BERAPA SISA PELURU DI PISTOL?


Membaca novel “Ya, Aku Lari!” karya Hasan Aspahani ini saya seperti dibawa berkelana ke banyak tempat dan peristiwa. Satu dan lain saling berkaitan.

 

Awalnya sempat teralihkan fokus, sebab ada beberapa konflik yang dihadirkan dalam cerita. Persoalan Mat Kid dengan Alta—-anaknya, Mat Kid dengan Samon dan Hamdun, juga keterkaitan bom dan intrik politik di negeri ini yang melibatkan para pejabat atas.

Kisah satu dan lain yang berkaitan ini tentulah terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kita pun mengalami banyak arsiran dengan beberapa orang yang kemudian orang-orang tersebut terhubung pada orang atau peristiwa lain yang mengakibatkan kejadian tertentu. Rumit, bukan? Begitulah hidup, tak ada yang sesederhana itu.

Menurut saya, Alta dan Kavi alias Barbar jadi pemanis sekaligus pelengkap rangkaian cerita. Kisah asmara disisipkan sebagai “bumbu”. Dan sebagai bumbu, jika dihilangkan, tentu saja terasa hambar.

 

Mat Kid yang sekeluarnya dari penjara ingin memulai hidup baru dengan membangun kafe kopi, terus-menerus dibujuk untuk kembali terlibat dalam “proyek” yang lebih besar, sesuai keahliannya: melenyapkan orang-orang yang dianggap “membahayakan” atau akan mengacaukan suatu kepentingan.

Penulis merangkai cerita dengan apik, membuat kita semakin yakin bahwa sesungguhnya sebagai “rakyat biasa”, kita hanya melihat apa yang terjadi sesuai mata dan telinga kita, apa adanya. Kita bisa saja terlalu lugu menjadi pendukung fanatik kelompok tertentu, dan membenci kelompok lain yang tak sealiran. Padahal di tingkat atas, bisa saja mereka saling berangkulan untuk menciptakan rencana-rencana lain yang lebih besar, dengan memanfaatkan konflik di tingkat bawah. Misalnya saja penangkapan Ajmal yang dituduh melakukan penggalangan kekuatan terorisme. Tuduhan yang mencurigai bahwa keberhasilan kegiatan perkebunan kopi itu untuk mendanai kelompok radikal. Sehingga pemimpin kelompok petani tersebut (yang berpenampilan seperti kebanyakan teroris), diamankan. Padahal alasan lain di balik itu adalah kepentingan pemodal besar yang menggandeng koperasi militer. Sang investor sangat bernafsu menguasai lahan kopi —bisnis yang sedang besar sekarang— sehingga melakukan berbagai cara untuk menguasai lahan.

 

Sedangkan Mat Kid yang pernah berada dalam penjara yang sama dengan Ramlan, kemudian menaruh curiga pada Hamdun yang dianggap mengkhianati dia dan Samon, karena merangkul Ramlan dari kubu politik yang berbeda.

Kedok Samon terbuka justru menjelang akhir hayatnya, di saat Mat Kid meragukan kedua sahabatnya itu dan merasa bimbang, siapa yang seharusnya dia percayai, Samon atau Hamdun?

 

Twist tak terduga dihadirkan di halaman terakhir. Kesetiaan anak buah pada kelompok dan atasannya, dinyatakan oleh Ale, yang menodongkan pistol pada Mat Kid.

Untuk novel setebal 176 halaman, konflik yang dihadirkan di antara tokoh, rasanya bikin gemas. Saya seperti menonton film atau membaca novel detektif, dibuat menebak-nebak terus hingga merasa rugi jika bacaan saya terkena jeda.

