengan teknik orang kedua. Tidak usah tertarik untuk melakukan eksperimen, bercerita dari sudut pandang antagonis, atau cerita dengan teknik Aku-an yang berpindah-pindah, atau hanya menjadi narator seperti halnya dalang.
•Lupakan saja komentar temanmu yang mengatakan sudut pandang penceritaan itu penting untuk membawa pembaca ke dalam emosi cerita yang berhubungan dengan watak penokohan, struktur atau plot, suasana, dan penajaman konflik.

Dalam versi “serius”, uda/kang Ahda Imran memberikan tips yang baik sebagai berikut:
– Kalau paragraf awal sudah berbelit, maka dipastikan cerpen tersebut jadi jelek
– Kalimat-kalimat dalam cerpen jangan dibuat njelimet, jangan sampai pembaca harus berpikir keras dan mencari arti kalimat tersebut.
– Penokohan harus disesuaikan dengan (teknik) dialog.
– Perhatikan tempo, deskripsi, dan logika cerita.
– Tema lokalitas dan keseharian itu akan lebih kuat jika kita benar-benar mengalaminya, atau berada di daerah di mana kita berada.
– Watak satu tokoh bisa mengembangkan ide
– Cerpen-cerpen yang bagus, watak tokohnya tidak hitam putih, tidak lurus. Ingat, tokoh yang kita tulis bukan malaikat yang serba sempurna.
– Jangan membuat cerpen jadi ceramah dan menggurui pembaca
– Cerpen itu harus menghadirkan gagasan kesadaran. Cerpen jadi menarik jika pembaca diajak untuk mencari/mendapat/menciptakan makna dari hasil bacaannya.

=================================================================================

Demikian rangkuman materi yang saya dapat dalam Workshop Cerpen Kompas 2015 di Bandung. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, kesadaran dan kejernihan berpikir.
Oya, ada satu pesan dari bli Putu Fajar Arcana: untuk menulis cerpen yang bagus diperlukan “kegilaan”, berpikir di luar kebiasaan. Sebab kreativitas itu tanpa batas.

Selamat dan semangat menulis, teman-teman. Semoga bermanfaat. Salam manis 😉

WORKSHOP PENULISAN SASTRA


workshop sastra

Salam Sastra,

Dalam rangka memeriahkan Hari Sumpah Pemuda yang ke – 86 tahun dan Hari Pahlawan,
Ikutilah WORKSHOP PENULISAN SASTRA bersama Bunda Fanny Jonathans, seorang editor dan novelis asal kota Jakarta putri dari Satrawan Indonesia GERSON POYK.
Dan Seorang Dokter Puisi / Dewa Putu Sahadewa, Sastrawan asal Bali yang kini menetap di Kupang. Serta Bincang Sastra bersama Bapak Gerson Poyk

Diselenggarakan oleh KOMUNITAS BUDAYA POSSTHEATRON GARUT , pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 8 November 2014
Waktu : 08.00 WIB – 16.00 WIB
Tempat : Padepokan Sobarnas Martawijaya
Ds.Langensari, Cipanas,Tarogong Kaler
Kabupaten Garut

Pendaftaran dibuka mulai hari ini hingga 6 November 2014.
Semoga dunia sastra Indonesia dapat terus berkontribusi dalam pengembangan manusianya.
Silahkan merapat dan mendaftarkan diri bagi yang berminat.

Formulir pendaftafan dapat diunduh di http://www.posstheatron.wix.com/garut

SURAT (YANG SELALU KUTUJUKAN) UNTUKMU


cerpenqalby
dimuat di tabloid Qalby no 02/XXIV/8-14 September 2014

SURAT (YANG SELALU KUTUJUKAN) UNTUKMU
Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

Lang, rambutku rontok. Aku tiba-tiba ingat papa. Dan kamu.
Malam ini bulan bulat sempurna. Apakah rindu seterang purnama di hatimu?
#RAB1206

Harusnya serangkaian kata ini kau baca dengan cermat, Lang. Betapa ingatanku tentang segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupanku selalu bermuara pada mata air yang sama. Sejauh dan sebanyak apapun percabangan sungai hatiku yang melayarkan rindu, sumbernya masih rasa yang itu-itu juga. Kehilanganmu sama beratnya seperti rasa kehilanganku terhadap papa, meskipun tentu rasa kehilanganmu lebih kecil dibanding kehilangan panutan dan teman diskusi sebaik papa. Tapi jalanku selalu limbung setelah siang yang terik memakan habis seluruh tenagaku di pojok ruangan tempatku membaca surelmu. Seakan bumi mengisap tuntas daya topang tubuhku hari itu. Seluruh tonggak kebanggaan yang selalu membuatku tegak dan percaya diri berjalan kau tebas dalam kecepatan yang tak pernah kuperkirakan sebelumnya. Salahku, memercayakan sumbu hidupku padamu. Apa kau pernah memikirkan mengapa setiap aku berlari dan meneriakkan pertanyaan padamu, aku seperti menghadapi dinding gua yang dingin dan memantulkan suaraku? Selalu gigil menyerangku setiap namamu menjadi bisikan doa yang masih saja kerap kucakapkan secara rahasia dengan Ia, Sang Maha Sutradara.

