BERAPA SISA PELURU DI PISTOL?


Membaca novel “Ya, Aku Lari!” karya Hasan Aspahani ini saya seperti dibawa berkelana ke banyak tempat dan peristiwa. Satu dan lain saling berkaitan.

 

Awalnya sempat teralihkan fokus, sebab ada beberapa konflik yang dihadirkan dalam cerita. Persoalan Mat Kid dengan Alta—-anaknya, Mat Kid dengan Samon dan Hamdun, juga keterkaitan bom dan intrik politik di negeri ini yang melibatkan para pejabat atas.

Kisah satu dan lain yang berkaitan ini tentulah terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kita pun mengalami banyak arsiran dengan beberapa orang yang kemudian orang-orang tersebut terhubung pada orang atau peristiwa lain yang mengakibatkan kejadian tertentu. Rumit, bukan? Begitulah hidup, tak ada yang sesederhana itu.

Menurut saya, Alta dan Kavi alias Barbar jadi pemanis sekaligus pelengkap rangkaian cerita. Kisah asmara disisipkan sebagai “bumbu”. Dan sebagai bumbu, jika dihilangkan, tentu saja terasa hambar.

 

Mat Kid yang sekeluarnya dari penjara ingin memulai hidup baru dengan membangun kafe kopi, terus-menerus dibujuk untuk kembali terlibat dalam “proyek” yang lebih besar, sesuai keahliannya: melenyapkan orang-orang yang dianggap “membahayakan” atau akan mengacaukan suatu kepentingan.

Penulis merangkai cerita dengan apik, membuat kita semakin yakin bahwa sesungguhnya sebagai “rakyat biasa”, kita hanya melihat apa yang terjadi sesuai mata dan telinga kita, apa adanya. Kita bisa saja terlalu lugu menjadi pendukung fanatik kelompok tertentu, dan membenci kelompok lain yang tak sealiran. Padahal di tingkat atas, bisa saja mereka saling berangkulan untuk menciptakan rencana-rencana lain yang lebih besar, dengan memanfaatkan konflik di tingkat bawah. Misalnya saja penangkapan Ajmal yang dituduh melakukan penggalangan kekuatan terorisme. Tuduhan yang mencurigai bahwa keberhasilan kegiatan perkebunan kopi itu untuk mendanai kelompok radikal. Sehingga pemimpin kelompok petani tersebut (yang berpenampilan seperti kebanyakan teroris), diamankan. Padahal alasan lain di balik itu adalah kepentingan pemodal besar yang menggandeng koperasi militer. Sang investor sangat bernafsu menguasai lahan kopi —bisnis yang sedang besar sekarang— sehingga melakukan berbagai cara untuk menguasai lahan.

 

Sedangkan Mat Kid yang pernah berada dalam penjara yang sama dengan Ramlan, kemudian menaruh curiga pada Hamdun yang dianggap mengkhianati dia dan Samon, karena merangkul Ramlan dari kubu politik yang berbeda.

Kedok Samon terbuka justru menjelang akhir hayatnya, di saat Mat Kid meragukan kedua sahabatnya itu dan merasa bimbang, siapa yang seharusnya dia percayai, Samon atau Hamdun?

 

Twist tak terduga dihadirkan di halaman terakhir. Kesetiaan anak buah pada kelompok dan atasannya, dinyatakan oleh Ale, yang menodongkan pistol pada Mat Kid.

Untuk novel setebal 176 halaman, konflik yang dihadirkan di antara tokoh, rasanya bikin gemas. Saya seperti menonton film atau membaca novel detektif, dibuat menebak-nebak terus hingga merasa rugi jika bacaan saya terkena jeda.

 

Tapi ada yang membuat ganjalan dalam pikiran saya. Saat polisi menyatakan Samon ditembak oleh pengawal Hamdun, seorang polisi aktif, dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu peluru berasal dari pistol Mat Kid. Tapi saat otopsi, dikatakan bahwa peluru berasal dari pistol yang sama. Ini karena Mat Kid melompat dan berada di garis lurus antara pengawal Hamdun dan Samon. Tapi sampai sekarang saya bingung, membayangkan bagaimana dia melompat mengambil pistol di meja, lalu melompat lagi ke garis lurus antara pengawal dan Samon, hingga tepat menembak sama lurus dengan sang pengawal. Otopsi mengatakan, peluru berasal dari pistol yang sama. Sidik jari dari pistol yang sama tentu saja sidik jari pengawal. Katanya Mat Kid mengambil pistolnya sendiri, tapi kenapa ada di atas meja? Bagaimana dengan jenis pistol, apakah sama juga? Jika otopsi polisi bahwa peluru berasal dari pistol yang sama, benarkah sisa peluru jika dijumlahkan dengan peluru yang tertembak ke badan Samon sudah sesuai? Apakah benar akhirnya kasus penembakan ini “ditutup” karena Samon terbukti menembak dua pengawal lain? Atau karena ada “kepentingan politik” lain yang tidak diceritakan?

Ah, rupanya saya harus mengulang lagi membaca novel tersebut dengan cermat untuk menjawab rasa penasaran ini.

 

#RAB, 01022019

===

Judul Buku: Ya, Aku Lari!

Penulis: Hasan Aspahani

Tebal halaman: 176 hlm

Penerbit: Diva Press (2018)

Iklan