 

Tapi ada yang membuat ganjalan dalam pikiran saya. Saat polisi menyatakan Samon ditembak oleh pengawal Hamdun, seorang polisi aktif, dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu peluru berasal dari pistol Mat Kid. Tapi saat otopsi, dikatakan bahwa peluru berasal dari pistol yang sama. Ini karena Mat Kid melompat dan berada di garis lurus antara pengawal Hamdun dan Samon. Tapi sampai sekarang saya bingung, membayangkan bagaimana dia melompat mengambil pistol di meja, lalu melompat lagi ke garis lurus antara pengawal dan Samon, hingga tepat menembak sama lurus dengan sang pengawal. Otopsi mengatakan, peluru berasal dari pistol yang sama. Sidik jari dari pistol yang sama tentu saja sidik jari pengawal. Katanya Mat Kid mengambil pistolnya sendiri, tapi kenapa ada di atas meja? Bagaimana dengan jenis pistol, apakah sama juga? Jika otopsi polisi bahwa peluru berasal dari pistol yang sama, benarkah sisa peluru jika dijumlahkan dengan peluru yang tertembak ke badan Samon sudah sesuai? Apakah benar akhirnya kasus penembakan ini “ditutup” karena Samon terbukti menembak dua pengawal lain? Atau karena ada “kepentingan politik” lain yang tidak diceritakan?

Ah, rupanya saya harus mengulang lagi membaca novel tersebut dengan cermat untuk menjawab rasa penasaran ini.

 

#RAB, 01022019

===

Judul Buku: Ya, Aku Lari!

Penulis: Hasan Aspahani

Tebal halaman: 176 hlm

Penerbit: Diva Press (2018)

Iklan

BUKU BICARA, 5 PENULIS 3 GENRE


Dimuat di Selisik, Pikiran Rakyat, Senin 3 Maret 2014, halaman 21.

BUKU BICARA, 5 PENULIS 3 GENRE
Oleh: Ratna Ayu Budhiarti

Hujan menderas sore itu. Pendopo Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah diselimuti udara dingin. Pukul 15.30 ketika seharusnya acara sudah dimulai, beberapa orang mulai berdatangan. Mereka mengalami kendala transportasi dan dihadang hujan saat berpindah dari lokasi acara Melacak Iklan Sastra Tempo Dulu, di Kepatihan Artspace. Jarak yang memakan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan itu tak menghalangi niat para penikmat sastra dan peserta untuk menghadiri acara.

Selain diskusi tentang buku Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo di Balai Soedjatmoko, Buku Bicara dari 5 orang penulis adalah bagian yang ditunggu-tunggu pada Sabtu 22 Februari 2014. Sebab kebetulan 4 penulis yang bukunya terpilih untuk dibahas berasal dari Jawa Barat, dan 1 penulis lain berasal dari Solo. Buku-buku yang diulas adalah cerita silat Jaka Wulung- Hermawan Aksan (Bandung), kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut- Dian Hartati (Bandung), novel Jurai –Guntur Alam (Bekasi), kumpulan puisi Dada yang Terbelah- Ratna Ayu Budhiarti (Garut), kumpulan cerpen Rembulan Merah- Abednego Afriadi (Solo).

Suasana menjadi hangat setelah moderator, Indah Darmastuti, membuka acara dan menyilakan peserta menikmati wedangan yang disajikan. Kemudian 5 orang pengulas buku satu persatu mulai mempresentasikan esainya. Sementara para penulisnya sendiri berbaur dengan peserta, menyimak dengan baik setiap tutur kata pengulas.

Setyaningsih, pengulas pertama yang membahas tentang buku kumpulan puisi Dada yang Terbelah, menyorot peran penting seorang wanita dalam kedudukannya di rumah tangga: sebagai anak, istri, dan ibu. Esais muda yang tulisannya kerap muncul di berbagai media lokal dan nasional itu mengutarakan bahwa puisi mengimajinasikan gerak tubuh bersama waktu dan peristiwa. Dan peran diri dalam membentuk dan memilih kata-kata demi kelahiran puisi.

Novel Jurai diulas oleh Andri Saptono, penulis cerpen dan novel sekaligus editor di salah satu penerbit di Solo. Dalam novel ini, Guntur Alam dianggap berhasil menampilkan cerita dengan latar belakang lokalitas Tanah Abang, Sumatera Selatan. Kata jurai itu sendiri bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal, maka akan dikatakan: itu jurai orang tuanya, seperti pepatah buah tak akan jauh dari pohonnya. Banyak nilai indah yang disematkan dalam perjuangan tokoh Catuk di novel ini.

”Tapi saya agak terganggu dengan pola pikir Catuk yang terlalu dewasa, tak sesuai dengan usia anak kelas lima SD. Begitupun ketika ada adegan ia jatuh cinta pada teman wanitanya lalu menjalani cinta platonis. Penggambaran kedewasaannya terlalu dipaksakan”, Andri melempar kritik, meskipun menurutnya secara kualitas teknis novel ini tak banyak masalah.

Sedangkan pada kumpulan cerpen Rembulan Merah, sang pengulas, M. Fauzi Sukri, mengungkapkan bahwa pembaca akan lebih gampang menemukan sosok ayah sebagai tokoh yang paling sering menjadi pusat, bukan ibu. Dari 15 cerita pendek yang terkumpul di dalamnya, ada bayang-bayang pemaknaan keluarga. Keluarga bukan saja menjadi bingkai yang melingkupi tokohnya, tapi bahkan menguasai dan menjadi semacam kekuatan yang tak pernah bisa dilawan atau tidak boleh dilawan, dibongkar, dan dihancurkan.

Lain lagi dengan buku kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut yang diulas oleh Arif Saifudin Yudistira. Menurut Arif, puisi itu subjektif. Puisi-puisi yang ditulis Dian Hartati lebih merupakan puisi keseharian dengan dibingkai oleh perasaan-perasaan penyairnya. Kumpulan puisi Dian seperti mengajak pembaca ke dalam duka yang mendalam tanpa harus meneteskan air mata meski penyair sudah mencoba membagi duka laranya.

Pembahasan serius menjadi cair ketika Gunawan Tri Atmojo menyatakan kekecewaannya secara gamblang terhadap trilogi cerita silat Jaka Wulung. “Sayangnya saya tidak menemukan adegan pendekar mencabuli perempuan sambil merampok. Padahal kan biasanya cerita silat itu gitu, kalau gak tokohnya mabuk di kedai lalu berantem, ya ada adegan seksualnya. Tapi saya gak menemukan itu di Jaka Wulung”, papar Gunawan setengah berkelakar sehingga membuat yang hadir tertawa.
Hermawan Aksan menulis Jaka Wulung berdasarkan kaidah-kaidah penulisan cersil yang meliputi petualangan seorang pendekar nomaden, pencarian jati diri, pembalasan dendam, dan kisah asmara yang menyedihkan. Keempat kaidah tersebut diikat dengan latar sejarah terpecah-belahnya Kerajaan Sunda dan data geografis yang cukup akurat.

Selain ulasan kelima orang yang dibukukan dalam Kumpulan Tulisan Festival Sastra Solo, ada 10 ulasan lain dari orang yang berbeda. Mereka adalah Priyadi, Bisri Nurhadi, Saeful Achyar, Karisma Fahmi Y, Mustaim Romli, Supriyadi, Wijayanto Puji, Budiawan Dwi Santoso, Abdur Rohman, Ngadiyo. Ulasan mereka terhimpun dalam sebuah kumpulan tulisan berjudul Apresiasi Buku, dan dibagikan secara gratis kepada semua yang hadir pada saat acara.

“Pawon keren, bisa menghadirkan para penulis alumni UWRF, bahkan ada salah satu panitia yang satu angkatan di UWRFnya. Apalagi buku yang dibahas beda-beda genre. Ini menjadi pemicu semangat untuk teman-teman yang lain agar lebih banyak lagi berkarya”, ujar Seruni, penulis dari Solo, ketika ditanya tanggapannya terhadap acara ini.

Dari ketiga genre tulisan yang dikupas dalam Buku Bicara, cersil Hermawan Aksan dan novel Guntur Alam mendapat tanggapan paling ramai dari peserta yang hadir. Pertanyaan seputar pemberian nama jurus yang puitis dalam Jaka Wulung, dan pertanyaan tentang cinta platonis anak kelas V SD dalam kisah Jurai, berhasil mengundang gelak tawa yang riuh dari penonton.