Ah, tentu kau tak tahu itu semua, bukan? Barangkali juga tak peduli selautan apa air mataku menangisi kepergianmu yang tergesa dan tak menyisakan sebuah tanya pun untuk kau jawab. Tentu kau tak ingin tahu tahun-tahun mana saja yang tak tak memberiku kesempatan untuk bernapas dan menghindari doa-doa yang sebenarnya terlalu ngilu tapi tetap kupanjatkan diam-diam. Tak ada, Lang. Setiap tahun tak ada yang kulewatkan tanpa tetap mengharapkan kepulanganmu di rumah yang kita gambarkan, pulang ke setiap cita-cita yang kita buatkan daftarnya.
Sedangkan bagian lain dari diriku sepenuh sadar mengucapkan syukur atas setiap kebahagiaan yang kau raih. Tapi diriku yang lain tak pernah ingin berhenti menuliskan jumlah hari dalam tahun yang penuh surat-suratmu.

Ah ya, apakah kau masih ingat itu, Lang? Kau selalu mengirimiku kabar tentang apa saja, dengan nada yang seolah ingin berkata “betapa beruntungnya aku menemukan cinta dan perempuan sepertimu”. Sehingga aku selalu seperti pejalan yang merindukan air segar untuk diteguk setiap suratmu terselip di bawah pintu rumahku. Kau tahu, hari-hari menanti suratmu sampai kadang seperti membawaku berjalan di setapak penuh bunga-bunga yang indah. Tak ada lelaki yang pernah mengirimiku surat penuh kesan seperti itu, Lang. Dan aku akan dengan tekun mengabarkan hari-hariku menggeluti berbagai hal di kota dengan jarak berjam-jam dari kotamu.

Masih ingatkah kau pada suratmu yang lain ketika pekerjaan membawamu harus menetap di kota lain untuk beberapa lama, dan itu membuatmu sedikit sulit mencari waktu menemuiku? Lalu kau kisahkan tentang induk semangmu dan keluarganya yang baik hati, tentang panen mangga yang semanis pertemuan pertama kita, dan itu membuatku semakin ingin segera berada di sisimu.

Ah, barangkali kau sudah lupakan itu dan mengisi hari-harimu dengan sederet kesibukan dan tentu saja: ingatan tentangku tenggelam di pekat malam.

Ini sebuah isyarat.
Dan kau melulu menjelma tempat kemana rinduku mencari alamat.
Lang,bintang jatuh indah berbinar di bola matamu.
#RAB1206

Kau tahu aku selalu mengibaratkan kehadiranmu seperti bintang jatuh, Lang? Ilmuwan berkata, bintang jatuh selalu indah dan mengesankan. Kemunculannya yang sangat jarang menyebabkan ia dijadikan mitos tentang harapan yang semestinya diucapkan ketika ia datang. Bagiku seperti itu jugalah kamu, Lang. Dalam rentang waktu jutaan tahun cahaya, bahkan sejak inkarnasi pertama takdirku adalah menunggu bintang jatuhku. Dan kau hadir mengubah segalanya, menyodorkan banyak cahaya dari kedua telapak tanganmu ke hadapan mataku.

Malam ini terang bulan yang bulat sempurna memendarkan cahaya ke langit hatiku juga, Lang. Tentu saja rasa hangat masih memenuhi ruang di dadaku setiap sekelebat ingatan memanggil namamu dan peristiwa-peristiwa ketika kita sering melahirkan banyak tawa meskipun seserpih luka perih mengiris jantungku. Tak apa, Lang. Tak perlu kau kuatirkan itu. Bukankah jalan seperti ini yang telah kupilih? Mencintaimu dalam sunyi, menggenapi janji yang kita ikrarkan bersama, meskipun putaran waktu tak juga menyatakan pilihannya untuk berpihak pada kisah kita.

Langit terasa lengang, Lang. Sekumpulan bintang sepertinya memilih bersembunyi ke bilik-bilik puisi milik para penyair. Aku mengirimkan sekecup rindu lewat udara ke atas sana, berharap kau sedang memandang langit yang sama denganku. Terakhir kali kita bertemu, degup di jantungku masih berdetak kencang setiap pandanganku jatuh pada tulang rahangmu yang kokoh itu. Juga matamu. Detik itu, entah kenapa aku membaca rindu yang samar-samar kau kemas dan sembunyikan dalam-dalam. Aku tak perlu bertanya alasannya, bukan? Gelombang kita masih berada di alur yang sama. Simbol-simbol yang dipantulkan ke udara selalu mampu kita baca, meski kau dan aku tak saling bersapa. Demi kita, demi semesta, dan orang-orang yang juga mencintai kita.

Elang, apa kabarmu? Aku masih memenuhi janjiku untuk selalu menyuratimu.
***
2014