TONTON DAN NIKMATI SAJA FILMNYA


46C4571E-0592-436C-97B5-C6ED0ACD04ACTepat di hari peringatan kemerdekaan RI ke-74, saya bersama penonton lain menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Bumi Manusia. Dan sepanjang 181 menit, pikiran dan perasaan saya campur aduk: haru, sedih, kecewa, senang, dan bangga.

 

Sejak awal kabar novel Bumi Manusia akan difilmkan sudah menuai banyak kontroversi dan keraguan dari berbagai pihak. Terutama dari orang-orang yang sangat mengidolakan Pramoedya Ananta Toer, sang penulis tetralogi Pulau Buru, yang di masa Orde Baru, buku-bukunya dilarang beredar.  Banyak yang mempertanyakan kenapa Hanung? Tidak sedikit yang meragukan apakah film itu akan sesuai ekspektasi seperti membaca novelnya. Perdebatan ini semakin ramai ketika Iqbaal Ramadhan terpilih jadi pemeran Minke. Tampang imutnya dan perannya di film terbaru, Dilan, memang membuat banyak orang jadi sangsi dan tidak rela Minke diperankan Iqbal. Tapi tentu Hanung sudah bikin perhitungan matang dan mempunyai tim yang bisa diandalkan dalam menggarap sebuah naskah.

 

Saya menontonnya tepat pada 17 Agustus 2019. Suasana menuju bioskop di dalam mall saja sudah terasa nasionalis karena gaung lagu-lagu yang diperdengarkan selaras dengan tema peringatan kemerdekaan. Masuk bioskop tak lama menunggu tampillah tulisan dalam layar lebar bahwa sebentar lagi lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan dan hadirin diminta untuk berdiri. Sontak, para penonton pun kompak berdiri tegak dan turut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Wah, awal yang bagus, pikir saya. Meski sempat dapat bocoran sebelumnya bahwa sebelum film diputar, penonton pasti diminta berdiri. Dilanjutkan dengan suara Iwan Fals yang khas sebagai pembuka, lalu adegan Minke yang dibangunkan Suurhoff. Begitu wajah Iqbaal muncul, saya paham kenapa banyak orang yang kecewa atas pilihan pemain. Tapi kemudian saya mengingatkan diri sendiri bahwa tadi saya sudah meniatkan akan menonton film, dan harus melupakan pernah membaca novelnya.

 

Setting dan pemilihan lokasi konon sengaja dibuat Hanung untuk mengerjakan film ini. Salut. Pasti tidak mudah menerjemahkan isi novel dan memadukannya dengan imajinasi. Belum lagi harus memilih para pemeran yang betul-betul sesuai karakter. Seperti para penonton lain yang sudah pernah membaca bukunya, saya kecewa karena Iqbaal tidak sesuai gambaran Minke dalam kepala saya, pemeran Robert Mellema tampak kurang indo dan Ine Febriyanti kurang pribumi untuk menjadi Nyai Ontosoroh. Tapi akting Ine sukses membuat kagum karena gambaran seorang Sanikem yang tercerabut dari kehidupan masa mudanya, yang terpaksa dijual oleh ayahnya sendiri demi jabatan, kemudian menjelma jadi seorang Nyai yang mampu menyesuaikan diri, lekas belajar memimpin perusahaan milik Herman Mellema— lelaki yang menjadikannya gundik, diperankan dengan kemampuan Ine yang matang. Pemeran Darsam tidak kalah penting sumbangsihnya pada kesuksesan film ini. Dialog dan logat Madura yang kental serta sikap setianya pada Nyai sang majikan, jadi daya tarik lain tontonan ini. Ada yang mengganjal dan akting yang terasa nanggung untuk beberapa pemeran dan tokoh pendukung lain. Tapi nyaris tak mencolok.