Kelima pengulas sore itu tampak sama bahagianya dengan lima penulis yang bukunya diapresiasi. Sebelum acara ditutup, masing-masing penulis memberikan penjelasan tentang pemilihan judul dan tema yang diangkat dalam bukunya. Hujan tak lagi deras di Wisma Seni TBJT. Setelah istirahat sejenak, panitia dan peserta bersiap mengikuti rangkaian acara terakhir di hari pertama festival, Solo dalam Puisi.
***
25/02/2014

Dimuat di Bali Post Minggu, 8 Desember 2013


PEREMPUAN YANG BERHENTI MEMBACA

Pagi itu sudah kesekian kali tubuhnya menggigil. Kepalanya dicengkeram sakit luar biasa yang sangat aneh. Tidak. Bukan terasa berputar-putar seperti iklan obat sakit kepala itu. Barangkali seperti ditusuki ribuan jarum. Ah, tidak juga. Mungkin lebih mirip dipukul-pukul oleh rasa sunyi yang kerap kali menyambangi pada malam sepi, setiap dia terbangun dari mimpi. Rasa sakit yang aneh, yang tak pernah dia tahu sebabnya apa dan dari mana datangnya.

Ramaniya pergi ke dapur, mencoba menenangkan diri dengan menyeduh kopi. Dua sendok teh kopi meluncur ke cangkir mungil, lalu dia menyeduhnya. Tanpa gula. Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini membuatnya kecanduan. Lebih tepatnya, membuat lambungnya terasa lebih baik ketimbang meminum kopi dengan campuran gula.

Selintas diliriknya sepotong coklat yang belum habis di atas meja makan.

Barangkali coklat ini akan membantu menghilangkan rasa sakit, pikirnya.

Sambil mengepit sebuah novel dan sebuah buku kumpulan cerpen di lengan kirinya, tangan kanannya menating cangkir kopi dengan uap yang mengepul-ngepul. Dia melangkah ke teras belakang.

Aroma rumput yang segar, dan bau tanah basah sisa hujan semalam, menyegarkan penciumannya. Dia selalu menggemari suasana sehabis hujan. Ramaniya menikmati pemandangan dari teras belakang. Taman mungil yang asri, dengan beberapa pot bunga mawar dan krisan, serumpun daun pandan dan bunga kemuning, yang wanginya selalu memberikan rasa segar dan rileks.

Setelah menyesap kopinya beberapa kali, kini dia bimbang, akan melanjutkan membaca novel yang nyaris tamat, atau membaca kumpulan cerpen dari penulis favoritnya?

Sayup-sayup suara di kepalanya menggerakkan tangannya untuk memilih buku kumpulan cerpen itu. Rasa sakit di kepalanya sudah hampir hilang, setelah sepotong coklat dan beberapa teguk kopi mengisi perutnya.

Baru membaca cerpen pertama sudah membuat detak jantungnya tak beraturan lagi. Dia sudah paham betul, setelah ini akan ada perasaan seperti terkejut, kemudian kepalanya terasa ringan dan tiba-tiba sakit lagi.

Ramaniya menghentikan bacaannya sejenak, ia terengah-engah mengatur nafas. Buru-buru dia menyalakan laptop yang tergeletak di atas meja sejak subuh, lalu mengalihkan pikirannya pada layar monitor di hadapannya. Membuka Facebook dan menuliskan status “Pernahkah kamu merasa dikutuk oleh tulisan yang kamu baca atau tuliskan?”

Sedetik kemudian beberapa teman mengomentari. Ada yang menanggapi serius dengan mengungkapkan teori-teori, ada yang berkelakar Ramaniya sedang depresi, dan beberapa teman hanya mampir menyetorkan jempolnya saja.
**

“Sudah dengar lagu Adele yang Make You Feel My Love itu belum, Sayang?” sebuah pesan singkat masuk ke telpon genggamnya. Diikuti dengan pesan lanjutan “Aku akan melakukan apa saja untuk bersamamu, sekalipun menunggu adalah pilihan terakhir.”

Ramaniya tertegun sejenak. Sudah empat tahun dia berusaha membangun cinta dengan Bima, lelaki yang dipilihkan orang tuanya. Selama empat tahun itu dia berharap bisa merasakan cinta yang dalam terhadap Bima, dan setahun terakhir ini Bima sudah resmi menjadi tunangannya.

Namun tak pernah Ramaniya merasakan getaran yang sehebat ini. Justru pada Zyan, lelaki yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya, seperti kilat yang membelah langit ketika hujan, begitu cepat, mengejutkan, dan bercahaya. Pesan singkat barusan itu lagi-lagi menohok kesadarannya. Zyan selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut, seperti yang selalu didambakannya selama ini. Kadang-kadang Ramaniya berpikir, Bima mungkin tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh. Seperti juga hati Ramaniya yang tak pernah penuh terhadap Bima.

Kepalanya berdenyut-denyut. Lagu Adele seolah berkumandang di ruangan besar dengan gema yang memantul-mantul ke kepalanya. Sebelum bertemu Zyan, Ramaniya beberapa kali mendengarkan lagu yang sama dan merasa tersihir dengan liriknya. Imajinasinya berkelana dan dia merasa suatu hari akan bertemu seseorang yang mengatakan hal yang sama dengan lirik lagu tersebut.

Beberapa lagu lain yang dianggapnya romantis dan menggambarkan rasa cinta dan pengorbanan luar biasa terhadap pasangan, juga sering membuatnya berpikir, Bima tak akan pernah menjadi seseorang seperti itu. Ramaniya selalu merasa akan ada orang lain selain Bima.

Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dia tidak tahu seperti apa harus mendefinisikannya, apakah mimpinya baik atau buruk. Namun belakangan, seperti ada semacam kekuatan magis yang selalu menghantui setiap gerak-gerik Ramaniya. Setiap hatinya sedang dalam suasana bahagia dan ingin mendengarkan lagu, justru lirik-lirik dalam lagu itu seolah merupakan perwujudan kehidupan pribadinya. Beberapa peristiwa terjadi persis setelah lagu itu didengarkannya.

Sekarang, peristiwa-peristiwa aneh bukan hanya muncul karena lagu. Sudah lebih dari tiga kali sehabis Ramaniya membaca buku, gambaran peristiwa dalam cerita menjadi kenyataan dalam hidupnya. Bahkan ketika Ramaniya membaca ulang beberapa tulisannya sendiri beberapa tahun yang lalu, ada lima tulisan yang semula imajinatif, kini benar-benar tejadi pada kehidupannya sendiri. Dan setiap dia menyadari itu, kepala Ramaniya langsung terasa sakit.

Setiap lirik lagu yang didengar, setiap tulisan yang dia baca dan buat, semua seperti hantu-hantu dari masa depan yang bersiap menikam pikiran, dan mengikutinya dalam kehidupannya saat ini.
**

Suara serangga malam bersahutan dari taman belakang rumah Ramaniya. Masih pukul sepuluh, mata dan tubuhnya belum mau diistirahatkan. Setelah seharian menyibukkan diri bertemu klien dan merencanakan beberapa workshop menulis, kepala Ramaniya terasa sangat ringan. Akhirnya dia bisa merasa menjadi orang normal lagi. Tapi godaan untuk meneruskan bacaan yang tertunda itu begitu kuat. Ramaniya sudah terbiasa dengan rutinitas membaca setiap sebelum tidur.

Ingatan tentang peristiwa-peristiwa aneh itu membuat Ramaniya sedikit ragu. Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Buku kumpulan cerpen yang tadi pagi dibaca seperti memiliki tangan yang melambai-lambai kepadanya. Ramaniya menyerah, diraihnya buku itu, lalu menyelonjorkan kaki di atas tempat tidurnya, dan dia meneruskan bacaannya.

“Aku tidak mengenalmu. Belum pernah aku bertemu denganmu dalam suatu acara yang kebetulan serupa dengan workshop kemarin. Kenapa kamu mengundangku makan malam setelahnya? Kenapa kamu mengajakku ke bukit ini?”

“Aku sudah tiga tahun berada di kota ini dan mengamatimu. Selama di Jerman, aku hanya mengenal namamu lewat tulisan-tulisanmu. Aku tahu kamu menyimpan kerinduan terhadap sesuatu yang tak bisa diberikan siapapun.”

“Bagaimana kamu tahu kehidupan pribadiku?Siapa yang memberitahumu segalanya?”

“Sudah kubilang aku mengamatimu. Tidak penting dari mana aku mengetahui itu semua. Kamu perempuan dengan hati yang memerlukan sentuhan berbeda. Dan aku yakin hanya aku yang bisa memberikannya padamu”.

“Kita bahkan belum bicara banyak. Bertemu saja baru tiga kali dengan ini. Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Bagaimana kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu?”

