Membaca Kucing Murakami


 

 

 

 

46374125._SX318_Mayoritas kisah dalam buku kumpulan cerita ini menuturkan petualangan imajinasi. Ada kucing yang berubah jadi manusia dan kebingungan menyesuaikan diri, kemudian tertarik pada lawan jenis, seorang perempuan bungkuk yang aneh. Lalu ada lelaki yang berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah bar dan bertemu orang-orang misterius. Beberapa kisah menggantung dengan imajinasi yang melompat. Lumayan.

Iklan

KENAPA MESTI RATU SEKOP?


Ya, kenapa mesti Ratu Sekop? Dari ketiga belas cerita pendek, Iksaka Banu memilih Ratu Sekop sebagai judul. Hak prerogatif penulis, tentu saja. Tapi kenapa tidak “Lelaki dari Negeri Halilintar”, atau “Istana Gotik”, atau “Film Noir”, judul-judul cerpen lain yang tak kalah menariknya dengan “Ratu Sekop”? Ketiga cerita itu juga sama getir menggambarkan situasi dan hidup seseorang.

Barangkali saya sedikit terlambat menikmati karya yang terbit tahun 2017 ini. Tapi buku lama pun selalu baru jika belum pernah dibaca, bukan?

 

Khas sekali tulisan Iksaka Banu ini. Diksi-diksi yang sederhana tapi dirangkai ciamik. Pembaca dibawa ke lorong-lorong imajinasi yang berwarna. Sesekali gelap dan membuat kita harus menebak-nebak. Plot twist di beberapa cerita mudah ditebak sejak awal. Misalnya tokoh Guntur dalam kisah “Lelaki dari Negeri Halilintar”, meskipun saya yakin dia adalah seseorang yang diutus Tuhan untuk mengambil nyawa Nyonya Lita, tapi penceritaannya membuat saya tetap lanjut membaca huruf demi huruf, bahkan sampai ketika tebakan saya bertemu kebenarannya.

Karena saya sebelumnya lebih dulu menikmati tulisan Iksaka Banu lewat novel yang berbau kolonial atau sejarah, saat membuka halaman pertama, ekspektasi saya tentu temanya tidak jauh-jauh dari sana. Tapi ternyata salah. Meskipun tidak meleset-meleset amat. Dalam kumpulan cerpennya ini, riset dan pengetahuan penulis yang spektrumnya luas sangat terasa. Penulis bisa menceritakan detail bagaimana orang yang diserang Vertigo (yang jadi judul salah satu cerpennya), bagaimana pula orang-orang dengan “indera keenam” memiliki kemampuan itu tanpa sengaja (dalam cerpen “Listrik”), kemampuan yang disambut gembira tapi akhirnya dirasa sebagai ketakutan manusiawi. Serta detail-detail lain semisal jenis senapan dan bagaimana hasil tembakannya dalam cerpen “Sniper”.

Dalam “Undangan Seratus Tahun” dan “VIP”, cerita bercampur dengan imajinasi seperti dalam film-film futuristik: benda asing muncul yang terbang di Laut Selatan, manusia yang berubah jadi android karena tak sudi menuruti perintah untuk menuju kematian. Absurd, sekaligus menyentil; betapa seseorang sesungguhnya memiliki pilihan untuk tidak menuruti perintah kekuasaan, setiap orang berhak menentukan akan mati dalam tekanan atau memilih jalannya sendiri.

 

Kisah dengan tema perselingkuhan seperti dalam “Film Noir” dan “Cermin”, diketengahkan dengan ungkapan dan sindiran yang halus. Segala cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginan paling purba seseorang. Meski diawali rasa cinta, di kemudian hari bisa berkembang menjadi liar atau di luar nalar. Ketika tokoh Windy dalam kisah “Cermin” akhirnya “membalas dendam” pada sang kekasih dengan cara yang persis sama dilakukan sang pria ketika mereka masih saling berkasih-kasihan, menggunakan bayangan dan cermin. Itu pula yang dilakukan Arya (Film Noir), ketika mengetahui istri yang dipopulerkan olehnya kedapatan selingkuh: balas dendam.

 

Balas dendam juga bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat. Seperti Armin Kelana, pelukis yang sakit hati ketika tidak menerima apresiasi yang diharapkan, sehingga ia terpaksa membunuh orang-orang tidak bersalah dalam kisah “Belati”, padahal niat awalnya ia ingin membalas dendam dengan caranya sendiri.

 

”Jubah” pun tak luput dari bumbu intrik perselingkuhan dan balas dendam. Juga pada “Istana Gotik”, yang mengisahkan centeng yang jatuh hati dan merasa harus selalu melindungi Nona Miranda yang menganggapnya ayah dan meminta perlindungan selayaknya seorang anak.

 

Hubungan ayah-anak digambarkan manis sekaligus tragis dalam cerpen “Sniper”. Ibarat menonton film perang, cerpen ini memberikan kejutan yang menyedihkan. Gambaran akan keharmonisan hubungan seorang ayah dan anaknya, dibenturkan dengan kenyataan dalam perang ketika sang prajurit yang pernah menembak milisi dan mendapati foto anaknya hingga dihantui perasaan bersalah, justru menjumpai kenyataan anak itu telah tumbuh dewasa dan sepertinya terlibat dalam “misi balas dendam”.

 

Rasanya tema-tema balas dendam, intrik, perselingkuhan, mayoritas muncul dalam ketigabelas cerita di buku ini. Ratu Sekop mungkin pengecualian. Penulis memaparkan bagaimana seorang pelukis akhirnya mengubah rencana awal karena sang model lebih tepat mewakili Joker.

 

Ah, terlalu panjang rupanya ulasan kali ini. Sebaiknya baca sendiri sajalah bukunya. 🤭😉

 

#RAB, 01022019

===

Judul: Ratu Sekop

Penulis: Iksaka Banu

Jumlah halaman: xii+189 hlm

Penerbit: Marjin Kiri (2017)

46823D65-DF38-4E3D-BF55-BEBC209D065C

BUKU BICARA, 5 PENULIS 3 GENRE


Dimuat di Selisik, Pikiran Rakyat, Senin 3 Maret 2014, halaman 21.

BUKU BICARA, 5 PENULIS 3 GENRE
Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

Hujan menderas sore itu. Pendopo Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah diselimuti udara dingin. Pukul 15.30 ketika seharusnya acara sudah dimulai, beberapa orang mulai berdatangan. Mereka mengalami kendala transportasi dan dihadang hujan saat berpindah dari lokasi acara Melacak Iklan Sastra Tempo Dulu, di Kepatihan Artspace. Jarak yang memakan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan itu tak menghalangi niat para penikmat sastra dan peserta untuk menghadiri acara.

Selain diskusi tentang buku Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo di Balai Soedjatmoko, Buku Bicara dari 5 orang penulis adalah bagian yang ditunggu-tunggu pada Sabtu 22 Februari 2014. Sebab kebetulan 4 penulis yang bukunya terpilih untuk dibahas berasal dari Jawa Barat, dan 1 penulis lain berasal dari Solo. Buku-buku yang diulas adalah cerita silat Jaka Wulung- Hermawan Aksan (Bandung), kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut- Dian Hartati (Bandung), novel Jurai –Guntur Alam (Bekasi), kumpulan puisi Dada yang Terbelah- Ratna Ayu Budhiarti (Garut), kumpulan cerpen Rembulan Merah- Abednego Afriadi (Solo).

Suasana menjadi hangat setelah moderator, Indah Darmastuti, membuka acara dan menyilakan peserta menikmati wedangan yang disajikan. Kemudian 5 orang pengulas buku satu persatu mulai mempresentasikan esainya. Sementara para penulisnya sendiri berbaur dengan peserta, menyimak dengan baik setiap tutur kata pengulas.

Setyaningsih, pengulas pertama yang membahas tentang buku kumpulan puisi Dada yang Terbelah, menyorot peran penting seorang wanita dalam kedudukannya di rumah tangga: sebagai anak, istri, dan ibu. Esais muda yang tulisannya kerap muncul di berbagai media lokal dan nasional itu mengutarakan bahwa puisi mengimajinasikan gerak tubuh bersama waktu dan peristiwa. Dan peran diri dalam membentuk dan memilih kata-kata demi kelahiran puisi.

Novel Jurai diulas oleh Andri Saptono, penulis cerpen dan novel sekaligus editor di salah satu penerbit di Solo. Dalam novel ini, Guntur Alam dianggap berhasil menampilkan cerita dengan latar belakang lokalitas Tanah Abang, Sumatera Selatan. Kata jurai itu sendiri bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal, maka akan dikatakan: itu jurai orang tuanya, seperti pepatah buah tak akan jauh dari pohonnya. Banyak nilai indah yang disematkan dalam perjuangan tokoh Catuk di novel ini.

”Tapi saya agak terganggu dengan pola pikir Catuk yang terlalu dewasa, tak sesuai dengan usia anak kelas lima SD. Begitupun ketika ada adegan ia jatuh cinta pada teman wanitanya lalu menjalani cinta platonis. Penggambaran kedewasaannya terlalu dipaksakan”, Andri melempar kritik, meskipun menurutnya secara kualitas teknis novel ini tak banyak masalah.

Sedangkan pada kumpulan cerpen Rembulan Merah, sang pengulas, M. Fauzi Sukri, mengungkapkan bahwa pembaca akan lebih gampang menemukan sosok ayah sebagai tokoh yang paling sering menjadi pusat, bukan ibu. Dari 15 cerita pendek yang terkumpul di dalamnya, ada bayang-bayang pemaknaan keluarga. Keluarga bukan saja menjadi bingkai yang melingkupi tokohnya, tapi bahkan menguasai dan menjadi semacam kekuatan yang tak pernah bisa dilawan atau tidak boleh dilawan, dibongkar, dan dihancurkan.

Lain lagi dengan buku kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut yang diulas oleh Arif Saifudin Yudistira. Menurut Arif, puisi itu subjektif. Puisi-puisi yang ditulis Dian Hartati lebih merupakan puisi keseharian dengan dibingkai oleh perasaan-perasaan penyairnya. Kumpulan puisi Dian seperti mengajak pembaca ke dalam duka yang mendalam tanpa harus meneteskan air mata meski penyair sudah mencoba membagi duka laranya.

Pembahasan serius menjadi cair ketika Gunawan Tri Atmojo menyatakan kekecewaannya secara gamblang terhadap trilogi cerita silat Jaka Wulung. “Sayangnya saya tidak menemukan adegan pendekar mencabuli perempuan sambil merampok. Padahal kan biasanya cerita silat itu gitu, kalau gak tokohnya mabuk di kedai lalu berantem, ya ada adegan seksualnya. Tapi saya gak menemukan itu di Jaka Wulung”, papar Gunawan setengah berkelakar sehingga membuat yang hadir tertawa.
Hermawan Aksan menulis Jaka Wulung berdasarkan kaidah-kaidah penulisan cersil yang meliputi petualangan seorang pendekar nomaden, pencarian jati diri, pembalasan dendam, dan kisah asmara yang menyedihkan. Keempat kaidah tersebut diikat dengan latar sejarah terpecah-belahnya Kerajaan Sunda dan data geografis yang cukup akurat.

Selain ulasan kelima orang yang dibukukan dalam Kumpulan Tulisan Festival Sastra Solo, ada 10 ulasan lain dari orang yang berbeda. Mereka adalah Priyadi, Bisri Nurhadi, Saeful Achyar, Karisma Fahmi Y, Mustaim Romli, Supriyadi, Wijayanto Puji, Budiawan Dwi Santoso, Abdur Rohman, Ngadiyo. Ulasan mereka terhimpun dalam sebuah kumpulan tulisan berjudul Apresiasi Buku, dan dibagikan secara gratis kepada semua yang hadir pada saat acara.

“Pawon keren, bisa menghadirkan para penulis alumni UWRF, bahkan ada salah satu panitia yang satu angkatan di UWRFnya. Apalagi buku yang dibahas beda-beda genre. Ini menjadi pemicu semangat untuk teman-teman yang lain agar lebih banyak lagi berkarya”, ujar Seruni, penulis dari Solo, ketika ditanya tanggapannya terhadap acara ini.

Dari ketiga genre tulisan yang dikupas dalam Buku Bicara, cersil Hermawan Aksan dan novel Guntur Alam mendapat tanggapan paling ramai dari peserta yang hadir. Pertanyaan seputar pemberian nama jurus yang puitis dalam Jaka Wulung, dan pertanyaan tentang cinta platonis anak kelas V SD dalam kisah Jurai, berhasil mengundang gelak tawa yang riuh dari penonton.

Kelima pengulas sore itu tampak sama bahagianya dengan lima penulis yang bukunya diapresiasi. Sebelum acara ditutup, masing-masing penulis memberikan penjelasan tentang pemilihan judul dan tema yang diangkat dalam bukunya. Hujan tak lagi deras di Wisma Seni TBJT. Setelah istirahat sejenak, panitia dan peserta bersiap mengikuti rangkaian acara terakhir di hari pertama festival, Solo dalam Puisi.
***
25/02/2014