Peluncuran & Diskusi Buku


img_51941.png

 

Peluncuran & Diskusi Buku

SEBELAS HARI ISTIMEWA
Kumpulan Puisi-Puisi Perjalanan
Karya Ratna Ayu Budhiarti (@ratnaayu_b)

Pembahas
Irwan Segara (@irwansegara), penyair

Moderator
Olive Hateem (@olivehateem)

Minggu, 14 Juli 2019
Pukul 15.00-17.00 WIB

Don Quixote & Co. Coffe & Book
Jalan Kenanga 6, Kentungan
Condongcatur, Depok, Sleman
Yogyakarta *Gratis secangkir kopi Don Quixote & Co. untuk 20 peserta pertama

Didukung oleh
@jualbukusastra
@donquixoteandco
@balabuku

#SHI_RAB #SebelasHariIstimewa #ratnaayubudhiarti #puisiIndonesia

Iklan

Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan


Sajak-sajak di SUSASTRA – Radar Selatan, 18 Maret 2019FDCR7968[1]

PARIS MALAM HARI

 

J e t’aime!

Cahaya lampu di tubuh menara

memutar irama imajinasi untuk berdansa.

Kantuk yang menyerang tiba-tiba,

dilumat ciuman angin Februari yang dingin.

 

Mari duduk di sini, di sebelahku.

Dari sudut di Champ de Mars

di tepi sungai Seine

kita tangkap kerlip lampu satu-satu

ke dalam kotak harta karun.

Suatu hari, jangan biarkan siapa pun membukanya

 

Orang-orang saling berpegangan tangan,

menikmati malam puitis di Paris

 

Engkau duduk di sebelah mana, Gustave Eiffel*?

Lihatlah kini menara itu memendarkan cahaya sukacita

meski berkali-kali kepentingan politik

dan bencana ingin menghancurkannya.

 

#RAB, 2018-2019

* Gustave Eiffel          : arsitek yang merancang Menara Eiffel

 

 

 

 

SELEMBAR POTRET

 

Jika kukirim lagi

selembar potret padamu

bergambar patung kerbau,

rumput hijau, dan puncak stupa borobudur di atasnya,

bisakah kau dengar kecemasan

yang ngalir dari suaraku

saat memintamu mengabadikan peristiwa?

 

Kita telah ditautkan kenangan

dan memintal mantel hangat untuk musim dingin

pada jarak yang ditabahkan takdir.

 

Masa kini akan jadi lampau juga akhirnya.

Tapi matamu menyihir relief-relief di candi,

mengisahkan apa saja yang tak sempat

diucapkan para penafsir.

 

Sejarah telah tercipta dari pelawat dunia,

sedang angin dan gerimis tipis di kota itu

lesap ke dalam gambar di dalam potret.

 

Di buku harianmu,

tercatat kitab-kitab purba

yang kita baca bersama.

 

#RAB, 2018

 

 

KITA AKAN BERPISAH

 

Setelah Volendam dan kesiur angin laut
negeri leluhur,
kutemukan bayang-bayang senyum Oma
di demo pembuatan keju,
klompen raksasa dan kincir angin.

Derai tawa teman perjalanan
dan hangat kebersamaan
menggenapi bahagia musim dingin
Februari kali ini.

Tapi kita akan berpisah, kawan.
Di Schiphol roda koper berputar 180°
menuju tanah air dan menu makanan

dengan banyak vetsin.

 

Ya,
telah kita sesap udara Eropa berhari-hari.
Kelak, semoga kita bertualang bersama lagi.

#RAB, 2018

 

BOLEHKAH AKU BERDOA?

 

1

Di St Peter’s Basillica,

bulan kedua tahun ini benar istimewa.

Peradaban silam memenjarakan mataku

pada setiap  ukiran, patung dan

lukisan Michaelangelo.

 

Kujumpai tubuh Paus dalam baluran balsam,

deretan kursi tempat orang-orang

berdoa meminta apa saja,

kotak pengakuan dosa, juga salib di mana-mana.