“Aku mencintaimu, itu saja. Dan sinar matamu memancarkan hal yang sama. Jangan ingkari. Aku tak peduli siapapun dan bagaimana pun statusmu saat ini. Aku mencintaimu”.

Bayu meraih Laras ke dalam pelukannya, mendekap erat untuk waktu yang sangat lama. Sebuah jeep hitam di atas bukit itu menjadi satu-satunya saksi betapa dingin dan kesepian di dada Laras terhancurkan.

Ramaniya terhenyak. Matanya terbelalak pada halaman buku yang sedang dibacanya. Adegan itu. Dialog itu. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Detak jantungnya kini mulai kencang dan tak beraturan. Sial! Cerpen ini menjebakku! Penulis ini peramal, tukang sihir!

Percakapan dan latar adegan itu sama persis dengan kejadian beberapa hari lalu, ketika Zyan duduk di sebelahnya mengemudikan sebuah jeep hitam dan mengajaknya ke sebuah bukit. Kalimat yang diucapkan Zyan sama persis dengan tokoh Bayu dalam cerita itu! Zyan pun baru kembali dari Jerman tiga tahun yang lalu! Zyan mengajaknya makan malam sepulang dari workshop yang dihadiri Ramaniya!

Sial! Kenapa aku harus membaca buku ini! Kenapa penulis itu membuat cerita yang sama dengan kehidupanku? Oh, Tuhan! Pertanda apa ini?

Ramaniya mengacung-acungkan buku yang sedang dibacanya itu ke udara sambil mengutuki dirinya sendiri, kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan hilir mudik di kamarnya dengan gelisah.

Diliriknya jam dinding, baru pukul sebelas. Zyan pasti belum tidur. Betapa ingin Ramaniya mendengar suara lelaki itu, yang selalu membuat kegelisahannya mereda. Dia meraih telepon genggamnya dan melakukan panggilan ke nomor Zyan.

Tak ada nada sambung.

Mungkin Zyan sudah tidur.

Ramaniya semakin gelisah dan membuatnya mengingat beberapa peristiwa serupa yang terjadi belakangan ini. Peristiwa-peristiwa itu terlalu sering terjadi untuk disebut sebagai sebuah kebetulan.
Minggu lalu Ramaniya membaca sebuah novel tentang seorang perempuan yang sudah bertunangan dan menemukan cinta sejatinya pada lelaki lain yang tiba-tiba hadir. Bima hanya tertawa dan menganggap Ramaniya sedang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga berpikir aneh.

Mana mungkin sebuah novel yang kamu baca bisa menjadi kenyataan dalam hidup pembacanya, ujar Bima kala itu.

Tak ada yang percaya pada kata-kata Ramaniya. Bahkan sahabat terdekatnya pun tak percaya.

Ramaniya seperti diteror oleh setiap hal yang dia baca dari buku dan yang dia dengar dari lagu. Bahkan ketika Ramaniya membaca cerita anak-anak tentang seorang gadis yang sedih karena kucing kesayangannya mati, keesokan harinya kucing Ramaniya pun mati.

Setiap peristiwa dalam buku yang dibacanya seolah menceritakan apa yang baru saja terjadi, yang sedang, bahkan yang akan terjadi dalam hidupnya. Ramaniya nyaris tak bisa menahan ketakutannya sendiri setiap akan membaca sebuah buku. Meskipun berulang kali pula ketakutannya dikalahkan oleh rasa penasaran terhadap buku yang hendak dibacanya.

Lalu malam ini, kejadian yang sama terulang lagi. Cerpen yang sedang dibacanya belum selesai. Ramaniya betul-betul ketakutan kali ini. Jika dia melanjutkan membaca ceritanya sampai tamat, dia takut akhir ceritanya itu sesuatu yang menyedihkan.

Keringat dingin menetes dari dahinya. Semakin lama semakin mengucur deras. Pipi Ramaniya memerah. Tak mungkin dia menelepon dan memberitahu Bima lagi tentang hal ini. Dia pasti akan menertawakan dan menganggap Ramaniya sedang mengigau, lalu menyuruhnya kembali tidur. Hanya Zyan yang mengerti. Tapi saat ini Zyan sedang tak dapat dihubungi.

Kepala Ramaniya semakin berat. Rasa takut dan penasaran kini menyergap bersamaan. Udara kamar yang biasanya sejuk tiba-tiba terasa seperti tengah hari yang terik. Dengan tangan gemetar, Ramaniya membuka halaman buku tadi dan melanjutkan membaca.

Kini Laras yakin, Bayu adalah orang yang ditunggunya bertahun-tahun.Cinta memang kadang mengambil jalan yang memutar, harus melalui berbagai cara dan bertemu orang lain dulu sebelum bertemu orang yang tepat. Meski kadang di waktu yang tidak tepat.

Laras melanjutkan membaca buku sambil merenungkan ucapan Bayu tadi siang. Tiba-tiba detak jantungnya seolah berhenti.Cerita dalam buku yang sedang dibaca Laras sama persis dengan beberapa peristiwa dalam hidupnya. Ada dengingan keras di kepala Laras. Semakin lama semakin keras dan tak tertahankan. Kepala Laras seperti mau meledak.Ada cairan hangat merembes di pelipisnya, darah!

Ramaniya tersentak. Di kepalanya tiba-tiba ada dengingan keras yang sangat kuat, semakin lama kemakin keras. Kepalanya terasa pening, berat, dan berputar-putar sekaligus. Ada cairan hangat mengalir perlahan di pelipisnya. Ramaniya mengusapnya dengan jemari indahnya. Darah. Sontak Ramaniya memandang buku yang sedang dibacanya dengan ngeri, melemparkannya jauh-jauh ke pojok kamar.

Buku ini buku sihir. Buku ini penuh kutukan. Sial! Buku ini pembawa sial! Semua buku-bukuku buku sihir, buku ramal, pembawa sial!

Ramaniya menjerit tertahan. Kepalanya seperti mau meledak. Setiap peristiwa dalam hidupnya kemudian membayang dan memenuhi dinding kamarnya seperti sebuah film yang sedang diputar. Setiap satu peristiwa berdampingan dengan satu buku, bergantian menampilkan detail. Kepala Ramaniya mendidih, ada sesuatu yang terasa mendesak dan memaksa ingin keluar.

Pyar!

Suara letupan mengiringi darah segar dari ubun-ubun. Huruf-huruf dan judul buku yang pernah dibacanya berloncatan dan berlarian ke pojok kamar, bergabung dengan buku yang dilemparnya tadi. Mata Ramaniya mulai berkunang-kunang. Sebelah tangannya mencoba meraih sesuatu untuk bersandar, sementara tangan satunya menangkup kepalanya yang berdarah dan terus-menerus mengeluarkan huruf-huruf.

Ramaniya mencoba mengingat kalimat-kalimat terakhir yang dibacanya dari buku itu dengan susah payah.

Laras memegangi kepalanya yang berdarah. Mulutnya menganga seolah tak percaya pada penglihatannya. Cerita yang sedang dibacanya seolah hidup dan menjelma makhluk asing dan menyeramkan. Jemari Laras gemetar memegang buku itu dan berusaha melemparnya sejauh mungkin. Tapi buku itu sangat lengket di tangannya. Laras memekik ketika sebuah kalimat meloncat dari buku…

Ramaniya tertegun, tenggorokannya tersekat, di dinding kamarnya tersusun sebuah kalimat yang meloncat dari buku yang dilemparkannya tadi: TERUSLAH MEMBACA ATAU KAU AKAN MATI!

***
2013.

cerpen-Bali Post

5 puisi Ratna Ayu Budhiarti di Bali Post Minggu 24 Maret 2013


SUATU MALAM KETIKA BERTUKAR KABAR
– Skylashtar Maryam

malam hampir renta
ketika kau datang menating kisah
jemarimu bergerak-gerak menampar udara
pekat dengan asap dan uap kopi

benakku masih disibukkan dengan telutuh
pada kain yang seharusnya jadi gaun pengantin idaman
namun kutukmu pada masa lalu
menggenapkan yakin
bahwa segalanya bisa datang dan pergi tiba-tiba
bahkan setelah saling melekatkan ciuman paling mesra

di pojok teras, percakapan mengular
mengukuhkan luka demi luka sebagai jangkar
tempat kita berhenti sejenak, lalu lagi-lagi berlayar
seolah darah yang tumpah di setiap pertempuran di atas kapal kehidupan
adalah harga yang patut dibayar
relakan, dan biarkan amisnya menguar
mematikan kehendak membalas dendam
atau sekedar ingin nasib bertukar.