 

Hanung sepertinya memang memilih tim yang pas. Durasi menonton film selama 3jam bisa tidak membosankan itu luar biasa. Di sini penulis naskah dan pengembang cerita tentu berperan besar sebelum naskah ini ada di tangan para pemainnya. Saya malah membayangkan bagaimana diskusi-diskusi alot antara Salman Aristo, Hasan Aspahani, juga Hanung sendiri menggarap konsep awal. Tim penata musik juga jangan dilupakan. Musik yang tepat untuk adegan apa yang lebih cocok, menentukan apakah film ini bisa membuat penonton larut atau tidak. Belum lagi kameramen yang tentu berusaha menampilkan visualisasi dari angel yang tepat. Saya tidak menyiapkan diri untuk kesedihan ketika mau menonton film ini. Selain sukses 181 menit bikin saya diam di kursi, film ini sukses membuat saya mengeluarkan tisu dan mengeringkan air mata yang terjatuh. Iya, sisi emosional saya diaduk-aduk. Sudah sejak awal. Sejak Robert dan Surhoff yang indo itu lebih membanggakan darah Eropanya, sedang Annelies yang cantik malah lebih ingin menjadi pribumi. Saya lahir di keluarga Indo. Saya mengalami bagaimana ketika pindah ke tempat tinggal saya sekarang, sempat diragukan ke-Indonesiaannya, dan diperlakukan berbeda. Sementara ada anggota keluarga yang bersikap mirip dengan Robert, lebih bangga dengan ke-Eropaannya. Jadi sambil menonton, sambil pikiran saya nostalgia juga memikirkan Oma. Oke, lanjut bahas yang lain.

 

Hanung menghadirkan pesan yang penting seperti dalam isi novel Pram. Bahwa kekuatan pena itu luar biasa, lebih kuat dari otot dan senjata. RM Tirto Adhie alias Minke ini melawan melalui tulisan ketika harus berhadapan dengan pengadilan, dan berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat banyak. Yang tadinya nyinyir dengan kehidupan pribadi Minke karena tinggal di rumah seorang Nyai, jadi membela sebab rasa kebangsaannya terusik dan tersadarkan. Pernyataan bahwa bangsa Indonesia itu setara dengan Eropa, tidak lebih rendah, tapi sejajar, sangat mengena di kala masih banyak yang beranggapan orang Eropa memiliki level lebih tinggi daripada pribumi. Persis di peringatan hari kemerdekaan, film ini diluncurkan. Pas momennya. Nasionalis sekali, kan?

 

Banyak pesan-pesan positif yang dikemas cantik (baik dalam dialog dan penggambaran karakter) demi mengimbangi kisah cinta Annellies dan Minke yang tragis. Misalnya contoh sikap Minke yang bertindak sebagai lelaki ksatria menerima wanita yang dicintainya telah ternoda, bagaimana Nyai Ontosoroh bertahan dan kuat dalam tempaan, bagaimana seharusnya bersikap ketika nyaris semua orang malah memihak kepentingan penguasa, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri dan berani menanggung konsekwensi atas setiap keputusan yang sudah dipilih. Adanya pesan-pesan positif dan berkarakter ini, menjadikan film Bumi Manusia patut jadi rekomendasi tontonan anak milenial (dan orang tuanya). Ditutup dengan kesedihan paling mengiris, film ini menggaungkan kalimat Pram yang terkenal di novel itu: “Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.’ Semacam penegasan bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita yakini sampai titik darah penghabisan, sampai segala cara yang ditempuh tak menemukan lagi jalan terang.

***

 