 

2

Sebuah pintu suci di tembok katedral,

menyimpan kotak berisi dokumen,

kunci-kunci, dan medali,

sabar menunggu 15 tahun untuk dibuka.

 

— Berapa tahun Tuhan kelak membuka pintu surga? —

 

3

Pada pintu rahasia lain di katedral ini,

kubayangkan sebuah lorong memanjang di baliknya

diterangi temaram obor, dentang genta di kejauhan.

 

Kususuri ruangan demi ruangan,

sambil memikirkan

bagaimana Michaelangelo dan kawan-kawan

membuat keputusan

lukisan apa sesuai kepantasan.

 

4

Tuhan begitu Agung, Kudus, dan tetap Esa.

Aku adalah pendosa yang sedang

mengagumi karya seniman dunia

di hari ulang tahunku.

 

Di depan altar aku terhenti.

Jika Tuhanku juga sama, di sini

bolehkah aku berdoa?

 

#RAB, 2018-2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di BasaBasi.co


IMG_E8081[1]

KISAH SARAPAN PAGI

 

 

Kau tahu, bagaimana sepi melulu mencoba bertamu,

Tapi ketika sampai di pintu, ia malu-malu menampakkan diri

Barangkali ia enggan.

 

Melihat wajahmu pun daun-daun di pohon

Bahkan lupa cara menjadi tempat bernaung,

Keteduhan gagal melekat di sulur-sulurnya

 

Sementara di sini, di meja yang penuh kisah

Nastar cake dan cinnamon roll

Berlomba menceritakan petualangan

Menuju lambungmu

 

Masuk ke tubuhmu, kata mereka,

Adalah dengus napas, decak gembira, sesekali sendawa

 

Jarak ke hatimu mungkin tinggal sejengkal sampai

Tapi detak jantung memantul-mantul pada dada

Beberapa nama digumamkan,

Banyak dari masa lalu, satu dua masih menyangkut di masa kini

Daftar nama itu dimuntahkan oleh lidahmu pula sesekali

 

“Apa peduliku?”

Segelas air hangat segera menenggelamkan rasa pahit

Yang bukan dari kopi

 

Ini buku lama yang kubarukan, jawabku.

Biar saja kubaca pelan dari halaman pertama

Demi debar petualangan sejak awal, akan kuselesaikan sampai akhir

 

Kau tahu, lagi-lagi sepi melulu bertamu

Tapi ia hanya berdiri di pintu

 

Melihat rumah hatiku yang penuh,

Ia tak sanggup masuk, dan kerap pergi dengan kekalahan

 

Sedang kita, cukuplah berbagi

Masa, saling menyesap manis-pahit rindu dari cangkir latte itu berdua

 

Berdua.

 

#RAB, Bandung, 2018

 

LELAKI KOPI

 

Ia, lelaki yang muncul

Ketika senja enggan tiba

Menemani makan malam yang ramai kata-kata

Pada pesta di Utara sana

 

Uar aroma kopi menyeruak dari telapak tangannya

Yang terbuka pada jumpa pertama

 

Ia, lelaki yang lewat suaranya

Mengabarkan sejumlah detik yang terserak

Saat menunggu sebuah pertemuan

 

Di meja bundar, akhirnya ia, lelaki itu

Menating secangkir kopi

Dan menyerahkan matanya

Untukku membaca hal-hal baru

Semacam ketabahan

 

Ditingkah Sasando dan alunan lagu The Reason,

Perjalanan Cheng Ho, Yi Jing, dan Wallace,

sampai pula ke masa kini setelah abad-abad

lampau diabadikan catatan para peneliti

 

Ia, lelaki yang menjauhkan diri dari gerimis

yang kuyup di jantungku,

Merekam percakapan dalam

catatan purba

 

Katanya, “tidak semua relief bisa dibaca,

juga yang ini.”

 

Jarinya menunjuk dada imajinasi.

 

#RAB, Yogya-Magelang, 2018

 

 

DARI TEPI JEMBATAN DOMPAK

 

Kubayangkan di tepi jembatan ini,

Engkau memanggil-manggil masa lalu

dari tanah Melayu

 

Kubayangkan suatu hari engkau menceritakan kembali

Perjalananmu saat menyusuri tepi pantai

Mengumpulkan banyak risalah

Nenek moyang yang mengalirkan darah di tubuhmu

 

Amis laut, hangat kota, nona-nona:

Begitu isi suratmu padaku ribuan purnama lalu

 

Kemudian aku menyisiri kota ini dengan puisi

Mencari apa saja yang masih tertinggal

Di makam raja-raja, di reruntuhan tembok istana,

Di tepi bandar Sungai Carang, tempatmu mungkin bertolak di sana

Hingga ke jembatan yang menghubungkan ingatanku padamu

 

Tetapi bahkan saat kutelisik cangkang gonggong,

Dan ketam menyerah dalam sepakat rempah,

Aku menjumpai sisa nyeri dari peperangan

batin dan harapan yang ditambatkan kenyataan

 

Seperti begitu sejarah sudah ditakdirkan

Lahir karena perjumpaan

Sekaligus untuk mengantarkan perpisahan

Pada perjumpaan lainnya.

 

#RAB, Tanjung Pinang, 2018

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019


Puisi-puisi yang dimuat di HU Pikiran Rakyat 17 Februari 2019

 

APA YANG TERSISA

 

Telah kuarsipkan album-album itu

Sebab perjalanan masa lalu

Harus kujadikan rambu

 

Barangkali sesekali kau

Jumpai sisa senyum di alun-alun

Tempat kita berbagi hujan

Dan mendebatkan persimpangan

— aku, kau, memilih berbeda

 

 

Kukemasi patahan hati

Beberapa jadi kayu bakar

Untuk menjerang cita-cita,

Mematangkan pengalaman

 

Kehilangan waktu menunggu,

Langkah kuseret melaju.

 

Pagi haru, pagi baru,

Doa mengangkasa.

 

#RAB, 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

DERUNG 

 

Derung gelisah bersambutan

Di gua kepala yang hilang cahya

 

Lupa, bagaimana

Reranting doa

Mengantarkan kita berkelana

 

Di sini sepi,

Bertikai tawa

Meraja

 

Pernahkah engkau cemburu

Pada waktu, pada masa lalu,

Pada seseorang di sebelah yang sibuk

mendoakanmu?

 

#RAB, 2019

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE


img_2268[1]

HUMANISME PILO POLY DALAM ARAKUNDOE

 

Buku puisi yang saya baca di awal tahun ini adalah “Arakundoe dan Puisi-puisi Lainnya” karya Pilo Poly. Mengawali dengan langsung melewatkan endorsement agar tak terpengaruh dulu saat membaca, saya menjumpai tempat yang akrab bagi penulisnya. Sekitar Cikini, di mana penulis sering berada dan berkegiatan di sana. Setting Aceh juga turut mendominasi puisi-puisi Pilo.

Beberapa puisi liris terasa romantis, sekaligus khas lelaki. Yang tidak terlalu berlebihan mengungkapkan sisi emosionalnya dibanding perempuan. Tapi juga menunjukkan kasih sayang dan cinta yang dalam saat mengatakan rindu, perasaan dan harapannya pada seseorang atau sesuatu. Lihat saja misalnya dalam lirik dalam puisi “Hujan yang Menjatuhkan Namamu”:

 

HUJAN YANG MENJATUHKAN NAMAMU

 

Di luar, hujan menjatuhkan namamu
Begitu basah dan menyebar
Ke tanah dadaku yang tandus ini.

 

hati ini, hampir seperti bukit kering, dan
pohon-pohon seakan berdoa agar hujan tidak
begitu cepat pudar

 

Langit jiwa yang begitu dingin ini,
Juga tak pernah berhenti bersujud,
Tak pernah bosan agar namamu selalu
Tersebut

 

Jakarta, 2018

 

 

Rindu yang syahdu. Kehadiran seseorang yang selalu dinanti, dipadukan dengan doa-doa yang mengangkasa, terasa begitu lembut dibaca. Rindu yang pasrah, yang sabar, dan tidak cengeng, sekalipun dia bilang “tanah dadaku yang tandus”.

Dalam puisi “Doa Ibu”, Pilo menggambarkan seorang wanita yang selalu jadi pemandu dalam hidupnya. Puisi yang terdiri dari empat paragraf ini melukiskan sosok ibu dengan indah, dengan rasa hormat dan cinta seorang anak. Segala titah dan petuah ibu bagaikan rambu-rambu. Terlihat dalam kalimat: //Ibu juga serupa pagi,/ yang saban waktu menjadi pengingat./Agar anak-anak lepas dari gelisah/ Hingga jadi jiwa yang bebas//

Saya menangkap sisi humanis Pilo dalam kumpulan puisi ini. Selain cinta kasih pada sesama manusia, Pilo yang peduli pada tanah kelahirannya, Aceh, menuliskan kisah-kisah kelam yang pernah terjadi dan jadi catatan dalam sejarah Aceh. Beberapa puisi tentang peristiwa yang terjadi terasa getir dan menyedihkan. Dada saya sedikit sesak saat sampai pada kalimat: //Keselamatan, adalah permainan/ Dadu penjudi yang datang dari Jakarta,/ Sebagai bahan studi nyali BKO.// Di Rumeoh Geudong, ribuan suara tangis/ Kalah oleh tertawaan SS1, yang memuntahkan/Kematian demi kematian.//

Seperti juga dalam puisi Arakundoe, yang menjadi judul buku ini, tragedi Arakundo, menggambarkan kengerian yang pedih: /Malam keluar dari dirinya sendiri, ingin/ Menjelma menjadi yang lain,/ yang mampu menenangkan/ Betapa risaunya magrib menyambut kengerian//

Konflik tentang Rohingya ditulis apik. Begitu pun konflik batin pilo melihat kehidupan di ibukota, kota tempat dirinya kini beraktivitas, yang dianggapnya kota yang rakus. Bahkan nama Teuku Markam sebagai penyumbang terbesar emas di Monas seolah menggugah pembaca, betapa hal-hal sepele atau detail kecil sejarah bisa terlupakan, tergerus jaman dan kesibukan.

Meski ada sedikit “kesalahan teknis” dalam buku keluaran Penerbit Jeda (2018) ini berupa salah ketik, tapi satu-dua, dan tidak terlalu berpengaruh . Secara keseluruhan, isinya indah dan menggugah kesadaran.

Pilo romantis dan humanis. Begitu yang saya tangkap dari puisi-puisinya dalam buku ini. Pilihan diksi sederhana tapi mengena. Mudah dicerna, tidak “njlimet”. Tiada kata menyesal membaca buku ini. Proficiat, Pilo!

 

#RAB, 7 Januari 2019

 

Kabar Puisi di malam Jumat


FB_IMG_1458826877843

BAHAGIA

 

Berada di dalam Antologi 120 sonet Indonesia yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Perancis oleh Etienne NAVEAU diterbitkan oleh Collection du banian / Pasar Malam. Bersama penulis sonet lainnya: Heni Hendrayani Sudarsana, Soni Farid Maulana, Dato Kemala Ahmad Khamal Abdullah, Ratna Ayu Budhiarti, Meitha Kh, Sapardi Djoko Damono, Susy Ayu, Chairil Anwar, Wing Kardjo, Abdul Hadi WM, Sutan Takdir Alisjahbana, Taufiq Ismail, Armijn Pane, Sanusi Pane, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Trisno Sumardjo, Juniarso Ridwan, dan lain-lain.

 

#rekamjejakkarya #puisiRAB #soneta #puisi #bukupuisi