2013.

KEPEDIHAN MERUYAK
– Meitha KH

Aku telah lupa memaknai bahagia dan tawa lepas seperti sore itu, di sebuah padepokan dengan banyak pasang mata yang mengawasimu dengan kekaguman. Juga seseorang dengan sepasang mata penuh kasih lembut, seolah tak hendak menciptakan gemuruh ombak berlebihan ketika menatapmu. Aku iri pada caramu bermain dengan ayunan yang kau ciptakan sendiri, menikmati setiap hempasan ketika hidup begitu indah sekaligus getir membelit kaki lincahmu.

Aku sedang pura-pura bermimpi ketika kata-katamu menyapu udara yang kuhirup. Di dalam kamar kontrakanmu, tangisku pecah di dalam hati. Saat itu, kau mungkin membaca mataku yang dikoyak sepi. Masa remaja bagiku seperti sebuah permen loli yang selalu dirindukan anak kecil setiap saat, menjadi candu, perlahan menciptakan pertahanan keropos.

Aku menggambar sebuah lukisan dengan banyak warna sepanjang hidup, berharap suatu hari semuanya bernilai jual tinggi. Ah, harapan memang seperti manis gula yang dikulum sambil bermimpi, selalu menyenangkan namun berujung pada kepahitan, selebihnya kesakitan.

Sambil berharap hal terburuk dalam hidupku takkan pernah terjadi, aku membunuh waktu, menikmati perjalanan, menyesap kopi sambil diam-diam mengamati eksotisme kerling matamu, tanpa sadar telah menjerat pemilik hati yang lengah, sekaligus mengagumi ketabahanmu setegar karang. Sayang, aku masih menjadi kepompong nan lunak, kapanpun mudah terkoyak.

Ajari aku menulis lagu yang indah! Sebab melodi yang bergaung di jiwaku masih saja terlalu pilu berlagu.

2013

KETIKA CAHAYA TAK LAGI HANGAT
– Ratna Munawarah

senja begitu muram
cahaya kehilangan daya
menyisakan kemesraan yang terlindas sepi
bertubi-tubi

aku tenggelam dalam puisi yang meluncur
dari bibirmu yang khatam memaknai pahit kopi
sekaligus ditikam rindu yang menguar dari dadamu
ketika melafalkan kekasih bernama sunyi

kilat ceria di matamu meremang
sementara aku hanya bisa memilin kenangan
yang sempat meruyak di bilik hati.

2013

MELANGKAHLAH

aku adalah pintu belakang rumahmu
telah kau tutup bertahun lalu
kini kau tengoki sesekali
memastikan rapat tulak dan segala kunci
agar tak terbuka suatu hari nanti
ketika pintu depan kau buka lalu melangkah pergi

akulah pintu belakang rumahmu
tempat kau masuk sepulang bergumul dengan kisah-kisah semu
atau mencumbui wangi bunga-bungamu

akulah pintu belakang rumahmu
yang melihat pintu depan sedang terbuka lebar
menantimu melompat keluar
menuju hari-hari baru.

2013

PETIKKAN ERHU* UNTUKKU

petikkan erhu untukku,
mainkan nada-nada indah
kisahkan tentang lobster yang bersembunyi di lubang batu
dan sesekali mengintip dunia

denting senar erhu membawa ingatan
pada musim semi di tahun-tahun lalu
ketika aku dan kau membilang sitatap kerling

erhu itu, sayangku
merapal mantra, menjulang ke langit
mengenakan jubah terbaiknya menemui kaisar sang putra surga
kemudian lengkingannya menjadikan butir-butir hujan
luruh dari awan, luruh dari mataku.

2013
(terinspirasi dari novel The Last Empress)
*erhu: alat musik dengan dua senar yang dikenal sejak abad ke-14 dan menjadi alat musik yang populer digunakan pada opera-opera Cina pada abad ke-19