MENELADANI SEMANGAT IBU APIPAH (Opini di Kabar Priangan Sabtu 22 Desember 2012)


MENELADANI SEMANGAT IBU APIPAH

Ratna Ayu Budhiarti
Penyair, cerpenis
Tinggal di Garut

Sebab keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa juga berada di tangan perempuan hebat. Setiap orang pasti sudah hapal bahwa tanggal 22 De­sember diperingati sebagai Hari Ibu. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, peringatan serupa dilaksanakan, meski dalam waktu yang berbeda. Berbagai diskusi tentang peranan perempuan, terutama ibu kerap dilakukan pada tanggal tersebut, bahkan juga lomba-lomba yang berkaitan dengan posisi perempuan sebagai “ibu” turut meramaikan perayaannya. Di negara Barat, Mother’s Day diperingati dengan lebih menitik beratkan pada prestasi domestik kaum perempuan, sehingga istri/ibu dimanjakan seharian penuh.Penetapan Hari Ibu tidak lepas dari Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, dimana para perempuan terpanggil untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indone­sia. Kemudian dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 22 Desember 1928, dilaksanakan Kongres Perempuan I di Yog­yakarta, yang melahirkan kesadaran bahwa perjuangan kaum perempuan tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Dan sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1938 ketika diadakan lagi kongres, ditetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Dari hasil kongres tersebut kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa perempuan me­me­gang peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan, dan posisinya sebagai ibu bagi anak-anaknya memiliki kewajiban membimbing dan mendidik mereka sebagai tunas bangsa yang kelak memimpin negara dan bangsa menuju ke arah yang lebih baik lagi. Karena itulah perempuan dapat pula dika­takan sebagai ibu bangsa. Selain peranannya dalam ling­kungan domestik, fungsi sosial perempuan di masyarakat berperan tidak kalah penting pula dibandingkan dengan laki-laki. Benang merah yang dapat diambil dari perjuangan perempuan pada masa penjajahan dengan masa sekarang ini ialah sama-sama masih harus terus berjuang di bawah bayang-ba­yang stigma yang berlaku umum di masyarakat bahwa perempuan itu lemah dibandingkan laki-laki. Meskipun kesetaraan gender sudah sering digaungkan para aktivis agar perempuan memiliki hak yang sejajar dalam bidang pendidi­kan dan pekerjaan, namun di beberapa daerah masih saja pe­rempuan menjadi kaum yang direndahkan, dijadikan objek penderita, dan masih harus pasrah di bawah titah adat yang menjadikan kedudukannya ha­nya sebagai pelengkap status para lelaki. Perjuangan perempuan ini masih harus tetap di­lan­jutkan, meski tentu saja tan­pa mengesampingkan kodrat dan kewajibannya terha­dap keluarga dan rumah tangga. Terkait dengan itu, banyak sudah perempuan-perempuan yang berjuang di bidangnya masing-masing, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun politik. Semua berpacu menye­tarakan kedudukannya bukan dengan maksud menyaingi lelaki, tapi semata pembuktian diri bahwa perempuan pun mampu melakukan hal-hal penting demi kemajuan bangsa. Tidak seperti jaman sekarang, pada era tahun tujuh puluhan misalnya, perempuan yang aktif berpolitik/berorganisasi dan menduduki kursi anggota dewan tidak banyak jumlahnya, terutama yang bukan berasal dari kota besar. Salah satunya adalah Apipah Nataatmaja. Mungkin nama ini tidak terlalu dikenal kiprahnya oleh masyarakat Tasikmalaya, meski namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan. Pada­hal beliau sangat aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi pada jamannya. Maka dalam rangka memperingati Hari Ibu, penulis akan membahas sekilas tentang kehidupan seorang Apipah Nataatmaja.Pernahkah Anda melewati sebuah jalan yang menyambung­kan antara jalan HZ. Mustofa dengan jalan BKR menuju jalan Cikalang di Tasikmalaya? Jalan yang merupakan jalur alternatif menuju lapangan Dadaha ini bernama Jalan Ibu Apipah. Jalan yang sekarang diramai­kan oleh penjual macam-ma­cam makanan. Namun siapa­kah Ibu Apipah ini sebenarnya? Bernama lengkap Apipah Nataatmaja, dilahirkan di Ciba­tu, Garut, pada tanggal 19 September 1910 sebagai anak pertama dari sebelas ber­saudara dari pasangan Masdan Nataatmaja dan Ocin Karnesih. Beliau juga merupakan kakak tertua dari seorang tokoh mantan gubernur Jawa Barat sekaligus pendiri Universitas Siliwangi Tasikmalaya dan Pembina Universitas Pakuan Bogor, almarhum Letjen (Purn) H. Mashudi Nataatmaja.Ibu Apipah bersekolah di Ga­rut – Chr. H.I.S, kemudian mendapat pendidikan khusus dari bekas gurunya di Garut, sehingga menjadi guru Taman Kanak-Kanak di Chin.School Tasik­malaya dari tahun 1933 sampai tahun 1941. Pada masa pendudukan Jepang menjalani operasi di Bandung dan sejak itu menetap di Bandung. Saat terjadinya Bandung Lautan Api, ia mengungsi ke Ciparay dan me­mimpin dapur umum. Ke­mu­dian dilanjutkan mengungsi ke Tasikmalaya dan memulai usa­ha kerajinan, lalu mendi­rikan toko Patriot sambil berorganisasi di Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), dan mendirikan Yayasan Hara­pan untuk menampung anak-anak yatim, terutama korban tentara DI/TII.Pada tahun 1957 ia pindah ke Bandung dan mendirikan Gift Shop Patriot di sana, tetapi karena urusan organisasi terlalu menyita waktunya akhirnya toko itu ditutup. Sempat aktif sebagai penasihat Koperasi Wanita Bhakti di organisasi Perwari dan Badan Koordinasi Organisasi Wanita Indonesia (BKOW).Karena aktif berorganisasi, beliau terpilih menjadi anggota DPRD Tasikmalaya dan kemudian menjadi anggota DPR RI (1973-1978). Hingga akhir hayatnya beliau tidak berhenti dengan kesibukan organisasi. Ia sendiri tidak menikah dan mencurahkan perhatiannya untuk mengurus anak-anak yatim di yayasannya. Apipah meninggal pada tanggal 23 November 1990, dan dimakamkan pada tanggal 24 November 1990 di pemakaman umum Cieunteung Tasikmalaya.Untuk mengenang jasa beliau, pemerintah memberi nama salah satu jalan dengan nama “Jalan Ibu Apipah” yang ber­lokasi di bekas tempat yayasan itu berada. Sebagai perempuan, Apipah telah membuktikan kemandirian dan dedikasi penuh terhadap organisasi dan kegia­tan sosial, juga sebagai salah satu “ibu” anak-anak bangsa yang telah memberikan manfaat positif dari dirinya bagi orang banyak.Jadi, wahai para perempuan, marilah kita tetap berjuang di bidang masing-masing sehingga dapat memberi manfaat dan motivasi positif pada lingkungan sekitar kita dan masyarakat pada umumnya. Sebab keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa juga berada di tangan kita, para perempuan hebat. Selamat hari Ibu!***

Iklan