Yang mesti disiapkan tentu saja sebelum masuk dan menonton, perut harus kenyang dan pastikan sudah cukup minum. Sebab durasi panjang begitu tidak nyaman kalau harus terpotong karena lapar atau ingin pipis.
Menurut saya nih ya, buat yang koar-koar film ini jelek (apalagi bilang jelek tapi cuma tahu “katanya”, kata orang lain, belum membuktikan sendiri), pesannya gini: memang kita itu harus melepas dulu kesan yang terekam setelah pernah membaca tetralogi pulau Buru sebelum menonton filmya, agar tidak terganggu dengan citraan imajinasi (ideal) versi kita.
Jangan membandingkan sajian film yang disutradarai Hanung dengan penceritaan versi Pram. Jangan pula membandingkannya dengan alih wahana pada pentas Bunga Penutup Abad yang disutradarai Wawan Sofwan. Sebab menerjemahkan sebuah novel ke dalam media lain tentu tidak akan sama persis sensasinya.
Tonton filmnya dan nikmati sajian penceritaan versi kerja tim yang sudah berusaha keras mengenalkan karya Pram ke khalayak yang lebih luas.
Jangan fokus dengan kekecewaan pemilihan pemeran. Jangan fokus lihat Iqbaal yang tampak terlalu imut buat memerankan sosok RM Tirto Adhie. Kasihan dia, sudah berusaha kuat belajar pelafalan bahasa Belanda demi aktingnya. Jangan lihat pilihan cast Robert Mellema yang kurang indo atau Ontosoroh yang terasa kurang pribumi. Masih banyak yang bisa dilihat dan dinikmati dari sudut pandang lain.

Boleh dikata cukup baik lah. Dan saya rasa malah memancing rasa penasaran yang belum pernah baca karya Pram untuk membaca tetraloginya. Dan yang sudah pernah baca, jadi ingin baca lagi. Positif kan jadinya?
Tidak setuju dengan pendapat saya? Tidak masalah. Dunia berbeda penuh warna itu indah daripada seragam.
Sekian dan terima endors.

 

~RAB

17-18 Agustus 2019

 

 

Iklan

MENONTON FILM “I CAN SPEAK”


83BB6A2C-3761-4EEE-84A2-CAFCB4EDAB7C

Padahal bukan pegawai kantoran, tapi ketika libur Imlek begini terus diam di rumah itu rasanya kok gak produktif sih. Otak lagi gak bisa dipake mikir buat nulis, jadi buka aplikasi HOOQ, nonton film ini. Hasilnya: SUKSES MENETESKAN AIR MATA!

Film yang diangkat dari kisah nyata tentang “comfort woman”, para perempuan Korea yang jadi budak seks tentara Jepang di masa Perang Dunia II ini dirilis tahun 2017. Saya tidak membaca review atau mencari tahu ulasan apa pun sebelumnya. Sengaja, biar tidak terganggu dengan semacam pengantar atau sudut pandang orang lain. Pemilihan film juga cuma berdasarkan insting aja. 

Sepanjang 15 menit di awal saya kira ini hanya kisah drama keluarga biasa. Ya sudahlah, toh saya hanya ingin menghabiskan waktu libur ini seperti orang lainnya dengan bersantai. Ternyata kejutan cerita di luar perkiraan. Nah Ok-Boon memberikan kesaksiannya di  Kongres Amerika tahun 2007 melalui HR121. Saya menangis, membayangkan betapa jahatnya peperangan. Selalu ada korban yang dibungkam, terpaksa membungkam dirinya sendiri, atau sama sekali hilang ingatan karena depresi. 

Memang, butuh keberanian lebih untuk mengakui bahwa seseorang pernah menjadi korban. Banyak yang memilih melanjutkan hidup dengan menutupi masa lalu dan berkata semuanya baik-baik saja. Padahal jauh di dalam, jiwa mereka terluka. Penyintas semacam mereka tentu banyak juga yang tak terungkap. Tak terbayang bagaimana seorang perempuan remaja dicerabut dari keluarganya dan disiksa demi memuaskan nafsu para lelaki. Lalu di kemudian hari mereka tetap harus bertahan hidup dan mengubur kisah pilu itu.

Ketika Nenek Oh-Boon berkata bahwa yang perlu dilakukan pemerintah Jepang adalah meminta maaf kepada para perempuan ini, dan hal ini perlu diungkapkan agar tidak terjadi lagi hal yang sama di kemudian hari, saya lalu teringat perkataan Pak Martin Aleida. Kita harus menuliskan kisah itu, sepahit apapun, agar sejarah tidak terulang. Banyak korban perang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Akhirnya saya mengerti, kenapa film yang disutradarai Kim Hyun Seok ini berjudul I CAN SPEAK.

Saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini.